DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 14# Ambisi Anita


__ADS_3

Flashback on#


'Nona..! Ada kabar untukmu,' ujar seorang lelaki yang baru saja tiba di kediamannya.


'Kabar apa yang harus ku dengar?!' Anita yang sedang mewarnai kuku-kukunya pun menoleh sesaat kepada lelaki tersebut.


'Beberapa hari lagi kekasihmu akan menikah. Pernikahannya akan di adakan di hotel XXX,"


'Apa...?!' Anita terkejut hingga reflek berdiri. Cat kuku yang ia pegang pun jatuh dan tumpah ke lantai.


"Tidak..!! Aku tidak bisa..!! Aku tidak bisa membiarkan pernikahan itu terjadi..!! Jhon harus menikahi ku..!! Anakku harus mempunyai ayah..!! Aku tidak akan membiarkan Jhon menikahi wanita lain selain aku..!!'


Pranggg!!!


Anita membuang barang-barang yang ada di atas meja dengan kasar.


Flashback off#


"Bersabarlah sayang.. Tidak lama lagi kau akan bebas dari permainan ini," Anita berusaha membujuk Viona. Dia duduk di sisi ranjang, tepat di samping Viona.


"Sampai kapan..?!"


"Sampai Mama berhasil melenyapkan perempuan binal itu, sekaligus anaknya. Hahahahaha.." Anita tertawa lebar, hingga tubuhnya bergetar.


"Kau akan mendapatkan bagian mu, jika kita berhasil menguasai harta mereka," Dia tersenyum licik. Pikirannya sudah di penuhi dengan ambisinya, hidup bergelimang harta.


"Tapi.. Anak dari wanita itu sangat tampan. Aku menyukainya," Viona mengulas senyumnya saat membayangkan raut wajah Javier, seraya memainkan ujung rambutnya yang panjang dengan jarinya.


Gadis itu tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan barusan. Tentu saja hal itu seketika membuat Anita geram mendengarnya.


"Vio..!! Apa yang kau katakan..?!" Anita membentaknya dengan keras, seraya beranjak berdiri. Raut wajahnya pun berubah merah padam, akibat terpancing emosi yang memuncak.


"Jangan biarkan perasaan bodoh itu menguasai dirimu..! Kau sama dengan ku. Tidak ada cinta untuk wanita seperti kita.. Yang ada hanyalah harta dan dendam!"


Anita tidak ingin putrinya terjebak oleh permainannya sendiri, untuk itu dia berusaha agar Viona tidak lupa dengan tujuan utama mereka.


"Tapi, Ma..! Jika aku bisa mendapatkan hatinya, bukankah itu lebih baik..?! Kita bisa dengan mudah menguasai seluruh harta kekayaan mereka..!"


"Gadis bodoh..!!"


Plakkk


"Kau sama bodohnya dengan kakak mu.. Kau pikir semudah itu, hm?!"


Anita menampar keras pipi kiri Viona hingga membekas. Deru napasnya pun menggebu-gebu saat Viona menimpali ucapannya.


"Bertahun-tahun aku mendekati, Jhon. Tapi apa yang aku dapat..?! Dia malah memberikan seluruh harta kekayaannya pada perempuan sialan itu,"

__ADS_1


Viona hanya bisa tertunduk diam mendengarkan, tanpa berani menimpali lagi. Sesekali dia meringis tanpa suara menahan sakit, seraya memegangi pipi kirinya.


"Dengarkan Mama, Viona.." Anita menurunkan nada suaranya, seraya kembali duduk di samping Viona. Dia mengangkat sedikit raut wajah Viona dengan tangannya, agar netra mereka saling menatap.


"Jika hidupmu sudah bergelimang dengan harta, maka kau akan bisa menaklukkan lelaki mana pun yang kau mau," Anita tersenyum menyeringai, ucapannya seolah dia memberikan dukungan kepada putrinya agar mau menuruti keinginannya.


****


Di kamar yang berbeda, Jelita sibuk menuliskan sesuatu di buku hariannya.


-1 karung beras \= 20 kg.


-Gula 2 kg.


-Garam, micin, cabe, bawang,merica bubuk, kunyit.


"Em..! Apa lagi ya..?!" Sejenak dia menghentikan gerakan tangannya, seraya berpikir. "Nah.. Sayur dan daging."


Ternyata gadis itu sedang sibuk membuat daftar belanjaanya untuk besok pagi. Setelah selesai menulis, dia pun merobek lembar buku hariannya tersebut.


Detik kemudian Jelita keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju dapur, menghampiri sang asisten rumah tangga.


"Bi..!"


