
Bersamaan dengan suara pintu di buka dengan keras serta kehadiran Jelita secara tak terduga, sontak membuat Javier dan gadis itu terkejut.
Javier yang sudah mulai berangsur-angsur sadar, lekas menoleh ke arah pintu hingga mendapati istrinya yang berdiri di ambang pintu dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya.
Lalu siapa gadis yang masih berada di bawah tubuhnya? Javier terheran-heran.
Detik kemudian, Javier mengarahkan pandangannya lagi ke depan wajahnya, dan betapa lebih terkejutnya lagi saat dia tau bahwa gadis yang berada di bawahnya ternyata orang lain, bukan istrinya Jelita.
"Hah! Apa yang terjadi?! Kenapa_"
Javier bingung, dan dengan cepat dia mengubah posisinya, turun dari tubuh gadis itu.
Gadis itu justru tersenyum menyeringai. Dia membiarkan begitu saja tubuhnya yang setengah telan*ang di lihat oleh Jelita. Dia bahkan dengan sengaja dan bangga memperlihatkan jejak kepemilikan Javier yang ada di leher hingga bagian dadanya.
Dengan hati yang hancur, Jelita melangkah berjalan mendekati Javier yang sudah dalam posisi berdiri, menjauh dari ranjang.
Javier sendiri tidak tau, mengapa dia bisa sampai berduaan dengan gadis yang masih berada di atas ranjang itu.
"Sayang, aku.. " Javier bingung sekaligus gugup melihat tatapan mata istrinya yang seakan jijik pada dirinya.
PLAKK.. PLAKK..
Tamparan keras melayang ke pipi kiri dan kanan Javier.
"Untuk apa menikahi ku jika kau menginginkan wanita lain?!" Nada suara Jelita terdengar parau dan lirih.
Hatinya seolah membeku. Rasa sakit yang dia rasakan, sungguh sulit untuk di ungkapkan.
Rumah tangga yang baru seumur jagung, kini hancur di depan matanya sendiri.
Dengan kepala yang masih terasa pusing, di tambah dengan rasa panas di pipinya akibat tamparan keras dari tangan Jelita, Javier mencoba untuk menjelaskan.
"Ini tidak seperti yang kau_"
"Cukup!! Aku tidak butuh penjelasan apapun!!"
Jelita tidak memberi kesempatan pada Javier hingga dengan cepat dia menyelanya dengan nada tinggi.
Di tempat tidur, gadis itu terus mengulas senyum puasnya. Dia asik menonton sepasang suami istri yang sedang bertengkar di hadapannya, tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun.
Javier benar-benar tidak tau bagaimana caranya menjelaskan pada Jelita. Dia kesal kenapa hal ini bisa terjadi, apalagi mengingat Jelita sedang hamil. Javier tidak ingin hal buruk terjadi pada istri dan calon buah hatinya.
"Sayang! Dengarkan aku_"
__ADS_1
"Jangan sentuh aku!!"
Sekalipun tidak ada kesempatan untuk Javier berbicara, apalagi dengan cepat Jelita menepis lengannya saat Javier ingin menyentuhnya.
Javier semakin gusar dan takut Jelita akan berbuat nekat pada dirinya sendiri, dan juga janin yang ada di dalam perutnya.
Detik kemudian, dengan cepat Jelita menoleh hingga berbalik lalu melangkah mendekati gadis itu.
Deru nafas yang memburu serta darah amarah yang memuncak, Jelita menatap tajam pada gadis itu, lalu berucap.
"Kenapa kau tega menghancurkan rumah tangga ku, Vio?! Kau adikku..!! Kenapa kau setega ini merampas suami ku dari ku..?! Kenapa..?! Apa salahku padamu, Vio..?!" Jelita lirih dalam tangisnya.
Ternyata gadis itu adalah Viona. Tentu saja Jelita mengenalinya, sebab, rambut palsu yang di pakai oleh Viona terlepas dari kepalanya, hingga menampakkan rambutnya yang asli.
"Haha.. Lihatlah kakak ku sayang! Betapa ganasnya suami mu. Lihat, leher dan dada ku saja sampai merah seperti ini."
Bukannya meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat, Viona malah semakin memanas-manasi Jelita dengan sengaja memperlihatkan seraya membusungkan dadanya kearah Jelita, menunjukkan bahwa Javier telah banyak membuat cupa*gan di setiap inci tubuhnya.
