
Sejenak lelaki itu menjeda ucapannya, namun detik kemudian dia kembali melanjutkannya lagi.
"Gadis yang kau cari ada di tempat pela*uran. Seorang wanita sudah menjualnya pada Rebecca."
Deg
Detak jantung Mario seakan berhenti berdetak. Dia sungguh terkejut mendengarnya, hingga kedua bola matanya membulat. Tapi Mario sedikit tidak percaya dengan ucapan kedua lelaki tersebut, hingga dia bertanya untuk memastikannya.
"Apa katamu?! Seseorang menjualnya?!"
"Ya, tadi siang seorang wanita bersama dua orang rekannya membawa gadis itu ke rumah Rebecca, lalu menjualnya."
Detik itu juga desiran darah amarah Mario meluap. Tapi dia sendiri tidak tau, siapa yang telah berani menjual Jelita pada orang yang di sebutkan oleh salah satu dari kedua lelaki itu.
"Sekarang kami sudah memberitahu mu, cepat berikan uang itu,"
"Tidak, katakan dulu, dimana rumah bordil itu,"
Mario cukup cerdik dalam menggali informasi. Dia tidak akan mau mendapatkan hasil yang kurang jelas jika dia sudah memberikan uangnya.
"Beberapa meter dari sini, kau ambil jalan ke kanan. Lurus sampai ada persimpangan, kau ambil jalan ke kiri. Tidak jauh dari situ ada rumah putih yang besar. Berhati-hatilah jika kau masuk ke sana, penjagaannya sangat ketat." ujar lelaki itu sekaligus memperingatkan.
"Baik, ini bagian kalian," Mario pun memberikan uang yang sejak tadi dia pegang, kepada salah satu dari kedua lelaki tersebut.
Dengan senang, lelaki itupun mengambilnya dari tangan Mario.
Tak ingin menunda waktunya lagi, Mario bergegas kembali menghampiri mobilnya yang terparkir.
Setelah masuk kedalam mobil dan kembali menutup pintu mobil, dengan cepat Mario menghubungi kontak Javier yang terdapat pada layar ponselnya.
"Jav, temui aku di jalan XXX."
Setelah mengatakan itu melalui sambungan teleponnya, Mario pun memutuskan sambungan teleponnya detik itu juga.
Detik kemudian, Mario kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu menjalankan kendaraannya beberapa meter kearah depan, hingga berhenti di sisi jalan sebelum tikungan ke kanan.
Mario menunggu kedatangan Javier terlebih dahulu, sebelum mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat lokasi yang ingin di tuju.
________________________
30 menit kemudian.
Mobil yang di kendarai oleh Javier pun tiba dan berhenti tak jauh dari posisi kendaraan Mario yang terparkir.
Dengan cepat Mario dan Javier keluar dari mobil mereka masing-masing.
"Sudah ketemu?!" tanya Javier dengan cepat.
Sebelum menjawabnya, Mario menghela nafas beratnya sesaat, setelah itu dia pun menjawabnya.
__ADS_1
"Jelita.. Dia ada di tempat pela*uran,"
"Apa?!"
Sama halnya dengan Mario saat mendengar hal tersebut. Javier juga terkejut bahkan hampir tidak percaya.
"Seseorang menemukannya lalu menjualnya pada wanita yang bernama Rebecca."
"Siialaann! Siapa yang berani menjual istriku?!" Javier meninggikan nada suaranya.
"Sekarang dimana tempat itu?!" tanyanya kemudian.
"Menurut informasi yang ku dapat, dari sini, lurus. Sampai ada persimpangan, kita ambil jalan ke kiri. Tidak jauh dari sana ada rumah besar berwarna putih. Di situlah Jelita berada."
"Ayo kita ke sana."
"Tunggu, ambil ini."
Dengan cepat Mario memberikan senjata apinya kepada Javier. Senjata api itu sengaja dia simpan didalam mobilnya untuk berjaga-jaga.
Setelah itu, Mario maupun Javier bergegas masuk kedalam mobil mereka masing-masing.
Mobil yang di kendarai oleh Javier melaju terlebih dahulu di depan mobil yang di kendarai oleh Mario.
Javier mengikuti jalan yang sesuai dengan jalan yang di sebutkan oleh Mario.
Hingga tak butuh waktu terlalu lama, mobil yang di kendarai oleh mereka pun sampai di tempat tujuan.
Dari dalam mobil mereka masing-masing, Javier dan Mario mengamati rumah besar itu. Di sana, tampak beberapa orang penjaga yang berjalan mondar-mandir, tapi ada juga beberapa diantara mereka yang berdiri di depan rumah tersebut.
