Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
82 Tidak Bisa Lepas.


__ADS_3

"Mas suaminya dari kakak ini?". ujar Ria pada suaminya Yuni dan terlihat wajah Yuni yang ketakutan sekali sekarang.


"Iya saya suami nya dari Yuni, kenapa ya dek?". ujar pria tersebut.


"Gak apa-apa Mas, saya cucu nya kai Darma, ujar Ria memperkenalkan diri. (kai\=kakek bahasa Kalimantan).


"Ooee cucu nya kai Darma, saya orang baru di kampung sini soalnya. tapi saya kenal sama kai Darma". ujar. pria itu lagi.


"Kebetulan saya mau pulang ketemu kakak di jalan, kalau begitu saya permisi". ujar Ria pamit dan di angguki oleh suami Yuni, sementara Yuni sekarang sedang menggenggam tangan nya untuk menahan amarahnya.


Suaminya sudah masuk ke rumah, tinggal Yuni yang di luar sambil terus menatap kepergian Ria. Ria melambaikan tangan nya sambil menunjukan botol minyak yang ia pegang tanpa melihat Yuni di belakang nya, ia tahu Yuni masih melihat nya karena Rinjani yang bilang.


"Sepertinya malam nanti dia akan gelisah karena tidak bisa melepaskan kepalanya untuk mencari ibu hamil Ria". ujar Rinjani ketika sudah sampai di rumah.


"Biarkan saja, aku mau tau apa yang akan dia lakukan jika dia masih bertahan dengan ilmunya. atau meminta kita untuk melepas kan ajiannya dan kembali ke bentuk wajahnya yang semula". ujar Ria kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena habis Melayat orang meninggal tadi.


"Pasti dia kesakitan karena kepala nya minta di lepaskan sementara dia tidak bisa mencabut Kepalanya tanpa minyak ini". ucap Rinjani seorang diri.


Anton sekarang sedang menonton televisi di depan rumah dengan Datuk kuning yang menemani di ruang tamu, Anton adalah jiwa yang murni. jadi dia tidak berbahaya untuk di jadikan teman atau di rawat sampai nanti Ria bisa menemukan keluarga nya untuk menceritakan kondisi Anton sekarang.


Dan benar saja, sekarang sudah jam 12 malam Yuni merasa gelisah karena kepalanya seperti nya ingin terbang terpisah dari badannya tapi tidak bisa. badannya mati rasa, karena memang pada dasarnya badan itu memang kehilangan fungsi nya jika tengah malam hari.


Suaminya sudah tidur jadi tidak menyadari keadaan Yuni yang sedang terengah-engah sambil kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan sambil terangkat karena ingin tercabut dari leher nya.


"Dia sudah mulai kesakitan Ria, apa yang akan kau lakukan". tanya Rinjani yang memantau Yuni dari jauh.


"Dia harus tau bagaimana rasa sakit para ibu yang harus menjadi korban dan kehilangan anaknya kak". Ria sebenarnya paling tidak suka jika ada orang yang harus menumbalkan orang lain demi keuntungan nya sendiri.


Semalaman Yuni tersiksa karena tidak bisa melepaskan kepalanya, lehernya sakit seperti tersayat belati sementara nafasnya tersengal-sengal seperti orang sekarat semalaman dan baru berhenti ketika terdengar suara Kokok ayam menandakan waktu sudah masuk pagi.

__ADS_1


"Sayang, kamu pucat sekali. kamu sakit bukan?".ujar suami Yuni ketika bangun melihat keadaan Yuni yang terlihat lemah dan pucat karena semalaman menahan sakit Tanpa berani mengadu pada suaminya.


"Sedikit Mas, seperti saya tidak enak badan". ujar Yuni pada suaminya.


"Ya sudah hari ini kamu istirahat aja, gak usah ngapa-ngapain. mas juga akan izin libur kerja buat ngurus kamu". ujar suaminya.


"Ee,, tidak perlu mas. saya istirahat bentar nanti juga sembuh. mas kerja saja, tapi maaf saya gak bisa menyiapkan keperluan mas pagi ini". ujar Yuni kepada suaminya.


Yuni tidak ingin suaminya ada di rumah, karena dia ingin pergi menemui Ria nanti di rumah kakek Darma untuk meminta kembali minyak kuyang miliknya yang di ambil Ria kemarin.


"Ya sudah, tapi kalo ada apa-apa hubungin mas di tempat kerja ya". ujar suaminya Yuni.


Yuni mengangguk dan suami nya bangkit dari tempat tidur dan bergegas membuat sarapan untuk nya dan istrinya pagi ini, suaminya memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga karena dia anak perantauan.


Sore harinya Yuni sudah merasa sedikit baikan dan kuat untuk berjalan kaki ke rumah kakek Darma,ia berjalan perlahan sambil menutupi lehernya dengan kain yang dia lilitkan di lehernya.


