DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 16# Kedatangan Jelita


__ADS_3

Detak jantung Jelita seakan terasa berhenti berdetak, apa lagi saat Javier mengatakan itu, raut wajahnya dan nada bicaranya menunjukkan bahwa dia sedang tidak main-main dengan ucapannya.


"I-iya.. Aku akan datang,"


Setelah menjawabnya dengan sedikit gelagapan, Jelita meraih sepedanya lalu bergegas pergi dari sana.


Javier pun tersenyum penuh kemenangan, sesekali dia tertawa kecil sambil terus menatap punggung Jelita hingga gadis itu semakin menjauh darinya.


Dalam perjalanan menuju pasar, hati Jelita sungguh tidak karuan. Perasaannya campur aduk, antara takut, kesal dan sedih hingga ingin sekali dia menangis sambil terus mengayuh sepedanya.


"Siiiaaalll.. Aku benar-benar sial bertemu dengannya hari ini," Dia mengumpati dirinya sendiri.


Ingin marah, namun hal itu sudah terjadi, dan jika dia tidak datang, maka besok polisi akan datang ke rumahnya untuk menjemputnya.Lalu bagaimana dia bisa menghadapi ibunya yang galak itu?! Pikir Jelita dalam benaknya.


****


2 jam kemudian.


Sepulang dari pasar, Jelita lanjut memasak. Kali ini dia mengizinkan asisten rumah tangganya untuk membantu dirinya, agar bisa selesai lebih cepat.


Dan benar saja, sebelum Anita bangun dari tidurnya, makanan sudah siap dihidangkan di atas meja. Keadaan dapur yang tadinya berantakan pun sudah bersih dan rapi kembali.


Akan tetapi, walaupun semua pekerjaannya sudah dia selesaikan, Jelita masih saja tampak gelisah. Sehingga sang asisten rumah tangganya yang biasa di sapa Marni pun menegurnya.


"Ada apa Non?! Non ada masalah?!"


"Iya Bi.. Aku mau keluar sebentar. Tapi aku nggak tau alasannya apa kalo izin sama Mama..?!"


"Memangnya Non mau kemana?!"


"Em.. Mau ke.. " Seketika Jelita gelagapan.


"Hm..! Mau ketemu pacar ya?!"


"Ih Bibi.. Siapa juga yang mau ketemu pacar. Lagian.. Aku 'kan nggak punya pacar, " Jelita menampakkan raut wajahnya yang cemberut saat Marni menggodanya.


Marni pun tertawa kecil mendengar Jelita menggerutu seperti itu. "Trus.. Non keluar emangnya mau kemana kalo nggak ketemu seseorang,"


"Aku nggak ketemu pacar Bi.. Aku mau ketemu temen.. Ada urusan mendadak," Jelita sedikit merengek.


"Temen apa demen..?! Sejak kapan Non Jelita punya temen, perasaan Non 'kan nggak pernah keluar rumah," Marni terus saja menggodanya. Wanita itu senang jika melihat raut wajah kesal Jelita yang menggemaskan.


"Ah Bibi.. Aku serius.. Aku ada urusan mendadak. Bantu aku dong.. Cari alasan apa gitu.." Jelita terus merengek, dia berharap Marni bisa membantunya kali ini.


"Ya udah.. Kalo gitu Non Jelita nggak usah izin sama Nyonya, langsung pergi aja. Nanti kalo Nyonya bangun trus tanyain Non Jelita.. Bibi langsung bilang, Non Jelita bawa sepeda ke bengkel. 'Kan tadi katanya sepedanya rusak.. "


"Aduh.. Bibi tuh is the best banget ya.. Ini.. Baru namanya Bibi kesayangan ku.. Hehe.. " Jelita tak lepas dari senyumnya yang mengembang. Dia benar-benar sangat senang karena Marni mau membantunya.


"Udah.. Sana ganti bajunya dulu, entar Nyonya keburu bangun.."


