
Dengan refleks Javier menahan pinggang ramping wanita itu yang hampir saja jatuh ke lantai. Hingga, tanpa sadar mereka saling menatap, untuk beberapa saat dengan jarak yang cukup dekat.
Tentu saja semua mata memandangi Javier dengan wanita tersebut. Dan jangan di tanya lagi bagaimana perasaan Jelita detik itu juga.
Dengan geram Jelita menarik kasar lengan Javier, hingga sontak Javier tersadar dan segera melepaskan tubuh wanita itu dengan cepat.
Javier menoleh pada Jelita yang sudah bersusah payah menahan tangisnya, jika dilihat dari netra Jelita yang mulai menggenang.
Sedangkan wanita yang tadi, bergegas pergi dari sana seraya membenarkan posisi kacamata hitam yang dia pakai.
Tanpa menunggu Javier berucap, dengan langkah cepat Jelita berjalan paling depan diantara yang lain.
Javier menelan ludah, seraya terus menatap punggung Jelita. Dia sadar, jika dirinya sudah membuat kesalahan yang membuat istrinya marah dalam diam.
Dalam keadaan hamil, tentu Jelita mempunyai perasaan yang lebih sensitif, apalagi saat Javier dengan jelas menatap wanita lain di depannya.
'Dasar, suami tidak punya perasaan. Bisa-bisanya dia memeluk wanita lain di depanku.' gumam Jelita membatin, dengan raut wajah yang memerah menahan emosi.
Javier pun tak tinggal diam, dia berusaha mengejar, menyamakan langkahnya dengan langkah Jelita tanpa peduli dengan tatapan mata orang lain.
Saat langkah mereka sudah sejajar, dengan cepat Javier meraih tangan kiri Jelita, lalu menggenggamnya dengan erat, hingga sulit di lepas.
Javier berusaha untuk tetap tenang, bermaksud akan menjelaskannya nanti, setelah mereka sampai di hotel.
Tak satupun dari Jelita dan Javier yang menyadari siapa wanita yang bertabrakan dengan Javier tadi. Pasalnya, wanita itu memakai rambut palsu berwarna ungu, lengkap dengan memakai kacamata hitamnya.
_______________________
Sesampainya mereka di kediaman Mario, Javier dan juga Jelita berbincang sejenak di sana. Namun setelah itu, mereka memutuskan untuk segera menginap di salah satu hotel terbaik di sana.
***HOTEL XXX***
"Sayang! Kau marah karena tadi aku menahan tubuh wanita itu?!" Javier berusaha untuk menatap raut wajah Jelita yang terus menunduk, fokus mengeluarkan barang-barang yang mereka bawa dari dalam koper.
Jelita diam seribu bahasa. Dia sama sekali tidak mau memperdulikan Javier.
"Sayang! Dengarkan aku. Yang tadi itu.. Aku hanya ingin menolongnya! Tidak lebih. Lagi pula.. Itu terjadi secara tiba-tiba! Tidak ada unsur kesengajaan. Kau juga melihatnya sendiri, bukan?!" Javier kembali berucap. Dia terus mencoba meyakinkan istrinya.
"Jangan banyak alasan!!" Jelita meninggikan nada suaranya, seraya menghempaskan beberapa lembar pakaian ke lantai.
"Kemarin ada perempuan yang mengirim surat untuk mu. Sekarang, kau menatap perempuan lain di depan ku. Besok entah apa lagi yang kau lakukan. Hatiku sakit, Jav!! Aku ini istrimu!!" Jelita terisak. Dia sudah tidak kuat menahan sesak di dadanya.
"Sumpah, aku benar-benar tidak ada hubungannya dengan mereka, sayang!" Dengan cepat Javier mengarahkan tangannya, memegang pundak Jelita seraya memposisikan tubuh Jelita berhadapan dengannya.
Sebenarnya, hati Javier juga sakit saat Jelita terus menuduhnya yang tidak-tidak. Tapi Javier mencoba untuk mengerti dengan perasaan istrinya yang sedang hamil.
Jelita terus terisak, membuat Javier dengan cepat memeluk tubuh Jelita kemudian mengelus lembut punggung Jelita.
"Aku mencintaimu, sayang!"
