DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 40# Tiba di Belanda


__ADS_3

Seketika Jelita menjadi kikuk. Dia bingung harus menjawab apa. Pasalnya, gadis itu tidak akan berani menampakkan wajahnya lagi di depan ibunya.


Semenjak kedatangan sang adik Viona ke rumah sakit yang memaksanya untuk pulang ke rumah, sejak itu juga Jelita sudah tidak pernah tau bagaimana keadaan ibunya, Anita.


Jangankan bertemu, kembali ke rumahnya saja mungkin akan membuat ibunya naik darah dan kemungkinan besar dia akan di siksa habis-habisan. Pikir Jelita dalam diamnya.


Marni yang mengerti arti diam Jelita pun sontak menjawab cepat. "Nyonya! Non Jelita sudah tidak punya orang tua laki-laki. Kalau pun Ibunya.. Nyonya sendiri sudah tau bagaimana sikap Ibunya. Saya rasa.. Kita tidak perlu memberitahu mereka, mereka juga tidak akan peduli. Jadi, percuma saja kalau mereka di kasi tau, yang ada Non Jelita tidak akan di izinkan untuk menikah, dan pasti dia akan di kurung di rumahnya, Nyonya!"


Jelita merasa lega mendengar ucapan Marni. Jelas saja itu sangat mewakili apa yang dia pikirkan tapi tidak bisa dia ucapkan.


Dinda pun mengangguk paham, begitu juga dengan Javier yang langsung menimpali ucapan Marni.


"Bi Marni benar, Ma! Aku juga tidak mau kalau sampai Ibunya Jelita memisahkan aku dengan Jelita. Lagi pula.. Sudah ada Bi Marni yang mewakili kedua orang tuanya, bukan?! Walaupun mereka tidak punya hubungan darah, tapi Bi Marni lah yang sudah merawat dan membesarkan Jelita dari kecil,"


"Iya, Mama paham. Tidak apa-apa kalau tidak mau memberitahu mereka, tidak masalah. Yang jelas, minggu depan kita pulang. Dan Mama akan segera mengurus pernikahan kalian."


Dinda memang ingin secepatnya melangsungkan rencana pernikahan putranya dengan Jelita. Pasalnya, wanita itu tidak ingin calon menantunya bernasib sama dengannya. Apalagi dia sempat merasa kehilangan putranya, walaupun akhirnya Javier kembali dalam keadaan baik-baik saja. Dia tau jika Javier banyak musuh, apalagi menyangkut dengan Anita, pembunuh ayahnya.


Dinda, Javier maupun Zack tidak mengetahui siapa sebenarnya Jelita dan apa hubungan Jelita dengan pembunuh Jhonatan.


Mereka tidak pernah bertanya siapa nama ibu dari Jelita. Saat Marni menceritakan masa kecil Jelita hingga dewasa, Marni juga tidak menyebutkan siapa nama kedua orang tua Jelita.


Alhasil, Dinda maupun Javier menganggap bahwa Jelita sama sekali tidak ada hubungannya dengan Anita.


_________________________


Tak terasa, hari berlalu begitu cepat. Setelah Zack meminta untuk menutup kasus yang menimpa Javier, mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke luar negeri, yaitu Belanda.


Bukan cuma mereka saja yang kembali ke negara domisili, bahkan Mario pun memutuskan kembali ke eropa sehari setelah kepulangan Dinda, Javier dan yang lainnya.


BELANDA


Ini perjalanan pertama kalinya keluar negeri, bagi Jelita maupun Marni. Jika bukan karena Dinda dan Javier yang membawa mereka, belum tentu mereka bisa menginjakkan kaki di negara itu.


Jelita sangat senang, hingga tak lepas dari senyumnya yang lebar saat menginjakkan kakinya di salah satu kota di negara tersebut. Apalagi saat mobil penjemputan yang mereka kendarai memasuki halaman rumah yang tampak lebih besar dan megah dari rumah Javier yang ada di tanah air, hingga membuat Jelita maupun Marni terkagum-kagum melihatnya.

__ADS_1


Para pelayan yang berjumlah lebih dari 5 orang pun menyambut kedatangan mereka di teras rumah.


"Selamat datang, Nyonya!"


"Selamat datang, Tuan muda!"


Para pelayan itu berdiri sambil membungkukkan tubuh mereka, saat Javier, Dinda dan yang lainnya masuk kedalam rumah.


