DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 34# Cemburu


__ADS_3

Viona melempar asal ponselnya di atas kasur. Sesaat, dia mengusap gusar raut wajahnya.


Bukan hanya Anita saja yang merasa terancam dengan apa yang akan terjadi, bahkan Viona sendiri pun ikut merasakannya.


Gadis itu sama sekali tidak menyadari, jika dirinya hanya di jadikan sebagai alat demi sebuah ambisi ibunya yang masih belum tercapai.


Detik kemudian, dia bergegas mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia pun keluar dari kamar yang dia tempati.


Tapi sesaat, Viona menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar. Dia berpikir, akan kemanakah dia mencari rumah kediaman Javier.


Dia sama sekali tidak tau alamat rumah itu. Lalu bagaimana dia bisa mendapatkan informasi tentang Jelita dan Marni?


"Aaah! Sial sekali aku hari ini," Viona berdecak kesal. Namun detik kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya.


Di depan rumah, Viona memberhentikan sebuah taksi yang lewat di sana, hingga taksi itu pun berhenti tak jauh dari posisi Viona yang berdiri di sisi jalan.


Detik berikutnya, Viona pun masuk kedalam sana, lalu meminta sang supir taksi untuk segera melajukan kendaraannya. Dengan mengendarai taksi, dia mengitari kota tanpa arah tujuan yang pasti.


_____________________________


Beberapa hari kemudian.


Kediaman Javier.


Di dalam kamar yang di tempati oleh Jelita, ada dokter yang sedang memeriksanya. Lebih tepatnya memeriksa kondisi luka di bagian perut Jelita, sekaligus membuka perbannya.


Tidak hanya Jelita dan dokter saja yang berada di dalam sana, bahkan Javier dan Adinda pun turut serta, bermaksud untuk mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh dokter mengenai kesehatan Jelita selanjutnya.


"Kesehatannya sudah mulai pulih, lukanya juga sudah mengering."


Saat ini Jelita dalam posisi berbaring telentang di atas kasur. Sedangkan dokter yang sedang memeriksanya, dalam posisi duduk, tepat di sisi tubuh Jelita berbaring.


Dokter itu terlihat masih sangat muda, tidak jauh berbeda dari usia Javier dan Jelita. Jika dilihat dari segi raut wajahnya.


Saat memeriksa Jelita, tampak sang dokter yang sesekali menatap raut wajah Jelita, seraya mengulas senyumnya yang menawan. Tidak hanya itu, bahkan nada bicaranya pun sangat lembut dan ramah.


Namun, tanpa di sadari, ada sepasang mata yang tajam menatap kearah keduanya. Apa lagi saat dokter itu mengamati Jelita dengan jarak yang cukup dekat, seraya memposisikan sebelah tangannya menyentuh pelan bagian perut Jelita yang terdapat bekas jahitan di sana.

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Javier. Pemuda itu berdiri tak jauh dari posisi tempat tidur Jelita, tatapannya menunjukkan jika dirinya merasa tidak senang saat dokter itu dengan leluasa menatap perut rata Jelita, apa lagi menyentuhnya.


Dalam hati, ingin sekali dia menarik dokter itu, menjauhkannya dari Jelita.


Dinda yang tidak sengaja menoleh kearah Javier pun, seketika mengerutkan keningnya sesaat. Kemudian mengarahkan pandangannya kembali kearah dokter dan juga Jelita.


Dinda berasumsi, jika putranya mungkin saja cemburu pada dokter tersebut. Untuk itu dengan cepat Dinda ikut mendudukkan bokongnya di sisi kasur, tepat berseberangan dengan posisi duduk sang dokter, seraya lekas bertanya.


"Apakah luka didalamnya juga sudah mengering, Dok?!"


"Untuk menyembuhkan luka di bagian dalamnya, dia harus terus mengkonsumsi obat-obatan secara rutin. Paling tidak, sampai tidak ada rasa sakit yang timbul akibat aktivitasnya," Dokter mengarahkan sesaat pandangannya ke arah Dinda, tapi setelah itu dia kembali fokus menatap bagian perut rata Jelita.


Dari tempat Javier berdiri, pemuda itu tetap menunjukkan raut wajahnya yang dingin, bahkan terlihat murung. Tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.


