DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 35# Menuju Lokasi Penyerangan


__ADS_3

Saat Javier memberitahu Mario tentang Viona, hari itu juga Mario mengungkap apa yang dia ketahui di depan Viona.


#Flashback on


"Pergi dari sini sekarang juga..! Aku tidak mau melihat mu ada di rumah ini lagi!! Kau..!! Gadis yang tidak tau diri!! Pembohong!! Aku memecat mu secara tidak hormat."


Nada suara Mario bergetar, akibat emosinya yang meluap. Deru nafasnya pun memburu seiring dengan desiran darah yang bergemuruh.


"Tidak..! Pak.. Maafkan saya, Pak!! Saya tidak bermaksud begitu..!!"


Viona menangis, dia berusaha menahan langkah Mario, dengan menarik lengan kanan Mario saat pria itu ingin pergi meninggalkannya.


Tapi karena kesabaran Mario sudah habis, dia menepis kuat tangan Viona, hingga tubuh Viona terhuyung ke samping, tetapi tidak sampai jatuh ke lantai.


Mario pergi begitu saja, membiarkan gadis itu tanpa peduli dengan suara tangisannya, bahkan pada tatapan mata Karin yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Mario terus melangkah hingga masuk kedalam kamar yang di tempati oleh Viona. Dia memungut semua pakaian milik Viona di sana, serta menarik sebuah koper, lalu keluar dan membuangnya ke hadapan Viona.


"Pergi..!! Bawa semua barang-barang mu!!"


#Flashback off


"Sudah-sudah, berhentilah menangis! Bagaimana aku bisa berpikir dengan tenang jika kau terus menangis seperti ini?!" Anita berjalan mondar mandir, seraya menghela nafasnya yang terasa sesak.


"Aku sudah kehilangan kesempatan ku, Ma! Ini semua gara-gara Jelita!"


"Lalu apa yang kau inginkan, Vio?! Apa kau mau aku mengemis pada lelaki itu supaya kau tidak jadi di pecat?!" Anita semakin kesal, hingga terus membentak Viona.


Dia tidak akan bisa berpikir dengan tenang karena gadis itu terus-terusan merengek seperti anak kecil.


Di dalam rumah itu Anita terus berusaha mencari jalan keluarnya. Kali ini dia benar-benar kelabakan. Tidak ada seorangpun yang membantunya keluar dari masalahnya sendiri.


Kedua temannya yang sering mengunjunginya pun sudah tidak pernah menampakkan batang hidung mereka lagi, termasuk Jack, lelaki yang sudah lama memendam rasa padanya.


Saat ini, Anita benar-benar merasa hancur. Kondisi keuangannya pun semakin hari semakin menipis. Dia bahkan sudah tidak bisa menyuruh seseorang untuk bekerja sama dengannya lagi.


Anita menghela nafas lelah, tapi detik kemudian dia kembali bersuara. "Hanya ada satu jalan," Dia menatap lemah pada Viona.


"Apa itu, Ma?!"


"Untuk sementara waktu, kita tinggalkan kota ini. Kita harus kembali menyusun rencana, untuk merebut semuanya dari mereka."


Dengan sisa tekad dan sisa uang simpanannya beserta uang simpanan milik Viona, akhirnya mereka pun memutuskan untuk meninggalkan rumah tersebut, saat itu juga.

__ADS_1


Namun sebelum Anita benar-benar pergi, tiba-tiba dia teringat pada sesuatu yang tersimpan di dalam sebuah kamar kosong yang sudah lama tidak pernah di buka.


Anita masuk sendirian kedalam sana, namun setelah beberapa menit kemudian, dia kembali lagi keluar dengan menampakkan senyum liciknya.


______________________________


Sore harinya.


Seharian ini Jelita tidak melihat Javier, setelah terakhir kali pemuda itu membujuknya.


Kemana perginya pemuda itu?!


Saat Javier berhasil menenangkan hati Jelita, pemuda itu memilih untuk mengadakan rapat tertutup dengan para rekan-rekannya. Tak terkecuali Zack.


Di dalam ruang bawah tanah, Javier bersama yang lainnya merencanakan sebuah penangkapan terhadap seseorang.


Senjata api laras panjang juga sudah di persiapkan untuk Javier, beserta baju anti peluru.


"Tuan muda! Apa kau yakin ingin melakukannya sendiri?!"


Entah mengapa kali ini Zack mengkhawatirkannya. Padahal, jauh sebelum itu dia sangat yakin dan percaya jika Javier tidak pernah gagal dalam menjalankan rencananya.


Javier yang sedang sibuk memeriksa kembali senjata apinya, dengan cepat mengangkat sedikit wajahnya, menatap datar pada Zack. "Kenapa, Paman?! Apakah kali ini kau meragukan kemampuan ku?!" Dia menyunggingkan seringainya.


