DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 2 # Undangan resmi


__ADS_3

Dinda cukup terkejut mendengar itu dan tanpa sadar terucap dari mulutnya nama seorang wanita yang sangat berhubungan dengan kematian Jhonatan.


Ya, wanita yang di maksud adalah Anita, pelaku penembakan yang merenggut nyawa calon suami Dinda di hari pernikahan mereka.


________


Setelah 3 hari kemudian, Javier pun memutuskan untuk kembali ke kotanya. Seperti yang dia perintahkan kepada Leon saat itu, dia meminta orang-orangnya untuk berkumpul di markas besarnya.


Pemuda itu tidak langsung pulang ke mantion, melainkan langsung menuju markas.


Baru saja mobil yang dikendarainya sampai di sana, suasana markas sudah tampak ramai.


"Selamat siang, Tuan muda!" sapa seorang pria yang sudah berumur lebih dari 40 tahun. Pria itu adalah mantan anak buah Jhonatan.


"Paman, bagaimana keadaan mantion saat aku tidak ada?" tanya Javier setelah turun dari mobilnya.


"Keadaan mantion baik-baik saja, Tuan muda!"


"Bagus. Tapi mulai sekarang, perketat keamanan mantion. Tambah pasukan untuk berjaga di sana, dan jangan sampai ada orang yang tidak di kenal masuk ke mantion," ujarnya Javier sambil terus melangkah berjalan.


"Baik, Tuan muda!" sahut pria itu dengan hormat.


"Em! Paman!" Javier menghentikan langkahnya, seraya berpikir sejenak. Setelah itu dia kembali bersuara. "Apakah Mama sudah tau tentang wanita itu?" tanyanya kemudian.


"Aku rasa belum, Tuan muda! Adinda.. Maksudku Nyonya tidak bertanya tentang apapun saat bertemu dengan ku," sahut pria itu.


"Baiklah, terimakasih Paman," balas Javier.


"Sama-sama, Tuan!"


Javier pun melanjutkan langkahnya, diikuti oleh pria tersebut.


_________


Di tempat lain.


Eropa


Mario keluar dari ruang meeting, di dampingi oleh sekretarisnya yang bernama Viona.


Walaupun sekarang usia Mario sudah tidak muda lagi, namun pria itu masih tetap terlihat tampan dan gagah seperti dulu.


"Minggu depan apa aku punya deadline?" tanyanya pada Viona, sambil terus melangkah berjalan menuju ruangannya.


"Tidak ada, Pak. Hanya saja.. Kita punya undangan di Indonesia,"


"Undangan? Di Indonesia?" Mario menghentikan langkahnya lalu menatap Viona sambil mengerutkan keningnya.


"Betul, Pak! Salah satu rekan bisnis Anda mengundang ke acara pelelangannya," jawab Viona.

__ADS_1


"Oya?! Baiklah, kalau begitu kau atur saja keberangkatan kita," balas Mario seraya kembali melanjutkan langkahnya.


"Baik, Pak," sahut gadis itu, yang usianya masih sangat muda. Sekitar 19 atau 20 tahun.


Mendapat undangan resmi dari rekan bisnisnya yang berada di tanah air, tentu saja Mario tidak akan menolak. Karena ini kesempatan baginya untuk bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya, Pikirnya.


******


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Adinda. Wanita paruh baya itu juga mendapat kabar yang sama dengan Mario.


Sebuah undangan resmi juga tertuju untuk nya atas nama Nyonya Jhonatan. Sesaat ia termenung saat anak buah Javier menemuinya dan memberikan undangan itu. Tampak ia berfikir sejenak apakah dia harus memenuhi undangan itu atau tidak.


Para tamu undangan tentu bukan dari kalangan menengah kebawah, mereka semua pasti dari kalangan pebisnis. Jadi mungkin saja semua rekan bisnis atau teman-teman lama mendiang Jhonatan pasti akan datang. Pikirnya.


Namun setelah cukup lama memikirkan hal itu, Dinda memutuskan untuk menerima undangan itu. Sudah cukup lama juga dia tidak berkunjung ke sana, terutama mengunjungi makam Jhonatan.


Saat Javier pulang nanti, maka dia akan memberitahukan nya kepada Javier tentang keberangkatannya ke tanah air dalam waktu dekat. Pikirnya.


Tanpa di duga, Adinda dan Mario akan kembali bertemu dalam acara yang akan mereka hadiri nantinya.


*****


Di tempat lain.


*Belanda*


Beberapa jam kemudian, Javier kembali ke mantion nya. Setelah pemuda itu selesai membuat pertemuan dengan para anak buahnya di markas.


"Halo, Ma!" sapa Javier pada Dinda yang sudah berdiri di depan pintu.


Javier yang baru saja turun dari mobilnya, langsung berlari kecil menghampiri ibunya. Dinda.


