Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
28 sudah sampai.


__ADS_3

"Datuk buaya putih kami, memang sudah ada turun temurun, sebagian orang awam memang tidak pernah percaya jika mereka ada, tapi memang kita hidup bersama di dunia ini Mas". Ria juga dengan sabar menjelaskan pada Gunawan.


Beberapa jam perjalanan hampir menjelang magrib, Ria dan Gunawan pun kini sudah sampai di rumah Milik kakak Bu Astri.


"Sepertinya, kita sudah sampai di alamat yang di berikan oleh ibu". ujar Gunawan bersiap turun dari mobil.


"Semoga benar ini rumah nya". ujar Ria menimpali. mereka berdua masuk ke halaman rumah sederhana yang pagar nya belum di tutup dan bersiap untuk membunyikan bel rumah.


tiinggg tongggg... tinggg tonggg.


"Permisi". ujar Gunawan sedikit berteriak.


"Ya sebentar". terdengar suara seseorang Pria menjawab Gunawan.


Cekrreeeaaakkk pintu di buka terlihat seseorang yang seusia ayah dari Gunawan keluar rumah. "Cari siapa Mas". tanya nya para Gunawan dan Ria.


"Maaf pak, apa benar ini rumah buk Lastri anak dari Mbah Gundala". ujar Gunawan.

__ADS_1


"iya betul, Lastri istri saya ada perlu apa ya Mas". tanya bapak-bapak tadi penasaran.


"Begini pak, saya anak dari teman ibu Lastri dulu di kampung nama ibu saya Sari. saya ada sedikit keperluan dengan Bu Lastri pak". ucap Gunawan menjelaskan dengan cepat keperluan mereka mencari kakak dari Bu Astri.


"Oe begitu, masuk sebentar mas ke dalem. sudah mau magrib, kebetulan Bu Lastri sedang mandi.


mungkin sebentar lagi selesai". ucapnya kemudian membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Gunawan dan Ria masuk ke rumah nya.


"Hiiiikkzzzz hikksss Ria bapak ku Ria". ujar Astri menangis sambil menyeret kakinya yang patah perlahan berjalan berusaha memeluk bapak nya yang sedang duduk di kursi goyang sambil menonton acara televisi.


"Hhiizzz, Bapakkk.. ibuuukkk Astri pulang". ujar Astri bersimpuh di depan kedua orang tuanya tapi sayang mereka tidak bisa melihat kehadiran nya.


Ria yang melihat semua kejadian itu tak kuasa menahan tangis nya,air mata nya jatuh begitu saja.


"Ria, Jangan menangis nanti mereka semua bingung". ujar Philip tiba-tiba muncul di sebelah Ria, Ria mengangguk faham dengan cepat menghapus air mata di pipinya.


"Sebentar bapak panggil kan istri saya dulu ya Mas, Silahkan duduk dulu di sini ya.

__ADS_1


maaf rumah saya kecil, dan ini Mbah Gundala dan eang Uti". ucapnya memperkenalkan kedua mertuanya.


Ia membawa Ria dan Gunawan ke ruangan tamunya,mana Astri sudah menangis meraung sambil mengacak-acak rambut nya yang sudah memang acak-acakan.


Ria dan Gunawan menyalami kedua orang tua itu. "Kalian siapa Le (Tole) nduk?". ucap istri Mbah Gundala biasa di panggil eang Uti.


"Saya anak Bu sari tetangga Eang dulu". ujar Gunawan menjelaskan.


"Oee alah Gunawan ya, kamu sudah besar sekarang to Le. Wes jadi polisi, hebat". Mbah Uti berbicara dengan suara yang lembut.


karena Gunawan memang menggunakan kaos dari kepolisian sekarang, jadi sangat mudah mengetahui pekerjaan nya.


Sementara Mbah Gundala seperti nya sudah mulai pikun hanya manggut-manggut saja.


"Kamu ke sini mau apa Le, mau kasih undangan pernikahan ya. ini calon istrinya, cantik". ujar Mbah Uti mengira Ria adalah kekasih sekaligus calon istri Gunawan.


"Bukan buk, Gunawan ke sini bawa temen nya. dia mau nengokin ibu sekalian ada yang mau kami bicarakan, tapi sebelum itu kita Maghriban dulu ya Gun. sekalian nanti habis magrib kita makan baru kita bicarakan maksud kedatangan nak Gunawan ke sini". ujar Bu Lastri baru saja muncul setelah di panggil oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2