Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
96 Lisa Gentayangan.


__ADS_3

Ria berusaha menggapai tangan seseorang itu namun tidak bisa, tubuh nya lemas. ia menangis tersedu-sedu di situ, hatinya sakit sekali. hingga akhir ia bangun dan terkejut mendapati Rinjani yang sudah duduk di samping nya sambil menatap Ria bingung.


"Mimpi ini datang lagi!!". fikir Ria, tapi dia tidak bisa mengatakan ini pada kakak nya Rinjani. ia tidak ingin kakak nya khawatir, lagi pula ini bukan mimpi yang menakutkan.


"Kau baik-baik saja Ria, kau mimpi apa?". ujar Rinjani pada adiknya yang terbangun setelah tadi tidur sambil terisak seperti orang yang menangis.


"Mimpi?!, Ria tidak tahu, Ria lupa". ujar Ria berbohong.


"Ya sudah, kembali lah tidur. ini masih tengah malam". ucap Rinjani dan Ria kembali menutup matanya.


Ria dan Lula ke kampus seperti biasa, hari-hari berlalu tanpa ada lagi kendala. Zain sendiri sekarang sudah pindah kuliah ke luar negeri tanpa berpamitan secara langsung, dia pamit hanya lewat chat kepada Ria dan Ria hanya mengatakan semoga dia sukses di sana.


"Ria... mas Gunawan hari ini ke sini, dia bilang nanti malam akan menjemput teman nya di bandara dari luar negeri. Temani kami ya?!". pinta Lula pada Ria.


"Jam berapa, aku tidak mau keluar jika terlalu malam". jawab Ria pada Lula di kantin hari itu.


"Tidak malam, habis magrib kita langsung otw". Jelas Lula lagi. Ria masih menghabiskan makan siang nya dan masih berfikir, sepertinya tidak ada tugas yang harus di kerjakan. besok juga libur tidak ke kampus, seperti dia bisa ikut sekalian menjaga kedua sejoli ini fikirnya.


"Baiklah, habis magrib kan. ngomong-ngomong teman mas Gunawan ada urusan apa ke Indonesia?". tanya Ria penasaran.


"Katanya mau menengok makam dari saudara kakeknya yang memang di kuburkan di sini, pesan terakhir kakek nya sebelum meninggal dia meminta cucu nya ini jika ada waktu untuk mengunjungi adiknya itu". jelas Lula sambil menyeruput es jeruk nya hingga habis.


"Dan makam nya ada di kota mas Gunawan, besok pagi mereka akan langsung pulang menuju ke sana. mas Gunawan bilang ibu juga kangen sama kita, jadi kalau mau sekalian kita liburan ke rumah Bu sari. kan sudah lama kita tidak ke sana kan Ria?". Ujar Ria panjang lebar.


"Kau tidak masalah jika aku selalu bersama kalian Lula, kamu tahu kan mas Gunawan dulu ke aku bagaimana. kau tidak cemburu?!". tanya Ria merasa tidak enak hati jika selalu ada di antara mereka berdua.


"Ck,,, Ria. Mas Gunawan bilang sekarang perasaan nya ke kamu hanya seperti adik saja, karena ternyata tanggal lahir dan tahun mu sama seperti adiknya, jadi aku percaya mas Gunawan memang tidak memiliki perasaan apapun lagi padamu". ujar Lula lagi.

__ADS_1


"Dan kalau pun dia bohong, aku akan meninggalkan nya". ujar Lula lagi santai.


"Kau ini, kemarin kau kan semangat mengejar mas Gunawan, sekarang gampang sekali ingin membuang cinta itu". ujar Ria pada sahabat nya sambil memukul-mukul lengan nya pelan dengan buku yang dia pegang.


"Hahahahha, sebentar lagi kami akan bertunangan Ria. aku juga ingin mengetes mas Gunawan, apakah dia masih memiliki perasaan padamu atau tidak. Huffftt ku akui Gadis-gadis dari suku Dayak memang cantik-cantik, aku iri sekali padamu". ujar Lula sudah memanyunkan bibirnya.


"Kau juga cantik Lula, sebenarnya yang terpenting itu ini. percuma cantik kalau ini nya kotor, tidak akan ada orang yang benar-benar tulus pada mu jika hatimu tidak baik". ujar Ria sambil memegang Dadanya.


"Kau benar, Seperti almarhum Lisa. Dia sangat cantik menurut ku, juga populer. tapi sayangnya kecantikan nya tertutup oleh kejahatan hatinya dulu". ujar Lula mengingat kakak senior nya yang menurut teman-teman sudah menjadi roh Genta karena terus mengganggu teman satu gank nya.


"Ssssttttt,, jangan bicara kencang-kencang soal dia di sini Lula". ujar Ria sambil meletakkan jari telunjuk nya ke bibir nya sendiri.


"Kenapa...., apakah Lisa juga gentayangan di kampus ini?". tanya Lula sambil berbisik mengikuti instruksi dari Ria.


