
Felix terus memperhatikan semuanya dengan seksama, ia berfikir pasti tidak mudah menjadi Ria dan apakah dia sanggup untuk ada di sisinya nanti?!,
...****************...
"Ratmi, Mas janji akan menjaga Cinta dengan segenap jiwa dan raga mas. kamu yang tenang di sana, tunggu kami nanti di atas agar bisa berkumpul bersama. saja berjanji tidak akan pernah menikah lagi, selamanya hanya ada kamu di hati ku". ujar Ayah Cinta terisak.
"Terimakasih untuk semuanya Mas, saya pamit. selamanya saya akan selalu mencintaimu, lanjutkan hidup mu Mas. jadilah pribadi yang lebih baik". ujar Ratmi kemudian keluar dari dalam tubuh Ria dan kembali Ria masuk ke tubuhnya.
"Terimakasih Ria, aku sudah melihat cahaya di depan sana. aku pergi, sampaikan salam ku untuk Datuk". ujar Ratmi akhirnya berjalan menuju cahaya, sekali lagi ia melihat kebelakang sambil tersenyum dan akhirnya menghilang bersamaan dengan redup nya cahaya di depan nya.
"Hikkzzz... Ratmi". ujar Ayah Cinta menangis bersujud tanpa suara di sebelah Cinta yang masih tertidur pulas di kasur itu.
"Kak Ratmi sudah pergi, kita doakan saja semoga beliau tenang sekarang". ujar Gunawan sambil merangkul tubuh ayah dari Cinta itu.
"Sebaiknya kita istirahat malam ini, sudah banyak yang terjadi. kalian pasti lelah, biarkan cinta tidur dengan ibu, dan ayahnya tidur di kasur ini". jelas Bu Sari sambil meminta Lula untuk mengangkat tubuh mungil Cinta ke kamar Bu Sari.
Dan semua orang pun sekarang kembali ke kamarnya masing-masing, Ria dan Lula sekarang sudah tiduran di kamar yang memang di sediakan untuk mereka.
"Ria, bagaimana keadaan mu. apakah kamu benar baik-baik saja, tidak ada yang terluka kan??". tanya sahabatnya Lula khawatir.
"Aku baik-baik saja Lula, terimakasih sudah mau menunggu ku saat tadi aku tertidur". ucap Ria sambil tersenyum menghadap ke arah Lula, dan Lula mengangguk sambil membalas senyuman sahabat nya Ria.
"Aku senang, memiliki sahabat seperti kamu. aku harap kamu selalu bahagia". Doa Ria dalam hati sebelum akhirnya mereka berdua pergi ke alam mimpi.
__ADS_1
"Felix,kamu baik-baik saja?!". sekarang giliran Gunawan yang menghawatirkan sahabat barunya Felix.
"Aku baik, hanya saja sedikit speechless dengan semua nya. melihat Ria tadi di kamar membuat ku takut, jika ia tidak kembali ke raganya apakah dia baik-baik saja. sementara aku tidak bisa membantu atau melakukan apapun untuk nya". Curhat Felix sambil menggusarkan rambut nya.
"Chhh,, kau terlalu meremehkan Ria. Dia lebih kuat dari yang kau bayangkan, mungkin suaranya saat bicara memang lemah lembut bak kain sutra, namun jika dia sudah mengeluarkan jurus-jurus nya saat melawan makhluk yang tak kasat mata beeuuhhhh, udah kaya Srikandi dunia ghaib". ujar Gunawan santai mengutarakan pendapatnya pada Felix.
"hahaha.... Srikandi ghaib?, ada-ada saja kamu Gun". Felix melemparkan bantal ke arah Gunawan yang masih duduk di kursi kamar miliknya itu.
"Hahahaha, ya kalau di bilang dunia nyata kan dia tidak di dunia kita saat berperang nya". Gunawan tertawa tertahan karena tidak ingin mengganggu orang lain.
"Aku khawatir jika Ria tidak ingin bersama dengan ku Gun, aku tidak memiliki kemampuan seperti nya". jelas Felix lagi.
"Ck,, kau liat Lula calon istri ku itu, selain bisa marah-marah tidak ada lagi kelebihan yang dia miliki. tapi dia mampu bertahan dan menerima keanehan yang ada pada diriku, jadilah aku sangat mencintainya". Gunawan bangkit dan sekarang ikut merebahkan dirinya di samping Felix.
