DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 36# Ledakan Besar


__ADS_3

______________________________


Malam semakin larut, saat Adinda, Jelita dan Marni sampai di rumah, Javier masih belum kembali juga. Adinda bertanya pada Zack, kemana perginya pemuda itu. Tapi Zack hanya menjawabnya dengan mengatakan bahwa Javier sedang melakukan tugasnya di luar sana.


Adinda memilih untuk duduk bersantai di ruang televisi, bersama dengan Jelita dan juga Marni tentunya.


Dia menatap Jelita, yang duduk berhadapan dengannya. Gadis itu terlihat semakin cantik. Tidak sia-sia Dinda mengeluarkan banyak uang. Dengan wajah polos dan penampilan yang sederhana saja Jelita sudah terlihat cantik, apa lagi sekarang, justru gadis itu bertambah semakin mempesona, di mata Adinda.


"Dalam waktu dekat, kita semua akan pergi ke Belanda,"


"Ke Belanda?!"


Jelita dan Marni saling melempar pandangan. Tapi detik kemudian mereka kembali mengarahkan pandangan kepada Dinda.


Dinda tersenyum kecil. "Iya! Mama akan memperkenalkan mu dengan keluarga besar Jav di sana. Kau juga harus ikut, Marni!"


"Kenapa saya harus ikut juga, Nyonya?!"


"Iya! Karena, aku mau acara pernikahan mereka di adakan di sana!"


"A_apa, Ma?! Pernikahan?! Pernikahan siapa?!" Jelita sangat terkejut mendengar itu.


"Tentu saja pernikahan mu dengan Jav. Memangnya pernikahan siapa lagi selain pernikahan kalian?!"


Jelita tertegun, sementara Marni, wanita paruh baya itu malah tersenyum bahagia mendengarnya.


"Kenapa di percepat?! Bukannya bertunangan dulu?!"


"Bukannya lebih cepat lebih baik, Jelita?! Mama juga sudah tidak sabar ingin menimang cucu!"


GLUKK!!!


Jelita menelan ludahnya. Bagaimana bisa Adinda memikirkan tentang seorang cucu secepat itu? Pernikahan mereka saja belum terjadi. Pikir Jelita membatin.


Dia menjadi sangat gugup. Memikirkan tentang bagaimana saat malam pertama saja sungguh tidak pernah terbayangkan olehnya.


Tapi tak dapat di pungkiri, jika hal itulah yang sebenarnya sudah sangat di nantikan oleh Dinda, melihat Javier bersanding dengan pujaan hatinya.


Di ruang tengah, Dinda terus membahas rencana pernikahan Javier dengan Jelita, yang akan di adakan di kediamannya, di luar negeri.


Lalu, apa yang di lakukan oleh Javier di luar sana?


BRAKK.. BRAKK.. BRAAKKK..

__ADS_1


Dalam hitungan ke 3, Javier berhasil mendobrak pintu sebuah rumah yang cukup besar. Dia menendangnya dengan sangat kuat, hingga daun pintu itupun terbuka dengan paksa.


Javier mengarahkan senjatanya ke arah depan, serta ke sekeliling, sambil melangkah masuk kedalam rumah tersebut.


"Periksa seluruh ruangan di rumah ini." Javier meninggikan nada suaranya.


Bersama ke 7 orang rekannya, Javier melakukan sebuah penyergapan di kediaman Anita. Saat dia tiba di sana, ternyata rumah yang dihuni oleh Anita sudah tampak kosong tak berpenghuni.


Javier terus mengarahkan senjata api yang dia pegang, takut jika masih ada seseorang yang masih bersembunyi di dalam sana.


Dengan gerakan cepat dan gesit, dia dan rekan-rekannya masuk, memeriksa satu persatu ruangan yang ada di dalam rumah tersebut.


Tidak ada satu ruangan pun yang mereka lewatkan. Bangunan yang memiliki dua lantai tersebut telah di periksa, bahkan dengan cara membuka paksa pintu-pintu ruangannya.


"Tidak ada siapa-siapa di sini!!"


"Cari ke ruangan lain!! Jangan sampai ada satu ruangan pun yang terlewatkan!!"


Dari ruangan yang berada di bawah, hingga ruangan yang berada di atas, semua telah di masuki. Namun tak ada sedikitpun tanda-tanda jika seseorang bersembunyi di sana.


