Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
59 Cepatlah pergi.


__ADS_3

Gunawan melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang dan tidak beberapa lama singa yang sekarang menjaganya muncul berlarian mengejar mobil Gunawan.


Gunawan pun akhirnya sampai setelah beberapa jam perjalan, ia masuk ke rumah setelah memberi salam, terlihat Ria, Lula dan ibunya sedang di dapur untuk memasak makan siang.


Ria terkejut melihat Gunawan masuk tanpa ada yang tahu karena mereka asik mengobrol. "Mas sudah pulang?". tanya Ria.


"Cyeee kaya istri nyambut suami pulang dinas aja". memang mulut Lula ini seperti nya tercipta tanpa filter, jika saja tidak sedang ada ibu Sari yang melihat mereka sambil tersenyum sudah ia karungi saja sahabat nya ini dan di lemparkan ke laut supaya di makan hiu.


"Mas Gunawan perlu tumbal gak?, ini sahabat ku masih gadis. sepertinya cocok mas". ujar Ria asal karena kesal selalu di goda oleh Lula.


"Dihhh teganya dirimu padaku sahabat ku, aku yang chantik jelitong ini ingin kau Tumbalkan?, tidak semudah itu tuminah". ujar Lula menjawab Ria dengan bahasa planet nya lagi.


"Siapa lagi itu tuminah". ujar Ria malas meladeni Lula yang seperti nya telat minum obat untuk otaknya.


"Ya kamu lahhh, nanya lagi. sahabat aku kan cuma kamu, eeeeee?".jawab Lula sambil mengangkat centong sayurnya ingin pura-pura memukul Ria.


"Tuminah itu nama Nenekku lo Lula, Kualat kamu ngomongin orang yang udah meninggal". kali ini Gunawan yang ikutan menggoda Lula, sementara ibu Sari tertawa melihat Lula yang sekarang sedang menutup mulutnya dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah takut.


Saat Gunawan menyebut kan orang meninggal entah kenapa wajah Ria berubah menjadi sedih, ia sangat menghawatirkan Gunawan. bagaimana perasaan nya, Ria tau sekarang Gunawan hanya pura-pura tersenyum karena tidak ingin membuat ibu Sari sedih. Gunawan dari kecil sudah terbiasa memendam kesedihan nya sendiri karena tidak ingin melihat ibu Sari sedih, Bu Sari banyak bercerita tentang Gunawan saat tadi pagi.


"Gun kamu mandi dulu sana, pasti belum mandi kan, terus makan siang sama-sama. hari ini kita masakan Ria dan Lula". jelas Bu Sari.


"Masakan Ria bu, saya bantu ngaduk sama doa doank". jawab Lula lagi.

__ADS_1


"Gak apa-apa lah Lul, yang penting bantuin". ujar Ria sambil menahan tawa karena ia tau Lula tidak suka bila di panggil Lul saja.


"Lul.. Lul.. bahlul, panggil nama ku tu yang bener Ria, dasar. Mas calon istrimu kalo aku pukul pakai ulekan kira-kira aku masuk penjara gak?". ujar Lula karena Gunawan masih minum air putih sekarang sebelum ke kamar untuk mandi.


"Uuhhhuuukkk, uhuukkk, uhuuukk," Gunawan tersedak mendengar Lula mengatakan hal seperti itu.


"Huusssshhh Lula mulutnya ihhh, Mas Gunawan udah punya pacar, pacar nya yang kami selamatkan tadi malam". jelas Ria berfikir kalau Gunawan akan kembali lagi ke Syakila.


"Mas kn udah bilang kan sama kamu Ria,Mas gak ada perasaan apa-apa lagi sama Syakila. serius, mas bantuin dia juga karena kamu". sekarang Gunawan yang bicara tanpa filter, Ria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu pada Bu Sari yang mendengar semua nya.


"Ckk, biasa Mas. Cewe kalo cembokur alias cemburu tu gitu, suka mengarang cerita, biar dirayu. Ria biasanya di kasih melati Ama kantil juga udah seneng ko mas". ujar Lula lagi, Ria pasrah saja dengan ucapan Lula, semakin ia menghindar semakin orang berdua ini membuat nya tidak waras.


"Jadi sepertinya aku sudah berubah jadi kuntilanak ya Lula, tunggu nanti malam akan ku bawa kau ke atas pohon akasia di sana". ujar Ria sambil menunjuk pohon besar yang ada di ujung jalan.


