Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
71 Ria Sudah Sadar.


__ADS_3

"Urusan mu dengan ku, bukan dengan keturunan ku". ujar Datuk Kurnia di iringi jeritan panjang Ria yang menyakitkan.


"Aaaaaaa,,,aaaaaaaaaa". Terdengar suara Guntur di luar dan usai Ria menjerit panjang dan kemudian pingsan, Datuk Kurnia sudah berhasil mengeluarkan Makhluk yang merasuki tubuh Ria juga menguncinya di dalam batu cincin hijau.


"Aku akan menghancurkan batu ini agar tidak ada lagi manusia yang menjadi korban". ujar Datuk Kurnia.


"Tolong bantu kami menjaga Tubuh Ria sebentar, aku akan mengambil Sukma nya di istana". ujar Datuk Kurnia dan istrinya kemudian menghilang.


Datuk Kurnia dan istrinya kemudian muncul di istana kuning dan membantu Pemulihan Ria dan Rinjani agar ia bisa kembali ke tubuhnya secepatnya.


Gunawan dan Lula sekarang menggotong tubuh Ria ke kasurnya setelah tadi Lula terlebih dahulu membereskannya karena tadi seprei nya sudah acak-acakan juga kotor terkena cipratan darah Ria.


Lula dengan telaten membersihkan wajah Ria, mengobati dan membalut luka di tangan Ria yang tadi terluka karena di Gigit olehnya sendiri saat kesurupan.


Tidak lama Datuk Kurnia dan Datuk Sarani datang membawa Sukma Ria yang sudah baik-baik saja, Ria akhirnya bisa kembali ke tubuhnya yang sempat di ambil alih hingga membuat kesurupan.


Ria akhirnya bisa bangun di tubuh miliknya dan kembali ke dunianya lagi, terlihat Gunawan dan Lula Sangat senang. Datuk Sarani juga sudah menyembuhkan luka gigitan di tangan Ria menggunakan kesaktian nya.


Saat Ria membuka perban di tangan nya luka itu sudah hilang tak berbekas, hingga membuat Lula dan Gunawan bingung bagaimana mana mungkin secepat itu luka di tangan Ria sembuh.


"Maafkan aku sudah membuat kalian khawatir dan juga sudah membuat kalian masuk ke dalam masalah ini". ujar Ria merasa bersalah.


"Ini bukan salahmu Ria, jika saja bapakku tidak membuat perjanjian dengan iblis, mungkin semua ini tidak akan terjadi". ujar Gunawan mengingat lagi ayahnya yang di siksa kemarin.


"Lula aku juga sangat-sangat minta maaf mungkin tanpa sengaja aku sudah menyakiti mu dan juga perasa mu". ujar Ria kepada sahabat nya, banyak hal yang ingin Ria ucapkan namun dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


Ria menangis begitu pun Lula, mereka saling berpelukan sepertinya mereka saling ketakutan untuk kehilangan satu sama lain.

__ADS_1


"Kau ini bicara apa Ria, kita sahabat. kita harus saling jaga". Lula menangis memeluk sahabatnya, para Datuk dan juga pasangan nya pun akhirnya izin pergi untuk kembali ke alam mereka.


"Kawan-kawan kalian masih tidur dan tidak akan terjaga sampai besok pagi, mereka tidak akan tahu apa yang terjadi hari ini. Gunawan terimakasih banyak sudah mau membantu kami". ujar Datuk kuning.


"Tolong jangan ucapkan terimakasih pada ku Datuk, jika kalian tidak menjaga kami entah apa yang akan terjadi pada kami semua. saya lah yang harus nya berterima kasih, setidaknya tidak ada lagi korban oleh makhluk-makhluk yang sempat di pelihara oleh bapak saya". ujar Gunawan berbicara pelan di pojokan kamar.


"Baiklah sebaiknya kita sekarang pulang, semua sudah aman aku juga sudah memerintahkan banyak penjaga untuk Ria". ujar Datuk Sarani dan di angguki oleh yang lain.


"Gunawan juga akan pulang Datuk, tidak baik saya berlama-lama di asrama ini". ujar Gunawan lagi.


Datuk Sarani dan yang lainnya pun akhirnya menghilang, Ria dan lula masih saling memegang tangan mereka.


Ria mencoba mengobati Lula yang pasti tubuhnya terasa sakit karena beberapa kali terbanting tadi, dan anehnya Lula sekarang tidak merasa apa-apa lagi di tubuhnya.


Tubuhnya tiba-tiba saja merasa sehat, tidak seperti tadi sakit-sakit bahkan biru-biru di badannya juga hilang.


