
"Apakah dia mau melepaskan ajian nya?". ucap Ria dalam hati sambil melangkah memegang lengan kakeknya pulang.
Ke esokan harinya benar saja Yuni datang bersama suaminya ke rumah, sebenarnya suami Yuni ingin izin libur bekerja namun karena ada teman nya yang juga izin jadi lah dia tidak jadi libur..
Yuni terlihat lebih baik dari pada keadaannya tadi malam, dan terlihat luka di kepala suaminya sudah di obati dan di tutup dengan kasa.
"Maaf ya Ria, kakek Darma, saya terpaksa menitipkan Yuni pada kalian". ujar suaminya lagi terasa berat untuk meninggalkan istrinya.
"Saya akan cepat pulang setelah pekerjaan selesai, Mas berangkat dulu ya Yun". ujar suaminya kepada Yuni, setelah Salim dan pamit akhirnya ia pergi bekerja.
"Kak Yuni, ayo istirahat di kamar Ria saja".ujar Ria menggandeng tangan Yuni, ia mengangguk pelan dan mengikuti langkah Ria masuk ke kamar nya.
Ia pun duduk di kasur sambil memandang ke seluruh kamar Ria, di sana ada Rinjani dan juga Anton bersama Datuk kuning.
"Maafkan kakak sudah merepotkan mu Ria, dan masalah tadi malam. terimakasih kalian tidak mengatakan tentang ku yang sebenarnya pada suamiku". ujar Yuni setelah masuk kamar.
Ria duduk di kursi rias dekat dengan jendela, Ria tersenyum pelan sambil menatap Yuni yang sekarang sedang menangis pilu.
"Kakak sudah lihat betapa suami kakak menyayangi kakak bukan, apakah nanti 20 tahunan lagi kakak sampai hati meninggal kan dia di hari tuanya?".Tanya Ria pelan, Yuni menggeleng, ia semakin terisak.
"Aku tidak ingin pergi lagi Ria, jika memang kami harus berpisah. lebih baik sekarang saja, saat dia masih muda dan bisa mencari lagi istri untuk menemani hidupnya selamanya". ujar Yuni lagi.
"Bisa kah kalian membantu ku, aku ingin pergi dengan damai jika memang dia lah cinta terakhirku. aku tidak tahu bagaimana cara melepaskan ajian ini, dan bisa kah kamu mengizinkan aku pamit sebelum pergi pada suami ku Ria". ujar Yuni lagi.
Ria kembali mengangguk pelan, ia masih ada waktu sekitar 10 hari lagi sebelum harus kembali ke Surabaya untuk meneruskan kuliahnya.
__ADS_1
"Kakak bisa pamit pada suami kakak, jika memang kakak mau. Ria akan bantu juga menjelaskan pada suami kakak, agar dia tidak terkejut dan ikhlas jika memang kakak harus pergi".ujar Ria pelan.
Yuni mengangguk lagi, ia ingat bagaimana suaminya menangis tadi malam bahkan terluka karena dirinya yang tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
Ya mungkin selama ini tubuh nya memang bukan miliknya, karena dia tidak bisa mengendalikan dirinya jika sudah haus akan darah dan tidak pernah berfikir untuk mengambil janin dari tubuh ibu-ibu hamil.
"Ria,aku yakin kau sudah banyak mengantar kan jiwa-jiwa yang pergi dari dunia ini, bisa kah aku bertanya bagaimana keadaan mereka setelah di tinggal orang-orang yang di sayangnya. apakah mereka baik-baik saja?". tanya Yuni.
"Aku sudah sering mengantarkan arwah menuju cahaya kak, sejauh ini mereka yang di tinggal kan terlihat baik-baik saja. mungkin mereka sedih pada awalnya, namun mereka sadar kita hanyalah menunggu giliran saja untuk menyusul mereka". jelas Ria.
Yuni menarik nafasnya pelan, di genggam nya tangan Ria yang memang duduk di dekatnya. dia membetulkan anak rambut Ria yang jatuh di wajah cantik nya, sambil tersenyum dia memandangi wajah Ria.
"Jika saja aku manusia biasa dan normal, mungkin aku sudah memiliki cucu atau cicit yang sudah besar dan secantik dirimu juga Ria, beruntung sekali nenek dan kakek mu bisa memiliki anak dan cucu". ujar Yuni lagi.
Ia ingat kehidupan nya zaman dulu di mana dia sangat ingin memiliki anak namun tidak bisa karena dia sudah menjadi seperti ini, wanita kuyang.
