DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 55# Harga Jual


__ADS_3

Javier mulai jengah. Menghadapi satu wanita saja sudah membuatnya muak, ditambah lagi dengan kedatangan wanita lain yang seolah ingin merebutnya dari wanita yang satunya.


"Apa kau bilang?! Dia bagian mu?! Enak saja, aku yang lebih dulu mendekatinya! Itu berarti, dia bagian ku."


Wanita yang berada di hadapan Javier pun tidak mau kalah, seolah tak ingin memberikan Javier secara cuma-cuma pada wanita itu.


"Maaf, Nona-nona! Aku ingin mencari pemilik rumah bordil ini," ujar Javier dengan cepat.


Kedua wanita yang sedang beradu mulut itupun berhenti berucap. Kemudian menatap Javier bersamaan.


"Jadi maksud Anda datang kemari untuk bertemu dengan Mom Rebecca?!" tanya wanita yang berdiri di hadapan Javier.


"Ya, aku ingin bertemu dengannya,"


Mendengar itu, kedua wanita itupun merasa kecewa. Pasalnya, jika Javier menginginkan Rebecca, itu berarti Javier tidak bisa di sentuh oleh mereka.


"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan memberitahunya."


Wanita yang baru saja tiba itupun bergegas masuk kedalam. Sedangkan wanita yang satunya lagi memilih untuk pergi meninggalkan Javier.


Tak lama setelah itu, seorang wanita dewasa yang hampir sebaya dengan Adinda pun datang menemui Javier.


"Apa kau yang mencari ku?!"


Wanita itu adalah Rebecca. Dia mengamati Javier dari atas hingga bawah dengan tatapan menggoda.


"Ya, apa kau pemilik tempat ini?!" tanya Javier dengan cepat.


"Hem! Siapa lagi kalau bukan aku?! Untuk apa kau mencari ku?!"


"Aku dengar.. Kau menyiapkan gadis baru di sini. Aku ingin dia menemani ku malam ini," ujar Javier tanpa basa-basi.


Wanita yang bernama Rebecca itu tersenyum miring. "Berani bayar berapa?!"


"Berapapun yang kau minta, aku pasti akan memberikannya, jika gadis yang kau berikan itu sesuai dengan keinginan ku,"


Rebecca kembali mengamati penampilan Javier. Jika dilihat-lihat dari penampilan Javier yang tampak seperti orang berduit, Rebecca berinsiatif akan meminta bayaran yang fantastis. Pikir Rebecca dalam diamnya.


"Oke, aku akan memberitahukan berapa yang harus kau bayar, jika aku sudah membawanya ke hadapan mu."


Tak lama setelah itu, Rebecca pun pergi meninggalkan Javier.


Javier pun menunggunya sambil duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu, ruang yang cukup besar dan luas tentunya.


Di salah satu kamar, Jelita terbaring lemah di atas kasur dalam pengaruh obat bius. Pasalnya, sejak dia di sekap, dia terus berteriak keras minta di bebaskan, seraya memberi perlawanan dengan meronta-ronta saat orang-orang suruhan Rebecca mengikat tangan dan kakinya.

__ADS_1


Bagaimanakah Jelita bisa sampai di tempat itu?


#Flashback on


Saat Jelita terus melangkah tak tentu arah, dengan raut wajah bingung seseorang datang menghampirinya.


"Jelita! Kenapa kau bisa ada di sini?!"


"Ma_Mama.."


Anita tersenyum seraya mengamati penampilan Jelita, apalagi tatapannya tertuju pada tas jinjing yang di pegang oleh Jelita.


"Mama tidak marah padamu, sayang! Justru Mama sangat merindukan mu," ujar Anita berpura-pura, demi menarik perhatian Jelita.


"Aku.. Aku minta maaf, Ma! Ku pikir, Mama tidak akan pernah mau bertemu dengan ku lagi," Jelita menundukkan wajahnya.


"Kenapa kau berpikiran seperti itu?! Kau putriku, tentu aku sangat mengkhawatirkan mu, Jelita!"


Anita mengarahkan kedua tangannya memegang pundak Jelita, hingga membuat Jelita mengangkat sedikit wajahnya menatap raut wajah Anita.


"Kau ingin pergi kemana?!" tanya Anita kemudian.


"Aku.. Aku tidak tau harus pergi kemana,"


"Kalau begitu, bagaimana kalau kau ikut dengan Mama saja. Mama hanya tinggal sendirian. Adikmu Viona, dia pergi entah kemana."


Jelita berpikir sejenak, sebelum dia menerima tawaran Anita. Namun detik kemudian dia pun mengangguk seraya menjawab.