"Sudah-sudah Mandi sana, bau asem kamu". Bu Sari mengusir Gunawan sambil tertawa-tawa karena kelakuan muda-mudi di rumah nya ini.


Rinjani yang ada di dekat Philip dari tadi terus memperhatikan Philip, ada ke khawatiran darinya karena melihat Philip yang entah kenapa tiba-tiba aura nya berubah menjadi sedikit gelap.


"Ini tidak bisa bisa di biarkan". ujar Rinjani dalam hati, "Philip ikut aku sekarang". ujar nya kemudian menarik Philip tanpa persetujuan nya terlebih dahulu, Ria yang melihat Rinjani membawa Philip hanya bisa menahan rasa sedihnya karena Philip baru saja memunculkan dirinya tapi sudah pergi lagi.


"Kenapa membawa ku ke sini, Siapa yang menjaga Ria di rumah sana". ujar Philip yang di bawa ke suatu tempat yang jauh dari rumah itu.


"Ada Singa milik Gunawan di rumah yang akan menjaga mereka, sekarang jelaskan padaku ada apa dengan mu. kenapa kau berubah". ujar Rinjani.

__ADS_1


"Aku berubah, aku biasa saja". ujar Philip lagi tidak ingin mengakui kalau sebenarnya ia juga merasa ada yang aneh dengan perasaannya setelah pulang dari rumah Susanto.


"Kau sudah terkena energi negatif dari rumah yang ada di sana Philip, jika kau tidak berdamai dengan ingatan dan janji yang kau buat dulu untuk pergi dengan tenang, aku khawatir justru kau semakin tidak terkendali dan berubah menjadi roh pendendam". ujar Rinjani menjelaskan.


"Maksudnya apa Rinjani?" ujar Philip, bagaimana pun ia tidak ingin menjadi roh hitam.


"Philip aku tahu kau masih belum ingin melepaskan Ria, tapi kau juga harus ikhlas dengan takdir mu. pergilah Philip, biarkan ingatan itu hilang, jangan dendam lagi, jangan benci lagi, aku tahu kamu marah dengan kekasih mu yang lebih memilih pergi terlebih dahulu dari dunia ini hingga membuat mu menjadi seperti ini". ujar Rinjani Kepada Philip.


"Aku masih ingin bersama dengan nya Rinjani, aku masih ingin melihat senyuman nya, aku takut kehilangannya lagi". ujar Philip kemudian.


"Lalu kau akan selamanya seperti ini, jika saja Ria tahu kalau dia lah alasan kau tidak bisa pergi ke alam yang seharusnya Ria akan sedih, sampai kapan kau akan berada di sisinya. jika Aura mu semakin gelap bisa saja kau mencelakakan orang lain atau bahkan juga Ria". jelas Rinjani.


Philip terdiam beberapa saat, dan tiba-tiba ada darah yang menetes mengalir dari kedua matanya.


"Lihat lah Philip, bahkan air matamu sudah berubah menjadi darah. kau harus segera pergi menuju cahaya sebelum kau benar-benar berubah menjadi roh jahat". ujar Rinjani mengingat kan Philip.


"Bantu aku pergi Rinjani, aku mohon. aku tidak ingin menjadi roh jahat". ujar Philip, karena jujur saja tadi sebenarnya ia hampir ingin mencelakakan Gunawan jika saja Rinjani tidak membawanya Pergi.


Padahal Philip tahu, Gunawan adalah pria yang baik dan juga sepertinya mau menerima Ria apa adanya.


"Aku bisa membantu mu, kau ingin langsung pergi atau kau ingin pamit pada Ria terlebih dahulu". tanya Rinjani.


"Malam ini aku ingin pergi, tapi izinkan aku berpamitan pada Ria dan menitipkan nya pada Gunawan. apakah bisa Rinjani". tanya Philip masih meneteskan darah di matanya dan sekarang bajunya yang putih sudah berubah merah karena terkena tetesan itu.

__ADS_1


"Baiklah, malam ini". ujar Rinjani pada Philip.


"Maafkan aku Philip, aku tidak bermaksud untuk membuat mu sedih, tapi lebih cepat lebih baik. aku tidak ingin kau selamanya menanggung sakit di dunia ini". Rinjani berkata dalam hati.


__ADS_2