
Viona terus dikuasai dengan pikiran liciknya. Semula, dia hanya ingin menghabisi Jelita semata-mata karena untuk menyelamatkan Anita. Tapi saat dia bertemu dengan Javier, justru keinginannya bertambah. Dia juga ingin memiliki pemuda itu, merebutnya dari Jelita.
Memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Seperti itulah Viona, dia sangat mirip dengan Anita, mempunyai sikap dan kepribadian yang sama liciknya.
"Berhubung kau sudah ada di sini, maka aku akan pergi keluar sebentar. Jaga dia, jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan,"
"Baik."
Setelah menitipkan Jelita pada Viona, Javier pun melangkah pergi hingga keluar dari ruangan itu.
Setelah Javier pergi, Viona pun tertawa pelan. Dia senang saat Javier meninggalkannya berduaan dengan Jelita.
"Hei!! Gadis tolol, bangun..!!" Viona membentak Jelita, hingga gadis itu terbangun dari tidurnya.
Kedua bola mata Jelita membulat sempurna saat tatapannya mendapati sosok Viona yang berdiri di sisi hospital bad nya.
"Vi-Vio.." Nada suara Jelita sangat lemah, diiringi dengan debaran jantungnya yang berdetak kencang.
Dia cukup terkejut, bagaimana bisa Viona ada di ruangannya? Pikir Jelita.
Gadis itu tau betul bagaimana sikap Viona. Tidak mungkin dia hanya datang untuk menjenguk, jika tidak ada yang dia inginkan selain itu.
"Kenapa?! Kau terkejut melihatku?!" Viona menunjukkan seringainya. "Aku datang kemari untuk menemui kekasihku. Kau pasti tau siapa yang ku maksud, bukan?!"
"Kekasih?! Siapa?!" Jelita bingung, dia sama sekali tidak tau siapa yang Viona maksud.
"Javier. Dia itu kekasihku, lebih tepatnya.. Dia calon suamiku,"
Dengan bangga Viona menyebut Javier sebagai kekasihnya, bahkan calon suaminya. Padahal dia berbohong. Dia sengaja ingin menyakiti hati Jelita saja.
Mendengar itu, sungguh membuat hati Jelita terasa sakit. Bagaimana tidak? Javier yang semula membuatnya merasa bahagia dengan harapan akan menikahinya, namun pada kenyataannya justru Javier akan menikahi wanita lain, yang tak lain adalah adiknya sendiri. Pikir Jelita membatin, seraya menahan tangisnya di depan Viona.
"Kenapa?! Kau sedih mendengarnya?! Jangan bilang jika kau juga menyukai kekasihku, karna itu tidak akan pernah ku biarkan,"
Viona terus membuat hati Jelita sakit, dia tidak peduli dengan keadaan Jelita yang sedang terbaring lemah.
"Apa yang kau inginkan dari ku, Vio?! Kenapa kau terus menggangu ku?!" Akhirnya tangis Jelita pun pecah. Dia sudah tidak sanggup menahan air matanya yang sejak tadi dia tahan.
"Aaakh!"
Bersamaan dengan itu, rasa sakit di perutnya pun kembali terasa, hingga Jelita menggigit kuat bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan.
Viona tersenyum puas, setelah berhasil menyakiti hati Jelita.
Dari arah lain, Marni yang di antar oleh seorang pengendara sepeda motor akhirnya tiba di rumah sakit tempat Jelita di rawat.
__ADS_1
Wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa, mencari kamar inap Jelita. Dia menghampiri seorang perawat, dan langsung bertanya.
"Maaf, Sus! Ruangan Nona Jelita, korban penusukan itu dimana ya?!"
"Oh! Nona Jelita ada di kamar FIF, Bu! Ibu bisa naik ke lantai tiga. Kamar Nona Jelita ada di kamar nomor 3,"
"Terimakasih ya, Sus!" Marni mengulas senyum singkatnya kepada perawat tersebut.
"Sama-sama, Bu!"
Setelah perawat itu pergi, Marni pun bergegas menuju ruangan yang di maksudkan.
Dia naik ke lantai 3 dengan menggunakan tangga darurat. Marni tidak tau caranya bagaimana menggunakan lift. Untuk itu dia lebih memilih menaiki tangga, menuju ruangan Jelita.
Beberapa saat kemudian, Marni menghentikan langkah kakinya saat dia sudah berada di lantai 3, tepat di depan ruangan Jelita.
Bersamaan dengan itu terdengar samar suara isak tangis dari seorang gadis.
"Non Jelita.." Marni memastikan jika suara isak tangis itu adalah berasal dari ruangan Jelita.
Dengan langkah cepat Marni mengarahkan tangannya, membuka handle pintu hingga detik kemudian daun pintu itu pun perlahan terbuka.
Sungguh suatu pemandangan yang membuat Marni terperangah. Saat dia melangkah masuk kedalam, di sana sudah terlihat Viona yang berdiri di sisi hospital bad. Sementara Jelita, gadis itu dalam posisi terbaring sambil menangis.
"Non, Vio!" Marni melangkah mendekat.