****CUP****!!!
Javier mengecup lembut puncak kepala Jelita, hingga detik kemudian Jelita pun sedikit mendongak, menatap manik mata Javier.
"Aku takut!"
"Apa yang kau takutkan?!"
"Takut jika nanti ada orang ketiga dalam rumah tangga kita,"
__ADS_1
"Ssstt!!" Dengan cepat Javier menahan sedikit bibir Jelita dengan telunjuknya. Tapi detik kemudian dia kembali bersuara.
"Jangan pernah berpikir seperti itu, karena aku tidak akan melakukannya. Aku mencintaimu, dan calon anak kita."
Sesaat, mereka saling menatap lekat. Ada sedikit rasa lega di hati Jelita setelah mendengar ucapan Javier.
"Sudahlah, jangan menangis lagi." Javier mengusap lembut air mata Jelita yang membasahi pipinya.
Setelah itu dia mengubah posisinya menjadi berjongkok di hadapan Jelita, bermaksud ingin mengajak calon bayi mereka bicara.
"Sayang! Anak Daddy, maafkan Daddy ya! Daddy Janji, tidak akan membuat Mommy sedih lagi. Dad janji, suer." Javier mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V kearah perut istrinya yang masih rata.
Tentu saja hal itu membuat Jelita seketika mengulum senyumnya, menahan tawa.
Panggilan Daddy dan Mommy yang di peruntukkan bagi calon buah hati mereka berhasil meredakan suasana hati Jelita yang memanas.
Akhirnya Javier pun lega karena sang istri sudah kembali tersenyum, bahkan mau membalas pelukannya setelah dia kembali berdiri.
"Sekarang, apa sudah boleh aku menjenguk calon anakku?! Aku janji, akan melakukannya dengan perlahan. Boleh ya!" rayu Javier dengan nada pelan, tapi lebih terdengar seperti memohon.
Jelita tak mampu menolak. Suaminya itu sudah sangat mengingatkannya. Pasalnya, sudah beberapa minggu mereka tidak berhubungan intim dan itu membuat Javier menderita menahan hasratnya pada sang istri.
Akhirnya Javier pun tersenyum lebar saat mendapat persetujuan dari istrinya dengan anggukan kepala.
Menit kemudian pun Javier menuntun tubuh Jelita ke atas kasur empuk didalam kamar hotel tersebut.
Di sana, Javier menumpahkan hasratnya yang sudah lama tertahan. Dengan perlahan dan berhati-hati Javier menikmati permainan panasnya di atas ranjang.
Sampai akhirnya, berkali-kali suara erangan serta des**an panjang dan nikmat pun menggema, memenuhi ruang kamar hotel yang mereka tempati itu, kala keduanya mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.
Senyum kepuasan terukir di bibir Javier, dengan deru nafas yang tersengal-sengal akibat kelelahan.
_____________________
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di dalam kamar milik Mario.
Saat ini Dinda sedang menyusun pakaiannya dengan pakaian milik Mario kedalam lemari pakaian.
Dinda mengulum senyumnya saat tatapannya malah tertuju ke balik pintu lemari pakaian tersebut. Pasalnya, di situ tertempel beberapa gambar diri Dinda.
Dari arah belakang, tiba-tiba Mario memeluknya, seraya berkata dengan lembut. "Terbukti bukan?! Bahwa aku tidak pernah melupakan mu,"
CUP!!!
Mario mengecup singkat pipi kanan Dinda, membuat Dinda menolehkan wajahnya pada Mario, hingga membuat kedua bibir mereka bertemu.
"Emh!!"
Detik kemudian, Mario pun dengan cepat memagut serta melu*at bibir mungil Dinda, cukup lama, sampai akhirnya Mario melepaskan ciumannya setelah mereka sama-sama kehabisan nafas.
"Hahh!"
Mario mengusap bibir Dinda yang masih terdapat sisa saliva yang menempel, dengan jarinya.
Kebahagiaan yang tiada habisnya yang di rasakan oleh kedua pasangan baru itu. Sekian lama penantian Mario, sampai akhirnya terwujud saat Dinda menerimanya kembali hingga bersedia menikah dengannya.
__________________________
Malam harinya.
