DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 17# Ciuman Pertama


__ADS_3

Javier membawa Jelita, masuk ke ruang pribadinya.


"Tempat apa ini?!" Jelita terheran-heran menatap ruangan yang besar dan luas itu, lengkap dengan interior mewah dan unik di dalamnya.


"Dulunya ini adalah ruang pribadi Papa ku, tapi sekarang sudah menjadi milikku," Javier mendudukkan bokongnya di sofa, diikuti oleh Jelita yang duduk di sebelahnya.


"Memangnya.. Kemana Papa mu?!"


"Papa ku sudah tiada,"


"Oh.. Maaf, aku tidak.. " Jelita merasa bersalah. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk menyinggung Javier.


"Tidak apa-apa.." Javier menanggapinya dengan senyum. Pemuda itu menatap raut wajah cantik Jelita. Tapi detik berikutnya, dia beranjak berdiri.


"Mau minum apa?!" Javier berjalan ke arah mini bar, yang terdapat di ruangan itu.


"Nggak usah.. Aku nggak bisa lama-lama di sini!"


"Kenapa?!" Javier menoleh nya sesaat, lalu kembali mengarahkan pandangannya kearah meja bar. Dia mengambil dua gelas kosong beserta sebotol minuman bersoda di sana.


"Apa kau ada janji dengan seseorang?!"


Detik berikutnya, Javier kembali menghampiri Jelita dan duduk di tempatnya semula, seraya meletakkan gelas beserta botol minum ke atas meja.


"Sama sekali nggak ada. Tapi.. Mama melarang ku, kalo aku keluar rumah terlalu lama.. Aku takut Mama marah,"


Javier menyunggingkan senyum tipisnya mendengar ucapan polos Jelita.


"Kau sudah dewasa, harusnya bisa lebih bebas," Javier menuangkan minuman ke dalam gelas, lalu memberikannya kepada Jelita. "Minumlah,"


"Terimakasih," Jelita pun meraihnya lalu menyeruput sedikit minuman tersebut. Setelah itu dia kembali meletakkan gelasnya ke atas meja.


"Untuk apa kau menyuruhku datang kemari?! Kau bilang ada syarat untuk ku, cepat katakan.. Syaratnya apa?!" Jelita tak ingin mengulur waktu terlalu lama, karena dia harus segera kembali ke rumahnya.


"Bisakah kita bertemu setiap hari?!" Javier melemahkan suaranya. Tatapannya pun penuh harap.


"Hah..!" Jelita terperangah. Dia tidak menyangka jika Javier menginginkannya untuk selalu bertemu. Entah apa maksud pemuda itu. Pikir Jelita.


"Apa yang kau inginkan dari ku?!" Jelita tertunduk. Dia tidak mampu membalas tatapan mata Javier.


Dengan perlahan Javier memegang tangan kanan Jelita dan menggenggamnya dengan erat, sehingga membuat detak jantung Jelita berdebar kencang.


"Aku.. Hanya ingin melihat wajahmu setiap hari," nada suara Javier terdengar tulus.


Dia membuat Jelita semakin salah tingkah. Berkali-kali gadis itu menghela nafasnya yang terasa sesak, kemudian menggigit sedikit bibir bawahnya seraya mengarahkan pandangannya ke arah lain.


Jelita tak mampu bergerak, untuk menarik tangannya dari genggaman Javier saja rasanya tidak berdaya.


'Ah.. Ya Tuhan.. Perasaan macam apa ini..?!' Jelita membatin. Sesekali dia memejamkan matanya, mencoba untuk tetap tenang.


Namun, detik kemudian suasana di ruangan itu terasa semakin dingin, padahal AC di ruangan itu sudah di setel dengan suhu yang tidak terlalu dingin.


Javier pun tiba-tiba mengarahkan sebelah tangannya meraih dagu runcing Jelita, dan mengarahkan wajah cantik gadis itu kearah wajahnya, sementara tangan yang sebelahnya lagi masih tetap menggenggam tangan Jelita.


Jelita menelan ludah. Dia terpaksa membalas tatapan mata Javier.


