DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 8# Mencaritahu Siapa Mario


__ADS_3

Namun setelah membaca pesan singkat tersebut, Javier pun lekas menyantap makanannya. Mereka dan para tamu undangan lain juga turut menikmati beberapa hidangan yang sudah di persiapkan di atas meja masing-masing.


____________________________


Setelah beberapa saat kemudian, acara pelelangan itupun selesai. Para tamu undangan bergantian keluar dari ruangan tersebut.


Javier berjalan mengiringi Adinda. Sementara dari jarak yang tidak terlalu jauh, Mario berjalan beriringan dengan Viona serta Yudha dan Aldo.


"Tak ku sangka, ternyata Adinda awet muda ya!" Sambil terus melangkah, Aldo tak henti-hentinya memuji.


Mario dan Yudha pun mengulas senyum mereka seraya mengarahkan pandangan mereka menatap punggung Adinda yang berjalan di depan mereka.


Tak dapat di pungkiri, siapa yang tidak kagum jika melihat seorang wanita secantik Adinda. Walaupun usianya terbilang sudah tidak muda lagi, tapi itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya, di tambah lagi malam ini penampilan Adinda tampak elegan. Dia memakai gaun panjang tanpa lengan berwarna hitam, dengan belahan menyamping di bagian bawah hingga ke atas lutut. Rambutnya pun tertata dengan rapi, membentuk sanggul modern.


Tak lama, Javier dan Dinda menghentikan langkahnya saat mereka sudah berada di luar gedung hotel.


Supir pribadi Javier menghampiri mereka saat melihat Adinda dan Javier keluar, dan menghentikan kendaraannya tepat di depan kedua ibu dan anak itu.


Javier membukakan pintu untuk Dinda terlebih dahulu, setelah itu diapun ikut masuk ke dalam mobilnya.


_________________________


Sepeninggalan Javier dan Adinda dari lokasi hotel berbintang itu, Mario dan kedua sahabatnya pun berpisah. Masing-masing dari mereka mengendarai kendaraannya sendiri.


Namun sebelum itu, Aldo memberitahu kepada Mario terlebih dahulu jika mereka akan bertemu di suatu tempat.


Tak ingin berlama-lama, Mario yang di temani oleh Viona pun memutuskan untuk mengantar gadis itu pulang terlebih dahulu ke rumah peninggalan orang tuanya, setelah itu dia melanjutkan kembali perjalanannya menuju tempat yang sudah di tentukan oleh Aldo.


1 jam kemudian, mobil yang di kendarai oleh Mario berhenti tepat di depan sebuah kafe kecil, yang letaknya tak jauh dari taman kota.


Di sana, tampak Aldo dan Yudha yang sudah menunggunya. Dan dengan cepat pula Aldo melambaikan tangannya saat melihat sosok Mario keluar dari dalam mobil.


_________________________


Di tempat lain, Dinda baru saja tiba di kediamannya, bersama dengan Javier.


Sepanjang perjalanan tadi Dinda terlihat tidak biasa bagi Javier, dia terlihat seperti sedang ada masalah.


Begitu sampai di rumah, Dinda langsung masuk dan mengurung dirinya di dalam kamar. Sedangkan Javier, pemuda itu lebih memilih untuk berdiam diri di ruang baca mendiang ayahnya.


"Paman, Zack! Apakah paman mengenal orang yang bernama Mario Hadinata?!" Javier duduk di kursi kebesaran milik Jhon, seraya melakukan panggilan telepon dengan salah satu orang kepercayaan ayahnya yang bernama Zack.


Zack pun menjawabnya, dan tentu saja dia sangat mengenal siapa orang yang di maksudkan itu. Tanpa di minta pun Zack langsung menceritakannya kepada Javier, siapa Mario dan apa hubungannya dengan Mamanya, Adinda.


Javier terdiam, dia menyimak setiap perkataan Zack dari seberang telepon.


"Jadi.. Mario Hadinata itu adalah cinta pertama Mama?! "


"Iya, itu benar Tuan muda! Mario bersikeras untuk mendapatkan hati Mama mu kembali, tapi Papa mu mencegahnya dan tidak pernah mengizinkannya untuk mendekati Mama mu lagi, "


Javier mengangguk-anggukkan pelan kepalanya mendengarkan cerita Zack.


"Baiklah paman, terimakasih informasinya,"


"Sama-sama Tuan muda,"

__ADS_1


Javier pun memutuskan panggilan teleponnya, setelah itu dia meletakkan ponselnya ke atas meja. Javier termenung sejenak, meresapi kembali apa yang di ucapkan oleh Zack tadi.


Beberapa menit terdiam, akhirnya dia memutuskan untuk menemui Adinda di kamarnya.


Saat dia keluar dari ruang baca, Javier terus melangkahkan kakinya hingga naik ke lantai dua menapaki anak tangga.


Javier pun mengarahkan tangan kanannya menyentuh handel pintu kamar milik Adinda, dan saat di sentuh ternyata pintu itu tidak terkunci. Tentu saja itu memudahkan Javier untuk segera masuk ke dalam.


Di dalam sana, Javier mendapati Adinda yang sedang berdiri di balkon. Dia sedang menyendiri menikmati udara malam.


"Kenapa Mama malah berdiri di sini?! Udara malam kan nggak baik buat kesehatan Mama, " Javier mendekati Dinda lalu berdiri tepat di samping Dinda.


