
"Ayo kita kembali". ujar Datuk kuning mengajak Darwin pergi dan Darwin pun mengangguk kemudian mereka menghilang bersama angin.
"Ria, siapa yang mengirim kan teluh ini padamu?, apakah kamu pernah berselisih faham dengan orang lain?". tanya Rinjani setelah kepergian Darwin.
"Tidak kak, Ria tidak tahu kenapa ada orang yang mengirim kan teluh ini". jawab Ria pada Kakak nya.
"Besok kalian akan tahu siapa yang melakukan ini padamu, kamu bisa bertanya padanya secara langsung kenapa dia mencoba menyakiti mu".ujar Datuk kuning tiba-tiba saja muncul bersama dengan Darwin yang sudah kembali ke bentuk seorang pangeran tampan.
"Apakah Kau sudah menemukan makam itu Gun, aku harap makam itu tidak terkena pengguna". ujar seseorang kepada Gunawan melalui telepon.
Belum, alamat yang dia berikan masih ambigu, aku takutnya seiring berjalannya waktu nama gang dan jalan nya sudah berubah, tapi tenang saja. aku akan terus berusaha mencari makam itu, apalagi aku juga penasaran dengan makam ini karena memiliki nama yang sama dengan seseorang yang aku kenal". ujar Gunawan kepada teman nya.
"Baiklah, kabari aku jika sudah ketemu, nanti aku tinggal mengabari teman ku agar dia bisa terbang ke sini segera". ucap seseorang dari seberang sana pada Gunawan.
"Ya, baiklah". jawab Gunawan lagi dan akhirnya mereka mengakhiri panggilan itu.
"Apakah ini makam milik mu?, tapi kenapa bisa ada di kota asalku sementara kamu berkeliaran di tempat lain". monolog Gunawan pada dirinya sendiri pada malam itu.
Keesokan harinya Ria dan Lula sudah di jalan menuju kampus di hari pertama setelah liburan, mereka berjalan sambil bercanda seperti biasa dan di depan gerbang Zain sudah berdiri seperti sedang menunggu kedatangan Ria dan Lula.
"Hai Ria, akhirnya datang juga. hai juga Lula". ujar Zian setelah mereka bertemu di depan gerbang.
"Hai kak, kakak baru datang, apakah jam pelajaran kita sama?". tanya Ria kepada Zain.
"Sebenarnya kalian lebih dahulu masuk 1 jam dari pada kakak, tapi kakak mau ketemu kamu dulu". ujar Zain kepada Ria dan Lula yang mendengar ucapan Zian jiwa julid nya pun bangkit.
"Ehheemmm,ada yang nungguin tu. Cyeeee". ujar Lula sambil mencolek tangan sahabatnya.
"Lula, plisss jangan mulai". ujar Ria berbisik pada Lula pelan namun perbuatan nya tidak lolos dari perhatian Zain.
__ADS_1
"Ria, aku harap perhatikan kakak tidak membuat mu tidak nyaman. kakak hanya ingin berteman dengan mu". ujar Zian pada Ria, karena dia tahu bukan hanya dia yang mendekati Ria dan bahkan sudah ada yang mengatakan Cinta padanya. namun semua berakhir dengan penolakan, jadilah Zian berfikir untuk mendapatkan Ria pelan-pelan agar Ria tidak menjauhi nya.
"Ria tidak apa kak". ujar Ria pelan sambil tersenyum.
"Hufftt senyuman ini yang kadang membuat orang lupa Diri Ria, yang membuat orang lain ingin bisa mengakui jika senyuman itu adalah milik kekasihnya". Zian hanya bisa mengatakan itu dalam hati karena tidak ingin Ria tau apa yang ia katakan.
"Ya sudah,ayo kedalam kampus. kalian pasti belum makan siang kan seperti biasanya,ayo kita makan sama-sama". ujar Zian berjalan di samping kanan Ria, sedangkan Lula di samping kirinya.
Ria hanya mengangguk dan ikut melangkah bersama kedua teman nya ini, namun matanya sempat melihat seorang perempuan dengan wajah yang memerah seperti tomat dan ada beberapa jerawat besar di wajahnya, namun di tutupi oleh Rambut nya yang di urai dan di biarkan berjatuhan ke wajahnya.
"Kak Lisa, kenapa dengan wajah nya?". Ria berbicara dalam hati namun tidak ingin ambil pusing, toh itu bukan urusan nya.
Semua orang di kampus pasti mengenal siapa Lisa, wanita sombong di sana dan suka membully orang-orang yang menurut nya miskin atau pun jika ada yang melebih gayanya dari dia.
Ria dan Lula juga pernah hampir terkena bullying oleh Lisa namun the power of Lula dia berani melawan Lisa hingga mereka tidak di ganggu lagi, beruntung Ria memiliki teman seperti Lula yang tidak memiliki ketakutan apapun asalkan mereka benar.
Akhirnya mereka sampai di kantin, mereka makan siang terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas masing-masing untuk belajar, Zain juga sudah meminta kontak Ria juga Lula alasan nya jika ingin meminta tolong agar mudah.
