
Seketika Adinda menyemburkan air yang baru saja dia teguk.
Dinda terkejut saat mendapati sosok Mario yang sudah berdiri di dekatnya dengan menampakkan senyumnya yang menawan.
"Mario.." Dinda melemahkan nada suaranya, seiring dengan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang.
"Aku tidak menyangka, kita bisa bertemu lagi,"
Dinda pun mengulas senyumnya.
Terkadang, apa yang keluar dari mulut, tidak sesuai dengan apa yang di rasakan. Begitulah Dinda, walaupun jarak dan waktu sudah memisahkan mereka, namun pada kenyataannya, kerinduan itu masih tetap ada mengisi relung hatinya.
"Bagaimana kabarmu?!"
Mario dan Dinda tertawa bersamaan, saat pertanyaan yang keluar dari mulut mereka adalah pertanyaan yang sama, bahkan dalam waktu bersamaan.
Sementara dari kejauhan, Javier menatap curiga kearah keduanya. Dimana dari tempat Adinda dan Mario berada, tampak keduanya yang sangat dekat dan akrab. Hal itu membuat Javier terpancing, ingin mengetahui siapa laki-laki yang sedang berbicara dengan Mamanya tersebut.
Detik berikutnya pun, dengan cepat Javier mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, lalu mengarahkan kamera kecil dari benda pipih tersebut ke arah Mario dan Dinda.
Javier sengaja mengambil gambar Mario, dan setelah didapatinya, dia pun segera mengirimkan pesan singkat beserta gambar potret Mario kepada salah seorang anak buahnya.
****
Dari kejauhan, tanpa sengaja tatapan Dinda tertuju pada Aldo dan Yudha.
"Itu.. Bukannya Pak Yudha sama Pak Aldo?!" Adinda mengamati keduanya dengan kening yang mengerut.
"Kau masih memanggil mereka dengan sebutan, Pak?!"
Adinda pun tersenyum lalu mengalihkan pandangannya kepada Mario. "Tentu saja! Apa kau datang bersama mereka?!"
"Tidak, aku datang kemari bersama dengan sekretaris ku, namanya Viona,"
"Oh..!" Adinda mengangguk-anggukkan pelan kepalanya.
"Kau sendiri, siapa pemuda yang datang bersamamu itu?"
"Oh.. Dia Javier, putra ku satu-satunya," Dinda kembali tersenyum seraya melirikkan sesaat matanya kearah Javier, lalu kembali pada Mario.
"Dengan Jhon?!" Dari pertanyaannya, Mario seperti ingin meyakinkan.
"Tentu saja! Dia itu putraku satu-satunya dengan Jhon,"
Mario pun mengangguk-anggukkan pelan kepalanya, lalu kembali bertanya. "Apa kau tidak menikah lagi?!"
Deg
Hati Dinda sedikit terenyuh, secara tidak sengaja pertanyaan yang di lontarkan oleh Mario mengingatkannya pada masa lalunya.
Dinda menggeleng lemah, bola mata indahnya mulai berkaca-kaca.
"Maaf, jika pertanyaan ku menyinggung perasaanmu," tiba-tiba ada rasa bersalah di hati Mario atas pertanyaannya sendiri.
__ADS_1
Namun sejujurnya, Mario juga merasa sedikit lega mengetahui jika Adinda tidak menikah. Setidaknya ada harapan untuk bisa mendekati pujaan hatinya kembali.
"Tidak apa-apa. Kau sendiri.. Apa kau sudah menikah?!"
Dengan cepat Mario menggeleng seraya mengulas senyumnya.
"Kenapa?!" Dinda pun ikut terkejut saat mengetahui jika Mario tidak menikah.
Dalam hatinya, sejauh itu kah rasa bersalah Mario sehingga dia tidak mau membina rumah tangga dengan orang lain.
"Kenapa kau tidak menikah?!"
"Karena tidak ada wanita seperti mu," Mario menatap lembut, kemudian kembali bersuara.
"Kau.. Wanita yang paling sempurna. Wanita yang lembut, baik dan jujur. Hanya saja.. Aku terlambat menyadari itu. Aku baru sadar, setelah kita berpisah,"
Blush..
Raut wajah Dinda seketika merona. Jawaban Mario bak busur panah yang menancapkan anak panah cinta tepat di jantung hati Dinda.
Dinda seakan lupa jika Mario pernah menyakitinya, dan dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Mario itu membuat Dinda merasa jika Mario sangat menyesalinya.
Manusia memang tak luput dari salah dan dosa, seperti itulah yang ada di pikiran Dinda.
"Kau.. Tidak perlu memujiku sedetail itu," Dinda tersipu malu. Namun detik berikutnya dia kembali bersuara. "Kau memang pandai menggodaku, kenapa kau tidak menggoda perempuan di luar sana?! Dengan begitu kau bisa segera melepas masa lajang mu,"
"Hahh!" Mendengar itu Mario menghela nafasnya sesaat. Tapi detik kemudian dia menatap lekat manik mata indah Adinda, seraya berkata. "Akan tiba saatnya nanti, aku akan segera melepas masa lajang ku,"
"Oya?! Baguslah kalau begitu,"
"A-A-Aku?! Ke-Kenapa harus aku?! A-Apa maksudmu Mario.." Dinda mendadak gagu.