Menyadari kehadiran putranya, Dinda pun menoleh seraya tersenyum lebar.


"Sejak kapan kau ada di sini Jav?!" Suara Adinda terdengar lembut di telinga Javier.


"Lagi mikirin apa? Serius amat!" Bukannya menjawab, Javier malah balik bertanya. Dia menatap lekat raut wajah Adinda.


Adinda mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap pemandangan dari atas balkon kamarnya. Dia menghela nafasnya sesaat. "Ada banyak yang masih menjadi pikiran Mama, Jav!" Nada suara Adinda melemah.


Mendengar itu seketika Javier mengerutkan keningnya. "Apa yang Mama pikirkan?! Apa Mama memikirkan pria itu?! "


"Pria?! Pria yang mana maksudmu?! " Adinda menatap bingung pada putranya dengan keningnya yang mengerut.


"Siapa lagi kalau bukan.. Mario Hadinata, "


Deg


Seketika detak jantung Dinda berdebar kencang, dengan lantang Javier menyebutkan nama mantan kekasihnya. Padahal sebelumnya Adinda sama sekali tidak pernah bercerita tentang masa lalunya dengan laki-laki lain selain ayahnya, Jhonatan.


Javier malah tersenyum lebar, bahkan sampai tertawa kecil. "Ma! Dunia ini sempit. Seperti apapun Mama menyembunyikannya dari ku.. Lama-lama aku juga pasti akan tau. Buktinya sekarang, "


"Dengar, Javier! Mario itu cuma masa lalu buat Mama.. Dan selamanya akan tetap menjadi masa lalu, " Suara Adinda sedikit bergetar, dia tidak menyangka putranya akan mengetahui hubungan masa lalunya dengan pria lain, yaitu Mario.


Belum sempat Javier menimpali ucapan Adinda, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu yang diiringi dengan suara teriakan seseorang dari arah luar kamar.


"Permisi, Nyonya.. "


Tok tok tok.. "Nyonya..! "


Javier dan Adinda sama-sama mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu. "Iya..! Ada apa..?! " Adinda pun meninggikan nada suaranya, agar terdengar hingga ke luar.


"Apakah Tuan muda ada bersama Anda?! "


Mendengar itu Javier pun segera melangkah berjalan mendekati pintu, begitu juga dengan Adinda.


Ceklek


"Ada apa mencari ku?" Javier menatap datar kepada salah satu anak buahnya yang berdiri di balik pintu.


"Ada laporan untuk anda, Tuan muda! "


"Baiklah, tunggu aku di bawah, "


"Baik, Tuan." Lelaki itupun beranjak dari tempatnya berdiri, dia bergegas menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Ada masalah apa lagi Jav?! Apa yang terjadi?! " Seketika Adinda menjadi khawatir.


Javier mengulas senyum tipisnya. "Tidak ada apa-apa, Ma! Mama tenang saja. Sekarang lebih baik Mama istirahat, aku akan menemui yang lain, "


"Iya," Adinda menatap punggung putranya yang langsung melangkah menuju anak tangga.


"Jav!"


Baru saja Javier ingin menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, tiba-tiba suara Adinda menghentikannya. Javier pun menoleh.


"Ada apa lagi, Ma?! "


"Kau.. Kau tidak marah sama Mama 'kan?! "


Mendengar itu tentu saja membuat Javier tertawa kecil. "Kenapa aku harus marah?! Memangnya Mama salah apa?! "


"Em! Soal.. Yang tadi, yang tadi kita bahas, " sungguh Adinda merasa tidak nyaman karena Javier sudah mengetahui siapa Mario dan apa hubungan masa lalu mereka.


Javier mengurungkan niatnya untuk menuruni anak tangga, dia kembali berjalan mendekati Dinda.


Javier memegangi kedua pundak Adinda, seraya membungkukkan sedikit tubuhnya, menyamai tingginya dengan tinggi tubuh Adinda.


"Aku dan Papa pasti bahagia, kalau Mama juga bahagia, "


"Bukan itu maksud Mama, Jav! "


Javier menaikkan sebelah alisnya. "Lalu apa?! "


Dinda menghela nafas lelahnya. "Sudahlah, nanti saja kita lanjutkan. Pergi dan cepat temui teman-teman mu di bawah, " Dinda melepaskan kedua tangan Javier dari pundaknya.


"Ya sudah, kalau begitu aku ke bawah dulu, Ma, "


"Iya.."


Javier pun meninggalkan Adinda yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Ada rasa bersalah sekaligus rasa sedih di hati Adinda kala dia menatap punggung Javier.


*****


Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah kafe tempat Mario cs membuat janji bertemu.


"Aku tidak tau apakan perasaan Adinda masih ada untuk ku atau tidak, " Mario melemahkan nada suaranya.


"Kau harus optimis Yo! Jangan jadi pengecut, " Aldo terus berusaha memberikan dukungannya.


"Tunggu dulu, " tiba-tiba saja Yudha menghentikan mereka berdua. Tatapan mata Yudha terus tertuju pada layar laptopnya yang ia bawa.


Mario dan Aldo pun mengarahkan pandangan mereka secara bersamaan menatap Yudha.


"Ada apa?! " Aldo mengerutkan keningnya.


"Pembunuh Jhonatan telah bebas, "


Deg


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2