DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 9# Jatuh Cinta


__ADS_3

Seketika jantung Mario seakan berhenti berdetak, saat mendengarnya.


"Apa?! Apa katamu?! Coba ulangi.." Mario ingin memastikan lebih jelas lagi, agar dia yakin jika telinganya tidak salah dengar.


"Coba lihat ini, berita beberapa hari yang lalu. Sepertinya kita saja yang terlambat mengetahuinya, " Yudha mengarahkan layar laptopnya menghadap kepada Mario dan Aldo.


"Astaga.. Gawat, Adinda dalam bahaya," Mario pun cemas. Tiba-tiba terpikir olehnya tentang keselamatan Adinda.


Bagaimana tidak? Mario tentu masih mengingat apa yang terjadi pada Adinda yang menyebabkan Jhon meregang nyawa. Dan Mario tau betul orang seperti apa Anita, wanita yang tega menganiaya wanita lain demi harta dan cintanya.


"Aku heran! Kenapa wanita itu bisa bebas secepat ini?!" Aldo mengangkat sedikit wajahnya, mengarahkan pandangannya kepada Mario.


"Aku tidak peduli itu, yang aku khawatirkan adalah Dinda,"


"Jadi.. Apa rencana mu sekarang?"


"Aku harus menemui Adinda. Bagaimana menurut kalian?" Mario mengarahkan pandangannya kepada Yudha dan Aldo secara bergantian.


"Jangan gegabah. Orang-orang Jhon tidak mungkin membiarkan sesuatu terjadi pada anak dan istrinya,"


"Kau sebut istri?! Mantan tunangan.."


Plakkk


Tangan Mario refleks menampar pundak Aldo dengan sedikit keras, saat Aldo menyela ucapan Yudha.


Yudha menahan tawanya seraya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.


"Lebih baik kau diam, mulutmu itu selalu saja asal bicara," Mario menjadi kesal dengan Aldo yang tidak bisa menjaga ucapannya.


Aldo hanya bisa menghela nafas jengah, sambil memutar bola mata malasnya.


Di kafe kecil itu, Mario, Yudha dan Aldo sedang serius membahas masalah yang akan dihadapi oleh Adinda.


Sementara di kediaman mendiang Jhonatan, tampaknya kali ini Javier akan lebih berhati-hati lagi. Dia pun mengerahkan beberapa anak buahnya yang masih berada di luar negeri untuk segera terbang ke tanah air, tak terkecuali Zack.


****


Keesokan harinya.


Seperti biasa, Adinda selalu bangun lebih awal. Dia menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga putra semata wayangnya, Javier.


Lalu apa yang di lakukan Javier yang tampan itu sepagi ini?!


Tanpa di ketahui oleh Adinda, ternyata Javier sudah bangun lebih dulu darinya. Pemuda itu sedang asik berolah raga seraya menghirup udara pagi hari di luar rumah.


Kali ini Javier hanya pergi seorang diri, tanpa di temani oleh salah satu anak buahnya.


Merasa sudah cukup jauh dia berlari-lari kecil, Javier pun memutuskan untuk berbalik, kembali ke arah rumahnya, berhubung sinar mentari juga sudah menampakkan sinarnya.

__ADS_1


Namun dari kejauhan, tiba-tiba saja pandangan mata Javier tertuju pada seorang gadis yang tergeletak hampir di tengah jalan. Gadis itu terjatuh dari sepedanya.


Mengetahui itu, Javier pun semakin mempercepat larinya, untuk menghampiri gadis tersebut.


Walaupun Javier terkenal dengan sifatnya yang keras, namun dia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi.


"Hei, kau tidak apa-apa?!" Javier membantu gadis itu untuk bangun dari posisinya yang terbaring miring di atas aspal.


Sepeda milik gadis itupun dia kembalikan ke posisi semula.


"Ah, terimakasih Tuan! Maaf sudah merepotkan," gadis itu mengambil alih sepedanya dari Javier.


"Apa kau terluka?!" Javier mengamati gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Gadis itu terlihat sangat cantik dengan wajah polosnya, walaupun dia hanya mengenakan celana jeans pendek di atas lutut, kaos putih oblong serta memakai sandal jepit saja. Penampilan gadis itu sangat sederhana di mata Javier.


Gadis itu menggeleng cepat. "Aku tidak apa-apa, tidak ada yang terluka. Sekali lagi terimakasih sudah membantuku, Tuan!" Sesekali gadis itu menunduk, sesekali dia membalas tatapan mata Javier.


Javier mengulum senyumnya melihat gadis itu yang tampak malu-malu saat di tatap olehnya.


"Sebaiknya jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku, Jav,"


"Ah, iya baiklah, Jav!"


Deg


Javier dan gadis itu terdiam sejenak, mereka sama-sama tidak tau harus memulainya dari mana.


