DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd#65 KEBAHAGIAAN (The End)


__ADS_3

Akhirnya sebuah kepalsuan yang mengatasnamakan hubungan sedarah itu berbeda dari kenyataan dan terbukti bahwa semua itu hanyalah rekayasa Anita, ibu kandung Jelita.


Mau di hukum seperti apapun, kenyataannya Anita sudah tidak ada di dunia ini. Javier dan Jelita hanya bisa menghela nafas lega dan tersenyum bahagia tanpa bisa lagi membalas perbuatan Anita.


*


*


Beberapa hari kemudian.


Setelah kondisi Jelita semakin membaik, dokter pun mengizinkannya untuk pulang.


Semula dia begitu kekeh untuk tetap pulang ke tanah air, tapi kini dia malah bahagia dengan tetap berada di samping suaminya, Javier.


Kini, di rumah yang megah itu semua keluarga tengah berkumpul, tidak terkecuali Adinda dan Mario yang sudah dua hari tiba di sana.


Beberapa hari yang lalu, tepatnya setelah hasil tes DNA itu keluar, Javier segera memberitahukan hal tersebut kepada Mommy-nya melalui sambungan telepon.


Adinda juga tidak kalah terkejut mendengar berita itu, namun tak dapat di pungkiri jika dirinya juga merasa sangat lega sekaligus bahagia.


"Aku merasa bodoh karena sudah mempercayai begitu saja ucapan wanita itu, Mom! Bahkan aku hampir mengakhiri pernikahan ku dengan Jelita."


"Dan sekarang, aku dan Jelita juga sudah kehilangan calon anak kami. Tapi di balik kejadian ini, ternyata aku menemukan titik terang soal kebohongan Anita."


"Hah!"


Javier menghela nafas leganya setelah menyampaikan segala keluh kesahnya pada Adinda.


"Iya, sayang. Syukurlah, akhirnya masalah ini selesai. Dan kalian tidak sampai berpisah," balas Adinda ikut lega.


Di dalam ruangan pribadi Javier, saat ini hanya ada dirinya saja berdua dengan sang Mommy. Tidak ada siapa-siapa selain mereka di sana, karena yang lainnya berkumpul di ruang tengah bersama dengan Jelita.


Tak lama kemudian, Javier dan Adinda pun keluar menghampiri yang lainnya.


Javier tersenyum smirk saat tatapan matanya tertuju pada sang istri yang duduk berdampingan dengan Marni di sofa. Dan saat langkahnya semakin dekat, tiba-tiba saja Leon datang menghampirinya, dengan tujuan memberi kabar.


"Maaf, Tuan! Ada yang ingin saya sampaikan."


Mendengar itu Javier mengerutkan keningnya menatap pada Leon. Pasalnya, sudah beberapa hari ini dia tidak meminta pemuda itu untuk mengawasi atau bahkan menyelidiki sesuatu hal. Tapi mengapa Leon seperti mendapat sesuatu yang tidak di ketahui oleh Javier sebelumnya?


Semua yang berada di ruang tengah rumah itu menatap kearah mereka secara bergantian.


"Apa yang kau ketahui? Katakan saja di sini."


Nada suara Javier terdengar dingin dan datar, bahkan raut wajahnya saja berubah menjadi tanpa ekspresi dengan tatapan tajam bagai elang.


Leon sendiri terlihat sedikit ragu untuk mengatakannya di depan semua orang, terlebih lagi karena di sana ada Jelita yang baru saja mengalami hal buruk.


Tapi karena Javier memintanya untuk mengatakannya di depan semua orang, dengan terpaksa Leon pun membuka suaranya.


"Baru saja saya mendapat informasi, Tuan!"


"Nona Viona di temukan gantung diri di apartemennya."


Deg!


Detak jantung Jelita terasa berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Dia sontak terkejut hingga dengan cepat beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"A-Apa?! Vio.."


Ucapan Jelita terasa berat akibat nafasnya yang terasa tercekat di tenggorokan. Seketika itu juga air matanya pun tumpah seiring dengan tubuhnya yang gemetaran.


Adinda bahkan Marni pun lekas menangkap tubuh Jelita yang lemah.

__ADS_1


"Jelita.. Tenangkan dirimu, kau baru saja sembuh," ujar Adinda sembari mengusap punggung Jelita dan membiarkan gadis itu menangis di dalam pelukannya.


