DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 23# Kondisi Jelita


__ADS_3

Begitu mendengar nama Jelita, Anita pun melempar ponselnya dengan keras di dalam mobil yang dia kendarai.


"Kurang ajar.. Bagaimana bisa gadis sialan itu berada di sana..?! Bedebah...!!" Anita begitu marah, emosinya memuncak.


Sementara di tempat Adinda berada. Wanita itu terus menangis ketakutan hingga tubuhnya bergetar. Tak lama, Zack pun datang dan bergegas menghampiri Adinda yang sudah dikerumuni banyak orang.


Zack merasa kesal karena dia sudah lalai dalam menjaga keamanan Adinda. Tanpa menunggu lagi, Zack segera membawa gadis malang yang terkapar di lantai itu ke rumah sakit terdekat, bersama dengan Adinda.


Jelita, sang gadis malang tersebut masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, dengan darah segar yang terus mengalir dari luka yang menganga di bagian perutnya.


"Zack.. Cepat hubungi Javier, gadis ini teman wanitanya.."


"Iya, aku akan menghubunginya," Zack pun bergegas mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Lalu mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya setelah dia memencet tombol penghubung yang ada di layar ponsel.


Dalam hitungan detik panggilan telepon pun tersambung, hingga terdengar suara Javier dari seberang telpon.


"Ada apa Paman?!"


"Tuan muda, segeralah ke rumah sakit XXX. Aku dan Mama mu ada di sini,"


"Apa yang terjadi?!"


Nada suara Javier seketika terdengar cemas.


"Cepat kemari Tuan muda.."


Zack memutuskan sambungan teleponnya begitu saja, tanpa mau menjawab panjang lebar, menjelaskan secara detail melalui telepon.


__________________________________


Hampir 1 jam kemudian, Javier dan Leon pun tiba di rumah sakit yang di sebutkan oleh Zack.


Javier melangkah berjalan dengan tergesa-gesa, mencari keberadaan Zack dan Adinda. Hingga tampaklah dari kejauhan kedua sosok yang dia cari.


Di sana, tampak Adinda duduk di kursi dengan raut wajah yang masih ketakutan, di temani oleh Zack yang duduk di sebelahnya.


Sementara di ruang UGD, Jelita masih terbaring tak sadarkan diri. Kondisinya sangat memprihatikan, banyak kehilangan darah tentunya.


"Ma.. Kau baik-baik saja?!"


Javier menghampirinya, lalu berjongkok di hadapan Adinda.


"Jav..." Suara Adinda parau, diiringi tangisnya.


Javier pun mengubah posisinya menjadi berdiri, begitu juga dengan Adinda yang langsung masuk kedalam pelukan putranya dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang putra.


"Apa yang terjadi, Paman?!" Javier mengalihkan pandangannya kepada Zack. Dia menatap tajam pria tersebut.


"Maafkan aku sudah lalai," ujar Zack lemah seraya ikut berdiri.


"Ada seseorang yang mengikuti Mama, Jav..! Orang itu membawa senjata tajam. Dia ingin membunuh, Mama..! Tapi gadis itu tiba-tiba datang menolong, Mama..!" Dengan bersusah payah Adinda menjelaskan apa yang terjadi, masih diiringi dengan tangisnya.


"Gadis?! Siapa dia?!"

__ADS_1


"Gadis yang waktu itu datang ke rumah kita.."


"Jelita.."


Javier pun tertegun sejenak saat mengetahui jika Jelita yang saat ini menjadi korban salah sasaran.


Bersamaan dengan itu, pintu ruang UGD pun perlahan terbuka, hingga detik kemudian tampaklah seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, bersama dengan seorang perawat.


"Dokter! Bagaimana keadaannya?!" Javier melepaskan pelukannya, lalu bergegas mendekati sang dokter, begitu pula dengan Dinda dan Zack.


"Kalian keluarganya?!" Dokter itu mengarahkan pandangannya menatap Javier, Dinda dan Zack satu persatu.


"Iya, Dokter! Kami keluarganya," jawab Dinda dengan cepat.


"Kondisinya kritis, dia banyak kehilangan darah. Luka di bagian perutnya cukup serius, untuk itu kami harus segera melakukan tindakan operasi,"


"Lakukan yang terbaik untuknya, Dokter!"


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan! Tapi sebelum itu.. Kami butuh golongan darah O+, kebetulan persediaan di rumah sakit kami sedang kosong,"


"O+?!" Dinda seketika menatap Javier, begitu juga sebaliknya. Namun detik berikutnya Javier pun kembali bersuara.


"Kebetulan sekali golongan darahku sama dengannya, kalau begitu ambil saja darahku Dok! Ambil sebanyak yang kalian perlukan untuknya,"


Tidak ada keraguan sedikitpun, terlihat dari raut wajah Javier saat ingin menyumbangkan darahnya untuk Jelita. Tentu Javier ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada gadis itu.