"Hati-hati di jalan ya Mas". ujar Ria.


"iya, kalian berdua juga hati-hati di sini". ujar Gunawan bersiap akan keluar, Ria yang masih ingat jika Lula menyukai Gunawan memberi kode pada Lula untuk mengantar Gunawan ke depan asrama karena sekarang hujan juga sudah berhenti.


"Lula". ujar Ria memberikan kode pada Lula dengan kepalanya sambil mendorong tubuh sahabat nya itu.


"Mas, biar Lula Anatar". ujar nya dan Gunawan hanya mengangguk tidak ingin menolak, karena sebenarnya Gunawan juga ada sesuatu yang aneh ingin di bicarakan.


Setelah Lula dan Gunawan keluar, Rinjani muncul membawa beberapa dayang-dayang di istana untuk membersihkan kekacauan di ruang kamar itu. sementara Ria segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang masih bersimbah darah di baju juga rambut nya yang berantakan.


"Hati-hati di jalan nya Mas, eeee... maafkan masalah tadi tentang apa yang di ucapkan Ria saat kerasukan tolong jangan terlalu dekat fikirkan. Lula memang mencintai mas saat pandangan pertama,tapi persahabatan saya dengan Ria jauh lebih penting". ujar Lula berbicara jujur pada Gunawan.

__ADS_1


"Maafkan juga jika mas tidak menyadari perasaan mu Lula, mas tidak masalah Lula. kita tidak bisa memprediksi Kepada siapa hati dan cinta ini berlabuh". ujar Gunawan.


"Jangan merasa terbebani karena Lula sahabat Ria mas, mas boleh melanjutkan perjuangan mas untuk mendapatkan Ria". ujar Lula memberikan semangat walaupun hatinya sakit.


Gunawan menggeleng dan mengatakan sesuatu yang membuat Lula tercengang.


"Mas akan menjauh dari Ria dek, terimakasih sudah peduli dengan perasaan mas. sama seperti kamu yang menjaga persahabatan mu dengan Ria hingga mengorbankan perasaan mu, Mas juga akan menjaga perasaan mu". Gunawan berbicara dengan tenang.


Sebenarnya tadi melihat Lula yang sangat sedih melihat Ria terluka dan tidak sadarkan diri, juga Lula yang mengurus Ria secara telaten membuat Gunawan tidak enak hati harus hadir di antara mereka.


Persahabatan mereka benar-benar tulus dan ikhlas dengan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri.


"Tapi kenapa harus menjauh dari Ria mas, mas menyerah karena saya kah?". tanya Lula lagi.


"Lula benar-benar tidak apa-apa Mas, Lula akan sedih jika mas menyerah karena Lula". ujar nya lagi.


"Ck, dasar bocil.. kamu lihat gak tadi Ria gak ada sedih-sedih nya nyuruh kamu buat nganterin mas ke luar, itu artinya Ria benar-benar tidak ada perasaan apa-apa sama Mas". ujar Gunawan menggusarkan rambut Lula sambil tertawa.


"Mas gak akan maksa perasaan Mas sama dia, kamu aja bisa nge ikhlas kan perasaan mu sama Mas, masa mas egois maksain perasaan Ria sama aku". ujar Gunawan.


"Tapi mas akan tetap perhatian sama kalian, Kalian sudah mas anggap seperti adik mas sendiri, apalagi ibu sangat menyayangi kalian berdua". ujar Gunawan lagi berbicara sambil tertawa, entah kenapa saat ia mengatakan kalau Ria juga Lula adalah adik nya membuat perasaan Gunawan lebih tenang dan bahagia.


Dan setelah dia ingat-ingat, saat kemarin dia bertanya tanggal lahir Ria, Gunawan mengingat-ingat jika tanggal dan bulan lahir Ria sama dengan Bulan dan tanggal lahir adiknya yang sudah meninggal.


"Mungkin jika dia hidup sudah sebesar kalian". ujar Gunawan dalam hati.


"Ya sudah sekarang mas pulang ya, kalau ada apa-apa telfon mas. jangan sungkan,jaga diri kalian di sini". Gunawan pun akhirnya pamit dan menaiki mobilnya meninggal kan Lula yang masih menatap kepergiannya di depan pintu asrama.

__ADS_1


"Bila jodoh pasti tidak akan ke mana,jika tidak jodoh Lula juga tidak akan sedih pernah jatuh cinta pada laki-laki sebaik kamu mas". ujar Lula akhirnya masuk kembali kedalam asrama menuju kamarnya dan Ria.


__ADS_2