"Hai sayang," sambut Dinda senang.


Cup!!!


Dengan cepat sebuah kecupan singkat di berikan Javier tepat di kening Dinda.


"Kenapa lama sekali?! Mama rindu padamu," ujar Dinda sambil melangkah masuk bersama, dengan posisi tangan yang memeluk lengan putranya, Javier.


"Bukannya aku sudah bilang 3 hari, Ma! Buktinya, aku sudah ada di sini sekarang, iya kan?!" balas Javier lalu tersenyum.


"Iya, iya.. Tapi lain kali ajak Mama dong..! Masa Mama di tinggal terus sih. Mumpung kamu belum menikah. Nanti kalau sudah menikah, Mamah tidak bisa ikut kamu kemana-mana lagi!"


"Loh, memangnya kenapa?" Javier mengerutkan keningnya.


"Iyalah, masa Mama harus ikut kamu sama istrimu terus! kemana-mana ikut. Nanti istrimu jengkel sama Mama gimana?!" jawab Dinda seraya bertanya.


"Nggak mungkin! Itu hanya perasaan Mama saja," sela Javier dengan cepat.

__ADS_1


Sebenarnya Dinda hanya menggoda putranya saja, yang pasti jika Javier sudah menemukan tambatan hatinya, maka Dinda akan semakin kesepian.


Dinda hanya mempunyai Javier seorang. Keluarga Jhonatan sangat ramai, namun mereka jarang sekali bertemu. Lagi pula Dinda juga tidak terlalu akrab dengan mereka, begitu pula dengan mereka, keluarga besar Jhonatan.


"Makanya Ma! Aku bilang juga apa.. Mama harusnya nikah lagi, biar nggak kesepian," sambung Javier.


"Javier...! Kamu tuh ya.." Dengan cepat Dinda menjewer telinga Javier, namun tidak terlalu kuat.


"Aduh, aduh, sakit Ma.."


"Makanya, jangan suruh mamah nikah lagi.."


Kedua ibu dan anak itu saling melempar candaan, Javier terus menggoda Dinda sehingga membuat wanita paruh baya itu sedikit kesal pada putranya.


*****


Ditempat lain.


Indonesia


Aldo berkunjung ke Hadinata group, yaitu perusahaan milik mendiang orang tua Mario yang dikelola oleh mantan asisten pribadi Mario, yaitu Yudha.


"Yud, lu dapat undangan dari perusahaan Williams nggak?" tanya Aldo saat dia masuk ke ruangan Yudha yang menjabat sebagai direktur baru.


Aldo yang baru saja tiba langsung mendudukkan bokongnya di sofa, diikuti oleh Yudha yang dengan cepat beranjak dari kursinya lalu menghampiri Aldo.


"Iya, memangnya kenapa?" Yudha balik bertanya. Dia mendudukkan bokongnya tepat di samping Aldo.


Dulu dia memanggil Aldo dengan sebutan Tuan Aldo, tapi sekarang Aldo melarangnya. Aldo lebih suka jika Yudha memanggilnya hanya dengan nama saja, terkesan lebih akrab. Seperti itulah maksud Aldo.


"Nggak apa-apa! Hanya saja.. Kupikir akan lebih baik jika kita tidak membawa istri-istri kita, mereka hanya akan membuat kita pusing, belum lagi kalau kita bertemu dengan klien wanita. Aku yakin, begitu kita pulang ke rumah, bisa-bisa bibir mereka maju 5 cm," ujar Aldo panjang lebar.


Yudha pun tertawa lebar mendengar ucapan Aldo, kemudian lekas menimpali. "Kau bisa saja mengatai istrimu begitu. Kalau istriku sih, aku rasa nggak masalah.Istriku itu orangnya tidak pencemburu,"


"Alah.. Tidak cemburu, apanya yang tidak cemburu?! Semua wanita itu sama, sama-sama pencemburu. Kau buktikan saja omongan ku ini nantinya," balas Aldo sedikit kesal.


Aldo berharap Yudha akan mengikuti ide nya. Namun malah sebaliknya, Yudha malah memuji istrinya di depan Aldo. Tentu saja hal itu membuat Aldo sedikit kesal padanya.


"Itu juga kan belum tentu..! Entah istriku mau atau tidak kalau ku ajak," balas Yudha meralat omongannya.


Saat mereka sedang asik membahas para istri-istri mereka, tiba-tiba ponsel milik Aldo berdering. Aldo pun dengan cepat meraih ponselnya yang ada di dalam saku celananya.


Detik kemudian.


"Mario phon," ujar Aldo pada Yudha setelah menatap layar ponsel hingga terlihat nama kontak Mario yang tertera.


Setelah itu dengan cepat Aldo mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya, setelah dia menggeser tombol berwarna hijau.


"Halo, Yo!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2