DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd#59 Memberitahu Javier


__ADS_3

Di rumah sakit, tepatnya setelah beberapa jam saat Mario membawa Adinda pulang.


Javier begitu gelisah. Pasalnya, sang istri yang terbaring lemah masih tidak mau berbicara dengannya.


"Aku keluar sebentar," ujar Javier seraya beranjak dari duduknya.


Tak ada sahutan sama sekali dari Jelita, dia hanya melirik sekilas kearah Javier yang langsung pergi meninggalkannya, keluar dari kamar rawat inap.


Javier mendudukkan bokongnya di kursi, tepat diluar kamar rawat inap tersebut.


Bersamaan dengan itu suara ponselnya berdering. Javier pun lekas mengeluarkan benda pipih tersebut dari dalam saku celananya.


Sesaat, dia menatap pada layar ponsel yang menyala, hingga menampakkan nama kontak Mike yang tertera. Setelah itu dia pun lekas mengarahkannya ke sisi telinganya, setelah menggeser tombol berwarna hijau.


"Mike!" sambut Javier.


"Kapan kau bisa datang, Mr. Jav?! Tawanan mu sudah berada di tanganku,"


"Ya, aku tau. Aku akan ke sana setelah istriku bisa di bawa pulang," jawab Javier dengan nada datar.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu instruksi selanjutnya dari mu. Yang jelas.. Kau tidak perlu khawatir, karena dua wanita ini sudah ku amankan,"


"A_Apa katamu?! Dua wanita?!" Javier cukup terkejut mendengarnya, sehingga kedua bola matanya membulat.


"Jadi kau belum tau?! Apakah Mr. Mario tidak memberitahu mu?!" ujar Mike sedikit heran, terdengar dari seberang telepon.


"Tidak, dia tidak mengatakan bahwa ada dua wanita yang kau bawa,"


Seketika itu juga Javier merasa kesal dengan Mario. Pasalnya, Mario hanya mengatakan bahwa Rebecca sama sekali tidak mau bicara, untuk masalah siapa orang yang sudah menjual Jelita.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti."


Dengan cepat Javier memutus sambungan telepon tersebut, secara sepihak.


"Apa maksudnya menyembunyikan hal itu dari ku?!" gumam Javier pelan, masih dengan rasa kesalnya.


Detik kemudian, dengan cepat dia mengetik sebuah pesan singkat, lalu mengirimkannya ke nomor kontak Mario yang tertera.


*****


Sementara di kediaman Mario, dia yang saat itu masih menenangkan hati Adinda, sontak mengurai pelukannya saat suara notifikasi pesan masuk kedalam ponsel genggamannya.


Tringgg!!!


Mario pun lekas mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, lalu mengarahkan pandangannya menatap layar ponsel yang menyala.


"Jav.." ujarnya pada Adinda setelah pandangannya mendapati sebuah pesan masuk dari nama kontak Javier yang tertera.


"Apa?!" tanya Dinda yang lekas melihat kearah layar ponsel milik Mario.


Mario pun dengan cepat membuka pesan itu, hingga detik berikutnya tampaklah isi pesan tersebut.


TEMUI AKU DI RUMAH SAKIT, SEKARANG JUGA. HANYA KAU SENDIRI, JANGAN MEMBAWA MAMA BERSAMA MU.


Setelah membaca pesan itu, Mario dan Dinda pun saling memandang.


"Apa mungkin Jav sudah mengetahuinya?!" tanya Mario mulai curiga.


"Ku rasa.. Tapi siapa yang memberitahunya?!" Dinda pun ikut menjadi bingung.


"Entahlah. Aku pergi dulu, sayang! Kau tidak apa-apa kan kalau ku tinggal?!" tanya Mario seraya beranjak dari duduknya.


"Iya, tidak apa-apa," sahut Dinda setelah memberi anggukan.

__ADS_1


Mario pun bergegas keluar dari kamarnya, lalu memilir pergi meninggalkan rumahnya.


*****


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai oleh Mario pun tiba di area rumah sakit.