"Tapi apa?! Sudahlah, jangan mengganggu konsentrasi ku," Javier kembali fokus pada senjata apinya.


_________________________


Di ruangan yang berbeda, Jelita keluar dari kamarnya. Dia menghampiri Adinda dan Marni yang sedang menunggunya sambil duduk menonton acara di televisi.


"Sayang! Kau sudah siap?!"


Begitu melihat Jelita yang berjalan ke arah mereka, Dinda pun langsung beranjak berdiri. Begitu juga dengan Marni.


Sesaat Jelita menghela nafas lelahnya, kemudian dengan cepat menjawab. "Sudah, Ma!" Dia terpaksa mengulas senyumnya setelah itu.


"Ya sudah, yuk berangkat."


Seperti yang sudah dia janjikan tempo hari, berhubung saat ini kondisi Jelita sudah membaik, serta perban yang juga sudah di lepas, Dinda mengajaknya untuk pergi ke sebuah butik. Kebetulan butik tersebut adalah milik teman lamanya, yaitu Ane. Gadis yang dulu pernah menjadi rekan kerja Dinda.


Terakhir Dinda mendapat kabar jika Ane sudah lama tidak bergabung dengan perusahaan Hadinata group. Dia lebih memilih untuk mengundurkan diri dan membuka usaha sendiri di rumahnya.


Dinda, Jelita dan Marni pun segera menuju ke sana, di antar oleh salah satu anak buah Javier.

__ADS_1


_______________________________


Di tempat lain.


Anita dan Viona baru saja tiba di tempat yang terpencil, sangat jauh dari keramaian.


Untuk sementara waktu mereka lebih memilih mengasingkan diri, dari pada mencari mati. Pikir mereka.


"Aduh, Ma! Kenapa hidup kita jadi seperti ini?!"


"Bersabarlah, Vio! Ini hanya untuk sementara waktu saja! Tidak akan lama. Paling tidak, sampai kita mendapatkan rencana baru dan peluang bagus untuk kita,"


"Hah..! Dari dulu rencana Mama selalu gagal. Buktinya apa?! Sekarang kita terpaksa tinggal di rumah reot, jelek seperti ini. Badan ku jadi gatal-gatal semua..!"


"Kau ini selalu saja mengeluh. Sudah bagus Kita bisa dapat tempat tinggal. Kita tidak bisa seenaknya menghambur-hamburkan uang tabungan kita! Uang tabungan itu akan di gunakan jika kita sudah mendapatkan kesempatan untuk menghancurkan mereka." Anita menunjukkan seringainya pada Viona.


Kedua ibu dan anak itu selalu berdebat. Memulai sesuatu hal dari nol tidaklah mudah bagi Anita. Seperti saat dia terpaksa mendekam di balik jeruji besi dalam keadaan hamil besar.


Tetapi tidak dengan Viona, hidup yang serba kekurangan sungguh bukan impiannya. Untuk itu, dia bertekad akan menghalalkan segala cara untuk merebut Javier dari Jelita, lalu menguasai seluruh harta kekayaannya.


_______________________________


Malam pun tiba.


Adinda dan Marni masih sibuk membuat suatu perubahan pada Jelita, di bantu oleh Ane. Di mulai dari memilih beberapa pakaian model terbaru yang paling cocok di tubuh ramping Jelita, sampai mengubah gaya rambut hingga mengajari Jelita cara berdandan.


Beberapa jam sudah mereka lewati hanya untuk membuat Jelita terlihat berbeda dan cantik.


Lalu, bagaimana dengan Javier?


Pemuda itu sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian anti peluru, lengkap dengan senjata apinya. Sama halnya dengan para rekan-rekannya yang lain, mereka juga sudah siap dengan senjata mereka masing-masing.


Tiga buah mobil sport juga sudah terparkir di halaman rumah, tentu untuk mereka gunakan menuju ke lokasi penyerangan.


Detik kemudian, dengan gagahnya Javier keluar dari tempat persembunyiannya, yaitu ruang bawah tanah.


Saat melewati bagian depan rumahnya, tampak tak ada satupun yang keluar dari rumahnya tersebut. Javier bergegas menghampiri kendaraan yang akan dia gunakan, kemudian lekas masuk kedalam sana.


Zack berdiri mengamati Javier, hingga pemuda itu menutup kembali pintu mobilnya dengan rapat.


'Bos! Putramu benar-benar mengingatkan ku pada mu. Pada saat terakhir aku menemanimu untuk menyelamatkan Adinda. Ku harap, sesuatu yang buruk tidak akan terjadi padanya malam ini.' Zack membatin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2