"Iya Bi, Ya udah aku ganti baju dulu sebentar, habis itu aku langsung pergi ya, Bi..!" Jelita bergegas menuju kamarnya. Dia mengganti pakaiannya yang menurutnya paling pantas di pakai untuk menemui Javier.


Dia memilih untuk memakai celana jeans panjang dan kaos ketat berwarna merah muda. Walaupun warna baju dan celananya itu sudah agak kusam, namun itu tidak mengurangi kecantikan wajahnya sedikitpun.


Setelah selesai mengganti pakaian, dia pun pergi dengan mengendarai sepeda satu-satunya yang dia miliki.


****


Beberapa jam kemudian, sepeda yang di kendarai oleh Jelita pun sampai di tempat tujuan, sesuai dengan alamat yang di berikan oleh Javier.

__ADS_1


Jelita terkagum-kagum melihat rumah mewah, besar dan luas milik Javier. Matanya tak lepas memandang dari luar pagar yang tinggi menjulang. Hingga tanpa sadar dua orang laki-laki mendekatinya lalu menegurnya.


"Hei, Nona! Cari siapa?!" Satu laki-laki diantara dua orang itu bertanya dengan nada suaranya yang cukup keras, membuat Jelita sedikit terperanjat kaget.


"Maaf, Tuan! Apakah benar ini rumahnya..Tuan Javier?!" Jelita merendahkan suaranya dengan hormat.


"Iya benar, kau datang ingin menemuinya?!" Kedua lelaki itu menatapnya dengan dingin. Mereka mengamati penampilan Jelita dari atas hingga bawah.


Jika orang lain melihat, rasanya memang tidak pantas jika seorang Javier berurusan dengan gadis seperti Jelita, jika di lihat dari penampilannya yang lusuh.


"Iya, Tuan! Justru Tuan Javier sendiri yang menyuruh saya datang kemari untuk menemuinya!"


Kedua lelaki itu saling melempar pandang. Mereka masih tidak yakin dengan ucapan Jelita.


Jelita yang menyadari jika kedua lelaki itu tidak mempercayainya, dia pun segera mengeluarkan kartu nama yang di berikan oleh Javier dari dalam tas kecil yang dia bawa.


"Kalau Tuan tidak percaya.. Ini kartu namanya, dia sendiri yang memberikannya," Jelita mengulurkan kertas kecil tersebut kepada salah satu lelaki itu.


Setelah mereka lihat kartu nama milik Javier, barulah mereka mempercayai ucapan Jelita.


"Tunggu di sini, aku akan memberitahu Tuan,"


"Baik, Tuan!"


Lelaki yang satunya pun masuk ke dalam rumah, sementara yang satunya lagi menunggu di luar pagar, mengawasi Jelita.


****


Di dalam rumah, Javier sedang duduk bersantai menemani Adinda sambil menonton acara di televisi.


Jarang sekali ada kesempatan seperti ini menurut Dinda, di karenakan Javier selalu sibuk dengan urusannya.


Saat Javier dan Dinda asik mengobrol, tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri mereka.


Javier dan Dinda pun menghentikan obrolan mereka seraya menoleh secara bersamaan.


"Ada apa?!"


"Di luar ada seorang gadis datang mencari Anda,"


Mendengar itu seketika Dinda pun mengarahkan pandangannya menatap Javier dengan kening yang mengerut.


"Haha.. Itu pasti dia," Javier tersenyum sumringah saat mengetahui jika ada seorang gadis yang datang ke rumahnya.


"Siapa Jav?!" Dinda menatap heran raut wajah putranya yang tampak begitu bersemangat.


"Lihat saja nanti, Ma!" Lagi-lagi dia mengulas senyumnya yang menawan. "Bawa dia masuk,"


"Baik, Tuan!"


Lelaki itu pun mengangguk kemudian segera pergi dari sana. Dia kembali menghampiri Jelita yang masih menunggu di luar.


****


"Nona! Silahkan masuk," lelaki itu melembutkan nada suaranya, hingga membuat Jelita tersenyum senang.