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Javier pun di arahkan untuk melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu, sebelum operasi Jelita di lakukan.


_____________________________


"Marni...!!"


"Iya, Nyonya...!!" Marni yang sedang sibuk mengangkat jemuran di belakang rumah, seketika melepaskan keranjang yang berisi sejumlah pakaian yang baru di angkat. Dia berlari masuk ke dalam rumah, menghampiri Anita.


"Ada apa, Nyonya?!"


Anita yang melihat Marni berdiri tak jauh darinya pun menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kemana gadis itu pergi?! Siapa yang mengizinkannya untuk keluar rumah?!" Nada suara Anita melengking tinggi, membuat Marni gelagapan.


"A-anu, Nyonya..! Itu.. Non, Non Jelita.. Di suruh.."


"Aku yang menyuruhnya untuk membeli keperluan ku, Ma! Memangnya kenapa?!"


"Vio.. Sejak kapan kau ada di sini?!" Anita langsung mengarahkan pandangannya ke arah Viona yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sudah dari tadi, beberapa jam yang lalu," Viona mendekat, lalu berdiri di samping Anita.


"Hahh!" Anita menghela nafas jengah. "Kau tau, apa yang di lakukan kakak mu itu?!"


"Apa yang dia lakukan?!"


"Gadis bodoh itu sudah menggagalkan rencana ku. Akibatnya, dia tertusuk senjata tajam oleh orang suruhan ku,"

__ADS_1


"Hahahhhhhhh.." Mengetahui itu Viona pun tertawa lepas. "Biarkan saja dia mati. Tidak ada gunanya juga hidup, hanya merepotkan saja," Viona melangkah santai ke arah sofa, lalu mendudukkan bokongnya di sana.


Sementara Marni, raut wajahnya seketika memucat. Mendengar apa yang terjadi pada Jelita, tentu membuat Marni sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.


Anita tersenyum menyungging, merasa apa yang di ucapkan oleh Viona ada benarnya juga. Untuk apa dia mengkhawatirkan gadis itu, biarkan saja jika dirinya mati. Pikir Anita dalam senyumnya.


Setidaknya Anita sedikit lega, karena orang suruhannya sudah berhasil lolos, dan raut wajah orang tersebut pun tidak sempat di kenali.


______________________________


Di rumah sakit.


Setelah selesai melakukan serangkaian tes kesehatan, darah Javier pun berhasil di ambil sebanyak 5 kantong darah.


Javier di sarankan untuk beristirahat sejenak, sekedar memulihkan kondisi fisiknya yang masih lemah. Namun hanya beberapa menit saja dia berbaring, dia sudah beranjak bangun, memilih untuk menemani Adinda menunggu di depan pintu operasi hingga operasi itu selesai.


Dinda menatap sang putra yang tampak begitu gelisah, dengan berjalan bak setrikaan di depan pintu ruang operasi.


Pemuda itu tidak ingin sesuatu terjadi pada Jelita, gadis yang sudah mengisi relung hatinya walau baru beberapa hari saja mereka saling mengenal.


"Jav..! Tenanglah, dia pasti akan baik-baik saja," Dinda berusaha untuk menenangkan Javier.


Javier hanya mengulas senyum singkatnya, seraya mendudukkan bokongnya tepat di samping Dinda.


Dinda pun menggenggam erat tangan kanan Javier, berusaha memberi kekuatan pada putranya itu.


Zack yang melihatnya pun tersenyum samar. Baru kali ini Javier terlihat begitu khawatir pada seorang gadis yang baru dia kenal.


Detik berikutnya Zack meninggalkan tempat dia berdiri. Dia pergi menghampiri Leon yang berada cukup jauh dari mereka.


"Leon,"


Begitu Zack mendekatinya, Leon yang sedang duduk pun segera beranjak berdiri.


"Pergilah ke tempat kejadian tadi, aku ingin kau mendapatkan rekaman cctv saat terjadinya penusukan yang dialami oleh Nona Jelita,"


"Baik, Tuan,"


Mendapatkan perintah dari Zack, Leon pun tak mengulur waktu lagi, dia segera pergi menuju pusat perbelanjaan yang di maksudkan oleh Zack.


Setelah Leon pergi, Zack kembali ke tempat semula, menghampiri Adinda dan Javier. Mereka dengan sabar menunggu sampai operasi Jelita selesai di lakukan.


_______________________________


Hingga beberapa jam kemudian, tepat setelah operasi itu berhasil, ruang operasi pun perlahan di buka, bersamaan dengan itu seorang Dokter dan dua orang perawat keluar dari sana.


Dengan cepat Javier berdiri, lalu menatap kearah Dokter. Dia berharap, jika operasi Jelita berjalan dengan lancar.


"Bagaimana operasinya, Dokter?!" Javier menatap cemas.


Sang dokter bersama dua perawatnya menatap sendu kepada Javier, bergantian dengan menatap Adinda.


"Operasinya.."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2