DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd#58 Akhirnya Identitas Jelita Terbongkar


__ADS_3

*****


Beberapa jam kemudian.


Merasa kondisi Jelita sudah membaik, Dinda dan Mario memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.


"Jangan kemana-mana, Jav! Jaga istrimu," ujar Dinda berpesan, saat dia ingin melangkah masuk kedalam mobilnya, dan langsung di jawab singkat oleh Javier.


"Iya, Ma."


Setelah itu Javier pun menutup pintu mobil, hingga detik kemudian Mario segera melajukan kendaraannya, keluar dari area rumah sakit.


Diperjalanan, Mario ingin sekali bercerita pada istrinya, tapi dia sendiri kurang yakin apakah Dinda akan bisa menerimanya atau tidak.


"Sayang, kau kenapa?!" tanya Dinda saat melihat Mario yang sedikit gelisah.


Dalam hatinya, Dinda merasa ada sesuatu yang mungkin mengganggu pikiran suaminya, Mario. Terlihat dari sikapnya yang tak biasa. Pasalnya, sejak pulang dari mencari Jelita hingga mereka pergi ke rumah sakit, Mario lebih banyak diam dan sesekali terlihat murung.


Mendengar pertanyaan sang istri, Mario pun menghela nafasnya yang sedikit terasa sesak. Tapi setelah itu dia pun lekas menjawabnya.


"Aku ingin kau tau tentang sesuatu. Nanti setelah kita sampai di rumah, aku akan menceritakannya padamu," ujar Mario kemudian lekas mempercepat laju kendaraannya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai oleh Mario pun memasuki halaman rumahnya.


Setelah dia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah, Mario dan Dinda pun segera turun dari mobil.


"Masalah apa yang ingin kau ceritakan padaku?!" tanya Dinda tidak sabaran.


"Nanti saja, sayang! Kita kan baru sampai! Aku tidak mau ada orang lain yang mendengarnya, selain kau dan aku."


Mario terus melangkah sambil berpegangan tangan dengan Adinda. Mereka sama-sama masuk kedalam rumah.


Tak perlu menunggu waktu terlalu lama, Mario mengajak Dinda untuk berbicara berdua didalam kamar mereka.


Tentu saja hal itulah yang sangat di tunggu-tunggu oleh Adinda. Pasalnya, sudah sejak tadi dia penasaran dengan apa yang akan Mario ceritakan padanya.


Setelah mereka sudah berada didalam kamar, Mario lekas mengunci pintu kamar mereka, kemudian menghampiri Dinda yang menunggunya dengan posisi duduk di atas kasur.


"Sekarang ceritakan, apa yang harus ku dengar?!" tanya Dinda seraya menatap heran pada suaminya.


Sebelum menjawab, Mario terlebih dahulu menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.

__ADS_1


"Aku bingung, harus bagaimana mengatakannya," Mario melemahkan nada suaranya, seraya menatap sendu raut wajah istrinya.


"Apa maksud mu, Mario?! Cepat katakan, ada apa?!" Dinda pun mulai cemas.


Entah berita apa yang akan dia dengar, tapi jika dia melihat dari raut wajah suaminya, serta ucapannya yang begitu berat, sepertinya dia akan mendengar berita buruk. Pikir Dinda.


"Ini tentang menantu kita," ujar Mario menggantung.


"Jelita?! Ada apa dengannya?! Apa karena ada masalah dengan janinnya?!" Dinda di buat semakin bingung.


"Bukan, bukan, sayang!"


"Lalu apa?! Bicaralah yang jelas, Mario! Jangan membuatku bingung!" Dinda menjadi sangat kesal.


"Baiklah, aku akan mengatakannya padamu. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya," ujar Mario seraya beranjak berdiri, membuat Dinda sedikit mendongak melihat kearah raut wajah Mario.


"Apakah.. Sebelum Jav menikahi Jelita, kalian sudah tau siapa orang tuanya?!"


Mendengar itu, Dinda pun mengerutkan keningnya sesaat, kemudian lekas menggeleng seraya menjawab.


"Aku.. Aku tidak pernah bertanya siapa orang tuanya. Yang aku tau, Jelita hanya punya seorang ibu. Dan menurut Marni.. Jelita tidak pernah tau siapa ayah kandungnya. Ibunya juga tidak pernah menyayanginya. Itu yang ku dengar dari Marni dan Jav,"


"Itulah kesalahan mu dan Jav, sayang!"