"Aku ingin kau bekerja untuk ku,"

__ADS_1


"Bekerja untukmu..?! Kerja apa?!" Jelita cukup terkejut mendengarnya. Semula, dia pikir Javier akan menyatakan cintanya, namun ternyata dia salah. Javier justru memintanya untuk bekerja dengannya.


Hah..! Sepertinya angan-angan Jelita terlalu tinggi untuk mendapatkan kekasih seperti Javier.


Javier melepaskan genggaman tangannya, lalu beranjak berdiri.


"Aku ingin kau menemani Mama ku, karna.. Mungkin beberapa hari ke depan aku akan sibuk,"


Jelita berpikir sejenak sebelum dia memberikan jawaban. Sebenarnya tidak ada masalah dengannya, jika Javier benar-benar membutuhkan dirinya. Tapi bagaimana dengan ibunya, Anita. Apakah wanita itu akan mengizinkannya untuk bekerja? tentu saja itu akan menjadi masalah bagi Jelita.


"Hei, kenapa diam?! Kau keberatan?!"


"Ng-nggak... A-aku.. Aku nggak keberatan kok... Tapi.." Jelita gelagapan hingga tak mampu melanjutkan ucapannya. Dia tidak tau harus bagaimana mengatakannya.


"Tapi apa?!" Javier tidak sabar menunggu Jelita melanjutkan ucapannya.


"Aku nggak keberatan, dan akan menerima pekerjaan dari mu. Tapi.. Jika Mama ku mengizinkannya.."


Mendengar itu Javier pun berpikir sejenak, mencari cara agar Jelita tidak bisa menolak permintaannya. Tapi detik kemudian dia kembali bersuara.


"Aku tidak peduli apapun alasan mu, Jelita! Kau lupa..?! Kau dan aku punya perjanjian," Javier mengubah nada suaranya menjadi datar. Raut wajahnya berubah dingin, hingga tak ada senyum sedikitpun dari sudut bibirnya.


Tentu saja hal itu membuat Jelita seketika menahan tangis. Bola mata indahnya tampak berkaca-kaca. Tapi Javier tidak perduli, dia hanya menginginkan Jelita menurutinya.


Jelita menjadi serba salah, dia harus mencari cara bagaimana dia bisa membagi waktunya untuk bekerja di rumahnya sendiri, dan bekerja untuk Javier.


Merasa cukup lama Jelita terdiam, Javier pun akhirnya menimpali lagi ucapannya. "Aku beri waktu sampai besok. Jika lusa kau tidak datang kemari.. Maka kau akan tau akibatnya,"


Seperti sebuah permainan catur yang di mainkan oleh Jelita, tidak ada jalan lagi selain menyerah.


Jelita menghempaskan pelan punggungnya pada badan sofa, seiring dengan helaan nafas jengah. Dia tampak begitu lelah dan putus asa.


Namun detik berikutnya dia mengumpulkan seluruh keberaniannya. Dia melirikkan matanya dengan tajam, menatap Javier.


Sementara Javier, pemuda itu malah mengangkat sebelah alisnya seraya menyunggingkan senyum tipis melihat tatapan mata Jelita.


Tak lama setelah itu, Javier tidak menyangka. Dengan gerakan cepat Jelita duduk di atas kedua pahanya seraya menarik kerah kemejanya.


"Dengarkan aku, Tuan muda yang terhormat...! Kali ini kau menang, tapi suatu saat nanti kau pasti akan menyesal.. "


"Waw.. Benarkah itu..?!" Javier malah menggodanya. Ucapan Jelita barusan sama sekali tidak bisa membuat Javier takut. Bahkan dengan cepat kedua tangan Javier melingkar, memeluk erat pinggang ramping Jelita.


Bukan cuma itu saja, Javier pun menekan tengkuk Jelita lalu mencium lembut bibir mungil Jelita.


"Emmh!"


Seketika detak jantung Jelita berdetak kencang. Jelita tertegun, sekujur tubuhnya seakan mati rasa hingga tak mampu bergerak.


