
"Semoga setelah bangun dan badannya sudah cukup pulih ia bisa sabar menerima kenyataan ini". ujar suster pun akhirnya pamit kembali berjaga.
Gunawan sekarang sangat bingung, bagaimana sekarang ia harus berbuat. di sini ia sedang menjaga Syakila, tapi hatinya selalu berputar-putar mengingat ia meninggalkan Ayah nya di dalam.
Hatinya di penuhi rasa penyesalan yang teramat sangat, dia juga memikirkan bagaimana caranya ia akan menjelaskan semuanya kepada ibunya di rumah.
Sementara Ria yang sudah tersadar langsung duduk dan memeluk Lula yang ada di sebelahnya kemudian Bu sari juga ikut memeluk Ria setelah ia masuk ke kamar tamu sesudah ia selesai sholat subuh.
"Syukurlah kamu kembali nak, semalaman ibu mengkhawatirkan mu. bagaimana dengan Gunawan, dia baik-baik saja kan nduk?". ujar Bu sari setelah mereka saling meleraikan pelukan.
"Mas Gunawan tidak kenapa-kenapa Bu, mungkin sekarang mas Gunawan sedang di rumah sakit dengan Syakila, tapi Suami ibu-". ucapan Ria terpotong, harus kah ia mengabarkan kembali berita duka ini, kuat kah Bu sari mendengarnya.
"Apapun yang sudah terjadi dengan ayah Gunawan, apapun yang menimpa dirinya itu adalah ganjaran yang harus ia terima nak". ujar Bu Sari seakan faham apa yang ingin Ria sampaikan.
"Karena dia bersekutu dengan jin dan iblis, tidak mungkin ia akan semudah itu lepas. ibu tau seperti apa perjanjian-perjanjian ilmu hitam walaupun ibuk tidak pernah mempelajari ilmu yang seperti itu". Bu Sari menatap ke arah luar di mana matahari sepertinya sudah siap untuk menunjukan dirinya dan bertempur melawan waktu ini hingga akhirnya ia Istirahat dan berganti tugas dengan kegelapan malam.
"Maafkan Ria Bu, ria tidak bisa menyelamatkan Suami ibu". Ria masih merasa bersalah teringat ucapan dari Gunawan kalau Bu sari selama ini menunggu Kepulauan beliau.
"Tidak nak, ibu harusnya berterimakasih sekali lagi sama kamu. karena kamu Ayah Gunawan bisa menghentikan semua kejahatan nya, seandainya ibuk dari dulu tau kenapa alasan dia pergi. tidak akan pernah akan ibu mau menunggu kepulangan nya". jawab Bu sari lagi dan kembali memeluk Ria yang sekarang masih menangis.
"Semoga tidak ada lagi manusia di luaran sana yang mau bersekutu dengan setan dan iblis yang jahat, mereka menipu manusia dengan segala janjinya. Semoga kita juga selalu di lindungi dari orang-orang yang jahat nak". doa ibu Sari.
Gunawan sekarang sudah berdiri di depan rumah mewah milik pak Santoso yang sudah rata dengan tanah, semua habis terbakar. entah bagaimana kabar orang-orang yang kemarin ada di dalam nya, tidak beberapa lama ada beberapa polisi yang sedang menyelidiki TKP yang ternyata juga rekan-rekan dari Gunawan pun keluar dari sana menuju ke arah mobil polisi yang terparkir tidak jauh dari tempat Gunawan sekarang berdiri.
__ADS_1
"Gun, ngapain di sini. kamu dapat tugas lagi?". tanya salah satu petugas yang sudah berdiri di dekat Gunawan tanpa ia sadari.
"Aaa saya kebetulan lewat dan juga teman dari anak pak Santoso, jadi saat mendengar kabar kalau mereka terkena musibah saya coba mampir untuk melihat". ujar Gunawan mencoba menjelaskan.
"Kalian sudah tau penyebab kebakaran ini apa belum?". tanya Gunawan penasaran.
"Menurut penyelidikan sementara ini karena tabungan gas yang bocor hingga membuat beberapa ledakan dan mengakibatkan kebakaran". jelasnya.
"Bagaimana dengan CCTV, apakah ada kejanggalan?". Gunawan sengaja memancing rekannya untuk mencari tahu apakah ada bukti dirinya pergi ke rumah ini tadi malam.
"Anehnya CCTV di Semua daerah dekat sini mati saat magrib kemarin, sehingga tidak ada bukti dari CCTV". ujar temannya berkacak pinggang.
