
Javier terus melangkahkan kakinya dengan santai. Tapi sebelum dia memutuskan untuk menyusul Jelita didalam kamar yang mereka tempati, dia terlebih dahulu menemui pelayan yang tadi mengantarkan minuman ke mejanya.
Sesampainya Javier di meja bar, pandangannya yang tajam langsung mengarah pada pelayan tersebut yang sedang menuangkan minuman untuk tamunya.
"Hei, kau! Cepat kemari!" Javier meninggikan suaranya. Pasalnya, alunan musik yang sangat keras memenuhi diskotik tersebut.
Tamu yang mendengar suara teriakan Javier pun menoleh, lalu lekas mencolek lengan pelayan itu, bermaksud memberitahukan jika ada orang yang memanggilnya.
Pelayan itupun lekas menoleh kearah Javier yang berdiri tegap di depan meja bar, berseberangan dengan posisi pelayan itu.
Setelah selesai menuangkan minuman, pelayan itupun mengitari meja, melangkah berjalan menuju arah Javier berdiri.
"Anda memanggil saya, Tuan!" tanya pelayan itu dengan hormat.
"Ya, kau. Ikut denganku sekarang juga." Dengan cepat Javier berbalik lalu berjalan di depan pelayan itu.
Pelayan itu mengikuti langkah Javier dengan raut wajah yang ketakutan. Pasalnya, dia yakin jika Javier sudah mengetahui perbuatannya.
Javier mengarahkan pelayan laki-laki tersebut keluar dari hotel, lalu melanjutkan langkah menuju tempat yang agak sepi.
"Kau kenal wanita yang bersama ku tadi?!" tanya Javier kemudian, dengan ciri khas suaranya yang serak.
Dia menatap tajam dengan raut wajah dinginnya pada pelayan itu, sehingga membuat pelayan itu gemetar dan lekas menjawab dengan gelagapan.
"A-Aku.. Aku tidak mengenalnya, Tuan!"
BUKK!!!
"AAAKH.."
Javier memberi Bogeman mentahnya tepat kearah bagian perut pelayan itu, hingga pelayan itu mengerang kesakitan dengan tubuh yang terpental ke dinding di belakangnya.
"Jika kau tidak mengenalnya, lalu kenapa kau bekerjasama dengannya untuk menjebak ku..?!!" teriak Javier dengan keras, sambil menarik kerah kemeja pelayan itu.
BUKK.. BUKK.. BUKK..
Untuk kedua kalinya Javier melayangkan tinjunya yang kuat, hingga tubuh pelayan itu tergeletak di tanah dengan darah yang menyembur keluar dari mulutnya.
"A_Ampun..! Jangan bunuh aku..!
"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.."
Pelayan itu terbatuk hingga kembali mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Emosi Javier sudah terlanjut memuncak. Tanpa ampun dia menginjak dada lelaki itu dengan sebelah sepatunya yang keras.
__ADS_1
"AAAKH.." Pelayan itu kembali mengerang kesakitan.
Tapi sebelum Javier melanjutkan pertanyaannya, terlebih dahulu dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, dengan tujuan ingin merekam pembicaraannya dengan pelayan itu sebagai bukti jika dia telah di jebak.
"Cepat katakan!! Untuk apa kau bekerjasama dengannya?!"
"A_Aku.. Aku tidak tau,Tuan! Dia hanya menyuruhku.. Untuk memasukkan obat perangsang kedalam minuman itu! Dengan imbalan, dia akan memberikan.. Se_Sejumlah uang, yang banyak, jika itu berhasil. AAAKH!" Pelayan itu kembali mengerang setelah memberi penjelasan dengan bersusah payah.
Javier menyunggingkan seringainya. Kemudian menutup rekaman melalui ponsel genggamannya tersebut.
"Kali ini kau selamat. Tapi jika sampai kau bekerjasama dengannya lagi untuk menjebak ku! Maka dengan senang hati aku akan menghabisi nyawa mu,"
Setelah mengatakan itu, Javier pun pergi meninggalkan pelayan itu yang masih dalam posisi yang sama, terkulai lemah di tanah.
_________________________
Beberapa menit kemudian, Javier kembali ke kamar yang ditempatinya bersama dengan Jelita.
Namun sayang, Javier sudah terlambat. Saat dia tiba, ternyata Jelita malah tidak ada didalam kamar tersebut.
Bukan cuma itu, bahkan lemari pakaian yang berada di pojokan, sudah terbuka lebar dengan bagian dalam lemari sudah tidak terlihat pakaian Jelita di sana, dan hanya menyisakan beberapa lembar pakaian milik Javier saja.
Seketika Javier mengkhawatirkan Jelita. Kemana dia harus mencari istrinya, dikarenakan Jelita tidak mengenal daerah itu.
Di jalan yang cukup ramai dengan pengendara yang sibuk berlalu lalang, Jelita berjalan lemah sambil menyeret sebuah koper di tangannya.
Jelita tak henti-hentinya menangis, mengingat kejadian itu. Kejadian dimana dia melihat sendiri Javier yang sedang bercumbu dengan Viona, dan dengan bangga Viona memperlihatkan tanda kepemilikan Javier padanya.
