
"Dek, Mas tidur di lantai bawah kasur di kamar ya. Mas janji gak macam-macam, Mas juga gak akan ngorok". ujar Gunawan, mungkin ia takut melanjutkan tidur sendiri di ruangan tamu setelah tahu kalau ada seseorang yang sedari tadi di dapur.
Ria tertawa pelan mendengar ucapan Gunawan yang ingin lantai kamar asalkan tidak tidur di ruang tamu lagi.
"Mas, beliau sama sekali tidak menyeramkan. beliau terlihat sangat cantik". Ria menjelaskan pada Gunawan yang duduk bersila di depan Ria.
"Mas mana tau dia cantik apa nggak dek, kan mas belum bisa liat mereka. bisa aja kamu bohong biar mas berani kan?". ujar Gunawan lagi.
"Mau coba buka mata batin mas sekarang, biar mas bisa liat Ria bohong atau nggak nya?". ujar Ria kemudian sambil menatap ke arah Gunawan.
"Jika sudah di buka, apakah bisa di tutup kembali dek?". Sempat berfikir sejenak kemudian Gunawan bertanya pada Ria.
"Tentu saja, mas hanya di buka sementara. bukan untuk selamanya, Ria tidak mau mas nanti kelamaan melihat makhluk-makhluk ghaib, nanti kalo ada yang cantik mas kepincut lagi". ujar Ria sambil bercanda pada Gunawan supaya tidak terlalu ketakutan lagi.
"Mas sering ketemu cewe cantik dek, tapi gak ada yang menggetarkan hati mas seperti kamu". jawab Gunawan membuat Ria mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah Gunawan.
"Gombal nya bapak polisi yang satu ini, pasti sudah banyak korban buaya Darat ini kan". ujar Ria bicara Pelan pada Gunawan Supaya tidak berisik.
"Ya sudah kalau gak percaya". ucap Gunawan juga tertawa sambil mengambil bantal yang di lempar oleh Ria memeluk bantal itu dan melemparkan bantal yang tadi dia di pangkuannya.
"Dihh dasar, Ria tu masih kecil mas. udah gak usah godain Ria mulu, Syakila masih sangat mencintai Mas". ujar Ria pelan.
Membuat senyum di bibir Gunawan perlahan memudar, Ria yang melihat Gunawan sepertinya marah pun serba salah. segera ia mengganti topik pembicaraan agar Gunawan tidak marah lagi.
__ADS_1
"Mas, jadi gak mau buka mata batin nya sekarang saja?". Tawar ria.
"Dek, asalkan kamu tahu. mas ngelakuin ini semua demi kamu, mas sudah gak ada rasa apa-apa sama Syakila dan itu hanyalah masa lalu, semuanya sudah selesai dek. Mas ikhlas jika mas memang tidak berjodoh sama dia". Gunawan akhirnya mengucap kata-kata yang dari kemarin ia tahan pada Ria.
Ria diam sejenak, "Mas memang sudah selesai, tapi Ria belum. walaupun kisah cinta Ria belum di mulai, perasaan ini masih ada untuk nya. untuk seseorang yang selama beberapa hari ini menghilang entah kemana, beberapa hari ini selalu saja ku Nantikan setiap aku menutup mata". Ria berbicara dalam hati.
"Dek, bisa kah kamu kasih mas kesempatan untuk lebih mengenal siapa kamu. mas tau mungkin ini terlalu cepat untukmu, tapi gak ada salahnya kan mas bilang dari sekarang. gak apa kamu nggak anggap hubungan kita ini seperti berpacaran, mas akan hormati dan dukung kamu yang ingin fokus dengan cita-cita mu". Gunawan mencoba meyakinkan Ria yang sedari tadi diam.
"Dek, mas mau kamu tahu kalau sekarang ada seseorang yang siap menunggu kamu dan ingin bersama kamu untuk melewati hari-hari kedepannya". Gunawan kali ini memberanikan diri untuk menggenggam tangan Ria yang duduk di atas sofa di depan nya.
"Mas,saya benar-benar belum ada rasa apapun sama mas Gunawan sekarang". Ria mencoba menolak secara halus.
"Hanya belum kan dek, bukan tidak. gak perlu sekarang kamu jawab ucapan mas dek, mas cuman mau kamu tahu tentang perasaan hati mas". jelas Gunawan.
Ria mengangguk kemudian ikut turun ke kasur lantai bersila di depan Gunawan, Ria pun memejamkan matanya dan memanggil Datuk untuk hadir di dekat nya.
Tidak butuh waktu lama, Datuk sudah hadir di sebelah Ria, Ria dan Datuk berkomunikasi menggunakan batin satu sama lain.
Perlahan tangan Ria terulur kedepan mengikuti instruksi dari Datuk untuk mengelus pelan wajah Gunawan ke arah bawah.
Gunawan yang merasakan tangan Ria turun kebawah dari kening dan perlahan turun ke bawah refleks menutup matanya, kini tangan Ria sudah ada di depan hidung, bibir dan berakhir di dagunya.
"Buka mata mas perlahan sekarang". ujar Ria memberi instruksi.
__ADS_1
Perlahan Gunawan membuka matanya dan terlihat Ria yang duduk di depan nya bersama seseorang wanita tua yang menggunakan baju kebaya berwarna kuning kunyit.
"Mas sudah bisa melihat kami?". tanya Ria memastikan, apakah mata batin Gunawan sudah terbuka.
Gunawan pun mengangguk pelan, Gunawan mengidarkan pandangan nya ke kanan dan ke kiri. di situ dia lihat seseorang wanita yang tadi Ria ceritakan masih duduk dan memberikan senyuman nya kepada Gunawan.
Gunawan kembali menatap Ria dan wanita tua itu.
"Mas perkenalkan ini Datuk kuning, beliau adalah salah satu khodam yang menjaga saya dari keturunan mama". ucap Ria menjelaskan.
Gunawan sedikit tenang karena ia melihat makhluk yang tidak menyeramkan seperti yang biasanya ia lihat di bioskop atau pun televisi.
"Jadi dia yang akan membantu mu melepaskan wanita itu Cu, Datuk harap dia cukup kuat mental jika nanti melihat beberapa makhluk yang tidak sewajarnya". ujar Datuk pada Ria.
"Beliau seorang polisi bagian khusus Datuk, mungkin dia sudah terbiasa melihat sesuatu yang aneh, ya kan mas?". Ria tau itu karena saat Gunawan melihat jasad Astri ia tidak menunjukan wajah takut, hanya wajah bingung saja.
Datuk mengangguk dan ingin pergi kembali ke istana, untuk menyiapkan pasukan agar besok berjalan lancar.
Saat datuk sudah pergi sekarang giliran wanita yang tadi duduk di kursi makan berjalan mendekati Ria dah Gunawan.
Beliau tersenyum sebelum duduk bersimpuh di samping Ria dan Gunawan, karena beliau menggunakan kebaya.
"Jadi kamu bisa melihat kehadiran kami nduk?". tanyanya kemudian Kepada Ria, Ria mengangguk pelan pada wanita itu.
__ADS_1
Sementara Gunawan sudah mulai terbiasa dengan penglihatan batinnya pun santai saja saat wanita itu mulai berinteraksi dengan Mereka berdua.