
"Ibu, kenapa menangis, ada apa buk, siapa dia?". tanya laki-laki yang bernama Gunawan ini sambil menunjuk ke arah Ria.
sepertinya Gunawan baru saja pulang dari tugas kepolisian. terlihat dari baju nya yang masih menggunakan seragam.
"Maaf perkenalkan saya Ria Mas". ucap Nora sambil mengulurkan tangan nya.
"Gunawan. adek siapa, ada perlu apa kesini, ini ibu saya kenapa?". tanya Gunawan dengan wajah paniknya dan menyambut Tangan Ria.
"Gun, bantu ibu gun, sahabat ibu minta di jemput". ucap ibu Sari pada anaknya.
"Iya buk, Nanti Gunawan jemput. beliau minta jemput di mana?". tanya Gunawan lagi.
"Nduk, pie cara menjelaskan nya nduk. ibu gak faham mulai dari mana?". ucap ibu Sari panik.
"Buk, ibu tenang. Gunawan pasti jemput sahabat ibu, apa beliau terkena musibah, sampai ibu panik begini". Gunawan bingung melihat ibunya yang panik dan makin menangis.
"Mas Gunawan, maaf.. izinkan saya menjelaskan semuanya pelan-pelan mas, mungkin ini sulit untuk di jelaskan secara singkat". Ria mencoba memberikan pengertian pada Gunawan.
"Baiklah, jelaskan pada saya dek.. sahabat ibu perlu di jemput di mana, dan beliau kenapa sampai ibu saya panik begini". Gunawan mencoba mendengar kan.
__ADS_1
"Jadi begini mas, sahabat ibu Sari meminta saya untuk mengambil jenazah nya yang di awetkan di salah satu rumah seseorang yang sudah membunuh beliau, beliau ingin di makam kan dengan layak.
juga beliau ingin penjahat yang sudah melakukan ini semua kepada nya untuk di berikan hukuman yang setimpal Mas". jelas Ria.
"Kamu tau dari mana semua informasi itu, jika sahabat ibu saya saja sudah meninggal. jangan coba-coba menipu kami kamu". Gunawan tidak percaya dengan apa yang Ria cerita kan.
"Beliau yang menceritakan semua nya sama saya mas, beliau juga yang menuntun saya sampai ke Sini. ibu Astri ingin bertemu dengan orang tuanya mas". ucap Ria lagi.
"Bagaimana bisa beliau yang menjelaskan nya dek, kamu seperti paranormal begitu??
bisa bicara dengan roh maksud nya?.
"Saya memang bisa bicara dengan Roh mas". Jawab Ria.
"Kamu jangan bohong, pergi kamu dari sini. gara-gara Kamu ibu ku menangis". ucap Gunawan sambil menarik tubuh Ria keluar dari ruang tamu.
"Gun, dengerin dulu gun, nak Ria gak mungkin bohong. semua yang dia bicarakan beneran nak". ucap Bu sari berusaha membela Ria.
"buk, zaman sekarang banyak yang suka nipu ujung-ujungnya hanya ingin membodohi kita supaya bisa memberikan nya uang untuk informasi yang dia berikan". Gunawan berusaha meyakinkan ibunya.
__ADS_1
"Mbah Darso bilang Mas memang keras kepala". ucap Ria tiba-tiba membuat Gunawan kaget dan berhenti mendorong nya.
"Dari mana kamu dapet informasi tentang keluarga ku, kamu di suruh sama siapa?". Tuduh Gunawan.
"Mbah Darso sendiri yang bilang barusan mas, beliau juga bilang mas itu masih suka begadang terus sambil telpon-telponan. Padahal ibu sudah suruh mas Gunawan istirahat". ucap Ria.
Gunawan mundur beberapa langkah, sedangkan Bu sari semakin menangis membuat Ria bingung.
"Ibu maaf, saya di suruh Mbah bilang gitu supaya mas Gunawan percaya. Mbah bilang beliau juga mengenal Bu Astri". ujar Ria
"iya nduk,Mbah Darso ayah saya. kami berdua suka di antar sekolah barengan dulu waktu kecil nya, apakah beliau juga ada di sini?". Tanya ibu Sari.
Ria mengangguk dan menunjuk ke sebuah kursi tunggal dan ternyata itu kursi tempat biasanya Mbah Darso duduk menunggu cucu nya Gunawan pulang bertugas.
Gunawan diam seribu bahasa, masih berusaha mencerna semuanya.
"Bu Astri bilang maafkan dia yang membuat ibu repot, tapi cuman ibu satu-satunya sahabat beliau yang paling dekat dengan beliau". jelas Ria.
"Gun,ibu mohon nak. bantu ibu Astri sahabat ibu mencari keadilan supaya beliau tenang ya nak, kasian Mbah Gundala dan eang Sukati ndok. mereka selalu menunggu kepulangan anak nya tanpa kepastian". ucap Bu sari.
__ADS_1
"Baiklah Bu, Gunawan coba bantu sebisa Gunawan. tapi semua nya perlu proses, kita tidak bisa langsung menggerebek rumah penjahat itu walaupun kita tahu siapa pelakunya". jelas Gunawan.