Di satu sisi Javier merasa lega karena sudah tidak ada lagi yang akan mengusik kehidupannya dengan sang istri. Tapi di sisi lain, dia juga merasakan khawatir melihat sang istri begitu terpukul dengan kabar kematian Viona.


Bagaimana pun Viona adalah saudara kandung Jelita, walaupun yang Javier tau jika mereka terlahir dari ayah yang berbeda.


"Mama pergi dengan mengenaskan. Sekarang Viona juga sama."


"Apakah ini hukuman dari Tuhan setelah apa yang sudah Mama lakukan semasa hidupnya?!"


Jelita menangis pilu. Dia menyesali betapa dangkalnya pikiran Viona hingga mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.


"Anggap saja ini adalah karma sekaligus akhir dari semuanya, Jelita! Kematian dengan cara seperti itu adalah pilihannya sendiri. Mungkin dengan begitu dia bisa lega pergi dari dunia ini dengan cepat."


Javier tersenyum miring. Dia bahkan tidak mau terlalu pusing memikirkan hal tersebut. Yang terpenting baginya hanyalah kesehatan Jelita.


Javier melangkah mendekati Jelita lalu menarik pelan gadis itu, membawanya masuk kedalam pelukannya.


Tidak hanya itu, bahkan Javier mengangkat sedikit dagu Jelita, hingga tatapan mereka saling tertuju dengan dalam.


"Anggap saja ini adalah ujian terakhir. Ikhlaskan mereka yang sudah tiada, dan nikmatilah hidupmu yang sekarang."


"Kita akan memulainya lagi dari awal. Membuka lembaran baru. Menjalani rumah tangga kita yang manis."


"Percayalah padaku, sayang. Kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak."


"Berjanjilah, kita akan terus bersama sampai ajal memisahkan kita."


Siapa pun yang mendengar kata-kata romantis Javier akan tersenyum. Pemuda itu meyakinkan istrinya untuk melupakan semua masa lalu kelam yang pernah di alami oleh Jelita, dan memulainya dengan kehidupan yang baru tentu bersama dengannya.


Jelita semakin tersedu-sedu mendengarnya. Ucapan Javier sungguh membuat hatinya terharu hingga dia semakin mempererat pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Javier.


Suasana di dalam rumah besar nan mewah itu seketika menjadi suasana haru karena diiringi dengan suara tangisan pilu sekaligus bahagia dari Jelita.


*


*


~Enam bulan kemudian~


Demi menghibur hati Jelita, Javier sengaja membawanya pergi berlibur ke Indonesia. Tidak hanya mereka berdua saja, bahkan Adinda, Mario dan Marni pun ikut serta menemani keduanya.


Tapi entah mengapa akhir-akhir ini Jelita merasa dirinya tidak baik-baik saja. Sesuatu yang aneh kerap ia rasakan, seperti pusing berlebihan, mual disertai dengan nafsu makan yang menurun.


Bahkan dirinya selalu ingin bermalas-malasan, berbaring di atas tempat tidurnya tanpa mau melakukan aktivitas lain seperti biasanya.


Dan anehnya, kejadian yang sama juga di alami oleh Adinda. Apa yang di rasakan oleh Jelita ternyata di rasakan juga oleh Adinda.


Tentu saja hal itu secara tidak langsung membuat Javier dan Mario sama-sama mengeluh dengan perubahan yang terjadi pada pasangan mereka.


Bahkan di saat sekarang. Saat mereka sama-sama menikmati sarapan pagi mereka yang di hidangkan oleh Marni, Jelita dan Adinda tampak tak berselera hingga keduanya hanya bisa menatap lemah pada beberapa menu makanan di atas meja.


"Kalian ini kenapa?! Kenapa wajah kalian berdua terlihat pucat?!" tanya Mario membuka suaranya sambil menatap Adinda bergantian menatap kearah Jelita.


Marni yang merasa perubahan pada Adinda dan Jelita menunjukkan gelagat seperti orang yang sedang mengidam pun turut bersuara.


"Lebih baik Nyonya Adinda dan Nona Jelita di bawa ke rumah sakit saja, Tuan."


"Aku baik-baik saja kok, Bi! Aku cuma pusing biasa," sela Jelita sambil beranjak dari duduknya.


