DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 26# Gadis Yang Tepat


__ADS_3

Dinda langsung mengarahkan pandangannya kepada Javier.


"Apa..?! Pulang..?! Tidak, kau harus di rawat. Luka mu bukan luka biasa.. Kau baru habis operasi," Javier dengan tegas melarangnya. Dia mendekati Jelita lalu duduk di sisi hospital bad yang di tiduri Jelita.


Dinda menatap mereka berdua. 'Mereka terlihat serasi,' pikir Dinda dalam benaknya.


"Aku baik-baik saja, aku harus_"


"Sudah ku katakan, kau masih harus di rawat. Jangan membantah," Javier berbicara dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Jelita, sangat dekat hingga hampir tak berjarak.


Jelita seketika merasa tak nyaman dengan posisi Javier, apa lagi ada Dinda yang memperhatikan mereka.


Tak ingin hidung runcing mereka saling bersentuhan, dengan cepat Jelita mengarahkan raut wajahnya ke arah samping.


Javier pun mengubah posisinya menjadi duduk tegak, seraya mengarahkan pandangannya kearah Dinda. "Sekarang Jelita sudah di pindahkan kemari, sebaiknya Mama istirahat di rumah saja, biar aku yang menjaganya di sini,"


"Iya," Dinda mengulas senyumnya sesaat setelah menjawab singkat.


Setelah mendapat persetujuan dari Dinda, Javier pun turun dari hospital bad tersebut. Dia berdiri sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.


Sesaat Javier menatap layar ponselnya, setelah itu dia mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya saat panggilan terhubung ke nomor ponsel milik Zack yang tertera.


"Paman, apa pekerjaan kalian sudah beres?!"


"Sesuai dengan perintah mu, Tuan muda! Mayatnya sudah menjadi makanan anjing,"


"Bagus, segeralah kemari. Jemput Mama ku, biar dia bisa istirahat di rumah,"


"Baik,Tuan muda!"


Javier memutus panggilan telponnya begitu saja. Setelah itu dia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Jav! Mama ingin bicara dengan mu sebentar,"


"Iya, kita bicara di luar saja,"


"Jelita sayang.. Tante pulang dulu ya! Nanti Jav yang akan menemani mu," Dinda melembutkan nada suaranya, berbicara dengan posisi mendekatkan raut wajahnya sedikit lebih dekat ke sisi telinga Jelita.


Jelita pun menoleh ke arah raut wajah Dinda, seraya mengangguk sedikit dan tersenyum singkat.


Detik kemudian Dinda dan Javier pun keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Jelita sendirian di sana.


Sepeninggalan Javier dan Adinda, gadis itu terus memikirkan tentang bagaimana caranya dia menjelaskan pada Mama nya saat dia pulang nanti.


Jelita sangat gelisah, namun dia juga tidak bisa memaksakan dirinya untuk bisa bangun dari tempat tidurnya.


"Apa yang harus aku katakan pada, Mama..?!" lirihnya pelan.


Cukup lama Javier meninggalkannya sendirian, sampai akhirnya Zack datang menjemput Adinda.


"Jav.. Mama pulang dulu,"


"Iya, Ma!"

__ADS_1


"Ingat, jangan tinggalkan dia sendirian,"


"Iya.. "


Dinda tersenyum lebar seraya mengusap lembut pundak kanan Javier, setelah itu dia kembali bersuara.


"Mama akan meminta Leon untuk menemani mu di sini. Jika kau ingin sesuatu, kau bisa menyuruh Leon, tidak perlu meninggalkan gadis itu sendirian,"


"Iya, Ma,"


Tak banyak bicara lagi, Adinda pun segera pulang bersama dengan Zack. Sedangkan Javier, dia kembali masuk ke kamar inap Jelita.


Saat Javier kembali masuk menemui gadis itu, ternyata gadis itu sedang berusaha untuk bangun dari tidurnya. Tentu saja hal tersebut membuat Javier sontak berlari menghampirinya.


"Hei.. Apa yang kau lakukan?!" Dengan cepat Javier menahan tubuh Jelita agar berhenti bergerak.


"Aku hanya ingin duduk.. Bisakah kau membantuku?!"


"Hahh! Kau membuatku takut," Javier pun mengubah sedikit hospital bad dengan menyetel kunci yang berada di bawah agar posisi hospital bad tersebut menjadi sedikit tegak.


"Sudah?!"


"Iya, terimakasih,"


Setelah selesai, Javier mendudukkan bokongnya di sisi hospital bad. Tepatnya di samping Jelita yang setengah berbaring.


"Masih terasa sakit?!"


Jelita mengangguk sedikit kemudian lekas menjawab. "Sedikit,"


Namun detik kemudian Javier mengarahkan pandangannya ke arah lain. Dia mengambil remot televisi yang terletak di atas meja, tepat di samping Jelita. Setelah itu dia menyalakan televisi tersebut.


Detik bersamaan saat televisi itu menyala, tampaklah sebuah stasiun televisi yang menayangkan ulang saat kejadian yang menimpa Jelita di sebuah pusat perbelanjaan.


