
Detik kemudian, Javier pun membawa Dinda keliling kota, bersama dua orang bodyguar nya.
Tanpa di sadari, saat mobil yang di kendarai Javier berhenti ketika lampu jalan berwarna merah menyala, di saat yang bersamaan mobil yang di kendarai oleh Aldo juga berhenti di tempat yang sama pula.
Dinda membuka sedikit kaca jendela tepat di samping tempat duduknya, hingga tak sengaja Aldo yang juga membuka kaca mobilnya melihat raut wajah Dinda dengan jelas saat dia mengarahkan pandangannya ke arah samping.
"I-itu.. Itu bukannya, Adinda?!" tanyanya pada dirinya sendiri.
Aldo sedikit tidak yakin bahwa yang dilihatnya adalah Dinda, bahkan terlihat oleh pandangan matanya raut wajah Dinda sama sekali tidak banyak berubah, dan malah terlihat semakin cantik.
"Ya Tuhan! Itu benar-benar Adinda, aku gak mungkin salah lihat," lanjut Aldo setelah beberapa detik terdiam mengamati dari dalam mobilnya.
Javier yang duduk di samping Adinda pun menyadari jika ada seorang lelaki yang memperhatikan Mamanya.
Seketika Javier menatap tajam ke arah Aldo, dan dengan cepat pula dia menekan tombol yang terdapat di pintu samping Adinda hingga perlahan kaca mobil tersebut kembali tertutup rapat.
Tak lama setelah itu lampu jalan pun kembali berubah menjadi warna hijau. Mobil yang di kendarai oleh Javier pun kembali melaju lebih dulu dari mobil yang di kendarai oleh Aldo.
'Jika aku melihatmu lagi, akan ku congkel kedua bola matamu itu tua bangka!' gumam Javier dengan geram dalam benaknya.
"Kau kenapa, Jav?!" tanya Dinda bingung saat melihat raut wajah putranya yang berubah memerah.
Javier pun menoleh. "Aku?! Kenapa?!" Dia malah balik bertanya, berpura-pura tidak tau maksud Adinda.
"Iya! Kau kenapa?! Kenapa wajahmu memerah begitu?!" tanya Dinda lagi.
"Ah, tidak apa-apa kok, Ma! Cuaca di sini panas sekali," jawab Javier, berbohong.
Cuaca saat ini memang panas, tapi bukan itu penyebabnya. Hanya saja Dinda tidak mengetahui jika putranya menahan emosi karena Aldo menatap dirinya.
"Iya sih! Memang panas," balas Dinda, tidak ingin mempermasalahkannya lagi, lalu kembali fokus menatap suasana jalan, begitu juga dengan Javier.
****
Malam harinya.
Di tempat lain.
Markas Jhon.
Dari kejauhan, seseorang yang berada di dalam sebuah mobil hitam sedang mengintai tempat tersebut melalui teropong.
"Bagaimana, apa kau melihatnya?!" Seorang wanita bertanya kepada seorang pemuda yang sedang memegangi teropong tersebut. Wanita itu tak lain adalah Anita, bersama dengan orang bayarannya.
"Terlihat ada beberapa orang yang berjaga di sana. Mereka lengkap dengan senjata api laras panjang, Nyonya! Tapi aku tidak melihat adanya seorang wanita,"
"Bodoh..! Tentu saja kau tidak bisa melihatnya jika dia tidak keluar dari markas itu!" Dengan nada suara tinggi Anita memarahi pemuda tersebut. "Sini, berikan teropong itu padaku," Anita menarik paksa teropong tersebut dari tangan pemuda itu, kemudian mengarahkannya pada kedua matanya.
"Ayo keluar brengsek..!!" Anita berharap Adinda akan keluar dari markasnya. Namun semakin lama dia mengarahkan teropong tersebut kearah markas Jhon, Anita masih tidak mendapatkan hasil seperti yang dia inginkan.
*****
Sementara di dalam rumah itu Adinda sedang sibuk di dapur, tentu saja dia sedang membuatkan makanan untuk putranya, Javier.
Lalu, apa yang di lakukan Javier?
