
Javier menundukkan sedikit kepalanya, mengarahkan pandangannya ke arah bagian perut Jelita. Namun detik kemudian, dia kembali mengangkat kepalanya.
"Perutmu masih terasa sakit?! Sakit sekali?!"
Jelita mengangguk lemah, sebagai jawaban.
"Coba ku lihat."
Dengan cepat Javier mengangkat tubuh mungil Jelita, membawanya ke atas tempat tidur lalu membaringkannya di sana.
Javier duduk di sisi ranjang, tepatnya di samping tubuh Jelita yang sedang berbaring.
Namun saat Javier ingin mengangkat sedikit kaos yang di pakai oleh Jelita, dengan gerakan cepat pula Jelita menahannya, dengan posisi kedua tangan di letakkan di atas perutnya.
"Kenapa di tahan?!" Javier menatap heran.
Jelita kembali menggeleng lemah, tanpa mau menjawab dengan mengeluarkan suaranya.
Javier pun menghela nafas jengah nya sesaat. "Buka..! Atau aku yang akan memaksamu!"
Dua pilihan yang sangat sulit bagi Jelita, sampai akhirnya dia terpaksa mengangkat sedikit kedua tangannya lalu memposisikan nya menutupi bagian dadanya.
Sambil mengulum senyum, Javier pun segera mengangkat sedikit baju kaos yang di pakai oleh Jelita. Hingga detik bersamaan, tampak perban yang masih membaluti perut gadis itu.
Javier memberi reaksi terkejut, hingga kedua bola matanya membulat dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Kenapa masih mengeluarkan darah?!" Raut wajah Javier terlihat cemas.
Mendengar itu, dengan cepat Jelita pun mengangkat sedikit kepalanya, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah tatapan mata Javier.
Jelita mengerutkan keningnya, tapi detik kemudian, dia kembali mengarahkan pandangannya menatap Javier. "Kau bohong..!" Dengan cepat Jelita mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur.
Javier pun tertawa lebar. "Itu karna kau membohongi ku lebih dulu!"
Blush...
Raut wajah Jelita seketika merona. Sontak saja dia tersadar jika Javier sengaja membalasnya.
Demi membuang rasa malunya, dengan cepat Jelita meraih bantal lalu memukulkannya ke bagian tubuh Javier.
"Ih.. Ih.. Ih.. Rasakan ini!"
"Jelita, hei! Berhenti memukulku..!" Javier terus mengelak dengan memposisikan kedua lengannya menghadang ke bagian wajahnya.
Sementara Jelita, dia terus memukul-mukul pelan bantal tersebut. Bahkan, dia sama sekali tidak memperdulikan Javier yang terus mengelak.
Kedua sejoli itu bertingkah seperti anak kecil yang sedang bermain di atas tempat tidur mereka. Sampai akhirnya, Jelita kelelahan sendiri, dan langsung menghentikan pukulannya.
__ADS_1
"Sudah puas?! Kenapa berhenti?!" Javier masih ingin menggodanya, tapi Jelita sudah tidak sanggup lagi, dia benar-benar kelelahan.
"Kau mau aku benar-benar sakit?! Aku 'kan habis operasi!" Jelita melemahkan nada suaranya.
"Siapa bilang aku ingin kau sakit?!" Javier mendekatkan wajahnya, lebih dekat ke wajah Jelita, hingga tatapan mata mereka saling beradu. Bersamaan dengan itu Javier mengarahkan mulutnya ke sini telinga Jelita, seraya berkata dengan pelan. "Justru aku ingin kau cepat sembuh. Aku sudah tidak sabar ingin bercinta dengan mu!"
"Javier...!!"
Jelita melempari tubuh Javier dengan bantalnya, saat pemuda itu dengan cepat berlari menuju pintu kamar diiringi dengan tawa lepasnya.
__________________________________
Setelah berhasil menggoda Jelita, Javier pun turun dari lantai dua, menuju lantai utama. Di sana, dia melanjutkan kembali langkahnya menuju dapur.
"Tuan! Mau apa?! Mau Bibi buatkan sesuatu?!" Marni menyapanya dengan ramah.
Begitu Javier sampai di dapur, ternyata ada Marni yang sedang sibuk mengolah buah-buahan menjadi minuman jus segar.
Javier pun mengamatinya. "Itu buat siapa, Bi?!"
"Oh! Ini?! Ini buat Non Jelita. Kata Nyonya! Non Jelita belum bisa makan makanan yang keras-keras dulu! Untuk sementara waktu, dia hanya boleh makan makanan seperti bubur atau jus,"
Javier mengangguk-anggukkan pelan kepalanya, sebagai tanda jika dia mengerti dengan penjelasan Marni.
"Eh, tapi.. Barusan panggil aku apa?!" Javier tiba-tiba teringat dengan nama panggilan yang di ucapkan oleh Marni sebelumnya.
