Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
47 Untuk Pengingat.


__ADS_3

Sementara Gunawan sudah mulai terbiasa dengan penglihatan batinnya pun santai saja saat wanita itu mulai berinteraksi dengan Mereka berdua.


"Ternyata tidak menakutkan seperti yang aku bayangkan". fikir Gunawan yang sedang memperhatikan Ria dan wanita berkebaya itu berinteraksi.


Dan benar sosok yang sekarang ada di rumah ini adalah sosok ibu dari saudara Gunawan yang sedang hamil, memang menurut penuturan Gunawan ibu dari saudara nya sudah meninggal 20 tahun yang lalu karena kecelakaan.


Tidak beberapa lama Ria memilih tidur di atas sofa saja karena memang sofa ini muat sebenarnya untuk ukuran tubuhnya, tapi tidak dengan Gunawan yang memang memiliki tinggi badan di atas rata-rata.


Gunawan tidur kembali di atas kasur lantai miliknya karena ia sudah tenang ada Ria di dekat nya, setidaknya ia tidak sendirian di ruangan ini fikirnya.


Saat azan subuh Ria pun bangun dan berniat melakukan ibadah subuh, begitu pun Gunawan.


Memang musholla tidak terlalu jauh dari rumah saudaranya ini, jadilah Gunawan ingin berniat melaksanakan ibadah nya di situ saja.


Ia sudah bersiap akan keluar dengan baju Koko dan celana panjang namun langkah nya terhenti dan ia kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah yang terkejut.


Ria yang baru keluar dari kamar mandi setelah mengambil wudhu tertawa pelan melihat Gunawan yang sudah berdiri dan bersandar ke pintu sambil memegang dadanya.


"Ko balik lagi mas?". tanya Ria sambil menahan tawa.


"Aaa,,, aaa,, ada ituu". ucap Gunawan gelagapan, Ria tau apa yang Gunawan lihat sebenarnya. karena memang sosok dengan wajah hancur, berbaju merah itu dari semalam sudah berayun di atas kayu akasia besar di depan rumah.


"Hihihi Takut ya mas?". ujar Ria mencoba menggoda Gunawan karena terlihat sangat lucu.


"Nggg.. nggaakk, belum biasa aja. ya sudah mas keluar dulu dek". ucap Gunawan kembali membuka pintu setelah mengucapkan salam.


Gunawan mengambil langkah cepat dan membaca ayat-ayat suci yang ia ingat untuk menenangkan hati nya, jalan yang biasa nya 15 menit hanya menjadi 5 menit karena ia berjalan seperti orang yang di kejar setan.


Padahal jelas-jelas setannya diam saja di atas pohon tidak menggangu nya sama sekali.

__ADS_1


Setelah solat subuh Gunawan celingak-celingukan mencari orang lain siapa tau ada yang searah dengan nya, beruntung seorang ustadz ternyata memiliki arah jalan yang sama sehingga Gunawan mengajak pulang bersama setelah ia mengenalkan dirinya.


Gunawan sesekali melihat ke arah pohon di atas, mengecek apakah sosok menyeramkan itu masih ada.


Ustadz yang tadi bersama Gunawan pun sedikit heran dengan sikap Gunawan dan juga ternyata ia juga memiliki ilmu kebatinan, ia melihat beberapa sosok pengawal dengan baju adat dari pulau seberang sedang mengikuti Gunawan.


"Kamu dari mana le, sepertinya bukan dari desa sini". tanya beliau kemudian.


"Saya dari kota x pak ustadz, kebetulan sedang menjenguk saudara di desa ini". jelas Gunawan.


"Jaga diri baik-baik ya Le, ingat selalu mendekatkan diri ke Gusti Allah, nggak mudah pasti jadi kamu". ucap ustadz itu sambil terus melangkah di samping Gunawan.


"Iya ustadz, insyaallah". jawab Gunawan dan saat ia sudah mendekati rumah milik saudara nya Gunawan izin pamit, namun sebelum mereka berpisah ustadz itu memberikan sebuah gelang tasbih pada Gunawan.


