DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd#63 Melakukan Tes DNA


__ADS_3

'Golongan darah ku berbeda?! Jangan-jangan..' seketika itu juga terpikir oleh Javier untuk melakukan tes DNA kepada Jelita.


"Kalau begitu.. Tolong lakukan tes DNA untuk ku dan istriku, Dokter!" ujarnya setelah beberapa saat terdiam.


Tentu saja hal itu sontak membuat sang dokter bersama dengan perawatnya menjadi bingung, terlihat dari tatapan mereka yang terheran-heran.


"Maksud Anda bagaimana, Tuan?!"


"Lakukan saja apa yang ku katakan, Dokter! Dan aku minta, tolong rahasiakan ini dari siapapun," nada suara Javier pun berubah menjadi dingin.


"Baiklah, Tuan! Kami akan melakukan sesuai dengan permintaan Anda. Tapi.. Setelah istri Anda mendapatkan pendonor yang cocok dengan golongan darahnya," jawab dokter.


******


Beberapa jam kemudian, operasi pengangkatan janin pun dilakukan setelah Jelita mendapatkan donor darah yang sesuai dengan golongan darahnya.


Javier, Zack maupun Marni menunggunya di luar, tentu dengan perasaan gelisah.


"Kenapa lama sekali?!" ujar Javier yang sudah tidak sabaran.


"Tenanglah, Tuan muda! Mungkin sebentar lagi operasinya selesai," timpal Zack, berusaha untuk menenangkan hati Javier.


Dan benar saja, baru saja Zack selesai mengatakan itu, lampu yang menempel di depan pintu bagian atas pun seketika redup, bersamaan dengan daun pintu kamar operasi perlahan terbuka. Tak lama kemudian, tampak dua orang dokter bersama dua orang perawat keluar hampir bersamaan dari ruang operasi tersebut.


"Bagaimana, Dokter?!" tanya Javier dengan cepat.


"Operasinya berhasil," jawab salah satu dokter sambil menurunkan kain yang menutupi mulutnya.


Helaan nafas lega pun keluar dari mulut Javier, Zack dan juga Marni.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi bagaimana dengan keadaan istriku, Dokter?" tanya Javier lagi.


"Kondisi istri anda masih belum stabil, Tuan! Tunggulah beberapa jam lagi. Paling tidak, kita harus menunggu sampai reaksi biusnya berhenti bekerja. Dan saat itu juga istri anda akan kembali sadar," jawab Doktor menjelaskan.


Operasi yang di lakukan itu berjalan dengan lancar, tanpa adanya hambatan sedikitpun. Untuk itulah dokter meyakinkan jika obat bius sudah berhenti bereaksi pada tubuh Jelita, maka Jelita akan sadar saat itu juga.


Sekitar 15 menit kemudian Jelita di bawa keluar dari ruang operasi tersebut. Gadis itu masih belum membuka matanya saat dua orang perawat mendorong hospital bad yang di gunakan oleh Jelita.


Javier menatap sendu raut wajah Jelita yang pucat dengan tubuh lemahnya yang terbaring tak bergerak.

__ADS_1


'Oh Tuhan! Selamatkan Jelita ku,' lirihnya dalam hati sambil terus melangkah mengikuti perawat yang terus mendorong hospital bad menuju kamar rawat inap yang akan di tempati oleh Jelita.


Selang 30 menit kemudian, setelah Jelita sudah di pindahkan, seorang perawat masuk kedalam ruangan itu.


"Permisi, Tuan Javier! Dokter meminta anda untuk segera ke ruangannya,"


Javier yang menoleh kearah sumber suara pun lekas mengangguk. "Baik, Sus."


"Paman, Bibi! Aku titip Jelita sebentar," ujarnya beralih pada Zack bergantian pada Marni.


keduanya pun mengangguk bersamaan. "Pergilah, Tuan. Anda jangan khawatir soal Nona Jelita. Kami akan tetap di-sini menunggunya sampai dia siuman," balas Zack dengan cepat.


Javier pun tak ingin mengulur waktunya, dia bergegas keluar dari ruang tersebut.


Di ruangan dokter, seorang perawat segera di minta untuk mengambil sampel darah milik Javier.


Tidak ada rasa takut sedikitpun saat jarum suntik menembus kulitnya. Bahkan Javier terlihat tenang dan santai.


Tak lama kemudian Javier kembali duduk berseberangan dengan posisi dokter.


"Bagaimana dengan darah istriku, Dok?! Apa kalian sudan mengambilnya?!" tanyanya kemudian.


"Jadi, kapan hasilnya bisa di ketahui, Dok?!"