Javier berjalan di posisi paling depan, beriringan dengan Adinda. Sementara Jelita dan Marni menjurus di belakang mereka. Begitu juga dengan Zack, lelaki itu berjalan paling belakang, diikuti oleh beberapa orang pengawal.


"Pelayan! Tolong antarkan Nona dan Nyonya ini ke kamar mereka masing-masing,"


"Baik, Nyonya!"


Dua orang pelayan pun segera mengantar Jelita dan juga Marni, sambil membawakan koper milik mereka, sesuai yang di perintahkan oleh Adinda sendiri.


Setelah Jelita dan Marni pergi, Adinda beralih menghampiri Javier di kamarnya.


"Jav!"


"Iya, Ma!" sahutnya sambil melepas jas yang dia kenakan, lalu meletakkannya di atas kasur.


"Mulai besok Mama mau membawa Jelita berkunjung ke rumah keluarga kita, sekalian Mama mau memperkenalkan dia. Kau mau ikut?!"


Javier tersenyum, kemudian lekas menjawab. "Mama saja, ajak sekalian Bi Marni. Aku mau periksa laporan kerjaan di sini,"


"Oke, baiklah kalau begitu." Dinda mengulas senyumnya, lalu segera keluar dari kamar Javier.


Hanya itu saja yang dia tanyakan. Sepertinya Dinda memang begitu bersemangat, tampak dari ketidaksabarannya untuk segera memperkenalkan Jelita sebagai menantunya.


Setelah beberapa jam beristirahat, tepatnya pada saat sore harinya. Jelita merasa suntuk berada didalam kamar, sehingga dia memilih untuk menghirup udara segar di luar rumah. Tentunya setelah dia mandi dan berganti pakaian.


Penampilan Jelita semakin cantik, namun sepertinya Javier belum menyadari itu. Terbukti tidak ada tanggapan dari Javier mengenai perubahan Jelita.


Jelita berjalan sendirian, menikmati pemandangan di belakang rumah. Dia terkagum-kagum melihat pemandangan itu, yang menampakkan sebuah bukit yang cukup tinggi lengkap dengan kebun bunga milik Dinda di sana.

__ADS_1


Seketika Jelita ingin sekali menghampirinya, namun karena bukit itu cukup tinggi, dia sedikit kesulitan untuk mendakinya.


"Aduh! Gimana caranya naik?!" Dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari jalan lain agar bisa sampai ke puncak bukit.


Namun, tiba-tiba saja seseorang melingkarkan tangannya memeluk pinggang ramping Jelita dari belakang. Sontak saja membuat Jelita dengan cepat menoleh ke belakang.


"Jav!"


Cup!!!


Bersamaan dengan itu Javier mengecup singkat pipi kiri Jelita.


"Jav! Lepaskan pelukan mu! Nanti ada orang yang melihat kita!"


Jelita berusaha melepaskan tangan Javier yang melingkar di perut ratanya, seraya mengarahkan pandangannya ke sana kemari.


"Biarkan saja orang lain melihat kita, memangnya aku peduli?!" Javier tetap tidak mau melepaskan pelukannya. Jangankan menjauh, melepaskan tangannya saja dia tidak mau.


Jelita yang mendengarnya pun seketika mendengus kasar, lalu lekas menimpali. "Aku ingin ke kebun bunga itu! Bawa aku ke sana," sesaat Jelita menunjuk kearah puncak bukit, dengan telunjuknya.


"Oke, baiklah. Ayo ikut denganku." Dengan cepat Javier menuntun Jelita ke jalan lain yang menuju ke puncak bukit tersebut.


Dengan tangan yang saling bertautan, mereka terus melangkah bersama menuju kebun bunga yang ada di sana.


Setelah mereka sampai, Jelita pun langsung mendudukkan bokongnya di atas rerumputan. Sedangkan Javier, pemuda itu berbaring dengan posisi kepala di atas pangkuan Jelita.


Di atas puncak bukit, dua sejoli itu asik memadu cinta di antara bunga-bunga yang sedang bermekaran di sana. Sungguh indah, seakan dunia hanya milik berdua.


Sambil berbaring, Javier terus menatap lekat raut wajah Jalita, seraya melontarkan pujiannya.


"Kenapa sekarang kau terlihat sangat cantik?!" Javier mengarahkan tangannya, mengusap lembut bibir mungil Jelita dengan jarinya.


BLUSH!!


Jelita baru tersadar jika Javier mengamati lipstik yang dia pakai. Jauh sebelum itu dia tidak pernah memakai pewarna bibir. Jangankan memakainya, membelinya saja tidak pernah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2