Leher Yuni memang terlihat memar tadi saat dia bercermin, terlihat seperti lilitan tali namun sebenarnya itu adalah memar karena tadi malam.


Ria yang sudah tahu Yuni akan datang pun keluar dari kamar nya bersama Rinjani, hari ini kakak Darma dan juga nenek nya sedang ke desa lain untuk mendatangi undangan pernikahan keluarganya begitu juga orang tua dan adik dari Ria.


Sehingga sekarang hanya Ria seorang diri yang ada di rumah, dan pintu rumah sebenarnya sengaja di buka oleh Ria karena ia tahu Yuni pasti akan mendatangi dia hari itu.


"Masuk lah kak". ujar Ria pada Yuni.


"Kemana yang lain?". ujar Yuni memastikan dulu agar tidak ada orang yang mendengar pembicaraan dia dan Ria.


"Tenang, hanya ada aku di rumah sini".jawab Ria lagi santai sambil mempersilahkan Yuni duduk dengan isyarat tangan nya.


Yuni langsung menjadi dirinya sendiri, menunjukkan wajah marahnya. dengan angkuh duduk di kursi di ruang tamu sambil menatap tajam pada Ria yang duduk di depan nya.

__ADS_1


"Kembalikan minyak kuyang ku, jangan ikut campur urusan ku anak kecil. kau sangat menyiksaku tadi malam". ujar Yuni langsung frontal dengan suara yang berat.


"Berapa umur kakak yang sebenarnya, apakah kakak senang bisa hidup lama dan tidak pernah menua?". ujar Ria tanpa ingin menggubris ucapan Yuni sebelum nya.


"Kau tidak tahu apapun tentang ku, jangan ganggu aku maka kamu akan baik-baik saja. jika kau tidak ingin kenapa-napa cepat kembalikan minyak itu padaku". ujar Yuni ingin maju dan mencekik Ria.


Namun belum sampai dia kepada Ria tubuhnya terpelanting ke belakang dengan kencang.


Gebbrruuukk, Tubuh Yuni membentur dinding rumah kayu kakek Darma.


Ria menarik nafas panjang, ia berjalan ke arah Yuni yang tersungkur di lantai. Ria berjongkok di depan Yuni sambil menatap wajah Yuni juga lehernya yang karena kejadian tadi kain penutup nya terlepas dan terbuka lah lehernya.


"Sakit bukan rasanya?, pernah kak kakak berfikir bagaimana perasaan para ibu yang mengandung bayinya, menunggu kelahiran anaknya namun harus kehilangan mereka dan kesakitan saat kakak menghisap darah mereka dari luar rumah". tanya Ria santai sambil Memegang kerah baju Yuni.


"Kaaa.. kamu jangan ikut campur, ini urusan ku". ujar Yuni sambil menepis tangan Ria dari bajunya.


"Ini urusan ku sesama manusia, berhenti lah kak, apa kakak tidak berfikir jika apa yang kakak lakukan adalah dosa besar?". ujar Ria bangkit dan mengulurkan tangan nya pada Yuni untuk membantunya bangkit.


Namun sekali lagi Yuni menepis tangan Ria dengan kencang sambil menatap tajam penuh amarah pada Ria.


"Mereka yang membuat aku begini, apakah kau fikir mereka tidak berdosa saat menghina aku dulu". ujar Yuni kemudian mulai menjelaskan kenapa dia sampai mau memiliki ajian ini.


"Yang salah adalah orang-orang yang menghina kakak, bukan bayi-bayi yang kakak makan agar kakak memiliki wajah seperti ini". jelas Ria berusaha menyadarkan Yuni di depannya.


"Berhenti lah menggunakan minyak kuyang itu kak, buang ajian kakak. saya akan membantu kakak".ucap Ria baik-baik.


Sepertinya Ria tahu alasan Yuni menggunakan minyak itu, mungkin zaman dulu dia mendapatkan penghinaan yang amat menyakiti hatinya hingga ia bisa berbuat seperti ini dan mengambil jalan pintas demi mendapatkan kecantikan nya itu.


"Tidak, aku tidak akan berhenti. jika aku berhenti suami ku tidak akan mau menerima ku lagi, aku akan sendirian lagi. tidak ada lagi yang mencintai ku". ujarnya Yuni lagi.

__ADS_1


"Aku yakin suami mu bukan lah yang pertama, tidak mungkin kau tidak mengganti-ganti suami untuk menutupi identitas mu, karena saat suami mu menua kau sama sekali tidak berubah kak. sudah kah cukup kakak pernah merasakan cinta di hidup kakak,dan jika pun kakak harus menua maka terima lah kodrat itu?". Ria kembali berusaha menasehati Yuni.


"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan ajian ini. aku ingin hidup lebih lama lagi". ujar Yuni berusaha bangkit dan menyerang Ria lagi.


__ADS_2