Saat pulang, Ria lebih dahulu keluar sedangkan Lula ada kelas tambahan dan Zain memang satu jam lebih lama dari mereka di kelas nya.
Ria berjalan dengan santai seperti biasanya menuju ke asrama dan kemudian dia di cegat oleh seseorang wanita yang tadi Ria lihat di kampus.
"Ria berhenti, aku ingin bicara!!!". ujar wanita itu yang ternyata adalah Lisa dengan wajah nya yang tiba-tiba memiliki bintik dengan nanah dan wajahnya yang memerah seperti seseorang yang terkena siram air panas.
"Ya kak ada apa?". ujar Ria pelan.
"Aku peringatkan kamu, jauhi Zain. Dia milikku dan jangan coba-coba menggatal sama dia kamu. dasar wanita kampung". ujar Lisa pedas sekali.
"Maaf kak, Ria tidak pernah mendekati kak Zian". jelas Ria namun bukan nya percaya Lisa justru mendorong tubuh Ria hingga membentur dinding.
__ADS_1
"Lalu kamu mau bilang jika Zian lah yang mendekati mu?, mimpi kamu, Zian tidak mungkin menyukai wanita Hutan seperti kamu!!!". ujar Lisa lagi, Rinjani yang ada di sana hampir saja menyerang Lisa namun Ria melarang dengan kode matanya.
"Maaf kak, terserah kakak mau percaya atau tidak dengan saya, bukan urusan saya untuk membuat kakak tidak merasa saya berbohong atau tidak nya". kemudian Ria berlalu dan mencoba melewati tubuh Lisa yang berdiri di depannya begitu saja.
"Hehhh, junior sok Cantik kamu. Sini, aku belum selesai bicara!!!!". ujar Lisa berusaha menarik rambut Ria dari belakang namun belum sampai tangan nya menyentuh Ria tiba-tiba wajah nya terasa sakit dan seperti terbakar.
"Aaaa,, panas.. Aauuuhhh fuuhhh fuhhh panas". ujarnya mengipas-ngipaskan wajah nya dengan tangan nya yang ternyata juga memerah kemudian memilih berlari meninggalkan Ria.
Ria yang mendengar Lisa kesakitan pun berbalik badan namun sudah mendapati Lisa yang berlari menjauhi dirinya, Ria terus menatap kepergian Lisa hingga ia memasuki mobil dan berjalan entah kemana.
"Wanita itu yang mencoba menyakiti mu Ria". ujar Rinjani membuyarkan Ria yang menatap kepergian Lisa dengan Fikiran yang bingung.
"Maksudnya kakak yang mengirim teluh tadi malam?". tanya Ria pada kakaknya dan Rinjani menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kakak bisa tau?". ujar Ria kemudian melanjutkan melangkah menuju ke asrama lagi.
flashback on.
"Kkkkeeekkkkhhh, kurang ajar kedua perempuan sundal itu meninggal kan ku yang seperti ini". ujar dukun itu terbangun dari pingsannya dan mendapati tubuh nya yang sudah tidak berbentuk dengan kedua kaki yang patah dan tangan yang membengkak.
"Jika aku mati sekarang, kalian harus mendapatkan hukuman dari ku, uuhhuuukkk". ujar Dukun itu kemudian dengan sisa kekuatan nya mengambil foto Lisa kemudian menggores dan menusuk foto itu dengan keris dan meludahi nya dengan emosi sambil membaca mantra.
"Cccuuiiiihhh, Rasakan ini. karena kalian aku seperti ini". ujarnya kemudian tumbang dan kehilangan nyawanya.
Bukan nya bergegas meminta pertolongan dan bertobat dukun itu justru menggunakan sisa tenaga nya untuk menyakiti orang lain lagi untuk membalas dendam karena keadaan nya yang seperti itu.
Begitu lah manusia, kadang sudah di beri kesempatan untuk menjadi lebih baik tapi tidak di gunakan dengan benar dan tidak khawatir mungkin saja maut datang dan mengakhiri kehidupan kita tanpa ada kesempatan lagi untuk bertobat.
Dan saat pagi tiba-tiba saja Lisa bangun karena merasa tubuh nya panas dan perih hingga ia berteriak pagi itu di bawah shower air yang menyala berharap panas di tubuhnya hilang.
__ADS_1
Saat itu ibunya bangun karena ketukan pintu dari pembantu nya yang mengatakan jika nona muda nya sepertinya kembali mengamuk dan bergegas untuk mengecek putri nya di kamarnya. namun dia terkejut melihat tubuh Lisa yang sudah penuh dengan bintik-bintik bernanah hingga ke sekujur tubuhnya yang memerah seperti kepiting rebus.
"Lisaaa kamu kenapa nakkk?". kemudian dia pingsan di depan kamar mandi Anaknya, sementara Lisa masih tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi pada tubuhnya karena belum memperlihatkan keadaan badannya di bawah guyuran air pagi itu.