DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 1 #22 tahun kemudian.


__ADS_3

Tap tap tap


Derap langkah sepatu seseorang terdengar sedang menuruni anak tangga. Dinda yang sedang sibuk di bantu oleh para asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan, seketika mengarahkan pandangannya kearah tangga yang menuju ke lantai dua.


Adinda bersama putra semata wayangnya pindah ke luar negeri. Namun sesekali ia kembali ke tahan air untuk menjenguk rumah mendiang Jhonatan, serta ziarah ke makam.


Adinda tersenyum saat melihat sosok putra semata wayangnya menuruni anak tangga.


"Pagi, Ma!" sapa sang putra dengan nada lembut.


"Selamat pagi juga sayang..!" sahut Dinda. "Udah mau berangkat? Sarapan dulu yuk," ujarnya lagi.


"Iya Mah," sahut putranya dengan singkat namun sambil tersenyum kecil.


Di sela-sela makan, sang putra sesekali menatap raut wajah Dinda. Saat ini usia Dinda sudah tidak muda lagi, namun dia masih terlihat cantik dan awet muda.


Sesaat putranya mengulas senyum lebar sambil mengunyah makanannya.


"Ma! Kenapa Mama masih betah menyendiri, kenapa nggak cari suami baru saja?! Biar ada teman,"


"Uhuk uhuk uhuk.."


Seketika Dinda tersedak mendengar ucapan putranya yang nyeleneh.


Sang putra tentu tidak serius dengan kata-katanya itu, dia hanya ingin tau seperti apa jawaban Adinda. Seperti itulah yang ada di pikirannya.


Sruuppp


Adinda menyeruput air putih terlebih dahulu, sebelum ia menjawab.


"Tidak ada yang seperti Daddy mu," jawabnya kemudian. "Daddy mu lelaki yang luar biasa, sangat luar biasa, tidak ada yang seperti dia. Hiks hiks hiks!" lanjutnya, lalu menangis kala mengingat Jhon.


Masa lalu yang begitu sulit untuk di lupakan. Saat dimana seorang lelaki yang akan menjadi suaminya, telah rela menyerahkan nyawanya demi dirinya.


Bagi Dinda, perjuangan Jhon tidak bisa di bayar dengan apapun, untuk itu dia lebih memilih untuk tidak menikah.


Sang putra terharu mendengar ucapan Mamanya, dia meninggalkan makanannya lalu menggeser kursi yang ia duduki. Dia beranjak dari sana, melangkah menghampiri sang Mama yang sedang menangis pilu.


"Maafkan aku, Ma!" ujarnya pelan, sambil mengelus lembut punggung Adinda.


Di rumah besar itu seorang pemuda tampan dan gagah sibuk menenangkan hati seorang wanita paruh baya.


Sementara di tempat lain.


"Yo! Sudah terlalu lama kau tidak pulang kemari, bagaimana dengan pekerjaan mu di sana?" ujar seorang lelaki paruh baya, yang tidak lain adalah Aldo, sahabat Mario.

__ADS_1


Mario atau yang lebih di kenal sebelumnya sebagai mantan kekasih Adinda Larasati,sedang melakukan panggilan telepon video bersama sahabatnya Aldo.


Mendengar ucapan sahabatnya, sesaat Mario melepaskan tawa kecilnya. "Ya! Seperti yang kau tau, aku selalu di sibukkan dengan pekerjaan. Kapan-kapan, kalau ada waktu senggang aku akan berkunjung ke tanah air," Jawabnya kemudian.


Aldo pun tersenyum menanggapinya. "Kau selalu sibuk dengan pekerjaan. Lalu kapan kau sibuk mencari pasangan?" ujar Aldo menggodanya. "Ingat Yo..! Usia mu sudah tidak muda lagi, setidaknya kau tidak akan kesepian jika kau menikah," lanjutnya lagi. "Aku aja udah punya dua,"


"Apanya yg dua, sayang..?!" suara seorang wanita mengagetkan Aldo.


"Eh Mama..! Maksud Papa.. anak kita 'kan ada dua, begitu! Benar 'kan?" ujar Aldo salah tingkah saat menoleh kearah istrinya, ternyata sang istri sudah menatapnya dengan curiga.


Mario yang berada di seberang telepon pun tertawa lepas melihat raut wajah Aldo saat kepergok istrinya.


'Ternyata Aldo tipe suami takut istri juga,' pikir Mario dalam benaknya.


"Awas aja kalo berani macem-macem. Mama sunat sampai habis, baru tau rasa," balas sang istri lalu melirik pergi.


"Yah, Ma.. jangan di sunat sampai habis lah, nanti Mama pakai apaan? Pakai timun? Terong? Atau apa?" tanya Aldo sedikit berteriak.


"Cari yang lain lagi lah, masa' pakai sayur-sayuran?!" sahut sang istri asal, dari kejauhan.


