
Setelah kejadian itu, Javier memutuskan untuk kembali ke Belanda. Dia meninggalkan Jelita yang masih berada di rumah sakit, sehingga Dinda dan Mario lah yang menggantikannya untuk mengurus Jelita.
Beberapa hari kemudian.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Jelita pun semakin membaik. Tetapi Jelita malah merasa heran, pasalnya sudah berhari-hari Javier tidak pernah datang mengunjunginya.
"Ma! Sudah berapa hari Jav tidak pernah datang kemari, kemana dia?!"
Dinda gelagapan. Dia benar-benar tidak tau harus menjawab apa saat Jelita bertanya seperti itu.
"Em!" Dia berpikir sejenak, sebelum menjawab.
"Ah! Itu.. Jav sedang ada urusan pekerjaan di Belanda."
"Jadi.. Jav pulang ke Belanda?!" tanya Jelita cukup terkejut mendengarnya.
"Iya sayang! Dia tidak sempat berpamitan karena harus buru-buru," ujar Dinda beralasan.
Raut wajah Jelita terlihat sangat sedih. Pasalnya, sudah berhari-hari dia merindukan Javier.
Lalu bagaimana dengan Javier?! Apa yang sebenarnya dia lakukan di kotanya tersebut.
"Aku ingin secepatnya mengurus perceraian ku dengan Jelita, Paman."
"Tapi, Tuan muda! Bukankah Nona sedang mengandung anak mu?!" sela Zack dengan cepat.
"Anak?! Justru aku tidak berharap anak itu lahir! Aku dan Jelita saudara se 'Ayah, bagaimana bisa aku mempunyai anak dari adikku sendiri, Paman?!"
Mengingat akan hal itu membuat hati Javier terasa sangat sakit. Didalam lubuk hatinya, sungguh ini seperti mimpi buruk baginya.
"Adik tetaplah adik. Tapi anak yang ada didalam kandungan Nona Jelita adalah benih mu, Tuan! Kau tidak bisa untuk tidak mengakuinya!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?!" Javier mengusap gusar wajahnya. Dia benar-benar frustrasi dengan keadaan yang terjadi padanya dan juga Jelita.
"Tunggu sampai bayi itu lahir. Setelah itu Tuan muda boleh menceraikannya," ujar Zack menyarankan.
Javier menghela nafas berat, sambil memposisikan punggungnya menyandar pada badan kursi.
"Kau benar, Paman! Anakku tidak berdosa. Dan kami hanyalah korban." Javier menjeda sejenak ucapannya, tapi setelah itu dia kembali bersuara.
"Aku pernah bersumpah untuk menghabisi wanita pembunuh Papa dengan tangan ku sendiri, dan itu sudah ku lakukan. Tapi aku tidak mungkin membunuh keturunan dari wanita itu, karna dia adalah adikku." Javier mengubah posisinya menjadi berdiri, lalu melangkah mengitari mejanya.
"Setelah kami resmi bercerai, aku akan memberikan sebagian hartaku untuknya, Paman!" Javier berdiri berhadapan dengan Zack.
"Itu terserah Tuan muda saja. Aku tidak punya hak untuk melarang. Tapi ku rasa.. Itu keputusan yang tepat," ujar Zack menyetujui.
Keputusan Javier sudah bulat, dia akan menceraikan Jelita setelah anak mereka lahir.
Tapi apa yang terjadi setelah Jelita keluar dari rumah sakit dan di bawa pulang oleh Dinda dengan Mario ke rumah mereka.
*****
__ADS_1
1 bulan kemudian.
Semakin hari Jelita semakin merasa aneh dan bingung dengan sikap Dinda dan Mario yang sepertinya sengaja menyembunyikan sesuatu hal dari dirinya.
Pasalnya, jika Jelita bertanya apa yang sedang di kerjakan oleh Javier, Dinda selalu memberi jawaban yang membingungkan.
Sehingga membuat Jelita merasa Javier benar-benar melupakan dirinya dan juga anak yang ada didalam kandungannya.
Dengan pikiran yang terus bergelut dengan rasa penasarannya, sampai akhirnya Jelita memberanikan dirinya untuk segera memaksa Dinda mengatakan yang sebenarnya, mengatakan hal yang tidak dia ketahui sehingga membuat Javier pergi.
Jelita keluar dari kamarnya, lalu lekas berjalan menuju kamar Dinda dan Mario yang ada di lantai dua.
Namun saat langkahnya baru saja berhenti tepat di depan pintu kamar Dinda yang sedikit terbuka, tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan Dinda dengan Mario.
"Apa yang harus aku katakan pada Jelita?! Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana mengatakannya,"
"Mau sampai kapan kita harus menutupi masalah ini darinya, sayang?! Bagaimana pun dia harus tau kalau Jav tidak ingin bertemu dengannya lagi," ujar suara Mario yang terdengar menyela.
Jelita semakin mendekatkan telinganya, dengan tujuan agar pendengarannya lebih jelas lagi.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Jelita sampai tau bahwa dia dan Jav adalah saudara se 'Ayah."
KRIETT
Dinda dan Mario reflek menoleh saat bersamaan dengan itu terdengar suara pintu yang sedikit bergeser, hingga menampakkan Jelita yang berdiri di balik pintu dengan ekspresi terperangah.
