DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 13# Perubahan Sikap Javier


__ADS_3

"Aduh..! Kenapa lama sekali?! Apa sebenarnya yang sedang mereka bahas," Adinda tidak bisa tenang, sampai akhirnya dia pun memilih untuk keluar dari kamarnya.


Adinda melangkah hingga menuruni anak tangga, menuju lantai utama. Namun, saat kakinya menginjak anak tangga yang terakhir, tiba-tiba saja pandangan matanya mendapati Javier yang berjalan beriringan dengan Mario.


Seketika hati Dinda pun merasa sedikit lega. Rasa kekhawatiran yang tadinya tidak bisa di kompromi, kini sudah bisa membuat Adinda sedikit mengulas senyum singkatnya saat menatap kedua lelaki itu tampak lebih akrab dari sebelumnya.


"Jika kau butuh bantuan ku, beritahu saja aku. Aku akan dengan senang hati membantu mu," ujar Mario.


Javier mengulas senyumnya sesaat. "Tentu, aku akan menelpon mu jika aku membutuhkan mu,"


Apa yang terjadi pada mereka? Kenapa keduanya tampak begitu akrab, hingga tak ada lagi raut wajah Javier yang dingin terhadap Mario.


Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?


Adinda melongok menatap keduanya. Dia berdiri mematung di anak tangga terakhir. Sedangkan Javier dan Mario, mereka masih belum menyadari jika Adinda memperhatikan mereka berdua. Mereka terus saja melangkah berjalan hingga hampir melewati Adinda.


"Dinda.."


Tiba-tiba saja pandangan mata Mario mendapati sosok Dinda yang berdiri dengan tatapan yang tertuju padanya dan Javier.


Mario dan Javier pun menghentikan langkah kaki mereka, berdiri di hadapan Adinda dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


Adinda melangkah mendekati posisi keduanya. "Hei, apa yang terjadi dengan kalian?!" Dia terheran-heran menatap keduanya secara bergantian dengan kening yang mengerut.


Mario dan Javier saling melempar senyum yang menyungging. Sesaat mereka saling menatap, kemudian kembali mengarahkan pandangan mereka menatap Dinda.


"Memangnya apa yang Mama lihat, hm?!"


"Ku pikir.. Tadi kau akan menghajarnya di dalam. Tapi ternyata.."


Mendengar itu sontak membuat Mario dan Javier menertawakannya. Mereka tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepala.


"Ternyata kau salah, iya 'kan?! Kau bisa melihatnya sendiri sekarang, kami berdua baik-baik saja," sambung Mario setelah menghentikan tawanya.


"Hahh.. Syukurlah kalau begitu," Adinda kembali menghela nafas lega.


"Baiklah, kalau begitu.. Aku permisi dulu. Jav.. Jangan lupa, hubungi aku jika kau perlu bantuan,"


"Iya, pasti."


Javier pun mengantar Mario hingga sampai ke teras rumahnya, diikuti oleh Dinda yang menjurus dari belakang.

__ADS_1


Di luar sana, orang-orang tampak terkejut melihat sikap Tuan muda mereka terhadap Mario. Mereka sampai menatap dengan terheran-heran, dan sesekali mereka saling melempar pandang, satu dengan yang lainnya.


*****


Menit berlalu, setelah Mario meninggalkan pekarangan rumah mereka, Javier dan Dinda kembali masuk kedalam rumah.


"Jav.. Apakah kau tidak ingin bercerita kepada Mama?!"


Adinda menghentikan langkah putranya saat sang putra ingin terus melangkah meninggalkannya.


Javier yang hendak kembali menemui Zack pun berhenti melangkah dan berbalik menatap Dinda.


Javier tersenyum lebar seraya melangkah mendekati Dinda. "Apa yang ingin Mama ketahui dari ku, hm?! Bukankah masalah puluhan tahun yang lalu.. Mama lebih tau dari ku," Javier menatap lekat manik mata Adinda, senyumnya pun tak lepas dari bibirnya.


"Maksudmu..?!" Adinda membalas tatapan mata sang putra, seraya dengan kening yang mengerut.


"Tidak ada lagi kata-kata yang bisa ku ucapkan untuk mu Ma..! Bagiku.. Kau adalah seorang ibu yang sempurna," Javier mengecup lembut kening Adinda, hingga membuat Adinda memejamkan sesaat matanya.


