DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 53# Kepergian Jelita


__ADS_3

Malam itu, Dinda meminta Javier untuk menginap di rumahnya. Dia sama sekali tidak mengijinkan putranya untuk kembali ke hotel.


Sementara Jelita, semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya dengan nyenyak. Kejadian itu selalu terngiang di ingatannya.


Sampai akhirnya, keesokan paginya.


Saat semua orang masih belum bangun dari tidur mereka, Jelita menyelipkan selembar kertas yang sudah di lipat dengan rapi, ke bawah pintu kamar Dinda dan Mario.


Setelah itu dia pun pergi dengan hanya membawa beberapa lembar pakaiannya saja, yang dimasukkannya ke dalam tas jinjing nya.


******


Selang 1 jam kemudian.


Satu persatu yang berada di kediaman Mario telah bangun dan masing-masing dari mereka sudah siap untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.


Dinda yang di temani oleh beberapa pembantu di rumah itupun sibuk mempersiapkan sarapan pagi, kebetulan hari ini Mario sudah harus kembali beraktivitas di kantornya.


Mario yang sudah siap dengan penampilan yang rapi, keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa menemui istrinya di ruang makan.


"Sayang,"


"Hai, sayang!" Dinda menyambutnya seraya tersenyum manis.


"Coba lihat ini," dengan cepat Mario memberikan selembar kertas kepada Dinda.


"Apa ini?!" Dinda meraihnya seraya mengerutkan kening, kemudian lekas membaca tulisan yang ada di kertas itu.


MA! PA! TERIMAKASIH SELAMA INI UDAH BAIK SAMA LITA. TAPI LITA HARUS PERGI. LITA HARAP, MAMA SAMA PAPA BISA MENGERTI. LITA JANJI, AKAN KEMBALI SETELAH LITA MELAHIRKAN CUCU MAMA SAMA PAPA.


MAAFKAN, JELITA.


"Jelita.." Dinda memejam sesaat. Tubuhnya terasa lemah, hingga dia terduduk di kursi.


"Jav harus tau ini,"


"Apa yang harus ku ketahui,"


Baru saja Mario ingin melangkahkan kakinya menemui Javier di kamarnya, tiba-tiba saja Javier sudah lebih dahulu menghampiri mereka di ruang makan, seraya bertanya dengan nada datar.


Mario dan Dinda pun mengarahkan pandangan mereka menatap Javier secara bersamaan.


"Jelita pergi, dia meninggalkan ini." Mario menyerahkan kertas itu kepada Javier setelah mengambilnya dari tangan Dinda.


Tatapan mata Javier begitu dingin, dengan cepat dia meraihnya dari tangan Mario lalu menatap tulisan di kertas tersebut, seraya membaca dalam hati.


Tapi detik kemudian.


PLAKK!!!

__ADS_1


Javier meletakkan kertas itu sambil menampar meja dengan keras, sehingga membuat Dinda sedikit terperanjat kaget.


"Inilah akibatnya jika kalian tidak memberikan kesempatan padaku!! Jika tadi malam kalian membiarkan aku menemuinya! Setidaknya aku dapat memberikan hasil rekaman itu padanya!! Dan dia tidak akan mungkin pergi dari sini!!"


Emosi Javier pun seketika memuncak, dengan raut wajah memerah. Hingga tanpa sadar, dia berbicara dengan nada tinggi pada Mario dan juga Dinda.


"Jav, tenanglah. Turunkan nada suaramu, kami ini orang tuamu.. Tidak seharusnya kau menyalahkan Mama mu!" Mario ikut terpancing emosi, namun dia masih bisa menahannya.


Dinda hanya bisa menangis dalam diam. Nafasnya terasa sesak. Dalam hati, Dinda juga merasa bersalah tidak mengizinkan Javier menemui Jelita. Biar bagaimana pun, hubungan mereka masih berstatus sebagai suami istri.


"Aaakh!" Javier mengusap gusar wajahnya. Dia sangat kesal dan juga marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kemana aku harus mencarinya.." Javier melemahkan nada suaranya, seraya menatap Mario, bergantian dengan menatap Dinda.


"Aku yang akan membantu mu untuk mencarinya. Jika kau punya rekan di sini, minta lah bantuan mereka juga. Sebarkan foto Jelita sebanyak-banyaknya, agar dia bisa segera di temukan."


Hilang sudah nafsu makan mereka untuk menikmati sarapan bersama. Mario pun memutuskan untuk tidak pergi ke kantornya, melainkan pergi untuk mencari keberadaannya Jelita.