__ADS_1
Jelita dan Javier bersiap-siap, karena sebentar lagi mereka akan pergi jalan-jalan, menikmati liburan mereka.
Sementara di tempat yang berbeda. Seorang gadis menatap dirinya di cermin. Tapi detik kemudian dia tersenyum menyeringai saat seorang lelaki datang menghampirinya kedalam kamar.
"Nona! Orang yang anda maksud menginap di hotel XXX,"
"Bagus, kita awasi mereka."
Gadis itu lekas berdiri, seraya menarik tas kecilnya yang tergeletak di atas meja lalu memilir pergi, keluar dari kamarnya.
Beberapa saat kemudian, baru saja tiba di hotel tempat Javier dan Jelita menginap, gadis yang masih duduk didalam mobil yang dia kendarai, segera meminta lelaki yang duduk di kursi kemudi untuk mengikuti mobil yang di kendarai oleh sepasang suami istri, Javier dan Jelita.
Javier sendiri tidak menyadari jika kendaraan mereka telah diikuti dari jarak yang tidak terlalu dekat.
Pasangan suami istri yang sedang bahagia itu sangat menikmati pemandangan keindahan kota di malam hari.
Beberapa tempat wisata juga sudah mereka singgahi, hingga mencoba beberapa jenis kuliner khas di negara tersebut.
Tak ada hal yang mencurigakan, sehingga membuat Javier dan Jelita larut dalam malam yang panjang, menikmati berbagai jenis hiburan.
Hingga sudah lewat dari tengah malam, Javier memutuskan untuk kembali ke hotel, tempat mereka menginap. Pasalnya, Jelita sudah terlihat sangat kelelahan, sampai dia tertidur didalam mobil dengan posisi duduk berbaring dengan kepala bersandar pada dada bidang Javier.
Sesampainya mereka di hotel, Javier segera membangunkan istrinya yang masih tertidur pulas.
"Sayang, bangun! Kita sudah sampai."
"Emmh!" Jelita membuka perlahan matanya saat mendengar suara Javier di sisi telinganya.
Detik kemudian, Javier pun membantu Jelita untuk melangkah berjalan dengan lemahnya, setelah mereka turun dari mobil.
Kehadiran seseorang yang secara diam-diam mengikuti mereka pun masih tidak di sadari oleh Javier.
Javier terus saja membawa Jelita menuju kamar mereka, sampai akhirnya mereka pun sampai di sana.
Javier bergegas membuka pintu kamar, lalu masuk kedalam sana bersama dengan Jelita.
Tapi setelah dia membawa Jelita untuk berbaring di ranjang, tiba-tiba Javier melupakan sesuatu, yaitu ponselnya yang masih tertinggal didalam mobil.
Dengan cepat Javier kembali keluar dari kamar tersebut, dengan maksud untuk mengambil ponselnya.
Hingga beberapa saat kemudian, tepatnya setelah dia mendapatkan kembali ponselnya, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya dengan sengaja menabrak tubuh Javier yang baru saja keluar dari dalam mobil.
BRUKKK
"AAAKH!!!"
"Kau lagi?!" Javier terkejut saat melihat perempuan yang sempat bertabrakan dengannya di bandara tempo hari.
"Hah! Kau?! Kau yang bertabrakan dengan ku di bandara kemarin 'kan?!" ujar perempuan itu yang tak lain adalah gadis yang sengaja mengikuti Javier.
Javier tak menjawabnya, dia hanya menyunggingkan senyum tipis pada gadis itu.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bagaimana.. Kalau kita meluangkan waktu sebentar. Aku ingin mentraktir mu minum, sebagai permintaan maaf ku. Karena aku tau, kekasih mu pasti sangat marah padamu. Benar 'kan?!"
"Dia istriku," sela Javier dengan nada datar dan raut wajah dinginnya.
Sekilas, dia menatap gadis itu. Dalam hati sepertinya dia kenal, tapi tidak begitu yakin. Pasalnya, wajah gadis itu terlihat mirip dengan Viona. Hanya saja gaya rambut, warna hingga polesan di wajah gadis itu terlihat tebal dan tidak natural. Bahkan warna netra nya saja berbeda. Pikir Javier.
Bersambung...
__ADS_1