"Iya Non, ada apa?!" Wanita yang sudah berusia paruh baya itu pun mengarahkan pandangannya saat suara Jelita terdengar ke telinganya.


"Mama udah kasi uang belanja buat besok belum?!"


"Oh..! Ya udah. Ini kasi daftar belanjaanya ke Mama ya Bi..! Aku mau tidur dulu, ngantuk," Jelita memberikan lembaran kertas kecil tersebut kepada asisten rumah tangganya itu.


"Oh iya, beres Non..! Selamat istirahat,"


Jelita mengulas senyum manisnya, setelah itu diapun bergegas pergi dari sana.


****


1 jam kemudian.


Tampak Viona keluar dari kamar Anita, tentu saja dengan di antar oleh Anita sendiri.


"Non_ Non, Vio..?!" Suara sang asisten rumah tangga tersebut terdengar pelan, namun cukup terdengar ke sisi telinga Anita dan juga Viona, hingga membuat keduanya sama-sama terkejut saat mendapati wanita paruh baya itu sudah berdiri tak jauh dari pintu kamar.


"Apa liat-liat..?! Awas kalau berani macam-macam," bentak Viona dengan kedua bola matanya yang membulat.


Wanita itu pun menundukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap kedua ibu dan anak itu hingga mereka pergi dari hadapannya.


Menit kemudian, wanita itupun memilih untuk kembali ke dapur. Dia baru akan menemui Anita kembali setelah Viona pergi dari rumah itu.

__ADS_1


****


Keesokan harinya.


Seperti biasa, salah satu rutinitas yang wajib di lakukan oleh Jelita setiap paginya adalah belanja ke pasar.


Gadis itu mengayuh sepedanya dengan santai, sambil berolah raga dan menikmati udara segar tentunya. Namun saat kakinya terus mengayuh, tiba-tiba rantai sepedanya lepas.


"Ah, ya ampun..!" Jelita menarik rem, lalu turun dari sepedanya.


Dia mengamati rantai sepedanya yang lepas dari tempatnya. "Yah..! Kenapa harus lepas sih..," Dengan terpaksa dia pun mencoba untuk memperbaikinya.


Dia mencari-cari sebatang ranting di semak-semak, tak jauh dari sisi jalan. Setelah di dapatinya, dia pun menggunakan ranting pohon tersebut untuk memperbaiki rantai sepedanya.


Setelah beberapa menit, akhirnya rantai sepeda yang lepas itu bisa diperbaiki, dan kembali seperti semula.


Tak ingin membuang waktunya terlalu lama, Jelita kembali mengayuh sepedanya, namun kali ini dia mengayuhnya dengan cepat, karena tidak ingin jika dirinya pulang terlambat.


Lalu... Bagaimana dengan Javier?!


Seperti keinginannya saat pertama kali bertemu, pemuda itu sudah rapi dengan pakaian olah raganya, celana pendek berwarna hitam di atas lutut, di padukan dengan kaos tanpa lengan berwarna senada.


Javier berlari-lari kecil di jalan, hingga jaraknya dengan rumahnya sudah lumayan jauh.


Namun saat dia berada di tikungan jalan, tiba-tiba dari arah yang berlawanan sebuah sepeda meluncur ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


"Awaaasss.. Menyingkir..."


"AAAAAAKH.."


*****BRAKKK*****


Sepeda yang di kendarai oleh Jelita kehilangan kendali hingga menubruk tubuh Javier. Bersamaan dengan itu, Jelita melepas cepat sepedanya hingga tubuhnya pun terjatuh tepat di atas tubuh Javier yang sudah terbaring, dengan posisi telentang di aspal.


"Aaakh.."


Javier pasrah saat tubuh Jelita menimpanya. Dadanya terasa sesak dan sakit.


Detik berikutnya Jelita mengangkat sedikit wajahnya, menjauhkannya dari wajah Javier yang memandanginya dengan lemah.


"Ah, ya ampun.. Tubuh mu berat sekali.." Javier sedikit merintih.


"Ah, maaf, aku nggak sengaja.." Dengan cepat Jelita ingin mengubah posisinya, menyingkir dari atas tubuh Javier.


Namun usaha Jelita untuk turun dari tubuh Javier terhalang, karena gerakan kedua tangan Javier lebih cepat dari darinya. Javier memeluk pinggang ramping Jelita, hingga gadis itu kesulitan untuk bergerak.


Hal itu sontak membuat kedua bola mata Jelita membulat dengan mulut yang sedikit terbuka, dan detik berikutnya Jelita pun meninggikan nada suaranya.

__ADS_1


"Hei..!! Kenapa kau malah memelukku..?! Cepat lepaskan tangan, mu..!!"


Bersambung...


__ADS_2