
___________________________
Di tempat lain.
Pagi ini Mario membuat janji dengan Yudha dan Aldo untuk bertemu. Dan kali ini mereka bertemu di perusahaan milik Aldo.
"Hooaamm!"
"Jam segini kau masih mengantuk?! Tidur jam berapa kau tadi malam?!" Dengan cepat Mario menegur Aldo saat sahabatnya itu menguap lebar.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi Aldo malah terlihat lemas. Seperti orang yang kekurangan istirahat.
"Tadi malam.."
Baru saja Aldo ingin menjawabnya, detik bersamaan suara deringan ponsel milik Mario berbunyi. Aldo pun menahan ucapannya, membiarkan Mario mengangkat panggilan telepon tersebut.
Dengan cepat Mario mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku jasnya, kemudian mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinga nya setelah menggeser tombol berwarna hijau.
"Halo.."
"Halo.. Selamat pagi, Tuan Hadinata!"
"Ya.. Selamat pagi.. Siapa?!" Mario mengarahkan pandangannya ke arah Aldo, bergantian dengan Yudha.
Dia tidak mengenali suara seorang laki-laki yang terdengar melalui sambungan telepon tersebut. Nomor yang tertera pun tidak terdaftar di kontak ponselnya.
"Siapa?!"
Mario mengangkat sedikit kedua pundaknya saat Aldo bertanya. Bersamaan dengan itu, suara dari seberang telpon terdengar kembali.
"Aku Zack. Tuan muda ingin bertemu dengan mu, bisakah kau datang?!"
"Oh.. Iya, tentu saja. Beritahu dia, aku akan segera datang,"
"Baik,"
Hanya itu yang terdengar terakhir kalinya di telinga Mario, sebelum panggilan telepon di tutup secara sepihak oleh seseorang yang ternyata adalah Zack.
"Siapa??" Aldo penasaran, hingga mengulangi pertanyaannya.
"Aku harus pergi, Javier ingin bertemu dengan ku," Mario beranjak dari duduknya.
"Javier?! Javier siapa?!" Aldo menatap bingung pada Mario, bergantian menatap kepada Yudha.
"Putra mendiang Jhon,"
"Wah wah..! Benar-benar suatu kemajuan yang sangat pesat. Tidak ku sangka, kau pandai mengambil hati putranya. Setelah itu.. Baru kau ambil kembali hati Adinda. Kau benar-benar hebat.."
"Sok tau..."
__ADS_1
Mario pergi begitu saja meninggalkan Aldo yang berdecak kagum padanya. Sementara Yudha, lelaki itu menyeringai seraya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.
"Hei.. Kenapa kalau malah senyum-senyum nggak jelas gitu?! Ucapanku benar 'kan?!" Aldo menegur Yudha dengan kesal, setelah Mario keluar dari ruangannya.
"Mana ku tau.. Lagi pula.. Apa urusannya dengan kita?! Biarkan saja dia mendekati putranya Adinda. Itu urusannya.."
Aldo menanggapi jawaban Yudha dengan menghela nafas jengah seraya membuang tatapannya ke arah lain. Namun detik kemudian dia kembali mengarahkan pandangannya menatap Yudha seraya berkata.
"Astaga.. Baru ku ingat. Jangan-jangan.. Ini ada hubungannya dengan pembunuh Jhon?!"
Aldo baru menyadari jika Mario sempat mengkhawatirkan Adinda, saat mengetahui pembunuh Jhonatan telah bebas.
Yudha yang mendengarnya pun ikut tersadar. Mario akan berada dalam masalah besar, jika dia benar-benar bekerja sama dengan putra mendiang Jhonatan. Pikir Yudha dalam diamnya.
Raut wajah keduanya pun seketika cemas, memikirkan apa yang akan terjadi pada sahabat mereka.
"Kenapa dia tidak memberitahu kita?! Apa yang akan direncanakannya dengan putra mendiang Jhon?!" Aldo sangat khawatir. Dia menatap Yudha yang masih saja terdiam, setelah itu dia kembali bersuara.
"Bagaimana kalau kita susul Mario,"
"Jangan, biarkan saja dulu. Jika 2 jam kita tidak mendapat kabar darinya, baru kita susul dia,"
"Oke, kalau begitu kita ikuti Mario. Tapi jangan sampai ada yang tau, termasuk Mario." Dengan cepat Aldo beranjak berdiri, lalu melangkah berjalan.
'Astaga.. Masih tidak mengerti juga. Hahh!'
Yudha menggumam dalam benaknya, hingga yang terdengar keluar dari mulutnya hanya suara helaan nafas jengah nya saja. Sudah jelas dia melarang untuk menyusul Mario, namun Aldo masih saja ingin melakukannya.
Hingga menit kemudian, diam-diam Aldo dan Yudha menyusul Mario, mereka pergi ke kediaman mendiang Jhonatan.
_____________________________
Hampir 2 jam Mario menempuh perjalanan dari perusahaan milik Aldo hingga sampai ke kediaman Javier.
Mario yang baru saja tiba pun langsung di sambut oleh Zack, dan langsung di arahkan ke ruang pribadi Javier karna pemuda itu sudah menunggunya di sana.