"Iya, Ma. Aku akan ikut dengan Mama," ujarnya tanpa curiga.


Tidak ada pilihan lain baginya, jika dia tidak ikut bersama Anita, dia sendiri tidak tau lagi harus pergi kemana, sedangkan dirinya dalam keadaan hamil. Pikir Jelita.


Dengan pikiran licik serta senyum seringainya Anita pun membawa Jelita ke suatu tempat yang dia katakan sebagai tempatnya yang baru.


Mereka mengendarai sebuah mobil yang didalamnya tidak hanya ada Anita dan Jelita saja, melainkan ada dua orang laki-laki yang duduk di kursi paling depan.


#Flashback of


Rebecca masuk menemui Jelita, bersama dua orang wanita lain.


"Hei, ayo bangun!" Rebecca meninggikan nada suaranya, seraya menarik paksa tubuh Jelita hingga Jelita terduduk di atas ranjang.


Dengan kepala yang terasa berat serta pandangan mata yang samar, Jelita mencoba untuk melawan.


"Apa yang ingin kalian lakukan pada ku.. " tanyanya dengan lemah.

__ADS_1


"Jangan banyak bertanya! Kau harus bekerja untuk ku!" sahut Rebecca dengan nada yang sama.


"Cepat ganti pakaiannya!" lanjutnya kepada kedua orang wanita yang ikut bersamanya.


Kedua wanita itupun dengan cepat membuka ikatan tangan dan kaki Jelita, lalu melucuti pakaian Jelita, menggantinya dengan pakaian yang baru.


Tidak hanya itu, bahkan mereka memberi sedikit polesan pada raut wajah Jelita, membuat penampilan Jelita tampak lebih segar tentunya.


Setelah selesai, Rebecca pun membawa paksa Jelita yang belum sepenuhnya sadar.


Dengan langkah sempoyongan Jelita berjalan dengan di bantu oleh kedua wanita lainnya, berjalan menjurus di belakang Rebecca.


Begitu mereka sampai, Javier yang melihat sosok Rebecca pun dengan cepat beranjak dari duduknya.


"Ini gadisnya."


"Aaakh!"


Tubuh Jelita terhuyung ke depan saat Rebecca dengan sengaja mendorongnya ke arah Javier.


Beruntung dengan cepat Javier menangkapnya, hingga Jelita jatuh kedalam pelukannya.


Hati Javier terasa sakit saat melihat kondisi istrinya yang tampak begitu lemah. Bahkan penampilannya saja sangat tidak pantas.


Rebecca sengaja mengganti pakaian Jelita dengan pakaian yang terbuka, dimana pada bagian dada Jelita yang bulat dan besar itu tampak setengah menyembul keluar dari tempatnya. Tidak hanya itu, bahkan pakaian itu sangat ketat dan pendek, sehingga menampakkan paha mulus dan kaki jenjang Jelita yang indah terpampang jelas.


Siapapun yang melihatnya, pasti akan tergoda. Apalagi bentuk tubuh Jelita sangat indah dan se*i.


Javier menggertak kan deretan gigi-giginya yang rapi, akibat menahan geramnya pada Rebecca.


Jika saja dia tidak mengingat ucapan Mario, mungkin detik itu juga dia sudah menggunakan senjata api yang dia bawa.


Dengan amarah yang tertahan, Javier terus memeluk tubuh Jelita, seraya kembali menatap Rebecca.


"Berapa harga gadis ini," tanyanya dengan nada datar diiringi dengan raut wajah dinginnya.


Rebecca pun mengulas senyum seringainya, lalu lekas menjawab. "Tidak besar, hanya senilai 121 Euro."


Javier tersenyum miring mendengar nilai harga jual istrinya, yang di minta Rebecca. Jika ditukar dengan rupiah, jumlah itu senilai dengan 200.000.000 rupiah.


Bagi Javier jumlah segitu tidaklah banyak. Dia sangat kaya, bahkan perusahannya saja dimana-mana.


"Baik, aku akan memberikan sesuai dengan yang kau minta. Tapi, setelah gadis ini melakukan tugasnya dengan baik," ujar Javier menyetujuinya.


"Oke, tidak masalah. Aku akan menyuruh anak buah ku untuk menyiapkan kamar FIF untuk kalian berdua. Selamat bersenang-senang!"

__ADS_1


Rebecca tersenyum senang seraya mengedipkan sebelah matanya pada Javier, setelah itu dia pun pergi meninggalkan Javier dan juga Jelita.


Bersambung...


__ADS_2