"Kau hanya perlu bertahan di sisinya dan tidak menganggap jika kelebihan yang dia punya adalah sesuatu yang aneh, dia tidak pernah meminta untuk di lahir kan dengan kelebihan ini. semua yang ia miliki dan semua kekurangan nya harus kau terima, aku yakin Ria juga nanti pasti akan membalas perasaan mu". Gunawan memberikan sedikit masukan kepada Felix.
"Sudah lah, besok lagi kau berfikir nya. kita istirahat dulu, hari sudah sangat larut". ucap Gunawan, akhirnya mereka juga pergi untuk tidur.
Pagi hari seperti biasanya Ria dan Lula bangun untuk ibadah, dan di ikuti oleh yang lain. para laki-laki pergi ke masjid yang dekat untuk solat subuh.
Ria dan Lula dari tadi selalu mendengar suara handphone yang sepertinya milik ayah Cinta berbunyi namun mereka tidak berani mengangkat nya, jadi mereka hanya memperhatikan nya saja.
Hingga akhirnya para pria pulang dan ayah Cinta melihat notifikasi handphone miliknya yang terdapat banyak panggilan tidak terjawab dari pak RT di daerah nya, dan dengan cepat ia menelepon balik ke pak RT tersebut.
__ADS_1
"Halo bapak, assalamualaikum. tadi nelpon saya ya,maaf saya tadi di masjid. ada apa ya pak?". tanya Ayah Cinta dengan sopan.
Terdengar sayup-sayup suara orang berbicara dari sambungan telepon itu namun tidak bisa terdengar, terlihat pula wajah ayah Cinta yang menegang dan terkejut hingga dengan cepat ia mematikan sambungan telepon tersebut.
"Maaf Gun, bisa kah saya menitipkan Cinta satu hari lagi di rumah ini. Baru saja saya mendapatkan kabar jika Andini di temukan tewas di rumah Kontrakan miliknya". jelas nya singkat.
"Silahkan, saya bisa mengurus cinta. kebetulan saya tidak ke klinik hari ini". ujar Bu Sari dengan cepat menjawab.
"Saya ikut ke rumah Mas boleh, saya ingin memeriksa keadaan nya dan mungkin nanti saya di perlukan jika ada penyelidikan". ujar Gunawan.
"Aku ikut?!". ujar Felix juga penasaran.
"Tidak, kamu di sini jaga para wanita. kamu di rumah saja". ujar Gunawan dan akhirnya mereka setuju.
"Biar saya saja yang membawa motor ini, mas sedang tidak fokus. saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan kita, mas cukup tunjukkan saja di mana alamat yang kita akan tuju". akhirnya mereka berdua pun pergi ke tempat yang di tunjukan oleh ayah Cinta.
Tidak perlu waktu lama, mereka berdua sudah sampai di depan rumah kontrakan yang memang di kontrakan terpisah oleh Andini saat ia sudah menikah dengan ayah Cinta yang entah kenapa alasan nya dia tidak tahu.
Terlihat pagi itu para warga sudah bergerombol dan terlihat ada juga beberapa polisi yang sudah menjaga tempat itu, jasad Andini belum di evakuasi. masih menunggu kedatangan ayah Cinta agar tidak salah prosedur.
Ayah Cinta segera masuk ke rumah setelah mendapatkan izin dari kepolisian dan terlihat lah di dalam kamar tubuh Andini ya sudah tidak berbentuk seperti manusia normal.
Tubuhnya tertekuk terbalik dengan kaki yang menyentuh kepalanya yang sudah terpelintir dan mulut yang robek serta melepuh, dan masih terlihat arang yang memenuhi mulut nya. sepertinya bekas pembakaran kemenyan.
__ADS_1
Kaki dan tangan nya patah, matanya masih melotot, Entah apa yang terjadi padanya hingga tubuhnya seperti ini. ujar Ayah Cinta dalam hati, menggenaskan. darah berceceran di lantai mengeluarkan bau amis yang sangat menusuk hidung, dan terlihat ada banyak sekali belatung yang sudah ada di tubuh Andini.
Gunawan yang berdiri di belakang ayah Cinta memperhatikan sekeliling kamar dan terlihat juga bekas sesajen yang sudah terobrak-abrik , mungkin tadi malam dia di eksekusi oleh Nyai yang selama ini di puja nya, monolog Gunawan dalam hatinya sendiri.