"Kemungkinan dua hari ke depan hasilnya sudah bisa di lihat, Tuan! Anda bisa langsung menemui saya," jawab dokter.


Terlihat Javier mengangguk-anggukkan kepalanya, sebagai tanda jika dia mengerti dan akan menunggu hasil tes DNA tersebut.


Setelah selesai menemui dokter, Javier pun kembali ke kamar rawat inap yang di tempati oleh Jelita.


Di sana tampak Jelita yang sudah siuman dalam keadaan menangis pelan di hadapan Zack dan Marni.


Zack dan Marni langsung menoleh kearah Javier saat pemuda itu berjalan mendekati mereka, tak terkecuali Jelita yang memandanginya dengan tatapan tajam.


"Jelita! Kau sudah siuman, sayang?!" sapa Javier dengan suaranya yang lembut dan pelan.


"CK. Sayang?! Berhentilah menganggap ku sebagai istrimu, Javier! Aku adik haram mu, bukan?! Jadi untuk apa lagi kau memanggilku sayang?! Anak yang ada didalam perutku juga sudah tidak ada. Jadi tunggu apa lagi? Hem?! Bukankah ini yang kau inginkan?! Membuang ku dan anakku dari hidup mu," cecar Jelita dengan suaranya yang parau akibat menangis hingga terisak.


"Non!"

__ADS_1


"Diam lah, Bi! Aku hanya ingin dia tau bahwa anak yang menjadi penghalang sudah tidak ada di dalam perutku! Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana nasibku kedepannya," sela Jelita tanpa mengalihkan pandangannya dari Javier.


Javier menelan saliva nya lalu melangkah lebih dekat hingga duduk di sisi ranjang. Dan tanpa diminta pun, Zack dan Marni lekas beranjak keluar meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


"Kau bicara apa, sayang?! Berhentilah berteriak dan menangis, kau baru saja menjalani operasi," balas Javier sembari menyeka air mata Jelita.


"Jangan mengira aku tidak sedih kehilangan calon buah hati kita. Aku terpaksa memilih menyelamatkan mu bukan karna aku tidak menginginkan anak itu! Justru karna keadaan lah yang membuatku harus memilih diantara kalian. Kondisinya sangat lemah, begitu juga kau. Jika aku lebih memilih dia, bagaimana dia bisa bertahan hidup tanpa dirimu, Jelita?! Usianya masih sangat muda!" ujar Javier menjelaskan.


Javier menghela nafasnya yang terasa menyesakkan dada. Tatapannya pun sendu, menandakan jika dirinya merasa sangat kehilangan.


Jelita pun kembali menangis lirih mendengar penuturan dari Javier. Sebelumnya dia juga tau bahwa kandungannya sangat lemah, dan itu akibat dari banyaknya cairan obat bius yang di suntikan oleh salah satu anak buah Rebecca saat kejadian dimana dirinya di sekap di rumah bordil milik Rebecca.


Tapi sebagai calon ibu, tentu Jelita merasa berat setelah mengetahui jika janin yang ada didalam kandungannya sudah di angkat.


"Kenapa hidupku selalu begini?!" ujar Jelita lirih dalam tangisnya.


"Ssst! Sudah, jangan menangis. Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Ini ujian untuk kita, sayang." Javier mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Jelita, hingga hampir tak berjarak.


Tapi seketika itu juga Jelita membuang pandangannya ke samping kirinya. Gadis itu enggan untuk membalas tatapan mata Javier.


"Pergilah, kau tidak perlu membujukku lagi. Sebaiknya cepat selesaikan urusan perceraian kita sebelum aku pergi, karena aku ingin kembali ke Indonesia," ujar Jelita.


"Kau tidak akan pergi kemanapun, Jelita. Kau akan tetap bersama ku di sini, karena aku tidak akan menceraikan mu,"


Seketika itu juga Jelita mengarahkan pandangannya menatap Javier dengan raut wajah bingung, terlihat dari keningnya yang mengerut.


"A-Apa maksudmu, Jav?! Mengapa kau berubah pikiran?! Bukankah Mommy bilang kalau kita adalah saudara se-Ayah?!"


Jelita tidak habis pikir mengapa Javier malah tidak menginginkan perceraian mereka setelah mereka kehilangan calon buah hati mereka.


Apa yang terjadi pada Javier, dan apa yang ada didalam pikirannya sekarang. Seperti itulah yang tergambar dari tatapan mata Jelita yang bingung dengan ucapan Javier.


"Aku akan mengatakannya setelah kecurigaan ku terbukti," jawab Javier sembari menjauhkan wajahnya dari wajah Jelita hingga posisinya kembali duduk tegak.


"Kecurigaan?! Kecurigaan apa?! Siapa yang kau curigai?!"



__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2