Javier yang sudah menunggunya di lobi utama pun segera menghampirinya saat melihat Mario yang turun dari dalam mobil.


"Apa yang kau sembunyikan dari ku, hah?!" tanya Javier dengan tatapan tajamnya menatap Mario.


"Sabar, Jav! Tenang dulu!" ujar Mario yang sudah yakin jika Javier memang sudah mengetahuinya.


"Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tenang?! Sedangkan kau sendiri berusaha untuk menutupinya dariku."


"Aku tidak bermaksud_"


"Katakan, siapa yang sudah menjual Jelita pada Rebecca?!" sela Javier dengan cepat. Raut wajahnya memerah menahan marah, bahkan dia sendiri tidak memberi kesempatan pada Mario untuk menjelaskan alasannya.


Mario menghela nafasnya yang berat, namun setelah itu dia pun menjawabnya.


"Anita,"


Seketika itu juga kedua bola mata Javier membulat dengan sempurna, saat mendengar nama orang yang di sebutkan oleh Mario.


"Anita?! Apa maksud mu dengan Anita?!"


"Kau yakin, ingin mendengarnya?!" Mario balik bertanya, sekedar ingin memastikan apakah Javier benar-benar siap mendengarnya atau tidak.


"Katakan saja, justru itu yang ingin ku dengar," balas Javier dengan tatapan serius.


"Siapa yang menjaga Jelita?!"


"Sendiri, memangnya kenapa?! Dari tadi dia terus mengabaikan ku," ujar Javier melemah.


Mario pun memutuskan untuk segera menemui Jelita di ruangannya, sebelum dia membawa Javier untuk berbicara di tempat lain.


Sedangkan Javier, dia memilih untuk menunggu Mario dengan berdiri di sisi mobil yang di kendarai oleh Mario.


*****


Sesampainya di ruangan Jelita, dengan perlahan Mario membuka pintu, hingga detik kemudian tampaklah Jelita yang sedang tertidur pulas akibat pengaruh dari suntikan obat melalui selang infus.


Mario menatapnya dengan tatapan iba, seraya berdiri di sisi hospital bad.


"Aku yakin, kau berbeda dengan ibumu. Tapi aku juga tidak dapat memastikan jika Javier tidak akan meninggalkan mu. Maafkan aku, jika aku harus berkata jujur padanya," gumam Mario dengan lirih, dalam diamnya.


Setelah berdiri beberapa saat menatap Jelita, Mario pun memutuskan untuk segera kembali menemui Javier.


Paling tidak, dia sudah dapat memastikan jika kondisi Jelita sudah semakin membaik.


Mario terus melangkahkan kakinya, hatinya sedikit tidak tenang. Tapi mau tidak mau, dia harus tetap mengatakannya, apapun yang terjadi.


Sampai akhirnya, saat langkah kakinya berhenti tepat di hadapan Javier, Mario menghela nafasnya yang berat.


"Bagaimana?!" tanya Javier yang sudah tidak sabaran.


"Kita bicara di rumah saja," jawab Mario yang langsung membuat Javier mengerutkan keningnya.


"Kenapa harus di rumah?!" tanya Javier dengan raut wajah bingung.


"Jangan khawatir, Mama mu juga sudah tau apa yang belum kau ketahui." Mario dengan santai membuka pintu mobilnya, kemudian masuk kedalam sana.


Javier yang masih dengan raut wajah bingungnya pun segera mengikuti Mario, masuk kedalam mobil dan duduk di kursi tepat di samping kursi kemudi yang di duduki oleh Mario.

__ADS_1


Mario pun menjalankan kendaraannya, keluar dari area rumah sakit.


Di perjalanan, tak ada satu pun pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. Mario terus mengemudi laju kendaraannya dengan sangat cepat.


Hingga beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai oleh mereka pun sampai di tempat tujuan, lebih tepatnya di kediaman Mario.


Setelah Mario memarkirkan kendaraannya tepat di depan rumah, dia pun bergegas turun dari dalam mobil, diikuti oleh Javier.


Dinda yang berada didalam rumah pun bergegas keluar, setelah mendengar suara mobil milik Mario.