Javier yang mendengar itupun dengan cepat mendekati Viona.
PLAKK.. PLAKK.. PLAKK.. PLAKK..
"Aaakh.. "
Empat tamparan keras yang di layangkan oleh Javier ke pipi kiri dan kanan Viona, sehingga membuat viona mengerang dengan pipi yang membekas dengan warna merah kebiruan.
"Dasar wanita Ja*ang!! Akan ku buat kau menyesal seumur hidup!!"
PLAKK.. PLAKK.. PLAKK..
Tiga tamparan susulan yang di layangkan oleh Javier, membuat tubuh Viona ambruk di atas kasur.
Dengan raut wajah yang memar dan lebam, Viona hanya bisa merintih kesakitan tanpa bisa melawan.
Tanpa sepengetahuan Javier, Jelita memilih keluar dari kamar itu. Dia sama sekali tidak tertarik melihat apa yang akan di lakukan Javier selanjutnya pada Viona.
Javier meraih bajunya yang tergeletak di lantai, kemudian dengan cepat memakainya, menutupi tubuh bagian atasnya yang polos.
Saat Javier berbalik kebelakang, ternyata sudah tidak ada Jelita di sana. Sesaat dia mengkhawatirkan Jelita, namun detik kemudian dia berpikir mungkin saja Jelita sudah kembali ke kamar mereka.
Kemarahan Javier tidak hanya sampai di situ saja, dia masih ingin membalas perbuatan Viona.
Javier meraih ponselnya yang ternyata sudah tergeletak di atas meja. Dengan cepat dia menghubungi seseorang dengan nama kontak yang terdapat pada layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo!"
"Mark, ini aku. Jav,"
"Ada apa kau menghubungi ku, Mr. Jav?! "
"Aku tidak ingin berbasa-basi. Cepat kirimkan empat orang anak buah mu. Suruh mereka kemari, Hotel XXX,"
"Oke, aku akan segera mengirimkan mereka."
Javier menatap licik pada Viona yang terus meringis sambil menyembunyikan wajahnya dengan rambutnya dalam posisi berbaring miring di atas kasur.
"Sebentar lagi, kau akan merasakan pembalasan atas apa yang kau lakukan padaku, dan juga istriku."
"Aku mencintaimu, Jav! Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu..!!" Viona menangis, dengan cepat dia mengarahkan wajahnya yang sudah membengkak kearah Javier.
Tapi justru ucapan serta tangisan Viona malah membuat Javier semakin muak.
"Hahaha.. Cinta?! Cih! Tidak ada cinta untuk pela*ur seperti mu!!"
Belum lama Javier menjawab seperti itu, empat orang lelaki bertubuh tinggi besar datang dan mengetuk pintu yang terbuka lebar.
"Mr. Jav!"
"Ya, masuk."
Keempat lelaki itupun dengan cepat melangkah masuk lalu berdiri tak jauh dari pintu.
Viona ketakutan saat melihat para lelaki itu, raut wajah serta tatapan mata mereka sangat menyeramkan bagi Viona.
Dengan cepat dia menutupi dadanya yang polos dengan menggunakan bantal.
Sementara Javier, dia lekas mengeluarkan dompetnya yang tersimpan didalam saku celananya, lalu mengeluarkan salah satu kartu kredit miliknya dari dalam sana.
Detik kemudian Javier mendekati salah satu dari keempat lelaki tersebut, sambil menyimpan kembali dompetnya ke tempat semula.
Javier memberikan kartu kreditnya pada lelaki itu, seraya berkata. "Ambil ini, dan bersenang-senanglah dengannya. Buat dia tidak bisa melupakan kalian seumur hidupnya."
"Hahahahhhh..." Keempat lelaki itupun tertawa besar, hingga tubuh mereka bergetar.
"Tidak...!! Jangan sentuh aku..!!"
Seiring dengan suara jeritan Viona, Javier melangkah dengan santai keluar dari kamar tersebut, lalu menutup pintu dengan rapat.
__ADS_1
Senyum puas terukir di bibir Javier, membayangkan bagaimana beringasnya keempat lelaki tersebut menikmati tubuh Viona.
Bersambung...