"Jika ada keluhan lain, segera hubungi saya,"


"Baik, Dok!"


Dokter itu pun mengubah posisinya menjadi duduk tegak, sambil menyimpan kembali alat-alat medisnya yang tadi dia gunakan, memasukkannya kedalam tas yang dia bawa. Setelah itu dia pun beranjak berdiri, begitu juga dengan Dinda.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya!" Dokter pun berpamitan pada Dinda.


"Sama-sama, Nyonya!"


Setelah itu dia mengarahkan pandangannya pada Jelita, seraya kembali bersuara. "Nona! Obatnya jangan lupa di minum ya! Salepnya juga, jangan lupa di oleskan, setiap sehabis mandi dan sebelum tidur,"


"Baik, Dokter!"


Saat dokter melangkah kakinya menuju pintu, tatapannya bertemu dengan Javier. "Saya permisi dulu, Tuan!"


"Iya,"


Hanya itu yang keluar dari mulut Javier, sangat singkat tanpa senyum ataupun sekedar ucapan terimakasih.


Dokter yang tidak tau ada apa dengan Javier, terus saja melangkahkan kakinya dengan santai, keluar dari kamar tersebut, dengan di antar oleh Dinda.


Setelah dokter dan Dinda keluar dari sana, barulah Javier beranjak dari tempatnya berdiri, mendekati Jelita.

__ADS_1


Jelita terheran-heran melihat raut wajah Javier yang masam. "Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?!"


"Aku tidak suka dokter itu menatapmu, apa lagi menyentuh mu,"


Jawaban Javier berhasil membuat Jelita sontak tertawa lepas. Jelita tidak bisa menahan tawanya saat menyadari jika Javier cemburu pada dokter tadi.


"Jadi kau cemburu pada dokter itu?!" ujar Jelita, masih dengan tawanya.


"Kau senang?!" Javier menatapnya dengan tatapan biasa saja, sambil mendudukkan bokongnya di sisi kasur, berhadapan dengan Jelita yang sudah dalam posisi duduk dengan punggung yang bersandar pada pembatas ranjang.


Jelita menghentikan tawanya, kemudian lekas menjawab. "Kau tidak pantas cemburu padanya! Dia itu seorang dokter. Jadi wajar saja kalau dia menyentuh ku! Bagaimana dia bisa tau kondisi pasiennya kalau dia tidak bisa menyentuh pasiennya sendiri!"


"Kenapa kau terus membelanya?! Kedua bola mata Javier membulat. Dia tidak menyadari jika dirinya sudah membentak Jelita.


Tapi detik kemudian Javier merasa bersalah, lalu lekas membujuk Jelita yang sudah menundukkan wajahnya.


"Maafkan aku, aku terbawa emosi," Javier melemahkan nada suaranya, sambil memposisikan kedua tangannya memegang tangan Jelita dan menggenggamnya dengan erat.


"Iya, tidak apa-apa. Lagi pula.. Aku sudah terbiasa," nada suara Jelita pun terdengar parau ke telinga Javier.


Di bentak seperti tadi, membuat Jelita kembali merasa dirinya berada di rumahnya sendiri. Di bentak, bahkan di caci maki pun sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Dia terus tertunduk, tanpa mau mengangkat wajahnya menatap Javier.


Javier memejam, diiringi dengan helaan nafasnya yang lemah. Hatinya semakin merasa bersalah. Dengan cepat dia melepaskan sebelah tangannya, lalu mengarahkan tangannya mengangkat sedikit dagu Jelita, hingga tatapan mata mereka saling beradu pandang.


"Maafkan aku, aku janji, tidak akan membentak mu lagi," Javier menatap lekat manik mata indah Jelita yang sudah berkaca-kaca.


Di dalam kamar itu Javier sibuk membujuk Jelita yang sedang merajuk.


Sementara di tempat yang berbeda, lebih tepatnya di kediaman Anita.


_____________________________


"Ma! Semuanya kacau, aku di pecat! Tua Bangka itu sudah tau siapa aku! Bahkan dia mengusirku dari rumahnya!"


"Apa..?! Berani sekali dia mengusir mu?!"


Anita terkejut saat Viona mengadu padanya. Gadis itu tiba-tiba datang dengan membawa sebuah koper yang berisikan beberapa pakaian miliknya yang dia bawa dari Eropa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2