__ADS_1
Pemuda tampan itu sedang berada di ruangan yang biasa di gunakan mendiang ayahnya Jhon untuk melakukan rapat tertutup.
"Besok malam semua anggota kita di bagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok menggunakan kode tersendiri." Suara Javier mulai terdengar serius. Dia berdiri sambil menyenderkan bokongnya di sisi mejanya. "Kelompok 1 dengan kode 59, kelompok 2 dengan kode terbalik, yaitu 95."
Tidak ada satu orangpun yang berani bersuara jika Javier sedang fokus berbicara. Jika ada yang berani berbicara tanpa di minta, maka Javier tidak segan-segan untuk mengusirnya.
Javier membagi beberapa orang yang bergabung dalam kelompok pertama, dan beberapa orang yang bergabung dalam kelompok dua.
Dia juga mengarahkan orang-orang tersebut, apa saja yang harus mereka lakukan. Salah satunya adalah mengawasi Javier dan Adinda dalam acara pelelangan, tentunya dari jarak yang tidak terlalu dekat.
"Permisi, Tuan muda." Seorang laki-laki dewasa masuk sembari melangkah mendekatinya.
Javier pun seketika berhenti berbicara. Dia menatap tajam ke arah lelaki tersebut.
"Sepertinya kita sedang di awasi, Tuan," lelaki itu tampak sangat khawatir.
"Kau melihat sesuatu?!" Javier tidak terpancing sedikitpun, justru dia bersikap lebih santai dan tenang.
Sementara yang lainnya menatap lelaki itu dengan Javier secara bergantian.
"Iya, Tuan! Ada sebuah mobil yang terparkir, tidak jauh dari sini,"
Mendengar itu Javier pun menyunggingkan senyum tipisnya. Sudah dapat di tebak oleh Javier, siapa orang yang di maksudkan itu.
"Biarkan saja. Mereka akan segera tau siapa aku, Javier..." Suara Javier terdengar dingin dan datar, namun sangat lantang dan jelas saat menyebutkan namanya. Hanya orang-orang yang belum mengenalnya saja yang tidak tau bagaimana seorang Javier, apa lagi jika ketenangannya di usik.
Lelaki itu pun tidak bisa berkata apa-apa, setelah memberitahukan kabar tersebut, dia pun segera meminta izin untuk kembali keluar dari ruangan tersebut.
*****
"Tunggu waktunya tiba, brengsek..!! Kau akan menerima hukumannya!" Suara Anita bergetar akibat menahan emosi yang memuncak.
"Jalankan mobilnya," titahnya kemudian.
Pemuda yang berada di kursi kemudi itu pun segera menyalakan mesin mobilnya, lalu melaju meninggalkan area tersebut.
****
Malam yang di nanti-nantikan pun tiba. Sebuah acara mewah yang di adakan di sebuah hotel berbintang, tentu saja semua kalangan pengusaha berkumpul di sana untuk memeriahkannya.
Di hotel berbintang tempat diadakannya acara pelelangan tersebut, sudah di penuhi oleh para tamu undangan dari kalangan pengusaha-pengusaha terkenal.
Di dalam sana, Mario, Aldo dan Yudha pun bergabung bersama rekan-rekan mereka yang lainnya.
Beberapa menit kemudian, Dinda dan Javier pun tiba di hotel, tempat acara itu di selenggarakan.
Adinda masuk dengan anggunnya, diiringi langkah sang putra yang berjalan di sampingnya.
Semua mata tertuju pada Adinda, dan juga Javier. Penampilan mereka seketika menjadi sorotan para tamu undangan, bahkan sosok keduanya tak lepas dari sorot kamera para awak media.
"Hei, lihat. Wanita itu cantik sekali!" Beberapa orang pria yang berdiri bersama dengan Mario dan yang lainnya seketika melempar pujian, hampir bersamaan. Saat pandangan mereka tertuju pada Dinda.
Tentu saja hal itu memancing Mario, Aldo dan Yudha untuk segera mengarahkan pandangan mereka kearah yang di maksudkan.
Deg
__ADS_1
Detak jantung Mario pun seakan berhenti berdetak, saat netra nya menangkap sosok yang di maksud. Sekian lama dia tidak melihat wanita yang sangat dia cintai, akhirnya mereka di pertemukan kembali.