"Aneh. Kenapa aku juga merasakan hal yang sama, kepalaku juga pusing." Adinda mengikuti gerakan Jelita yang turut beranjak dari duduknya.


Mario, Javier dan Marni tertegun melihat keduanya meninggalkan meja makan.

__ADS_1


Tapi tak lama setelah itu, Javier memutuskan untuk segera memanggil dokter pribadinya ke rumah.


Dan benar saja, setelah 2 jam kemudian dokter yang di minta untuk datang pun tiba di kediaman Javier.


Di sana, dokter segera memeriksa kesehatan Jelita dan Adinda secara bergantian.


Mario dan Javier saling melempar pandangan saat melihat reaksi sang dokter yang tersenyum bahkan sesekali tertawa pelan.


"Tidak perlu khawatir. Tidak ada masalah dengan kesehatan mereka. Hanya saja.. Saat ini istri-istri kalian sedang mengandung."


Kedua bola mata Javier dan Mario sontak membulat secara bersamaan. Mereka cukup terkejut mendengarnya.


"Apa?! Mereka hamil, Dok?!" tanya Javier dan Mario kompak.


Dokter itu tersenyum lalu mengangguk.


"Benar, Tuan-tuan! Saat ini istri-istri kalian sedang mengandung. Selamat, ya!"


Bola mata keduanya seketika berbinar. Mario hampir tak percaya mendengar itu, bahkan Javier sendiri pun tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia bingung harus menyambut berita itu dengan senang atau malah sebaliknya, mengingat usia Adinda saat ini sudah hampir mendekati paruh baya.


Sedangkan Mario sendiri langsung mendekati istrinya lalu memeluk erat tubuh istrinya. Dia begitu bahagia karena ternyata Tuhan masih memberi kesempatan padanya untuk mendapatkan momongan, hasil buah cinta mereka.


Selang 1 jam kemudian, dokter pun meninggalkan kediaman Javier.


"Jav.." Adinda menatap lemah pada putranya. Dia merasa khawatir, takut jika Javier tidak menerima kehadiran calon adiknya.


Namun sepertinya rasa kekhawatiran Adinda tidak terbukti karena Javier ternyata memberikan senyuman manisnya seraya mendudukkan bokongnya di antara Jelita dan Adinda.


"Hari ini aku di berikan kebahagiaan yang lengkap. Aku akan mendapatkan lagi calon buah hatiku sekaligus calon adikku."


"Terimakasih, istriku sayang!"


"Terimakasih, Mommy!"


"Terimakasih sudah memberikan kado istimewa ini untuk ku."


Javier memberikan kecupan lembut di kening Jelita, berganti mengecup lembut kening Adinda.


"Kau tidak marah dengan Mommy, Nak?!"


"Untuk apa aku marah?! Justru aku sangat bahagia," balas Javier dengan sorot matanya yang sudah mengembun menahan tangis haru.


Tatapannya seketika beralih pada Mario yang duduk di samping Adinda.


"Terimakasih, Pa! Kau sudah memberikan kesempurnaan untuk ku dan Mommy!"


Akhirnya kata-kata yang sudah di tunggu sejak lama oleh Mario pun terucap dari bibir Javier.


"Jav.. Kau panggil aku apa?! Tolong katakan sekali lagi, Nak!" suara Mario pun terdengar parau. Dia sudah hampir menangis.


"Papa.. Izinkan aku untuk memanggilmu Papa."


Mario sontak berdiri, diikuti oleh Javier. Tidak hanya itu, bahkan dengan cepat Mario memeluk tubuh kekar putra sambungnya tersebut.


Tangis haru pun memenuhi ruangan di dalam rumah lama Javier. Tidak hanya keduanya yang merasakan kebahagiaan yang sempurna itu, bahkan Adinda dan Jelita pun turut mengurai air mata, merasakan kebahagiaan yang sama.


Akhirnya, lengkap sudah kebahagiaan dalam kehidupan Javier dan juga Adinda Larasati.


Satu persatu masalah konflik dalam kehidupan mereka berakhir, dan telah berganti dengan kehidupan yang jauh lebih indah dan sempurna bersama dengan orang-orang yang mereka cintai.


*


*

__ADS_1


                            ~TAMAT~


__ADS_2