"Semua, satu pun tidak ada?". tanya Gunawan dan mereka pun menggeleng.
"Kita tidak tahu orang-orang seperti mereka itu bagaimana kan Brow, makanya kamu berhenti main judi online jika tidak ingin seperti mereka". ucap salah seorang lagi menggoda sesama mereka.
"Kampr*t gua masih waras Brow, kamu saja yang berhenti memberikan simpan*n mu jajan dari hasil pinjol". ujar nya lagi bercanda Kepada teman nya.
"Sudah-sudah aku saja yang punya istri tiga santai-santai saja, kalian percaya lah tuhan mengerti apa yang di butuhkan hambanya". lagi mereka berbicara asal.
"Sejak kapan kamu punya istri 3, wahhh gua laporin lu ke si Ungee. biar mamp*s kamu, mana Boleh aparat seperti kita memiliki istri lebih dari satu". ujar Gunawan terkejut dan berpura-pura berniat melaporkan teman nya pada istrinya.
"Eettzzz dah, jangan macam-macam. dengerin penjelasan ku. kalo bini satu itu it's one, kalo bini dua itu it's two kalo bini 3 jadinya?" ujar nya memberi pertanyaan pada teman-temannya.
__ADS_1
"It's three". ujar mereka lagi menjawab bersamaan sambil tertawa tertahan, karena tidak sopan tertawa di tempat TKP.
"Sudah lah, aku ingin berniat untuk pulang. kalian hati-hati jika menemukan benda-benda aneh di TKP, batu ataupun keris dan sebagainya jangan di ambil. biasanya orang kaya yang miskin mendadak karena memuja dan tidak bisa meneruskan perjanjian nya, jangan sampai kalian jadi Korban''. ujar Gunawan memperingati teman-teman nya dan mereka menganggukkan kepala tanda faham.
"Pamit Brow". ujarnya melambaikan tangan dan mereka pun berpisah, seorang teman Gunawan diam-diam ternyata sudah mengamankan sebuah batu hijau yang tadi di temukan di balik puing-puing bangunan dan menyimpan nya di kantong celananya.
"Ck, ck, ck, aparat ko percaya hal-hal kaya begitu,ya gak Brow. lagian tidak sopan mengambil barang-barang orang lain meskipun itu sudah hancur seperti ini". ujar salah seorang teman nya menyenggol rekan yang tadi mengambil batu itu.
"Iiiii,,, iiya Brow, ya sudah ayo kembali ke markas". ujarnya menghentikan pembicaraan tentang barang-barang yang tadi Gunawan wanti-wanti kan agar tidak di ambil.
Entah kenapa saat ia melihat batu hijau itu tadi matanya seperti terhipnotis dan dengan gampang nya mengambilnya untuk di bawa pulang, namun sekarang ia sedang bimbang memikirkan ucapan dari Gunawan.
"Ahhh mana ada sih batu yang bisa menyakiti seseorang yang menemukan nya, menjaga mungkin bisa jadi. lagian kalo di liat Ama yang lain juga pasti di ambil, secara batu ini cakep banget dan nanti bisa di beri gagang untuk cincin lumayan". ujar nya dalam hati.
Tanpa dia sadari batu tadi yang sekarang di dalam kantong nya menyala sekejap kemudian redup kembali.
Syakila sudah siuman dan sekarang sedang menunggu ibunya sadar dari komanya, ia tidak kenapa-kenapa. Hanya kekurangan cairan jadi cepat pulihnya, namun bagaimana pun sekarang Syakila sudah tidak memiliki apa-apa lagi karena semua aset yang keluarga nya punya sudah di sita.
Gunawan sekarang sudah di jalan menuju kembali ke rumah nya, bukan nya ia tega Kepada Syakila namun ia sangat khawatir pada ibu dan juga Ria di rumah.
Walaupun tadi mereka sudah bertukar kabar lewat telepon tetap saja Gunawan sangat khawatir.
Tadi juga sebelum pergi ia sudah pamit kepada Syakila dan Syakila juga beberapa kali berterima kasih pada Gunawan dan menitipkan salam untuk Ria orang-orang yang sudah menyelamatkan dirinya dari belenggu yang di ciptakan oleh orang tuanya sendiri.
__ADS_1
Gunawan melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang dan tidak beberapa lama singa yang sekarang menjaganya muncul berlarian mengejar mobil Gunawan.