Sementara di tempat Javier berada, Javier dengan gusarnya terus mencari keberadaan Jelita.
Rasa kekhawatiran sekaligus rasa bersalahnya pada sang istri membuatnya tidak bisa tenang.
Dia bergegas menghampiri kendaraannya yang terparkir di luar hotel, lalu dengan cepat dia mengendarai kendaraannya melaju mengitari setiap sisi jalan.
Beberapa jam lamanya Javier mencari, tapi masih tidak bisa menemukan jejak Jelita. Sampai akhirnya, dia berpikir, mungkin saja Jelita kembali ke kediaman Mario.
Dengan cepat, Javier pun memutar setir mobilnya, berbelok ke jalan yang mengarah ke alamat Mario.
_________________________
Begitu sampai di sana, Javier lekas turun dari mobilnya lalu bergegas masuk kedalam rumah.
Dan benar saja, jika dilihatnya dari tatapan tajam Mario berserta Dinda yang menyambutnya, sepertinya Jelita memang sudah berada didalam rumah. Bahkan, sudah mengadukannya pada Mario dan Dinda. Pikir Javier.
"Untuk apa kau datang kemari?! Bukankah, kau sedang bersenang-senang dengan seorang gadis?!" sindir Dinda dengan pedasnya.
__ADS_1
"Ma, dengarkan penjelasan ku dulu, Ma! Aku tidak seperti apa yang kalian pikirkan. Gadis itu menjebak ku!" ujar Javier dengan cepat menyelanya.
Sejenak, Dinda menyunggingkan senyum tipisnya, kemudian lekas menimpali. "Dengar, Jav! Kau sudah bukan pria lanjang, kau sudah punya istri dan bahkan kalian akan segera punya anak. Bisa-bisanya kau masuk dalam perangkap perempuan lain!! Dimana akal pikiran mu, Javier Van De Jhonatan?!" ujar Dinda hingga menyebut nama panjang putranya.
Dinda sangat menyesali dengan apa yang telah terjadi. Apalagi saat menantunya datang dengan kondisi fisik yang lemah serta mata yang bengkak akibat terlalu banyak menangis.
Javier mengusap gusar raut wajahnya. Dia tidak menyangka jika semua orang akan menyalakan dirinya, walaupun dia memang salah, tapi setidaknya kesalahan itu dilakukannya tanpa sengaja. Pikir Javier.
Javier menghempaskan pelan bokongnya di sofa, lalu kembali menatap Dinda. "Ya, aku memang salah. Tolong maaf aku," ujarnya dengan lemah, kemudian lanjut bertanya.
"Aku ingin bertemu dengan istriku, dimana dia?!"
Javier sudah tidak bisa membela dirinya sendiri, karena percuma saja, tidak ada yang akan iba padanya.
Dia mengarahkan pandangannya kepada Dinda, bergantian kepada Mario.
"Istrimu Mama sembunyikan di tempat yang paling aman," Dinda duduk dengan tenang dan santai di sofa.
"Maksud Mama?!" Javier mengerutkan keningnya. Sungguh dia tidak mengerti apa maksud dengan menyembunyikan istrinya.
"Begini, Jav. Kau tau istrimu sedang hamil bukan?! Jadi.. untuk sementara waktu biarkan dia tenang. Saat dia datang kemari, kondisi fisiknya sangat lemah." ujar Mario menimpali, kemudian duduk di samping Dinda.
Mendengar itu Javier pun menghela nafasnya yang lemah. Dia sangat menyesal, bahkan ingin sekali meminta maaf dan memberikan hasil rekaman kepada sang istri.
"Aku tau kesalahan ku sangat menyakitkannya, tapi itu murni ku lakukan tanpa kesadaran ku," nada suara Javier pun terdengar lemah di telinga Mario dan Dinda.
Sesaat Dinda dan Mario saling melempar pandangan, tapi detik kemudian mereka kembali menatap Javier.
"Kami paham, Jav! Tapi kau juga harus mengerti dengan perasaannya sekarang. Kau tidak bisa memaksanya untuk mendengarkan mu! Setidaknya, berilah istrimu waktu untuk bisa menerima penjelasan mu." ujar Dinda dengan lembut.
Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar, ruangan yang berada jauh ke belakang rumah Mario, Jelita duduk meringkuk sambil bertekuk lutut.
Tapi detik kemudian dia menyandarkan kepalanya di sisi ranjang, seraya memejam. Isi kepalanya terus dibayangi dengan perbuatan Javier dengan Viona.
Dimana dia melihat sendiri dengan mata kepalanya, bagaimana Javier membuat tanda-tanda merah di tubuh Viona.
Sebagai istri, tentu tidak mudah baginya untuk melupakan hal itu.
"Haahh!" Jelita menghela nafas lelahnya sesaat, tapi setelah itu dia menggumam lemah.
"Harus kemana aku pergi.. Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini."
Jauh di lubuk hati yang paling dalam, saking kecewanya, Jelita sampai tidak ingin bertemu dengan Javier lagi.
Bersambung...
__ADS_1