Gunawan sempat menolak karena tidak enak hati menerima barang dari orang lain, namun Ustadz itu sedikit memaksa agar Gunawan mau menerima gelang tasbih tersebut.


Terlihat para perempuan sudah sibuk di dapur saat Gunawan sudah masuk ke dalam rumah, sama seperti tadi malam sosok yang ternyata adalah Bibi dari Gunawan pun tersenyum lembut Kepada Gunawan.


Setelah sarapan mereka pun izin pamit karena nanti siang Gunawan akan mencoba mengantarkan Ria dan Lula untuk pulang.


Ada sedikit perubahan rencana tentang penyelamatan Syakila tadi malam, setelah di rembukan antara mereka ternyata waktunya juga masih tetap tidak cukup karena besok Ria harus ke kampus dan ia juga harusnya bertugas.


Jadi setelah mengantar Ria ke asrama rencananya Gunawan akan mencoba untuk mampir saja ke rumah Syakila untuk melihat situasi.


Gunawan akan berpura-pura mencari Syakila karena masih mencintai nya sambil berharap jabatan yang ia punya sudah cukup untuk kembali menjalin hubungan dengan Syakila.


Gunawan terlebih dahulu mengantar kan ibu Sari kerumahnya dan lanjut mengantarkan Lula dan Ria ke kampus.


Perjalanan sedikit santai dan Gunawan tidak ingin terburu-buru, karena ia sebenarnya ingin bersama lebih lama dengan Ria.

__ADS_1


Di sepanjang jalan Gunawan sering di buat kaget dengan sosok-sosok yang kadang terlihat, bahkan saat ia sudah memasuki rumah makan Gunawan kembali membawa Ria dan Lula keluar kembali karena melihat ada beberapa sosok yang sepertinya memang di pakai untuk penglaris.


Ria akhirnya menyarankan mereka untuk makan di tempat yang sederhana saja, dan di lihat aman oleh Gunawan bahwa tidak ada makhluk penglaris pun baru mereka makan.


"Dek tau nggak rumah makan itu tadi adalah rumah makan favorit nya mas". Gunawan bercerita.


"Enak mas makanan nya?". tanya Ria sambil tertawa pelan.


"Mas kaya nya sudah terlalu banyak terkontaminasi liur makhluk itu dek". ujar Gunawan sambil menggaruk kepalanya yang terasa sedikit gatal.


"Air liur apa Mas?". kali ini Lula yang bertanya, sedangkan Ria justru tertawa sampai memegang perutnya sendiri karena mereka Gunawan sangat lucu.


"Makhluk purba Lula". jawab Ria asal, Lula terkejut dan menutup mulutnya.


"Memang nya masih ada ya zaman sekarang". tanyanya.


Gubraakkkk, Ria semakin tidak kuat untuk menahan suaranya lagi, untuk saja rumah makan itu sepi karena tidak banyak yang makan di tempat.


Ya Tentu saja rumah makan ini tidak seramai seperti milik orang-orang yang menggunakan penglaris, tapi sepertinya melihat banyak pelanggan yang memilih membungkus makanan nya untuk di bawa pulang sebenarnya sudah cukup untuk menghidupi keluarga.


Gunawan geleng-geleng kepala melihat Lula yang benar-benar polos, ia bingung kenapa Lula bisa lulus seleksi di kampus itu.


"Lula, Kamu harus belajar yang giat supaya bisa lulus ya". ujar Gunawan memberikan nasehat.


"Lula cuman ambil jurusan apoteker mas, gak sesulit jurusan yang Ria Ambil. tugas Lula hanya menghafal kan nama obat dan tulisan dokter". ujarnya santai dan meminum air kelapa yang ia pesan.


"Lula, tapi kamu juga harus sungguh-sungguh ko, nanti kalau tidak serius kamu ngasih obat yang salah untuk pasien". ucap Ria setelah ia puas tertawa.


"Baik lah Maaa". jawab Lula seperti biasa kalau ia sedang mendapatkan ceramah oleh Ria.

__ADS_1


__ADS_2