"Aku pikir.. Kau tidak akan datang," sambut Javier saat Mario masuk menghampirinya.
"CK. Mana mungkin aku tidak datang," Mario berdiri berseberangan dengan meja Javier.
Pemuda itu pun menggeser kursinya kemudian berdiri. Dia melangkah berjalan menuju sofa, diikuti oleh Mario.
"Aku ingin kau membantuku kali ini, Tuan Hadinata! Bisa 'kan?!" Javier mendudukkan bokongnya, begitu juga dengan Mario, yang langsung duduk di sebelahnya.
"Apa yang harus aku lakukan?!"
"Aku ingin kau membawa Mama ku pergi dari sini,"
"Maksudmu?!" Seketika Mario mengerutkan keningnya menatap Javier.
__ADS_1
"Aku tidak ingin Mama ikut terlibat dalam rencana ku. Untuk itu.. Lebih baik kita amankan saja dulu. Bagaimana?!"
Mario berpikir sejenak dalam diamnya. Namun setelah itu dia kembali bersuara. "Aku setuju, tapi.. Bagaimana dengannya?! Apakah dia tidak akan menolak jika aku membawanya pergi?! Lagi pula.. Kalau dia bertanya, apa yang harus ku jawab?! Apa alasanku mengajaknya pergi?!" Mario merasa ragu. Tidak semudah itu untuk membawa Adinda pergi, bisa saja wanita itu mencurigainya. Pikir Mario.
Javier pun terdiam, dia berpikir apa yang di ucapkan oleh Mario ada benarnya. Mana mungkin dia tiba-tiba menyuruh Mamanya ikut bersama Mario. Apa alasan mereka?!
"Aaa.. Begini saja. Kau masih mencintai Mama ku, bukan?!"
"Ya.. Kalau itu sih jangan di tanya lagi. Makanya sampai sekarang aku tidak menikah," Jawaban Mario terdengar lucu di telinga Javier, hingga membuatnya tertawa geli.
"Aku rasa bukan karna Mama ku kau tidak menikah, tapi karna kau tidak laku. Hahhhhhh.." Javier tertawa semakin lebar dan keras.
"Kau pikir aku seburuk itu, hah?!" Seketika Mario dibuat kesal oleh Javier, hingga dengan cepat Javier menghentikan tawanya, namun sesekali masih terdengar suara tawanya yang tertahan.
"Baiklah, begini saja. Bagaimana kalau kau menikahi Mama, dengan begitu kau punya alasan untuk membawanya pergi,"
"CK. Omonganmu mulai ngelantur anak muda! Kau pikir Mama mu itu boneka yang tidak punya perasaan?! Menikah itu tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.. Kau pikir ini ajang lomba lari?!" Mario merasa semakin lama obrolan mereka semakin tidak masuk akal.
"Hahh!" Javier menghela nafas jengah. Dia tidak tau lagi harus dengan cara apa agar Mario bisa membawa Mamanya pergi untuk beberapa lama. Paling tidak sampai dia berhasil melenyapkan Anita. Pikir Javier dalam diam.
Mario pun ikut berpikir. 'Kalau aku meminta bantuan Aldo dan Yudha.. Mereka pasti akan terlibat. Aku tidak mau keluarga mereka menjadi korban nantinya,'
Mereka sama-sama bingung, alasan apa yang tepat untuk mengamankan Adinda. Pikir mereka dalam hati masing-masing.
Detik berikutnya tiba-tiba saja ponsel milik Mario yang tersimpan di dalam saku jasnya berdering. Dengan cepat dia mengeluarkan benda pipih tersebut.
"Aldo.."
Saat dia menatap layar ponsel yang menyala, tertera nomor kontak Aldo menghubunginya. Namun belum sempat Mario mengangkat panggilan telepon tersebut, tiba-tiba saja pintu ruangan Javier di ketuk oleh seseorang di luar sana.
Mario menatap ke arah pintu, dia mengabaikan begitu saja panggilan telepon dari Aldo. Jangan di tanya lagi seperti apa tanggapan Aldo saat panggilnya di abaikan.
Javier melangkah berjalan membukakan pintu.
CEKLEK
"Mama..!"
"Jav! Mama mau pergi se_" Adinda menghentikan ucapannya, dia terkejut saat tatapannya mendapati sosok Mario dengan posisi duduk di sofa yang terdapat di ruangan putranya itu.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja mereka membahas Dinda, ternyata kini Adinda sudah menampakkan batang hidungnya.
Dengan cepat Mario beranjak berdiri dari duduknya, seraya menyapa dengan lembut dan ramah. "Hai Din!"
Javier yang melihat mereka saling bertatapan pun seketika mengulas senyumnya yang menyungging.
"Mario.. Sejak kapan kau ada di sini?!"
"Em! Ma.. Aku tinggal sebentar ya.. Kebelet pipis," Javier menyela dengan berbisik ke sisi telinga Adinda, membuat Adinda memalingkan sejenak tatapannya kepada putranya yang tersenyum kecil seraya mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Pemuda itu beralasan jika dirinya ingin buang air kecil, padahal dia sengaja meninggalkan Adinda agar bisa berduaan saja dengan Mario. Pikirnya, dengan begitu mungkin saja Mario bisa berhasil membujuk Adinda.
Bersambung...