"Jelita.." Dinda terkejut melihat Jelita menatap kearahnya dengan kedua bola mata yang membulat serta mulut yang di tutup dengan kedua telapak tangan.
Jelita malah bergerak mundur dengan perlahan, seraya melepaskan tangannya yang menutupi mulut.
"Apa maksud Mama, aku dan Jav saudara se 'Ayah?!" tanya Jelita sambil menangis.
Gadis itu sudah tidak mampu menahan air matanya. Hal yang baru saja dia dengar sungguh membuatnya syok.
"Jelita.. Oke baiklah, Mama akan mengatakan yang sebenarnya pada mu, Nak! Tapi Mama mohon! Jangan berbuat yang tidak-tidak, pikirkan janin yang ada didalam kandungan mu," ujar Dinda membujuknya dengan lembut.
Mario pun ikut melangkah mendekati Jelita, dengan berada di posisi belakang Dinda.
"Mama mu benar, Jelita! Biar bagaimana pun, kalian hanyalah korban," timpal Mario.
"Ayo, sayang! Kita bicara didalam saja, ya!" Dinda lekas memegangi lengan Jelita, lalu dengan perlahan dia menuntun Jelita masuk kedalam kamarnya.
Di sana, Dinda membawa Jelita duduk di atas kasur, dengan posisi yang saling berhadapan.
"Maafkan Mama sudah menyembunyikan hal ini dari mu. Tapi sekarang, sudah saatnya kau tau apa dan kenapa Jav memilih untuk pulang ke Belanda tanpa sepengetahuan mu."
Dinda menjeda sejenak ucapannya, seraya melirik kan matanya sesaat kearah Mario yang berdiri di belakang Jelita. Namun setelah itu dia kembali menatap Jelita seraya kembali bersuara.
"Kau putri dari Anita, bukan?!" tanya Dinda dan langsung di jawab Jelita dengan anggukan kepala.
Dinda mengulas senyumnya sesaat lalu kembali bersuara. "Anita Mama mu adalah mantan kekasih mendiang Papanya, Jav. Kau tau artinya, bukan?!"
__ADS_1
Jelita mengerutkan keningnya, sebagai tanda jika dia tidak mengerti maksud dari perkataan Dinda.
Dinda pun lekas menceritakan semuanya, siapa Anita dan apa hubungan mereka hingga Anita tanpa sengaja membunuh Jhonatan di hari pernikahan mereka, Dinda dan Jhonatan. Hingga Dinda pun mengatakan jika pernikahan Javier dan Jelita adalah pernikahan sedarah.
Jelita sangat syok mendengarnya. Pantas saja ibunya tidak pernah memberitahu tentang siapa ayahnya, dan ternyata ayahnya adalah lelaki yang sama dengan ayah Javier. Pikir Jelita dalam diamnya sambil menangis hingga sesenggukan.
"Sumpah demi Tuhan, aku tidak tau tentang itu, Ma! Aku tidak tau apa-apa soal Ayah!" ujar Jelita lirih.
"Mama tidak pernah menyalahkan mu, Jelita! Tapi yang jadi penyesalan, mengapa justru kalian yang menjadi korban dari keegoisan kami para orang tua!" Dinda pun ikut menangis dan langsung memeluk erat tubuh Jelita.
Sementara Mario, lelaki itupun tak mampu bersuara, dan hanya berdoa didalam hatinya, semoga ada jalan terbaik untuk mereka.
*****
Seminggu kemudian.
Jelita memutuskan untuk kembali ke Belanda, tepatnya kembali ke kediaman Javier dengan tujuan untuk menemui Marni.
Dinda pun menyetujuinya, hingga mengantar sendiri Jelita ke bandara menuju Belanda.
"Hati-hati di jalan, sayang! Kalau sudah sampai, segera hubungi Mama."
"Iya, Ma!"
Dinda memeluk tubuh Jelita seraya mencium pipi kiri dan kanannya sebelum Jelita pergi meninggalkannya.
"Mama juga, jaga diri baik-baik. Dan sampaikan salam ku untuk Papa Mario,"
"Iya!"
"Lita pergi, Ma! Terimakasih untuk semuanya."
Jelita melambaikan tangannya sambil beranjak pergi hingga menjauh.
"Cepatlah kembali..!" teriak Dinda diiringi dengan rasa sedihnya menatap kepergian Jelita.
Sebelum Dinda menyetujui Jelita untuk pergi menemui Marni, Dinda terlebih dahulu berpesan agar Jelita kembali lagi ke rumahnya.
Walaupun Dinda tau jika Jelita adalah anak dari Jhon bersama dengan wanita lain, tapi itu tidak membuat Dinda sama sekali membencinya, bahkan membuangnya ataupun mengusirnya dari rumah.
Dinda justru menerima kehadiran Jelita tidak sebagai menantu, tetapi justru menerimanya sebagai putrinya sendiri.
Dinda memang memiliki hati yang baik, yang bisa menerima keadaan walau sesulit apapun dia menghadapinya.
*******
Sampai akhirnya, beberapa jam kemudian.
Saat Jelita tiba di Belanda, tepatnya saat dia tiba di kediaman Javier.
*****
__ADS_1
Bersambung....