"Terimakasih.. "


Jelita memarkirkan sepedanya terlebih dahulu, setelah itu dia mengikuti langkah laki-laki tadi. Sementara lelaki yang satunya kembali ke tempatnya semula, berkumpul bersama yang lainnya.

__ADS_1


Laki-laki itu membawa Jelita hingga masuk ke dalam rumah, tentu saja menemui Javier yang masih berada di ruang keluarga.


"Masuklah ke sana, Tuan muda sudah menunggu mu," Dia membiarkan Jelita untuk masuk sendiri menghampiri Javier dengan menunjukkan arah ruangan tempat Javier berada.


"Baiklah, Terimakasih sudah mengantar ku, Tuan!" Jelita masih dengan nada hormatnya kepada lelaki itu.


"Sama-sama," Lelaki itupun meninggalkannya sendirian.


******


Jelita menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya secara perlahan. Setelah itu dia melangkah berjalan menuju ruangan yang di maksud.


"Permisi.."


Mendengar suara lembut dari seorang gadis, Javier dan Dinda pun menoleh ke arah sumber suara.


Javier tersenyum lebar saat netra nya mendapati sosok yang dia inginkan, seraya beranjak berdiri dari tempat duduknya.


Begitu juga dengan Adinda. Saat netra nya menangkap sorang gadis muda yang cantik berdiri dengan senyum manisnya, Dinda seketika terperangah. Tapi detik kemudian Dinda tersenyum lebar seraya beranjak berdiri lalu melangkah mendekati Jelita.


"Kenapa berdiri saja?! Ayo masuk, duduk bersama kami," Dinda pun langsung mengajaknya dengan suara yang lembut dan ramah.


"Terimakasih, Nyonya!"


Jelita pun ikut masuk ke ruangan itu lalu duduk tepat di samping Adinda.


Sementara Javier, jangan di tanya lagi bagaimana ekspresinya. Pemuda itu terus mengulum senyumnya, hatinya saat ini sudah tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi. Yang jelas dia merasa sangat puas.


"Javier.. Kenapa kau berdiri saja..?! Ayo duduk," Dinda menegur sang putra karena saat matanya melirik ke arah Javier, ternyata pemuda itu terus saja berdiri menatap gadis di depannya.


Javier pun tersadar lalu lekas mendudukkan bokongnya, tak jauh dari posisi Dinda dan Jelita.


Jelita menundukkan sesaat wajahnya, dia tersenyum malu saat Javier terus menatapnya.


Sementara Dinda, dia kembali mengarahkan pandangannya kepada Jelita seraya bertanya dengan nada lembut. "Siapa nama mu Nak?!"


"Jelita, Nyonya!"


"Jelita..?! Nama yang bagus. Berapa usia mu?!"


"Jalan 21 tahun, Nyonya!"


"Hei! Ternyata usia kalian tidak jauh berbeda.." Dinda sedikit meninggikan suaranya seraya tersenyum lebar menoleh ke arah Javier, kemudian kembali mengarah kepada Jelita.


Javier dan Jelita pun saling menatap sambil sama-sama tersenyum lebar.


"Tapi kau terlihat lebih muda dari putraku ini,"


"Mama.. "


"Hehe.. " Dinda tertawa menggoda Javier. "Baiklah, kalau begitu Mama tinggal dulu. Bicaralah dari hati ke hati dengannya,"


"Hm..! Jangan mengajari ku.. "


Jelita hanya bisa diam seraya mengulas senyumnya melihat keakraban kedua ibu dan anak itu. Baginya tidak ada anak yang tidak seberuntung dia, yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang.


Adinda meninggalkan Javier bersama dengan Jelita, hanya berdua saja di ruangan itu. Namun setelah Dinda pergi dari sana, tiba-tiba Javier beranjak dari duduknya lalu menarik pelan tangan Jelita.


"Ikut denganku,"

__ADS_1


Jelita tertegun tanpa bisa menolak ajakan Javier. Dia mengikuti saja langkah kaki Javier dengan tangan yang saling bertautan.


Bersambung...


__ADS_2