Sepertinya takdir berkata lain, dua insan yang sudah terpisahkan puluhan tahun, kini di pertemukan kembali tanpa sengaja.
'Adinda Larasati..'
Tatapan mata Mario pun berbinar-binar melihat Adinda yang berjalan bersama seorang pemuda tampan dan gagah di sampingnya.
Ada rasa haru, sedih sekaligus bahagia dalam hatinya. Sosok yang begitu dia rindukan, kini tampak di depan matanya. Sungguh sulit di ungkapkan, seperti apa perasaan Mario detik itu juga.
Bukan hanya Mario saja yang terpana, bahkan kedua sahabatnya pun ikut mengurai senyuman.
"Yud, benar 'kan, apa ku bilang!" Aldo memelankan suaranya seraya mendekatkan mulutnya sedikit lebih dekat ke sisi telinga Yudha.
"Iya, kali ini kau benar," Yudha tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun, tatapannya terus tertuju pada Dinda. Bahkan, diapun ikut memberi pujian dalam hatinya.
'Nona Adinda masih cantik, bahkan sekarang terlihat semakin cantik."
Sementara dari arah Dinda dan Javier, Javier mengarahkan pandangannya lurus menatap kearah depan wajahnya, namun sesekali dia juga mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Hingga tanpa sengaja, tatapan mata para lelaki termasuk Mario, menarik perhatian Javier.
Dengan raut wajah datar dan dinginnya, Javier membalas tatapan mereka satu persatu. Bermaksud mengenali raut wajah mereka.
Sedangkan Dinda, dia sendiri masih belum menyadari jika dari jarak yang cukup jauh, ada Mario yang sedang memperhatikannya.
Javier dan Dinda terus melangkah, namun tiba-tiba saja seseorang menghentikan langkah kaki mereka, seraya menyapa dengan ramah.
"Hei Lihat, siapa yang datang kemari. Tuan muda Javier, putra dari Tuan Jhonatan." Seorang lelaki berkata pada teman-temannya yang lain. "Selamat datang Tuan! Lama kita tidak berjumpa, apa kabar?!" Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Javier.
Javier pun meraih uluran tangannya, seraya membalas ucapan lelaki tersebut. "Tuan Hendrik, terimakasih sambutan hangatnya. Senang bertemu denganmu lagi,"
"Tuan, Jav! Siapa yang sedang bersamamu ini?! Dia sangat cantik." Lelaki yang bernama Hendrik pun mengalihkan pandangannya menatap Dinda, tepatnya setelah dia berjabatan tangan dengan Javier.
"Dia Mamaku," Javier mengubah mimik wajahnya menjadi dingin kembali. Dia paling tidak suka jika seseorang menatap ibunya dengan tatapan yang menggoda.
"Selamat malam, Tuan-tuan!" Adinda pun langsung menyapa mereka dengan ramah, seraya mengulas senyumnya.
"Ya, Tuhan! Sayang sekali, ternyata Jhon meninggalkan seorang bidadari," puji lelaki yang lain. Tatapannya tajam kearah Adinda, hingga dapat diartikan jika dia menginginkan Adinda. Seperti itulah kira-kira yang terlihat dari sudut pandang Javier.
"Ma! Sebaiknya Mama mencari minuman saja, aku akan segera menyusul," dengan cepat Javier ke sisi telinga Dinda.
"Iya.."
Adinda tau, jika putranya tidak suka dengan hal itu. Maka, dengan cepat dia pergi menjauh dari sana.
_____________________
Sementara di tempat Mario berdiri, pria itupun ikut beranjak pergi meninggalkan rekan-rekannya yang lain, begitu melihat Dinda berjalan kearah meja panjang tempat dimana hidangan untuk para tamu undangan di persiapkan.
Mario terus melangkah mendekati, dia bahkan tidak memperdulikan tatapan orang lain padanya. Dan setelah posisinya sudah sangat dekat, diapun segera menyapa Dinda dengan lembut.
"Adinda Larasati.. "
Pyuurrr...
Bersambung...
__ADS_1