Javier menghela nafasnya sesaat, setelah itu lekas menjawab. "Ya sudahlah, terserah Bibi saja."
Detik yang bersamaan, tiba-tiba Leon datang menghampirinya saat mendengar suara Javier yang berada di dapur.
"Tuan! Ada hal penting yang harus di bicarakan,"
Seketika Javier mengubah raut wajahnya menjadi dingin dan datar, tidak seperti saat dia berbicara dengan Marni sebelumnya.
"Baiklah,"
Javier pun segera keluar meninggalkan Marni. Sehingga membuat Marni mengerutkan keningnya seraya menggumam dengan nada pelan.
"Cepat sekali anak itu mengubah mimik wajahnya," Marni menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, kemudian kembali menyelesaikan pekerjaannya.
______________________________
Di ruang tamu, Adinda tampak asik saat berbincang dengan Mario.
Saat ini, Mario menjelma sebagai sosok teman pria pada umumnya. Tempat bercerita sekaligus bercanda bagi Dinda. Tapi di balik itu, justru Mario ingin mendekatinya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Merasa usia mereka sudah tidak muda lagi, untuk itu Mario tidak ingin terlihat seperti pria penggoda atau pria hidung belang di depan Adinda. Paling tidak, Mario bisa membuat Dinda nyaman saat di dekatnya.
__ADS_1
"Kapan kau akan pulang ke Eropa?!"
"Em! Aku belum bisa memastikan. Kau sendiri bagaimana?! Kapan pulang ke Belanda?!"
"Aku sih tergantung Jav saja! Kapan dia mau pulang. Lagi pula.. Jav ada rencana untuk menikah,"
"Oya?! Benarkah?!" Mario terkejut sekaligus senang mendengarnya.
Javier akan menikah, untuk itu Dinda pasti akan merasa kesepian. Pikir Mario membatin.
"Aku ikut senang mendengarnya, tapi.. Dengan siapa Jav akan menikah?!"
"Dengan Jelita, gadis yang sudah menolong ku," Dinda menampakkan raut wajah bahagianya.
Mario pun ikut mengulas senyumnya, tapi detik kemudian dia kembali bersuara. "Ya! Semoga saja tidak ada halangan untuk mereka saling mengikat janji suci pernikahan. Aku akan senang membantu, jika kalian membutuhkan ku,"
"Tentu saja! Tapi aku ingin pestanya di adakan di Belanda, karna sebagian keluarga besar Jhon ada di sana.."
"Ya! Tidak masalah! Aku juga pasti akan ke sana. Jika tidak, maka Jav pasti tidak akan mau lagi berteman dengan ku."
Di ruang tamu, Adinda dan Mario terus berbincang, sesekali diiringi dengan suara tawa mereka yang hampir bersamaan.
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Anita.
_____________________________
Saat tersadar dari tidurnya yang cukup panjang, Anita kembali kesal, karena kedua orang yang sudah di tunggunya sejak malam, masih tidak terlihat oleh pandangan matanya.
Sampai akhirnya, Anita memberanikan untuk menghubungi Viona. Padahal, sebelumnya Anita tidak diizinkan untuk menghubunginya terlebih dahulu, kecuali Viona sendiri yang menghubunginya.
Tapi karena rasa kesal Anita sudah tidak bisa di tolerir, maka dia memutuskan untuk menghubungi Viona lebih dulu.
"Kau dimana, Viona! Kau bilang Marni akan pulang membawa Jelita..! Kau tau?! Aku semalaman menunggu mereka, seperti orang bodoh. Tapi apa?! Mereka sama sekali tidak pulang ke rumah ini..!!" Anita meninggikan nada suaranya hingga dari arah seberang telpon, sontak membuat Viona menjauhkan sedikit ponsel genggamannya dari sisi telinganya.
Viona yang saat itu sedang berada di dalam kamar, tepatnya di kediaman Mario, dengan posisi duduk di atas kasur, seketika terperanjat kaget saat suara keras Anita meneriakinya, terdengar dari seberang telepon.
Mendengar apa yang di katakan oleh Anita, membuat Viona terdiam sejenak, tanpa menjawab sepatah katapun.
"Vio..!! Kau dengar tidak...!!"
"Iya..!! Aku mendengarnya, Ma..! Tidak perlu berteriak seperti itu!! Gendang telinga ku rasanya mau pecah,"
"Aku tidak mau tau!! Pokoknya kau harus bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan mereka! Jika orang-orang Adinda benar-benar menangkap mereka! Maka, untuk sementara waktu kita harus menghindar dari kota ini, sebelum mereka mengetahui rencana ku!"
Belum sempat Viona menjawabnya, Anita sudah lebih dulu memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Bersambung...
__ADS_1