"Nanti malam, bantu kakak untuk melepaskan ajian ini. apakah bisa?". tanya Ria.
"Yuni, nanti malam lebih baik kau jelaskan semuanya pada suamimu dulu tentang siapa kau sebenarnya, Datuk akan mengambil ajian mu setelah kau bisa betul-betul pamit pada suami mu".kali ini Datuk kuning lah yang berbicara pada Yuni.
"Baik Datuk, nanti setelah suami saya pulang. saya akan jelaskan pada suami saya siapa saya yang sebenarnya, jika dia mau meninggalkan saya pun saya tidak apa. mungkin itu lebih baik daripada harus mencintai wanita seperti saya ini". ujar Yuni kembali menetes kan air matanya.
"Suami Kakak terlihat orang baik, dia pasti mau menemani kakak di saat-saat terakhir sebelum kakak pergi". ujar Rinjani pada Yuni.
Sore hari pun tiba, suami Yuni pulang dan langsung ke rumah kakek Darma untuk menjemput Yuni.
__ADS_1
Dia mengucapkan banyak terimakasih pada Ria dan keluarganya, barulah izin pamit pulang. Yuni memeluk Ria pelan dan tersenyum sebelum ikut suaminya ke rumah.
"Mas, apakah mas masih mencintai ku setelah aku begini?". tanya Yuni pada suaminya di jalan. mereka berjalan sambil saling merangkul satu sama lain.
"Kamu ini ngomong apa to Yun, ya cinta lah. masa karena kamu sakit gini aja Cinta saya hilang, saya cinta sama kamu apa adanya. jika saya sakit kamu yang urus, jika kamu sakit ya saya yang urus lah". ujar nya sambil mencubit pelan pipi istrinya yang terlihat sedikit pucat.
Tidak berapa lama mereka pun sampai ke rumah, setelah membersihkan diri dan makan malam Yuni dan suaminya duduk di ruang tamu dan Yuni menolak saat suaminya meminta nya untuk istirahat di kamar.
"Mas, nanti Ria sama kakek Darma mau ke sini. kita tunggu kedatangan mereka ya". ujar Yuni pada suaminya.
"Mereka masih mau periksa keadaan kamu ya, semoga kamu gak sakit kaya tadi malam lagi ya Yun. saya khawatir sama kamu". ujar Suaminya duduk di sebelah Yuni.
"Mas, jika mas nanti melihat ada yang lain dari diri saya. percayalah, saya masih akan selalu mencintaimu. sampai akhirnya saya pergi". ujar Yuni sambil menggenggam tangan suaminya.
"Kamu ni Lo, ngomong nya dari kemarin pergi-pergi aja. kamu mau kemana ninggalin mas, kamu tau kan mas gak punya siapa-siapa lagi selain kamu di sini". ujar suaminya sedikit merajuk.
"Kamu bisa lanjutin hidup kamu, dan cari istri baru yang bisa temani kamu sampai tua juga yang pasti bisa ngasih keturunan sama kamu mas". ujar Yuni menatap wajah tampan suaminya.
"Ck,, udah Yun, Jangan ngomong gitu. aku nggak apa-apa kalau Gusti kuasa tidak memberikan kita momongan, nanti kita bisa angkat anak untuk menemani kita kan?". ujar suaminya lagi.
"Mas, kalau bisa aku ingin menemani mu sampai tua, tapi sepertinya keadaan ku sekarang tidak memungkin kan. aku ingin selalu bersama kamu tapi sepertinya waktu ku tidak banyak lagi". Yuni sekarang sudah menangis menyadarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Yun, Kenapa kamu ngomong nya kaya gitu hari ini, kamu kenapa, sakit apa sebenarnya. apakah tadi Kakek Darma menjelaskan sesuatu padamu hingga kamu selalu berkata ingin Pergi". tanya suaminya sambil mengelus kepala istrinya.
Yuni menggelengkan kepalanya, dia memeluk suaminya erat sekali. dia sebenarnya masih takut untuk pergi, namun ini mungkin jalan yang terbaik untuk nya.
__ADS_1
"Kakek Darma dan Ria akan membantu ku mas, mereka akan menuntun jalan untuk ku. mas janji ya, jangan sedih terlalu lama nanti jika aku Pergi". ucap Yuni di pelukan suaminya.
"Nggak, kamu gak boleh ke mana-mana. kamu harus tetap di sini sama aku, kita akan menua bersama selamanya di sini. kamu harus hidup, gak boleh pergi". ujar suaminya sambil membalas pelukan Yuni tak kalah eratnya.