Dia hanya bisa memejamkan matanya saat bibir Javier menyatu dengan bibirnya, cukup lama sampai akhirnya Javier melepaskannya sendiri.


**PLUPP**


"Hahh!"


Saat bibir mereka sudah terlepas, dengan cepat pula Jelita turun dari pangkuan Javier. Dia berlari hingga keluar dari ruangan tersebut, tanpa memperdulikan Javier.


Javier pun membiarkannya begitu saja. Dia sendiri tidak menyangka akan terjadi hal seperti tadi. Jauh sebelum Javier bertemu dengan Jelita, dia tidak pernah memperlakukan seorang gadis seperti yang sudah dia lakukan pada Jelita.

__ADS_1


Entah mengapa, berada dekat dengan Jelita membuatnya kehilangan kendali, hingga ciuman pertama pun mendarat di bibir gadis itu.


Javier memejamkan matanya seraya menyandarkan punggungnya pada badan sofa, dengan kepala yang sedikit mendongak ke atas.


Masih tersisa rasa lembut bibir milik Jelita di bibirnya. Ada rasa menyesal, namun Javier adalah lelaki yang normal, tentu dia juga menyukai momen tersebut.


*****


Di luar, Jelita berjalan dengan tergesa-gesa. Ingin menangis, tapi dengan sekuat hati dia menahan air matanya agar tidak jatuh menetes.


"Jelita! Mau kemana?!" Adinda terheran-heran menatap Jelita saat berpapasan dengannya.


"Maaf Nyonya! Saya harus pulang, permisi.." Jelita melanjutkan langkahnya, masih dengan tergesa-gesa.


Sementara Adinda, wanita itu justru semakin heran dan bingung. Apa yang sedang terjadi antara gadis itu dengan putranya. Pikir Adinda membatin.


Namun belum lama Jelita pergi dari hadapannya, tiba-tiba saja Javier menghampirinya sekaligus bertanya. "Jelita mana Ma?!"


"Baru.. Aja keluar,"


Dinda di buat semakin bingung sekaligus penasaran. Setelah mendapat jawaban dari sang Mama, Javier langsung memilir pergi. Dia berusaha mengejar Jelita.


"Jelita.. Tunggu.." Javier meneriakinya saat pandangan matanya mendapati sosok Jelita yang sedang berjalan cepat menuju pintu gerbang.


Javier pun mengejar langkahnya dengan berlari kencang.


"Hei.. Maafkan aku," Javier menangkap lengan Jelita hingga menghentikan langkah gadis itu.


"Ada apa lagi..?!"


"Kau marah padaku?!"


Jelita diam tak menjawab, dia mengarahkan pandangannya ke arah lain. Tak mau menatap raut wajah Javier yang berdiri di hadapannya.


"Jelita.. Jawab aku.. Kau marah padaku?! Sekali lagi maafkan aku," Javier pun memohon dengan sangat, hingga dia menangkupkan kedua telapak tangannya di hadapan Jelita.


"Kalau begitu kita impas. Menyingkir dari ku, aku mau pulang," dengan ketusnya Jelita berkata seraya mendorong pelan tubuh Javier ke arah samping.


Javier hanya bisa menghela nafas. Kali ini dia kesulitan untuk meluluhkan hati Jelita yang sedang memanas.


Tidak ingin membuat Jelita semakin marah padanya, akhirnya dia menuruti saja dengan membiarkan gadis itu pergi.


Dia menatap punggung Jelita dengan penuh penyesalan, bersamaan dengan itu, seorang kurir datang mengirimkan sebuah paket.


"Permisi Tuan! Ada kiriman paket atas nama Adinda.


Javier yang saat itu masih menatap kepergian Jelita, segera mengalihkan pandangannya ke arah kurir tersebut saat kurir itu menyebutkan nama ibunya.


Javier pun mengambil paket tersebut dari tangan sang kurir. "Terimakasih,"


"Sama-sama, Tuan!"


Javier mengamati paket yang dia pegang, hingga kurir yang tadi pergi begitu saja meninggalkannya.


"Paket dari siapa ini?! Tidak ada nama pengirimannya," gumamnya pelan dengan kening yang mengerut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2