DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 10# Gadis bernama Jelita


__ADS_3

_________________________


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman gadis yang belum diketahui namanya itu.


"Non! Sini bibi bantu, biar cepat!"


"Nggak usah Bi! Nanti aku di marahi.. Bibi ngerjain yang lain aja ya!"


Gadis itu ternyata sedang sibuk memasak di dapur. Sang asisten rumah tangga ingin sekali membantunya, tapi dia menolak.


"Tapi, Non! Sebentar lagi Nyonya bangun! Kalau dia lihat makanan belum siap, pasti Non kena marah lagi," Asisten rumah tangga itu terus memaksanya agar mau di bantu.


"Nggak usah Bi.. Sebentar lagi kelar kok," gadis itu terus melakukan aktivitasnya tanpa henti.


Dan benar saja, detik berikutnya tiba-tiba terdengar suara teriakan dari ruang makan.


"Jelita...!!"


Pranggg...


Bersamaan dengan itu, mangkuk berbahan keramik yang di pegang oleh gadis itupun jatuh kelantai dan pecah.


"Non..! Nyonya, Non..! " Sang asisten rumah seketika gelagapan. Entah apa lagi yang akan di lakukan sang Nyonya kepada gadis itu. Pikirnya.


"Apa lagi yang kau pecahkan gadis bodoh..?!!"


"Ma-maafkan Jelita!" Suara gadis yang ternyata bernama Jelita itu pun melemah. Dia gemetar ketakutan.


"Maaf.. Maaf.. Kau pikir harga mangkuk itu murah, hah..?! Dasar anak kurang ajar.. Tidak berguna..!!"


Plakkk


Jelita hanya mampu menangis pelan saat pipi kirinya di tampar keras oleh sang Nyonya rumah. Sejenak dia memegangi pipinya yang terasa sakit.


"Sudahlah Anita..! Jangan hiraukan dia. Lebih baik kau siap-siap, hari ini aku ingin mengajak mu jalan-jalan,"


Suara seorang laki-laki menghentikan amarah sang Nyonya, yang ternyata adalah Anita.


"Kau benar Tom. Lebih baik kita keluar, dari pada aku harus pusing mengurusi anak yang tidak berguna ini. Dasar, anak pembawa sial..!!" Anita pun memilir pergi, meninggalkan Jelita yang masih menangis pelan dengan posisi berdiri sambil tertunduk.


Siapakah sebenarnya Jelita?! Dan apa hubungannya dengan Anita?!


*****


Sepeninggalan Anita, Jelita melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat tertunda. Gadis yang berwajah cantik itu selalu di sibukkan dengan pekerjaan rumah.


Walaupun Anita memiliki asisten rumah tangga, tapi dia tidak pernah mau melihat Jelita hidup hanya dengan bermalas-malasan saja.

__ADS_1


Sejak kecil Jelita di asuh oleh asisten rumah tangganya. Bahkan namanya saja di berikan oleh asisten rumah tangganya tersebut.


"Hayo.. Lagi ngelamunin apa sih Non?! Kok sampai senyum-senyum gitu?!"


Jelita terperanjat kaget kala sang asisten rumah tangganya tiba-tiba menepuk pelan kedua pundaknya.


"Ah Bibi.. Mau tau aja!" Raut wajah jelita seketika merona menahan malu.


"Cerita dong sama Bibi.. Kenapa senyum-senyum sendirian?! Tadi bukannya habis di marahi Nyonya! Kok sekarang malah senyum..?!"


Wanita yang sudah berusia paruh baya itu menarik kursi, mendekatkannya pada kursi yang di duduki oleh Jelita. Setelah itu dia pun duduk dengan posisi berhadapan dengan Jelita.


Jelita menggeleng seraya mengulum senyumnya. Dia enggan bercerita pada orang lain, apalagi jika menyangkut seorang pemuda.


Baginya, mencintai dan di cintai oleh seseorang itu hanyalah sebuah khayalan saja.


Sejak kembalinya Anita ke rumahnya, kehidupan Jelita semakin memburuk. Gadis itu tidak pernah di anggap oleh Anita sendiri.


Jelita sangat menginginkan kehidupan yang normal, hidup yang selalu di penuhi dengan kenyamanan, tentram dan damai tentunya.


****


Sementara di tempat lain.


Mario datang ke Hadinata grup, yaitu perusahaan yang pernah ia pimpin sebelumnya.


Di dalam ruangan Yudha, selaku pimpinan yang baru.


"Kapan rencana kau kembali lagi ke Eropa?!" Yudha menyuguhkan minuman bersoda untuk Mario, seraya mendudukkan bokongnya di sofa, bersebelahan dengan Mario.