"Jav.. " sambut Dinda pada putranya, saat melihat Javier yang berjalan bersamaan dengan Mario.


Tak ada senyum yang terukir dari bibir Javier, pemuda itu malah menatap curiga pada Dinda, bergantian kepada Mario.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku?! Dan siapa wanita yang sudah menjual Jelita?!" tanya Javier dengan nada dingin.


Mario dan Adinda saling menoleh untuk beberapa detik, tapi detik kemudian mereka kembali menatap Javier.


"Sebaiknya.. Kita bicara di kamar saja. Tidak baik jika ada orang lain yang mendengar." Dinda lekas memutar tubuhnya, lalu melangkah masuk kedalam rumah.


Begitu pula dengan Mario dan Javier, mereka pun dengan cepat mengikuti langkah Dinda hingga masuk kedalam kamar milik Adinda dan Mario.


Didalam kamar, Mario pun langsung mengarahkan Javier untuk duduk di sofa, bersama dengan Adinda.


Adinda menarik nafas dalamnya terlebih dahulu, lalu menghembuskan nya secara perlahan. Setelah itu diapun mengeluarkan suaranya.


"Jav! Mama harap.. Setelah kau mendengar apa yang kami katakan, kau jangan mengambil keputusan terlalu cepat. Pikirkan dulu konsekuensinya, karna ada mahluk hidup yang harus kau pikirkan masa depannya nanti."


"Langsung saja, Ma! Jangan terlalu bertele-tele," sahut Javier yang sudah merasa jengah.


Mario yang duduk di samping istrinya pun dengan cepat mengusap lembut punggung Dinda, dengan maksud agar Dinda tidak terpancing emosinya akibat sikap Javier yang begitu dingin.


"Baiklah, jika kau sudah tidak sabar ingin mengetahuinya, kami akan mengatakannya padamu. Tapi satu hal yang harus kau tau, Jav! Bagaimana pun, Jelita adalah istrimu, sekaligus menantu Mama. Dan anak yang ada didalam rahimnya adalah anak mu, darah daging mu. Ingat itu, Jav!" ujar Dinda menegaskan sekaligus memberi penekanan.


Javier tak menyahut, dan lagi-lagi dia mengerutkan keningnya, tanpa bahwa dia tidak mengerti maksud ucapan Dinda.


"Begini, Jav!" ujar Mario membuka suara, membuat Javier dengan cepat mengalihkan pandangannya menatap Mario.


"Saat kau membawa Jelita ke rumah sakit, aku dan Mike memaksa Rebecca untuk memberitahu siapa yang sudah menjual Jelita padanya.


Mario pun menceritakan apa yang sudah terjadi, sepeninggalan Javier ke rumah sakit. Hingga Mike memaksa Rebecca untuk menjebak Anita agar mau datang ke rumah bordil tersebut.


"Sialaaannn!! Ternyata wanita itu yang sudah menjebak istriku?!" Javier begitu marah hingga sontak berdiri, setelah Mario menghentikan ceritanya.


"Ya, kau benar. Anita memang biang masalah," timpal Mario.


"Aku harus menemuinya sekarang,"


"Tunggu, Jav!" Dengan cepat Dinda menahan lengan Javier, sambil beranjak berdiri, saat pemuda itu ingin melangkahkan kakinya.


"Apa lagi, Ma?! Aku harus membunuhnya sekarang juga!" bentak Javier tanpa sadar.


"Tidak! Kau tidak bisa membunuhnya, Jav!" Akhirnya Dinda pun ikut meninggikan nada suaranya.


"Apa maksudmu aku tidak bisa membunuhnya?!"


"Karna Anita adalah ibu mertua mu! Dia ibu dari istrimu Jelita!!" Dinda pun menangis hingga dia terduduk kembali di sofa.


"A_ Apa..?! Ibu?! Ibu dari istriku?!" nada suara Javier pun melemah, seiring dengan raut wajahnya yang hampir tidak percaya saat mengetahui hal tersebut. Bahkan hatinya pun terasa sakit saat mendengar pengakuan dari Adinda.


*****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2