Javier dan yang lainnya pun kembali turun, lalu berkumpul di lantai utama.


Mengetahui jika langkah yang di buru lebih cepat darinya, Javier pun menurunkan senjatanya.


Javier menampar meja dengan sangat keras, dengan sebelah tangannya. Dia sangat kesal, karena tidak berhasil menemukan sosok Anita di rumah itu.


"****!! Ternyata bedebah itu lebih cepat dari ku!!" Javier mengumpat dengan keras. Emosinya memuncak, seiring dengan desiran darahnya yang bergemuruh.


"Tuan! Masih ada satu ruangan yang masih tersisa!"


Mendengar suara teriakan salah satu anak buahnya, Javier pun bergegas menghampirinya, diikuti oleh yang lainnya.


Dan benar saja, saat langkah kaki Javier sampai di sana, terlihat sebuah ruangan dengan pintu yang terkunci oleh gembok.


"Menyingkir!!"


Javier berdiri tegak di depan pintu, namun dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Sementara yang lainnya, mengambil langkah mundur.


Dalam hitungan detik, Javier pun melepaskan tembakannya tepat pada kunci gembok tersebut.


**Dorrr**


Di waktu yang bersamaan, kunci gembok itupun terlepas dan jatuh ke lantai. Javier pun maju beberapa langkah, lalu menendang keras daun pintu dengan sepatunya.

__ADS_1


Saat pintu sudah terbuka lebar, ternyata di dalam sana hanyalah ruangan kosong biasa. Bahkan, tidak ada tanda-tanda seseorang yang bersembunyi di sana.


Akan tetapi, netra Javier justru menangkap sebuah pintu rahasia, yang terdapat di ruangan tersebut. Dengan perlahan, Javier pun mendekatinya, kemudian mengarahkan tangannya kanannya menekan handle pintu yang kebetulan tidak terkunci, hingga daun pintu itupun perlahan terbuka dengan mudahnya.


Namun, sebelum dia melangkah masuk kedalam sana, dia mengarahkan terlebih dahulu pandangannya ke arah beberapa rekannya yang berada di belakangnya. Dia memberi aba-aba agar semua yang berada di ruangan itu tidak mengeluarkan suara mereka.


Setelah itu dia pun kembali menatap kearah semula, menatap kedalam ruangan yang ternyata adalah sebuah lorong yang cukup panjang. Lorong itu tidak terlalu terang, karena hanya di terangi dengan lampu yang berukuran kecil.


Dengan perlahan, Javier melangkahkan kakinya, masuk kedalam sana. Diikuti oleh rekan-rekannya, yang menjurus dari belakang.


Namun sayang, saat Javier terus melangkah, tiba-tiba saja langkahnya terhenti, saat dia merasakan sepatu yang dia pakai menginjak sesuatu yang keras di lantai.


Dengan cepat Javier menundukkan kepalanya, mengarahkan pandangannya ke bawah.


"Ouh! ****."


"Berhenti..!! Cepat tinggalkan rumah ini..!!"


Mendengar perintah keras dari Javier, seketika para rekan-rekannya yang berada di belakangnya pun mundur dengan cepat, hingga berlarian ke arah luar rumah.


Namun, baru saja mereka berhamburan keluar dari sana, salah satu dari anggota mereka menyadari, jika tidak ada sosok Javier di antara mereka.


Mereka semua saling melempar pandang, satu dengan yang lainnya.


"Dimana Tuan Jav?!"


"Apa yang terjadi dengannya?!"


Raut wajah mereka tampak kebingungan. Mengapa Javier menyuruh mereka untuk pergi dari sana, sementara dia sendiri tidak ikut menyusul. Seperti itulah yang tergambar dari raut wajah mereka masing-masing.


Hingga di menit kemudian, suara dentuman keras terdengar hingga hampir memekakkan gendang telinga mereka, yang berada di luar rumah.


*****BOOMMM***


***DUAARRR*****


Bersamaan dengan itu, di susul suara ledakan besar hingga menyebabkan bangunan rumah itupun hancur dengan sendirinya.


Semua orang sontak berlari dengan cepat, menjauh dari sana, sambil menutup rapat telinga mereka dengan kedua telapak tangan.


Jangan di tanya lagi seperti apa perasaan rekan-rekan Javier saat itu. Apalagi saat melihat beberapa dari bangunan rumah tersebut sudah hancur dan rata dengan tanah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2