Mario menghela nafasnya sesaat. "Tadinya.. Tidak ada rencana untuk tinggal lebih lama di sini. Tapi.. Sepertinya aku berubah pikiran," Mario melemahkan nada suaranya. Dia menyandarkan punggungnya pada badan sofa.


"Karna Adinda?!"


"Ya," Mario kembali mengubah posisinya menjadi sedikit membungkuk, dengan kedua siku di letakkannya menekan pada pahanya. "Aku sangat mengkhawatirkannya," ujarnya lagi.


"Saranku.. Sebaiknya kau mengundang putranya untuk bertemu. Tidak ada cara lain jika kau ingin mengawasi Adinda,"


Mario tertegun sejenak, menanggapi saran dari Mario. "Bagaimana caranya agar aku bisa mengundang putranya?!" Dia menatap serius pada Yudha.


Yudha menyunggingkan senyum tipisnya sesaat. "Suruh seseorang datang ke markasnya, buat janji dan katakan pada salah satu orangnya jika kau ingin bertemu dengannya,"


"Aah.. Terlalu ribet. Aku sendiri yang akan datang menemuinya," Mario beranjak berdiri dari duduknya.


Namun belum sempat Mario melangkahkan kakinya, tiba-tiba Aldo datang dan langsung masuk ke sana dengan raut wajahnya yang kusut.


Tentu saja hal itu membuat Mario dan Yudha mengerutkan kening mereka, menatap Aldo. Mario pun kembali mendudukkan bokongnya di sofa.

__ADS_1


"Kau kenapa, Do?!"


Aldo menghela nafas lelahnya sesaat. "Semalam aku di tuduh yang bukan-bukan sama Wina," ujarnya lemah.


"Di tuduh gimana maksudnya?!" Mario masih belum mengerti.


"Biasa.. Perempuan bawaannya curiga... Mulu', " Aldo tampak masih kesal dengan istrinya, Wina.


Mario dan Yudha yang mendengarnya pun sontak tertawa kecil hampir bersamaan.


"Apa karena tadi malam pulangnya terlambat?"


"Iya, kok tau?!" Aldo malah balik menatap Mario dengan tatapan heran.


"Alah.. Itu sih biasa.. Namanya juga perempuan!"


"Haha.. Liat Yud, gayanya kayak pernah punya istri aja.." Aldo malah menanggapi ucapan Mario dengan candaan.


Yudha hanya mampu mengulum senyumnya, tanpa mau menimpali ucapan Aldo. Dia tidak ingin ikut terlibat.


"Aku memang belum pernah menikah, tapi kalo masalah wanita.. Aku ahlinya," Mario membalasnya dengan sedikit menyombongkan dirinya.


"Hm.. Iya.. Terserah kau saja," Aldo tak kuasa memperpanjang masalah, takut jika akan menimbulkan perselisihan antara dia dan Mario.


"Tapi sekarang, apa istrimu masih marah padamu?!" Akhirnya Yudha ikut bersuara.


"Sekarang aman.. Aku sudah tau kelemahannya. Jadi ku gunakan saja cara itu untuk menutupi mulutnya, agar berhenti bernyanyi,"


"Bernyanyi...?!"


Suara Mario dan Yudha hampir bersamaan menanggapi ucapan Aldo. Mereka juga saling menatap satu sama lain, setelah itu kembali menatap Aldo.


"Iya.. Bernyanyi.. Istriku itu punya hobi ngereff, kalo dia marah pasti langsung ngereff tanpa henti,"


"Oya..?!" Mario mengerutkan keningnya.


"He'em.." Aldo mengangguk cepat. "Aku pusing mendengarnya, masih untung nggak di tambah dengan alunan musik."


Mario dan Yudha tampak semakin bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Aldo. Sesekali mereka saling melempar pandangan.


Aldo yang menyadari jika kedua sahabatnya itu menatapnya dengan bingung, segera memperjelas maksud dari ucapannya.


"Maksudku.. Suara musik itu, ya bunyi dari benda-benda yang jatuh akibat amukannya.."


"Astaga Aldo.. Jadi dari tadi maksudmu itu, istrimu menggerutu tanpa henti.. Aish, kau ini ada-ada saja," Akhirnya Mario pun mengerti. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Yudha, dia sontak tertawa lepas sambil menunduk sedikit dengan posisi sebelah tangan menekan perutnya yang terasa sakit.


Di ruangan itu, mereka bertiga melanjutkan obrolan mereka, hingga mau tidak mau Mario pun harus menunda beberapa jam lagi untuk pergi menemui Javier.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2