"Tapi, Non! Non Jelita 'kan masih sakit?! Tidak mungkin saya membawanya pergi," Marni mendekati Jelita, dia berdiri di samping hospital bad yang di tiduri Jelita.
"Jangan membantah..!!" Viona membentaknya. "Apa kau ingin aku mengadukan mu pada Mama?!" Anita sengaja di jadikan andalah untuk membungkam mulut Marni, dan benar saja, mendengar Viona menyebutkan Mamanya, Marni pun merasa ketar ketir di buatnya.
"Non..." Marni dengan nada suaranya yang lemah mengarahkan pandangannya menatap pilu pada Jelita.
Marni tidak sanggup melihat betapa tersiksanya Jelita. Dalam keadaan sakit dia harus di paksa untuk di bawa pulang.
Jelita mengangguk lemah, gadis itu menuruti saja apa yang di perintahkan Viona. Berhubung, dia juga sudah tidak mau lagi bertemu dengan Javier.
Bagai jatuh tertimpa tangga pula, seperti itulah yang di rasakan oleh Jelita.
Tak ingin menunggu waktu sampai Javier kembali, Viona bergegas menyuruh Marni untuk segera membawa Jelita pergi.
Dan Marni pun dengan terpaksa melepaskan beberapa alat medis yang masih terpasang di tubuh Jelita, termasuk selang infus.
Setelah selesai, dengan sangat berhati-hati Marni membantu Jelita untuk bangun dari hospital bad nya.
Di ruangan tersebut sudah terdapat sebuah kursi roda, yang memudahkan Marni untuk membawa Jelita, mengeluarkannya dari rumah sakit.
__ADS_1
Viona melangkah berjalan ke arah pintu, dia mengamati situasi di luar ruangan terlebih dahulu sebelum Marni mengeluarkan Jelita.
Setelah merasa aman, Viona pun dengan cepat menyuruh Marni mendorong kursi roda Jelita, membawanya pergi dari sana.
Begitu Marni keluar bersama dengan Jelita, Viona pun menyusulnya, lalu mengarahkan Marni untuk melewati jalan belakang, dengan tujuan agar mereka tidak bertemu dengan Javier.
Beberapa menit kemudian, setelah berhasil mengeluarkan Jelita, Viona pun mulai bersandiwara. Dia berjalan dengan tergesa-gesa mencari sosok Javier di luar sana.
Tak berselang lama, Viona pun mendapati Javier yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah sakit tersebut, bersama dengan Leon.
"Tuan...!!" Viona berteriak keras sembari mengejarnya.
Javier dan Leon yang mendengar sekaligus melihat Viona yang berlari ke arahnya seketika menghentikan langkahnya.
"Tuan! Hah.. Hah.. Hah.." Viona terengah-engah mengatur nafasnya sesaat sudah berada di hadapan Javier dan Leon.
"Apa yang terjadi?!" Javier menatapnya dengan curiga. Dia merasa jika sesuatu telah terjadi pada Jelita.
Dan benar saja, detik kemudian Viona pun memberitahukannya dengan segala kebohongan yang dia buat.
"Nona.. Nona Jelita di bawa pulang oleh ibunya,"
"Apa..?!"
Mendengar itu dengan cepat Javier berlari, menuju ruangan Jelita. Hatinya cemas memikirkan Jelita yang masih dalam kondisi lemah.
Leon pun ikut berlari, mengejar langkah Javier, begitu juga dengan Viona. Gadis itu tentu tidak ingin ketinggalan momen tersebut.
Menit kemudian, setelah Javier berada di ruangan Jelita, dia tertegun melihat ruangan itu ternyata sudah kosong. Tentunya sudah tidak ada lagi Jelita yang terbaring di atas hospital bad.
"Jelita.." Javier memejamkan matanya sesaat. Pikirannya terus tertuju pada Jelita. Namun detik kemudian, Javier mengarahkan pandangannya kepada Viona.
"Aku menyuruhmu untuk menjaganya..!! Bagaimana bisa kau membiarkannya di bawa pergi tanpa sepengetahuanku..?!" Javier memanas, bahkan deru nafasnya pun memburu akibat emosi yang memuncak.
Viona sedikit terperanjat sekaligus gelagapan mendengar suara keras Javier. "A-aku.. Aku sudah melarang wanita itu membawa Nona Jelita! Tapi wanita itu tetap memaksa!"
Dia menyangkalnya, dia benar-benar menguasai permainannya, seperti seorang aktor yang bermain di dalam film. Bahkan raut wajahnya pun sengaja di tampakkan seperti seorang gadis yang lugu.
Saking kesalnya, Javier mengusap gusar raut wajahnya, hingga menjambak kuat rambutnya sendiri. Kemudian, dengan lemah dia mendudukkan bokongnya di sofa yang terdapat di ruangan itu.
"Tuan! Sebaiknya kita periksa rekaman cctv yang mengarah ke ruangan ini,"
Deg..
Mendengar itu seketika raut wajah Viona berubah pucat pasi.
__ADS_1
Bersambung...