Mario yang mendengar ocehan suami istri itu dari seberang telepon pun sontak terpingkal-pingkal.


"Apa yang kau tertawa kan Yo?! Kau senang mendengar rudal ku akan di sunat habis?" tanya Aldo kesal.


Kedua sahabat itu saling melontar candaan melalui sambungan telepon mereka, cukup lama. Sampai akhirnya Aldo kembali membujuk sang istri, setelah sambungan teleponnya dengan Mario berakhir.


__________


Siang harinya.


Tadi pagi setelah berhasil menenangkan Dinda, putra semata wayangnya yang bernama Javier atau yang lebih akrab disapa Jav (Jev), berpamitan dengan ibunya, Dinda.


Untuk 3 hari ke depan, Jav menginap di sebuah villa milik mereka yang berada diluar kota.


Pemuda itu ingin melihat sendiri pembangunan anak cabang perusahaan miliknya yang hampir selesai dan akan segera di resmikan.


Jav yang baru menginjak usia 21 tahun itu tidak dapat di ragukan lagi, bukan hanya fisiknya saja yang mirip dengan mendiang ayahnya, Jhonatan. Tetapi, dia juga mewarisi sifat dan kecerdasan sang ayah. Sehingga di usianya yang masih sangat muda, dia sudah menjadi seorang pengusaha hebat.


Wataknya yang keras namun lembut dan penyayang kepada seseorang yang dia sayangi, membuat semua orang yang mengenalnya juga mengenal mendiang ayahnya, salut padanya.


"Tuan muda! Maaf," ujar seorang lelaki dewasa. Lelaki itu adalah Leon, anak dari salah satu mantan anak buat Jhonatan.


Setelah kejadian yang menimpa Jhonatan, Dinda terus di dampingi oleh beberapa orang anak buah Jhonatan yang sudah sejak lama mengabdi padanya.


Hingga kini, beberapa diantara mereka masih setia, tetapi di bawah pimpinan Javier. Ada juga yang sudah meninggal, maka putra-putra mereka lah yang menggantikan posisi mereka untuk bekerja pada Javier.

__ADS_1


Javier yang sedang duduk bersantai menikmati pemandangan dari taman belakang villa nya, segera menoleh.


"Berita apa yang kau bawa," tanyanya dengan nada datar.


Leon menghampirinya, semakin mendekat. "Ada kabar dari Indonesia, Tuan!"


"Katakan saja, apa yang kau dengar?"


"Wanita itu sudah bebas,"


Mendengar itu, kedua bola mata Javier sempat membulat. Tapi detik kemudian dia menyunggingkan senyum liciknya. "Bagus. Aku senang mendengarnya." Javier menyunggingkan seringainya sesaat, lalu kembali bersuara. "Untuk sementara waktu.. Biarkan saja dia menikmati kebebasannya. Tapi itu tidak akan lama. Tidak, akan lama!" Ambisinya memuncak, hingga dia melanjutkan ucapannya.


"Setelah pulang dari sini, bersiaplah. Suruh yang lain berkumpul di markas," titahnya, kemudian. "Aku akan mengirim beberapa orang lagi untuk menyelidikinya," sambungnya.


"Baik, Tuan muda," sahut Leon sambil mengangguk.


"Hutang budi, bisa di bawa mati. Tapi hutang nyawa, harus di bayar dengan nyawa," gumamnya dengan geram, berkata pada dirinya sendiri.


Javier mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat erat, raut wajahnya memerah menahan marah. Hati dan jiwanya sudah di selimuti oleh dendam yang sangat dahsyat, kepada wanita yang sudah menghabisi nyawa ayahnya.


Sementara di tempat lain.


_________


Mantion


Di rumah yang besar dan luas itu, setiap harinya Dinda duduk sambil menonton televisi. Tidak hanya menonton saja, tapi untuk mengisi waktu luangnya agar tidak membosankan, wanita paruh baya itu selalu asik membuat dan merangkai bunga yang dia buat sendiri.


"Aaauu!" Dinda meringis saat jari telunjuknya tertusuk oleh kawat bunga, hingga mengeluarkan darah segar.


Bersamaan dengan itu, suara dua orang laki-laki yang sedang berbincang sedikit keras di ruang tamu terdengar hingga ke telinga Dinda.


"Kau yakin jika wanita itu sudah bebas?"


"Tentu saja! Wanita itu baru saja bebas dua hari yang lalu,"


Mendengar itu Dinda memasang pendengarannya dengan sebaik-baiknya. 'Wanita mana yang mereka maksud?' gumam Dinda membatin, sambil terus mendengarkan.


"Yah! Anggap saja ini keberuntungannya untuk beberapa saat. Tapi aku yakin, sebentar lagi Tuan muda Jav akan menuntut balas. Dia tidak akan membiarkan wanita itu hidup terlalu lama,"


Deg


"A_Anita,"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2