Di mata Javier, Dinda adalah sosok ibu yang tegar, kuat dan sabar. Kesetiaannya pada ayah biologis Javier patut di acungi jempol oleh Javier. Puluhan tahun Dinda berjuang sendirian dalam membesarkan putranya, Javier.


Akan tetapi, saat mendengar cerita yang keluar dari mulut Mario, seketika terbesit di dalam hati pemuda itu, suatu saat nanti ibunya berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Seperti itulah yang ada di dalam pikiran Javier.


Setelah dia mengecup kening Dinda, Javier mengulas senyum singkatnya lalu beranjak pergi meninggalkan Adinda dari tempatnya berdiri.


******


"Paman, maaf jika terlalu lama menunggu ku," Javier masuk ke ruang pertemuannya, menemui Zack.


Zack yang saat itu sedang duduk bersandar di sofa, segera beranjak berdiri. "Sepertinya akan ada perubahan rencana, jika ku lihat dari raut wajah mu," Zack mengamati raut wajah Javier yang tampak senang.


Javier mengembangkan senyumnya sesaat. "Tepat sekali. Tapi sebelum itu.. Aku butuh seseorang yang handal, untuk mengawasi gerak gerik Tuan Hadinata. Aku butuh semua fakta tentangnya. Mulai dari kepribadiannya, hingga hubungannya dengan para relasi-relasinya. Aku butuh secepatnya,"


Saat Javier mengatakan itu, Zack pun berinisiatif untuk segera mengirimkan seseorang yang sangat dia percayai dalam hal penyelidikan.


******


Malam harinya.


Seperti yang ia perintahkan sebelumnya, orang-orangnya pun berkumpul di ruang pertemuan yang besar dan luas itu. Javier memimpin sendiri pertemuan itu dan tak ada satu orang pun yang tidak hadir di sana.


Beberapa orang berjaga di luar rumah, sementara sisanya berkumpul bersama dengan Javier.

__ADS_1


Sementara di tempat yang lain, lebih tepatnya di kediaman Anita. Saat ini dia sedang duduk manis di atas kasur empuknya, seraya menyandarkan punggungnya pada pembatas ranjang.


Wanita licik itu tersenyum menyeringai kala memandangi kembali foto-foto kenangan masa lalunya bersama dengan Jhonatan.


Namun detik kemudian, tiba-tiba tergerak hatinya ingin melihat video singkat yang pernah dia ambil saat memaksa Jhon untuk menidurinya.


Anita pun turun dari ranjangnya, lalu berjalan menghampiri meja TV yang terdapat di dalam kamarnya tersebut.


Anita mencari-cari kembali rekaman video tersebut. Setelah didapatinya, dia pun membukanya dan menyalakan rekaman itu melalui sambungan televisi.


'Ayolah Jhon..! Sentuh aku.. Bukankah kau sangat menginginkannya..?!'


'Anita.. Jangan gila..'


'Aku memang gila Jhon..! Aku gila karna mu..'


Tok tok tok... "Ma..! Buka pintunya..!"


Suara ketukan pintu bersamaan dengan suara teriakan seorang gadis memaksa Anita untuk segera mematikan televisinya dengan cepat.


Anita bergegas membuka pintu kamarnya. "Vio..! Siapa yang menyuruhmu datang kemari..?! Bagaimana jika ada orang yang mengetahuinya..?! Rencana kita bisa gagal..!!" Anita terkejut dan marah.


Ternyata yang datang adalah putri bungsunya. Gadis itu sengaja datang untuk menemuinya, dan saat gadis itu masuk, Anita pun dengan cepat menutup kembali pintu kamarnya lalu menguncinya.


"Mama jangan khawatir.. Tidak akan ada orang yang melihatku datang kemari,"


Gadis itu berjalan kearah ranjang, lalu menghempaskan pelan tubuhnya di atas kasur.


"Apa kau yakin, tidak ada yang mengikuti mu?!"


"Ya.. " Gadis itu memutar bola mata malasnya.


"Lalu bagaimana dengan Mario?! Apa dia tidak bertanya kau pergi kemana?!"


Gadis yang di panggil Vio itupun mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur.


"Aku suntuk Ma..! Tua bangka itu mengurung ku di rumahnya..! Dia selalu keluar sendirian, tidak pernah mengajak ku..!" Vio sedikit merengek, mengadukannya pada Anita.


Tidak ada seorangpun yang tau, jika Viona yang berprofesi sebagai sekretaris Mario itu adalah putri dari Anita.


Lalu siapa Jelita?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2