Entah apa yang sudah di ucapkan oleh Mario, Dinda seperti mendengar sebuah ungkapan yang dapat di artikan sebagai lamaran, tapi itu belum bisa di pastikan dengan sangat jelas. Pikir Dinda.
"Tidak ada maksud apa-apa!" Mario tak henti-hentinya tersenyum menatap raut wajah Dinda yang terlihat menggemaskan baginya. "Kau tau..?! Kau perempuan tercantik yang pernah aku temui," Mario kembali menggodanya seraya mengedipkan sebelah matanya.
'Oh astaga..! Rasanya aku ingin pingsan.' Dinda membatin. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menggigit sedikit bibir bawahnya.
Debaran jantungnya jangan di tanya lagi, sungguh rasanya tidak karuan. Ingin sekali dia melompat dan pergi dari sana, tapi kakinya tak mampu melangkah. Seperti ada kekuatan magnet di tempatnya berdiri, menahannya agar tidak bergerak.
Sungguh tidak dapat di pungkiri, Dinda senang mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut Mario.
*****
Dari arah lain, Javier melangkah berjalan menghampiri Dinda. Di rasa sudah cukup lama dia membiarkan sang Mama bersama seorang pria, dia pun akhirnya memutuskan untuk menemuinya.
Namun saat langkah kakinya hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di posisi Dinda, tiba-tiba saja tubuh Javier bertabrakan dengan seorang gadis, yaitu Viona.
"Aaahh.." Tubuh Viona hampir saja terjatuh ke lantai, namun beruntungnya dengan gerakan cepat Javier menahan tubuh Viona dengan kedua tangannya.
"Hei, buka matamu. Tubuhmu tidak jatuh," Javier membangunkan Viona yang memejamkan matanya.
Mendengar suara seorang lelaki, Viona pun sontak membuka kedua matanya, hingga mereka saling menatap.
__ADS_1
Deg
'Ya Tuhan..! Tampan sekali..! ' Viona membatin.
Seketika gadis itu terpana dengan ketampanan yang di miliki Javier. Mata indah, bulu mata lentik, alis tebal, hidung yang runcing dan bibir yang sensual membuat Viona tidak ingin mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Aku rasa kau masih bisa berdiri sendiri. Kalau tidak.. Maka dalam hitungan ke tiga aku akan menjatuhkan mu,"
"CK, Kau pikir siapa dirimu?! Berani-beraninya ingin menjatuhkan ku,"
Belum sempat Javier menghitung, dengan cepat Viona mengubah posisinya seperti semula.
'Uuhh! Sombong sekali pemuda ini,' batin Viona.
"Kau belum tau siapa aku?!" Javier mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Viona, hingga membuat gadis itu menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah Javier.
"Tidak, dan sayangnya aku juga tidak mau tau siapa dirimu," Viona memilir pergi begitu saja meninggalkan Javier.
Sementara Javier, pemuda itu menaikkan sebelah alisnya sedikit ke atas menanggapi sikap Viona.
Baru kali ini ada seorang gadis yang tidak takut jika berhadapan dengannya. Pikir Javier.
Javier terus menatap Viona yang berjalan memunggunginya, hingga langkah kaki Viona semakin dekat dengan posisi Mario dan Dinda.
Begitu posisi Viona sudah berada diantara Mario dan Dinda, Javier pun mengerutkan keningnya.
'Siapa gadis itu, apa dia putri dari pria itu?! ' Javier bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.
Detik berikutnya saat Javier ingin mendekat, Mario dan Viona lebih dulu meninggalkan Adinda dari tempat mereka berdiri.
"Ma.." Suara Javier terdengar lemah.
"Hei sayang, kau ingin minum?!" Adinda meraih segelas minuman bersoda yang tersedia di atas meja, kemudian memberikannya kepada Javier.
"Siapa mereka?" Setelah meraih gelas dari tangan Adinda, Javier pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Maksudmu siapa?! Laki-laki yang tadi?! Dia itu teman lama Mama,"
"Yakin, cuma teman?!" Javier menyelidik.
"Apa maksudmu Jav?! Iya.. Cuma teman, tidak lebih," Dinda menghela nafas jengah. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kita gabung dengan yang lain. Sebentar lagi acaranya akan di mulai,"
"Ya..! Baiklah, Nyonya Jhon! Tugas ku di sini hanya menemanimu saja, tidak lebih,"
"Javier..! Kau sama dengan Papa mu, menjengkelkan,"
Javier tertawa kecil. Dia senang menggoda Adinda hingga membuat wanita itu kesal padanya.
Tak lama setelah itu, acara pelelangan pun di mulai. Semua para tamu undangan duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh pihak penyelenggara.
Kursi yang di duduki oleh Mario dan teman-temannya cukup jauh dengan kursi yang di duduki oleh Dinda dan Javier, namun masih bisa terlihat sedikit lebih jelas.
Tentu saja hal itu membuat Mario dan Dinda sangat mudah untuk saling mencuri pandang.
__ADS_1
Bersambung...