Mario dan Javier segera bertindak cepat. Mereka bersama-sama keluar dari rumah, lalu menuju kendaraan masing-masing.


Javier mengendarai mobil milik Mario yang satunya lagi, yang dia pakai saat berada di kota itu.


Dengan arah yang berbeda, Javier dan Mario terus mengitari kota hingga beberapa jam lamanya.


______________________


Dinda yang berada di rumah pun, menunggu kabar dari mereka dengan hati yang tidak tenang.


Pasalnya, Mario maupun Javier sama sekali belum memberikan kabar, sejak pagi mereka pergi hingga malam menjelang.


Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Javier dan Mario?


Javier menghentikan kendaraannya di sisi jalan, bermaksud ingin menghubungi Mario via telepon. Raut wajahnya sudah sangat kusut dan lelah.


Saat panggilan telepon sudah terhubung, bersamaan dengan itu suara Mario pun terdengar.


"Jav! Bagaimana?! Apakah kau sudah menentukannya?!"


"Justru aku menghubungi mu untuk bertanya, apakah kau sudah menentukannya atau belum."


"Tidak, Jav. Aku masih belum mendapatkan jejaknya. Teman-teman ku juga sudah membantu, tapi hasilnya sama. Jelita sulit di temukan."


Javier menghela nafas berat, seraya menyandarkan punggungnya di badan kursi kemudi.


Lalu, bagaimana dengan Mario?


Setelah Javier memutus sambungan teleponnya begitu saja, Mario pun merasa bingung. Akan kemana lagi dia mencari keberadaan menantu sambungnya itu.


Sejenak Mario terdiam seraya berfikir, sambil mengarahkan pandangannya keluar kaca mobil.

__ADS_1


Detik bersamaan, tanpa sengaja tatapannya tertuju pada dua orang lelaki yang berada di seberang jalan.


Dua lelaki itu sedang berbicara, diiringi dengan tawa keras mereka.


Mario tertarik untuk mendekati mereka, sekedar bertanya apakah kedua lelaki itu melihat seorang wanita melewati jalan itu atau tidak.


Dengan cepat Mario membuka pintu mobilnya, lalu turun dan kembali menutup pintu dengan rapat.


Mario bergegas menghampiri kedua lelaki tersebut, kemudian lekas bertanya saat posisinya sudah dekat.


"Permisi, Tuan-tuan! Boleh saya bertanya?!"


Kedua lelaki itupun menghentikan obrolan mereka, lalu menatap dingin pada Mario.


"Ada apa?" tanya salah satu dari kedua lelaki itu dengan nada datar.


"Aku ingin bertanya, apakah kalian pernah melihat seorang gadis melewati jalan ini?!"


"Hahahhhhhhh.. "


Pertanyaan Mario sontak membuat kedua lelaki tersebut tertawa keras.


"Hei, Tuan. Kau pikir jalan ini hanya boleh di lewati lelaki saja?! Sehingga tidak ada seorang wanita pun yang boleh melewatinya," jawab salah satu dari mereka setelah menghentikan tawanya.


"Bukan, bukan seperti itu. Maksudku.. " Dengan cepat Mario menyalakan layar ponselnya, lalu mengarahkannya pada kedua lelaki tersebut.


"Ini, maksud ku apakah kalian pernah melihat gadis ini lewat di sekitar sini?!"


Kedua lelaki itupun saling melempar pandang, setelah mengamati raut wajah Jelita yang ada di layar ponsel milik Mario.


"Kau ingin membelinya?!" tanya salah satu dari mereka dengan nada pelan.


Mario mengerutkan keningnya, setelah itu lekas bertanya. "Apa maksudmu membelinya?!"


"Hahahhhhh.. " Kedua lelaki itu kembali tertawa. Tapi detik kemudian salah satu diantara mereka pun menjawabnya.


"Jangan berpura-pura bodoh di depan kami, Tuan! Jika kau ingin tau dimana gadis itu, cepat berikan uangmu pada kami. Kami akan memberitahu mu dimana gadis itu."


Seolah tak ingin membuat keributan, dengan cepat Mario mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celananya.


Detik kemudian Mario pun membuka dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas.


"Kalian mau uang ini, bukan?! Jika kalian mau, cepat katakan dimana gadis yang ku maksudkan." Mario sengaja tidak memberikan uangnya terlebih dahulu, sebelum kedua lelaki itu memberikan informasi kepadanya.


Sejenak kedua lelaki itu saling menoleh, tapi detik kemudian mereka kembali menatap Mario.


"Baiklah, kami akan memberitahu mu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2