Sejenak Mario mengusap gusar raut wajahnya, setelah itu dia pun menjawab. "Jelita, menantu kita.. Istri dari Javier Jhon adalah putri dari Anita. Orang yang sudah membunuh Jhon!"


"A_Apa?!" Sontak kedua bola mata Dinda membulat dengan mulut yang sedikit terbuka.


Debaran jantungnya jangan di tanya lagi, tubuhnya pun seketika terasa lemah hingga membuatnya terduduk di atas kasur.


"Itu kenyataan, Adinda! Anita sendiri yang mengatakannya di depan ku. Itulah sebabnya mengapa aku dari tadi diam saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Jav mengetahuinya! Apa yang akan terjadi?! Saat ini Jelita sedang mengandung anaknya!"


"Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan..?!" Dinda menangis kala mendengar itu.


"Jangankan kau, aku saja bingung, bagaimana harus memberitahu Jav." Mario kembali mendudukkan bokongnya, di samping Dinda.


"Tadi, sewaktu aku dan Jav menjemput Jelita di rumah bordil, aku_"


"Apa?! Di rumah bordil?!" Dinda kembali terkejut di sela-sela tangisnya.


"Ya, ternyata Anita menjualnya kesana. Wanita yang bernama Rebecca menyuruhnya untuk datang ke rumah bordil itu, setelah Mike memaksanya. Tepatnya setelah Jav membawa Jelita pergi." Mario menjeda sejenak ucapannya, tapi detik kemudian dia kembali bersuara.

__ADS_1


"Anita ada di kota ini. Dia menemukan Jelita lalu menjualnya pada Rebecca. Dan saat aku bertemu dengannya dan memaksanya untuk bicara, dia langsung mengatakan bahwa Jelita adalah putri kandungnya."


Bagai di sambar petir di siang bolong. Hati Adinda begitu sakit mendengarnya. Tapi apa yang harus dia lakukan, seolah nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terlambat.


Untuk beberapa saat mereka saling diam, tapi detik kemudian Mario kembali bersuara setelah cukup lama dia berpikir.


"Bagaimana kalau kau menghubungi Marni, sekedar memastikan apakah benar Jelita itu putrinya Anita,"


"Kau benar, aku harus menanyakannya pada Marni." Dengan cepat Dinda mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil miliknya yang terletak di atas kasur, tepat di samping posisi duduknya.


Setelah di dapatinya, Dinda pun segera mencari nomor telepon rumahnya yang tertera pada layar ponselnya, lalu mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinga, setelah dia menggeser tombol berwarna hijau.


"Halo! Bisakah aku bicara dengan Marni?!" tanyanya pada seseorang yang berada di seberang telepon.


Beberapa saat Dinda terdiam menunggu, sampai akhirnya suara Marni pun terdengar ke sisi telinga Dinda.


"Marni! Aku ingin bertanya satu hal padamu. Tolong jawab dengan sebenar-benarnya."


Sesaat Dinda kembali terdiam, menunggu jawaban Marni. Dan detik kemudian dia kembali bersuara.


"Siapa nama ibunya Jelita, aku tidak pernah bertanya padamu ataupun Jelita sebelumnya."


"Ibunya Non Jelita adalah Nyonya Anita, Nyonya!"


"Apa?! Jadi benar, Jelita adalah anak kandung Anita?!"


"Benar, Nyonya! Non Jelita adalah putri pertama Nyonya Anita dengan seorang lelaki yang saya sendiri tidak tau!"


"Apakah Anita yang kau maksud itu pernah di penjara?!"


"Iya, Nyonya! Setahu saya.. Nyonya Anita belum lama keluar dari penjara. Kurang lebih, sebelum Non Jelita dan Tuan Jav menikah."


Pembicaraan itu sudah tidak perlu di lanjutkan lagi bagi Dinda. Dengan cepat dia menutup sambungan teleponnya begitu saja.


Dinda menangis hingga terisak, seraya menggenggam erat ponselnya.


Mario yang melihatnya pun segera memeluk tubuh istrinya, lalu mengusap lembut punggung Dinda.


Lalu bagaimana dengan Javier?! Apa yang akan terjadi setelah dia mengetahuinya nanti?!


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2