DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 27# Bahaya Sedang Mengancam


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar FIF rumah sakit tersebut ada dua insan muda yang sedang berbicara tentang asmara, kehidupan hingga ke jenjang pernikahan.


Tapi di tempat lain, Anita berencana untuk pindah. Dia merasa sudah tidak aman jika terus tinggal di rumah lamanya tersebut.


"Besok, lebih baik aku mencari rumah yang lebih aman. Aku tidak boleh ada di sini, putranya Adinda pasti akan mencari ku," Anita mulai bergegas mengemasi barang-barangnya.


Sementara di dapur, Marni masih kalut dengan perasaan sedihnya, saat dirinya kembali mengingat Jelita.


"Aku tidak boleh diam saja dan hanya menunggu seperti ini. Lebih baik aku pergi mencarinya," Marni bersiap-siap untuk keluar dari rumah, tanpa sepengetahuan Anita.


Tapi saat Marni ingin melangkahkan kakinya keluar dari pintu belakang, Marni terperanjat kaget. Suara keras Anita tiba-tiba saja meneriakinya.


"Marni....!!!"


"Ya ampun.. Itu suara Nyonya apa suara Mak lampir sih," Marni terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Iya, Nyonya..!!" Dia bergegas menghampiri Anita yang berada di ruang tengah.


"Ada apa, Nya?!" Begitu sampai, Marni di buat terheran-heran saat melihat Anita berdiri tak jauh dari pintu kamarnya dengan membawa 2 buah koper berukuran sedang di tangan kiri dan kanannya.


"Malam ini aku akan mencari penginapan lain. Besok kemasi barang-barang mu, kalau aku sudah mendapatkan rumah baru, aku akan langsung menyuruh orang untuk menjemputmu,"


"Tapi, Nyonya! Bagaimana dengan, Non Jelita?!"


"Anak itu," Anita tersenyum miring. "Biarkan saja dia mati. Aku sudah tidak peduli dengan gadis bodoh itu,"


Deg


Marni merasa geram mendengarnya. Tapi apa boleh buat? dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdiam diri.


"Baik, Nyonya!" Dengan lemah dan terpaksa Marni menuruti saja apa yang di perintahkan oleh Anita.


Setelah mengatakan itu, Anita pun bergegas pergi dengan mengendarai sebuah taksi yang sebelumnya dia pesan melalui aplikasi online.


Kesempatan itulah yang di ambil oleh Marni untuk pergi mencari keberadaan Jelita. Setelah Anita pergi, Marni pun bergegas keluar dari rumah tersebut.


Beruntung dia tidak perlu bersusah payah untuk menemukan Jelita, karena sebelum dia memutuskan untuk mencari gadis itu, Marni lebih dulu melihat tayangan di televisi. Dari situlah dia tau jika Jelita saat ini sedang di rawat di salah satu rumah sakit.


Marni terus melangkahkan kakinya, dia berjalan cukup jauh dari rumah Anita. Tapi saat dia melihat ada seseorang yang mengendarai sepeda motor, Marni pun berusaha untuk menghentikannya.


Marni melambai-lambaikan tangannya, seraya berteriak. "Bang..!! Tolong bang..!!"


***Ciiiitttt***


Pengendara sepeda motor itu menghentikan laju kendaraannya secara tiba-tiba saat melihat Marni yang berdiri di sisi jalan dengan tangan yang melambai.


"Ada apa, Bu?!"


"Tolong saya bang, saya mau numpang ke rumah sakit XXX, nanti saya bayar berapapun ongkosnya,"


"Oh iya, ayo naik Bu! Biar saya antar, tidak usah bayar! Kebetulan saya mau ke arah yang sama,"


"Aduh! Terimakasih ya bang, jadi ngerepotin," Marni pun tidak ingin mengulur-ulur waktu, dengan cepat dia naik dan duduk di atas sepeda motor tersebut.


Detik kemudian, Lelaki pengendara sepeda motor itupun kembali melajukan kendaraannya, dengan kecepatan sedang.


__________________________________


Di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman orang tua Mario.


Sepulangnya dari rumah sakit, Mario langsung di antar pulang oleh Aldo ke rumahnya.


"Yo.. Kamu kenapa?! Kok pulang-pulang muka mu lusuh gitu sih, nggak enak di lihat tau," Karin berjalan ke arahnya, lalu duduk di sofa tak jauh dari posisi duduk Mario.


"Aku.. Habis dari rumah sakit kak,"


"Kenapa?! Siapa yang sakit?!"


"Kak Karin masih ingat dengan Adinda 'kan?!"

__ADS_1


"Adinda?!" Karin terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat siapa yang Mario maksudkan.