Ria mengangguk pelan, karena memang beberapa kali dia sempat melihat Sosok Lisa duduk tertunduk di kursi miliknya, hingga tidak ada yang berani mengisi bangku miliknya karena bila ada yang duduk di situ besoknya dia akan sakit.


Ria merasa ada seseorang yang mengikuti nya dari belakang, namun saat Ria menoleh tidak ada siapapun. sementara Rinjani terus memperhatikan Adiknya dari jauh, ia tidak ingin dekat-dekat karena ia tidak ingin Adiknya di ketahui makhluk lain tentang kelebihan nya.


Ria kembali melanjutkan langkah nya walaupun dia sebenarnya tahu pasti ada makhluk yang mengikuti nya karena bau busuk ini sangat menyengat dan menusuk ke hidung nya.


Setelah sore hari Ria dan Lula pun sudah sampai di Asrama, Sosok makhluk tadi siang juga sepertinya sudah pergi. semoga besok dia tidak datang lagi, kepala Ria pusing sekali menahan baunya.


"Setelah sholat magrib, mas Gunawan langsung ke sini. kita jalan-jalan sebentar, mas Gunawan juga akan menginap di penginapan dekat kampus bersama temannya". ujar Lula pada Ria yang sekarang sedang bersiap melaksanakan ibadah magrib nya.


Namun siapa sangka makhluk yang tadi siang mengikuti Ria muncul lagi, saat dia mengucapkan salam terakhir. wajah makhluk itu tepat di samping Ria, membuat Ria istighfar dan reflek menutup matanya.


Makhluk itu menyeringai pelan, dan ia pun langsung saja merasuki Lula yang kebetulan saat itu sedang datang bulan.

__ADS_1


Sleeebbbb, makhluk itu masuk ke dalam tubuh sahabat nya Lula dan merangkak di depan Ria yang masih menggunakan mukenah nya.


"Kauuu, bisa melihat ku kan wanita biad*b". ujar sosok yang merasuki Lula, Rinjani kemudian muncul bersama Darwin di kamar adiknya tepat di belakang Lula yang sekarang kesurupan.


"Lisa, pergi dari sini. aku tidak ingin menyakiti mu, jalani hukuman yang tuhan berikan padamu". ujar Ria lagi, Ya.. Ria tahu jika Lisa lah yang sekarang merasuki Sahabat nya itu.


"Hiiiii,,, hiii,,, hiii,,,aku begini karena kamu!!!". ujar nya tertawa tapi seperti orang menangis.


"Kau seperti ini karena ulah mu sendiri,kau yang sudah banyak menyakiti orang lain. kau juga mengakhiri hidup mu tanpa mencoba mencari tahu apa penyebab tubuh mu menjadi seperti itu, harus nya dari pada bunuh diri kau bertobat dan berusaha ikhtiar untuk penyembuhan tubuh mu". ujar Ria lagi.


"Kau yang membuat dukun itu menyerang ku". ujar Lula berusaha menyerang Ria namun Ria menangkap kedua tangan nya yang ingin mencekik Ria.


"Jika kau tidak lebih dahulu mencoba menyakiti ku, mungkin selama nya dukun itu terus menyakiti orang lain karena permintaan mu dan ibumu,miris sekali Sebagai orang tua dia justru mengajarkan hal seperti ini pada anaknya". ujar Ria lagi di depan wajah Lula.


"Dan apakah kau fikir dirimu tidak bersalah padaku. kau tidak pernah tahu jika mungkin saja orang yang ingin kau sakiti jauh lebih memiliki kemampuan dari dukun yang kau suruh untuk menyakiti banyak orang itu!!!". ujar Ria sambil menghempaskan tangan Lula hingga tubuh Lula terhuyung ke belakang.


Ria kemudian bangkit dan memegang kepala Lula kemudian membacakan doa agar Roh penasaran nya Lisa keluar, Lula berteriak tertahan. nafasnya tercekat, tubuhnya condong ke depan seiring dengan tangan Ria yang berusaha menarik roh itu keluar dari tubuh sahabat nya.


"Aaaaa,,,, aaaaa,,, hhhhhaaaahhhhh". ujar Lula kemudian pingsan di depan Ria, Lisa sudah berada di luar dan saat ia kembali ingin masuk ke tubuh Lula namun Rinjani dan Darwin memegang tangan nya.


"Urusan mu dengan ku sekarang". ujar Rinjani kemudian menarik roh Lisa entah kemana dan mereka pun pergi, Lula juga kemudian sadar.


Lula menatap Ria yang masih menggunakan mukenah saat ini, padahal waktu sudah hampir jam 7 kurang 15 menit lagi.


"Apakah aku ketiduran Ria, OMG. mas Gunawan nelpon sampai 5 kali tapi hp ku mode getar, ayo bersiap-siap mas Gunawan sudah hampir sampai". ujar Lula panik setelah membuka pesan dari Gunawan.


Ria hanya mengangguk pelan dan ikut mempersiapkan dirinya juga untuk menjemput teman dari Gunawan.

__ADS_1


__ADS_2