"Oh iya, dimana rumah mu?! Biar aku antar, " akhirnya Javier kembali bersuara.


"Eh, jangan.. Ti-tidak usah, aku bisa pulang sendiri,"


Gadis itu terlihat begitu canggung berdekatan dengan seorang pemuda, apa lagi pemuda tampan seperti Javier.


"Oh..! Baiklah kalau begitu," Javier tidak berani memaksa sang gadis. Padahal di dalam hatinya, dia ingin sekali tau dimana rumah gadis itu.


"Kau habis dari pasar?!" Javier melirikkan sesaat matanya ke arah keranjang sepeda sang gadis. Terlihat ada beberapa jenis sayur-sayuran di dalamnya.


"Astaga.. Maaf, aku harus pulang," jangankan menjawab, gadis itu malah segera mengendarai sepedanya. Dia meninggalkan Javier yang tertegun.


"Sekali lagi terimakasih bantuannya ya..!!" Gadis itu berteriak keras seraya terus mengayuh sepedanya tanpa henti.


Javier tersenyum lebar sambil terus menatap gadis itu yang semakin menjauh.


"Ah, siiaaal..! Hei...! Siapa namamu...!!"


Percuma saja dia berteriak, suaranya sudah tidak terdengar lagi ke telinga sang gadis. Semakin lama bayang-bayang gadis itupun semakin menghilang dari pandangan mata Javier.


Javier sangat menyesali itu, dia benar-benar kesal pada dirinya sendiri yang tak sempat menanyakan nama gadis itu sebelumnya.

__ADS_1


Sampai akhirnya Javier memutuskan untuk kembali ke rumahnya, tentu dengan harapan besok dia bisa bertemu lagi dengan gadis itu.


______________________________


Sesampainya di rumah, Javier masuk dengan wajahnya yang berseri-seri. Sesekali dia tersenyum, sesekali dia bersiul-siul.Sepertinya pemuda itu sedang terkena virus cinta, cinta dari pandangan pertama tentunya.


Adinda yang mendapati sosok sang putra, seketika mengerutkan keningnya.


"Jav! Kau kenapa?! Kau habis olah raga?! Mama pikir kau masih tidur,"


"Hai, Ma! Selamat pagi..!" Javier mendekati Dinda dan langsung menggeser kursi lalu mendudukinya.


"Apa yang terjadi?!" Dinda duduk di sebelah Javier. Dia menatap heran raut wajah putranya yang tak lepas dari senyumnya.


"Maksud, Mama?!" Javier malah balik bertanya, seraya membalas tatapan mata Adinda.


"Apa yang membuatmu senang pagi ini, hm?!"


Menyadari itu Javier pun menampakkan senyumnya yang lebar. "Ma! Tolong ceritakan padaku, bagaimana rasanya saat pertama kali jatuh cinta?!"


"Javier..! Kau sedang jatuh cinta?!"


Dari pertanyaan putranya, Dinda dapat menyimpulkan bahwa pemuda itu sedang jatuh cinta, di tambah lagi dengan raut wajahnya yang tampak senang.


"Ehem.. Sepertinya.. Tapi aku baru saja bertemu dengannya Ma! Aku nggak tau apa ini cinta, atau hanya mengaguminya saja,"


"Apa yang kau rasakan, hm?!"


"Senang, dan ingin sekali bertemu dengannya lagi," Javier membayangkan kembali raut wajah gadis yang ia temui tadi.


Mendengar ucapan putranya, Adinda pun seketika tertawa. "Seperti apa dia?! Dan siapa namanya?!"


Cerita Javier membuat Dinda merasa senang mendengarnya. Sebab, baru kali ini putranya bercerita tentang seorang gadis padanya.


"Dia cantik, sama cantiknya dengan Mama," Javier menoel ujung hidung runcing Dinda dengan telunjuknya.


"Ish, kau ini.. Tidak pernah mau serius," ujar Dinda sedikit kesal.


Javier pun tertawa sejenak. "Aku tidak tau namanya Ma.. Aku lupa menanyakan namanya sebelum dia pergi,"


"Astaga, kau ini.. Mendekati satu gadis saja kau sampai lupa menanyakan namanya," Adinda menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan Javier, bagaimana bisa putranya itu jatuh cinta dengan gadis tapi tidak tau nama gadis itu. Pikir Dinda.


Javier menghela nafas jengah. "Mama jangan khawatir, besok pasti aku akan bertemu lagi dengannya," Javier tampak begitu bersemangat.


"Ya.. Semoga. Tapi jika kau bertemu dengannya lagi.. Jangan sampai lupa untuk menanyakan siapa namanya,"


Di meja makan, kedua ibu dan anak itu asik membicarakan tentang seorang gadis yang ditemui Javier tadi. Sambil menikmati sarapan pagi mereka, sebelum mereka memulai aktivitas yang lainnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2