"Dinda.. Masa' Kakak nggak ingat?! Dia mantan pacarku,"


"Oh! Iya, aku baru ingat. Memangnya kenapa?! Dia sakit?!"


"Bukan dia.. Tapi seorang gadis."


Mario pun akhirnya menceritakan kejadian yang menimpa Dinda hingga seorang gadis yang ikut menjadi korban.


Dari arah yang berbeda, diam-diam Viona mendengarkan cerita Mario. Dia berdiri dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


"Begitulah kejadiannya, Kak!"


"Ya ampun! Kasihan sekali gadis itu ya, ternyata masih aja ada orang yang tidak suka dengan Dinda," Karin terharu mendengar cerita Mario.


"Bukannya tidak suka, Kak! Semua itu karna ada hubungannya dengan mendiang suaminya Dinda,"


Di tempat Viona berdiri, gadis itu tersenyum menyeringai. Entah apa lagi yang dia rencanakan. Namun detik berikutnya dia menggumam pelan.


"Aku harus membunuhnya, sebelum orang-orang tau tentang keberadaan Mama,"


Viona melangkah menghampiri meja kecil yang terdapat di dalam kamar tersebut. Dia meraih tas kecilnya di sana lalu keluar dari kamar itu.


Mendengar langkah kaki mendekat ke arah mereka, Karin yang sedang duduk pun segera menoleh lalu bertanya.


"Vio.. Kau mau kemana?!"


Mario pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah Viona yang sedang berjalan.


"Maaf Kak, Pak Mario. Saya.. Izin keluar sebentar. Ada yang ingin saya beli sebelum saya pulang ke Eropa,"


Tidak ada kecurigaan sedikitpun dengan Karin, apa lagi Mario. Mereka mengangguk saja, mengizinkan Viona untuk pergi membeli keperluannya, padahal hari sudah semakin larut malam.


__________________________________


Javier menatap lekat raut wajah Jelita yang tertidur. Dalam hati dia terus mengagumi kecantikan Jelita, terlihat dari sudut bibirnya yang membentuk senyum kecil.


"Jelita..." Javier mendekatkan wajahnya ke wajah Jelita, lebih dekat hingga hampir tak berjarak.


Dia menatap lekat raut wajah mata gadis itu, mengamatinya mulai dari bulu mata yang lentik, hidung yang runcing hingga bibir yang mungil berwarna merah muda.


Saat menatap bibir itu, Javier kembali teringat akan ciuman pertama mereka. Hingga membuat Javier menginginkannya lagi, merasakan lembutnya bibir milik Jelita.


Dalam hitungan detik, Javier semakin mendekatkan wajahnya, hingga hidung dan bibir mereka saling bersentuhan.


"Emh!" Gadis itu mengeluarkan suara kecilnya dalam keadaan masih tertidur saat Javier memagut lembut bibirnya. Cukup lama Javier merasakan sensasi yang membuat gairahnya naik turun.


Namun detik kemudian, Javier melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Jelita. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja Leon masuk menghampirinya.


"Maaf, Tuan!" Leon menundukkan wajahnya. Sial sekali pikir Leon, dia tidak sengaja memergoki Javier sedang mencium gadis yang sedang berbaring di ranjang.


Javier dengan cepat mengubah posisinya menjadi duduk tegak, kemudian lekas berdiri dan berbalik menatap tajam kearah Leon.


"Siapa yang mengizinkan mu masuk?!"


"Maaf, Tuan! Saya di perintahkan oleh Nyonya untuk menemanimu di sini," Leon mengangkat sedikit wajahnya, mengarahkan pandangannya menatap Javier.


"Tunggu di luar saja, tidak perlu masuk," Javier menunjukkan raut wajahnya yang tidak suka.


"Baik, Tuan!" Tak ingin Javier menganggapnya yang tidak-tidak, Leon pun segera keluar dari ruangan itu.


Bertepatan dengan itu, di lantai dasar rumah sakit, Viona datang dan bertanya kepada salah satu perawat yang berada di resepsionis.


"Permisi, Sus! Ruang inap atas nama Jelita dimana ya?!"


"Maaf, Nona! Jam besuk sudah habis. Sebaiknya Anda kembali besok pagi saja,"


'Ah sial... Bagaimana bisa aku melakukannya besok pagi?!' Dengan kesal dia menggumam dalam hatinya.

__ADS_1


Sulit sekali baginya untuk menemukan Jelita, dia bahkan tidak tau dimana ruangan tempat Jelita berada.


Sejenak Viona terdiam dan menjauh, namun detik kemudian dia memilir pergi. Dia berusaha sendiri untuk mencari ruangan tempat Jelita di rawat.