Javier fokus menonton tayangan itu, hingga tanpa sadar Jelita malah menutup matanya dengan sebelah tangannya.


Saat melihat tayangan itu, Jelita menjadi ketakutan, hingga dia meringis menahan sakit di perutnya.


Setelah tayangan itu selesai, Javier tersadar saat dia kembali mengarahkan pandangannya menatap Jelita.


"Kau kenapa?! Kau takut?!" Javier bertanya dengan nada lembut, sambil menurunkan tangan Jelita yang menutupi matanya.


"Saat aku datang, aku sudah melihat orang itu.. Dia ingin membunuh ibumu, tapi aku menghadangnya.."


Javier mendengarkan dengan seksama. "Apa yang ada di pikiran mu?! Kenapa kau mau mengorbankan nyawamu sendiri?!"


"Aku tidak punya pikiran apa-apa.. Aku hanya mencoba untuk menolong ibumu, tapi.. Malah aku yang kena,"


Begitu polosnya Jelita, tidak ada kebohongan yang terpancar dari netra indahnya. Javier malah tersenyum saat Jelita berkata dengan nada suaranya yang manja.


"Katakan, apa kau punya keinginan yang belum tercapai?!"


"Keinginan?!" Jelita berpikir sejenak.

__ADS_1


"He'em! Seperti.. Impian,"


"Banyak, tapi.. Yang paling aku inginkan adalah hidup bahagia,"


Javier mengerutkan keningnya saat mendengar itu. "Hidup bahagia?! Memangnya selama ini kau tidak pernah bahagia?!"


"Aku.. Aku bahagia kok, bibiku sangat baik. Bahkan dia sangat perhatian pada ku,"


"Bibi?!" Javier mengerutkan keningnya, masih dengan menatap Jelita.


"He'em! Bi Marni, dia pembantu di rumahku,"


"Lalu orang tua mu?! Dimana orang tua mu?!" Tanpa sadar, Javier mulai mengorek jati diri Jelita.


"Mama.. Mamaku.. Mama juga baik," Jelita melemahkan nada suaranya, seraya menundukkan sedikit wajahnya.


Javier seketika berpikir bahwa ada yang di sembunyikan oleh Jelita, untuk itu dia terus bertanya demi mendapatkan informasi siapa gadis yang sudah mengisi hatinya tersebut.


Yang pastinya Javier ingin dia mengetahui lebih banyak tentang Jelita.


"Berarti orang tua mu ada di kota ini juga?! Ayahmu kerja dimana?!"


Deg


Pertanyaan Javier membuat hati Jelita terenyuh. Bagaimana dia bisa menjawabnya, jika dirinya sendiri tidak tau siapa ayah kandungnya.


Melihat Jelita terdiam, Javier pun kembali bertanya. "Kenapa diam?! Apa ayahmu masih ada?!"


Jelita menggeleng lemah. "Tidak, aku tidak pernah tau siapa ayahku," Jelita berusaha menyembunyikan rasa sedih di hatinya, dengan memaksakan diri untuk tersenyum saat kembali menatap Javier.


"Kau tidak pernah tau siapa ayahmu?! Aneh sekali.. "


"Apanya yang aneh?! Mungkin saja ayahku sudah tidak ada saat aku lahir. Mamaku tidak pernah menceritakannya pada ku.."


Entah mengapa hati Javier semakin iba mendengarnya. Tidak mungkin seorang anak tidak tau siapa orang tuanya sekalipun dia belum lahir ke dunia. Pikir Javier.


Javier juga mengalami hal yang sama, ayahnya pergi saat dia masih di dalam kandungan. Tapi Mamanya selalu menceritakan seperti apa sifat-sifat mendiang ayahnya, kesukaan dan semua tentang sang ayah padanya.


"Jav.. Kenapa kau menatapku begitu?!" Jelita sedikit merasa aneh dengan tatapan mata Javier.


Menyadari dirinya membuat Jelita bingung, Javier pun tersadar hingga dengan cepat mengulas senyumnya.


"Setelah kau keluar dari sini, aku ingin sekali bertemu dengan ibumu. Boleh 'kan?!"


"Untuk apa menemui Mamaku?!"


"Tentu saja untuk melamar mu, untuk apa lagi?!" Setelah mengatakan itu, Javier pun tertawa kecil melihat raut wajah Jelita yang merona.


"Jangan bercanda, Jav..! Aku tidak suka kau bercanda seperti itu.."


"Siapa yang bercanda..?! Memangnya aku terlihat sedang bercanda?! Tidak 'kan?!" Javier menyangkalnya dengan cepat.


Semula Javier memang hanya mengagumi Jelita, namun beberapa kali bertemu perasaannya semakin sulit di ungkapkan. Dan sampai akhirnya mereka di pertemukan kembali saat Jelita menolong Mamanya hingga membahayakan nyawanya sendiri.

__ADS_1


Saat itulah Javier yakin bahwa Jelita adalah gadis yang baik dan yang paling tepat untuk mendampinginya.


Bersambung...


__ADS_2