Saat tatapan mata Javier terus mengamati rumah tersebut, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan cepat Javier meraih ponselnya yang tergeletak di atas dasbor mobil.
Sesaat Javier menatap layar ponselnya yang menyala, bersamaan dengan itu terlihat nama kontak Mario yang tertera.
Javier pun mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya, setelah dia menggeser tombol berwarna hijau.
"Ada apa?!"
"Sepertinya.. Lebih baik aku menunggumu di tempat yang agak jauh dari sini, agar tidak ada yang mencurigai kita."
"Baiklah,"
"Jika kau perlu bantuan, segera hubungi aku. Dan jangan lupa, bertindak lah sebagai pembeli. Jangan gunakan senjata mu jika itu tidak perlu kau lakukan."
"Baik, aku mengerti."
Setelah itu Mario pun memutuskan sambungan teleponnya detik itu juga.
Terlihat dari pandangan mata Javier melalui kaca spion, mobil yang di kendarai oleh Mario kembali menyala, lalu mundur menjauh dari sana kemudian berbelok arah dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Javier pun siap untuk bergerak. Dia menyelipkan senjata apinya terlebih dahulu, menyembunyikannya kedalam salah satu kaos kaki yang dia pakai, lalu menutupinya kembali dengan celana panjangnya.Tak lupa juga, dia menyimpan ponselnya kedalam saku celananya.
Setelah itu dia pun membuka pintu mobil lalu turun dan kembali menutup pintu mobil tersebut.
Sesuai dengan apa yang sudah diberitahukan oleh Mario, kali ini Javier mengikutinya dengan bertindak seolah-olah dia akan membeli seorang gadis muda yang akan menjadi teman kencannya.
Saat posisi Javier sudah semakin dekat, semua mata penjaga di sana tertuju padanya. Tapi, begitu langkah kaki Javier sudah berada di area tersebut, seorang penjaga menghalanginya.
"Hei, tunjukkan identitas mu dulu. Setelah itu kau boleh masuk,"
"Baik."
Dengan cepat Javier mengeluarkan dompetnya, lalu menunjukkan kartu identitasnya kepada lelaki itu.
Sejenak lelaki itu menatap kartu identitas Javier, tapi detik kemudian dia menyerahkannya kembali pada Javier.
"Periksa dia,"
Lelaki itu menyuruh seorang temannya untuk memeriksa Javier, dengan maksud ingin mengetahui apakah Javier membawa senjata atau tidak.
"Dia tidak membawa apapun," ujar lelaki yang satunya lagi, setelah selesai memeriksa tubuh di balik pakaian yang Javier kenakan.
"Baiklah, kau boleh masuk."
Javier pun berjalan dengan santai menuju rumah besar itu, tanpa menimbulkan kecurigaan pada setiap orang yang memandanginya.
Baru saja Javier sampai di depan pintu, terlihat didalam sana beberapa wanita-wanita cantik yang sedang bergelayut manja dengan para pelanggan laki-laki mereka.
'Ouh siiaaal! Kenapa aku bisa berada di tempat seperti ini?! Dimana Jelita, apa yang mereka lakukan padanya."
Javier mengarahkan pandangannya ke sekeliling, seraya menggumam dalam diamnya.
Untuk melihat aktivitas para wanita-wanita muda itu saja sudah membuat pikiran Javier tidak menentu. Sungguh tidak dapat dibayangkan apa yang dilakukan oleh orang-orang di sana pada istrinya, Jelita.
Saat Javier terus mengamati aktivitas didalam, seorang wanita cantik datang menghampirinya.
"Halo tampan!" Wanita itu tanpa ragu mengusap lembut pipi Javier dengan jari-jarinya yang lentik.
Javier memasang raut wajah dinginnya. Dia sama sekali tidak tertarik. Kalau saja istrinya tidak berada didalam sana, dia tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya ke tempat seperti itu. Pikir Javier.
"Katakan, gadis seperti apa yang kau inginkan?! Bagaimana.. Jika aku saja yang memuaskan mu, hm?! Bisa ku pastikan, kau tidak akan kecewa."
Wanita itu mencoba merayu Javier dengan terus bergelayut manja, menempelkan tubuhnya ke tubuh Javier, hingga membuat Javier merasa jijik.
Dengan cepat Javier mendorong sedikit tubuh wanita itu, menjauhkannya dari posisinya berdiri.
"Hei! Menyingkir darinya! Dia bagian ku!"
Seorang wanita lain meneriaki wanita yang berdiri di hadapan Javier.
__ADS_1
"Oh astaga..! Tempat ini benar-benar membuatku gila."
Bersambung...