Viona mengitari seluruh ruangan, dengan mengintip di balik pintu kaca satu persatu, untuk mencari keberadaan Jelita.


Saat yang tepat, netra nya menangkap sosok laki-laki yang duduk di luar ruangan. Tanpa di ketahui, ruangan tersebutlah tempat Jelita berada.


Viona berjalan mendekat kemudian lekas bertanya. "Permisi, Tuan!"


Mendengar suara seorang wanita yang datang menghampirinya, Leon yang sedang dalam posisi duduk pun beranjak berdiri.


"Ya!"


"Maaf, saya ingin mencari ruangan tempat Nona Jelita di rawat. Dia adalah korban penusukan semalam, apa Anda mengetahuinya?!"


Sejenak Leon mengerutkan keningnya, dia menatap intens pada Viona. Namun setelah itu dia segera menjawabnya.


"Ya! Anda siapa?!"


"Saya.."


**CEKLEK**


Bersamaan dengan itu pintu ruangan Jelita di buka dari dalam, dan detik kemudian Javier keluar dari ruangan tersebut.


Viona dan Javier sama-sama saling menatap, begitu juga dengan Leon.


"Kau..!" Javier mengingat-ingat, dia merasa jika dirinya pernah bertemu dengan Viona sebelumnya.


Dengan cepat Viona mengulas senyumnya, lalu menyapa dengan lembut. "Hai..! Tidak ku sangka, kita akan bertemu lagi di sini,"


"Aku Viona, sekretaris Tuan Mario Hadinata," tanpa ragu Viona memperkenalkan dirinya pada Javier. Dia mengulurkan tangannya, ingin berjabatan tangan dengan Javier.


Tapi sayang, niat baik Viona tak di hiraukan oleh Javier, dia berdiri di depan pintu dengan raut wajah datar dan dingin.


"Ada keperluan apa kau datang kemari?!" Javier berdiri dengan santai, dengan kedua telapak tangan yang di selipkan ke saku celananya.


"Em! Aku.." Sejenak Viona berpikir, mencari alasan yang tepat untuk menghilangkan kecurigaan Javier padanya.


"Aku.. Diminta oleh Tuan Mario untuk membantu mu di sini, membantu mengurus Nona Jelita,"


Sungguh alasan yang sedikit tidak masuk akal menurut Javier. Di rumah sakit tentu sudah ada perawat yang akan mengurus Jelita, jadi untuk apa Mario mengirim seorang gadis kemari. Pikir Javier.


Detik kemudian Javier pun mengeluarkan suaranya. "Sayangnya.. Jelita dan aku tidak membutuhkan mu, sebaiknya kau pulang saja,"


"Tapi, Tuan..! Tidak ada salahnya saya membantu.. Nona Jelita pasti tidak akan mau jika Tuan membantunya untuk berganti pakaian atau yang lainnya..!" Viona menghadang gerakan Javier yang hendak kembali masuk kedalam ruangan. Dia terus berusaha membuat Javier mau menerima niat baiknya walaupun dengan sedikit memaksa.


Mendengar itu, sesaat Javier mengarahkan pandangannya kepada Leon. Tapi apa yang bisa Leon jawab? tentu dia merasa tidak berhak untuk memberi keputusan.


Merasa tidak ada jawaban atau kode dari Leon, Javier pun hanya bisa menghela nafas jengah, kemudian lekas menjawab.


"Baiklah, silahkan masuk."


Dalam hati Viona bersorak girang. Sangat mudah baginya untuk mengelabui Javier. Pikirnya dalam benaknya.


Javier mencoba untuk berpikir positif pada Viona, dia tidak tau jika bahaya sedang mengancam nyawa Jelita. Hingga dengan santai dia membuka pintu ruangan, kemudian lekas masuk kedalam sana diikuti oleh Viona.


Di dalam sana, tampak Jelita yang sedang tertidur pulas akibat pengaruh obat-obatan yang masuk ke tubuhnya melalu cairan suntikan.


Viona mengikuti langkah Javier, mendekat ke hospital bad yang di tiduri oleh Jelita.


Tanpa terlihat oleh Javier, tatapan mata Viona pada Jelita bagaikan seorang penyihir yang siap mengubah musuhnya menjadi kecebong.


'Tenang saja saudaraku sayang! Sebentar lagi aku akan membuatmu tertidur untuk selamanya.' Seringai liciknya pun terukir dari sudut bibir Viona saat dia menggumam dalam hatinya.


'Jangan berharap kau akan mendapatkan lelaki ini, karena aku.. Aku akan merebutnya darimu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2