
Adinda salah tingkah saat Javier meninggalkannya bersama dengan Mario. Sementara Mario, pria itu mengulum senyumnya. Dia tau betul maksud Javier meninggalkan mereka.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Bukannya merayu, Mario malah bersikap canggung di depan Adinda, begitu juga sebaliknya.
"Em! Maaf, aku tidak bisa menemanimu di sini. Aku harus pergi," Dinda merasa debaran jantungnya sudah tidak karuan, untuk itu dia lebih memilih keluar dari ruangan tersebut.
Mario pun hanya bisa tersenyum kecil seraya menjawab dengan berat hati. "Iya, silahkan,"
Sesaat Adinda membalas senyumannya, setelah itu dia berbalik lalu melangkah keluar. Tapi tiba-tiba Dinda menghentikan langkahnya saat berada di ambang pintu seraya berbalik menatap ke arah Mario.
"Tunggu sebentar, Jav akan segera kembali," Setelah mengatakan itu dia pun langsung memilir pergi. Dia benar-benar keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Mario sendirian di sana.
"Hahh! Kenapa aku berdebar-debar seperti ini..?!" Mario menghempaskan pelan bokongnya di atas sofa seraya menghela nafas lega.
Bibirnya tak mampu berucap. Entah kenapa, kali ini berada dekat dengan Dinda membuat jantungnya berdetak kencang, apa lagi Javier sempat menyuruhnya untuk menikahi Dinda.
Aahh.. Mendapat lampu hijau dari calon anak tirinya, seakan Mario ingin melompat girang. Tapi sejujurnya dia tidak tau harus bagaimana memulainya. Jangankan berbicara dari hati ke hati, menatap raut wajah Dinda saja sudah membuatnya gerogi, hingga tubuhnya terasa lemah tak berdaya.
Selang beberapa menit kemudian, Javier pun datang dan kembali masuk kedalam ruangan tersebut.
"Bagaimana?! Sukses?!" Pemuda itu tidak sabar untuk mengetahui apa saja yang di bicarakan Mario dengan Mamanya.
Dia melangkah mendekati Mario lalu mendudukkan bokongnya tepat di samping Mario.
Dia menatap intens raut wajah Mario yang sesekali membalas tatapannya dan sesekali Mario menundukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi, hm?!" Javier kembali bertanya. Melihat gelagat Mario sepertinya rencana mereka tidak berjalan dengan mulus. Pikir Javier.
"Aku.. Belum mengatakan apapun padanya," Mario melemahkan nada suaranya.
"Apa..?! Belum bicara..?! Lalu, apa saja yang kau bicarakan dengan Mama ku tadi?!" Javier terkejut mendengarnya, hingga dia meninggikan nada suaranya.
"Kami.. Tidak bicara apa-apa,"
__ADS_1
"Astaga.. Tuan Mario Hadinata, kau ini bagaimana?! Merayu Mama ku saja kau tidak bisa, pantas saja sudah setua ini kau belum menikah. Kau benar-benar payah," Javier di buat kesal.
Mario pun tak kalah kesalnya, hingga dengan cepat dia menyela ucapan Javier. "Hei.. Ini tidak ada hubungannya dengan usia dan pernikahan ku..! Enak saja kau bicara,"
"CK. Buktinya.. Kau tidak bisa merayu Mama ku 'kan?! Bagaimana aku bisa menyerahkan Mama ku kepada orang seperti mu?! Kalau begitu ku ralat saja ucapanku yang tadi,"
"Hei.. Apa-apa kau ini?! Cepat sekali kau berubah pikiran..! Baiklah, akan ku coba nanti malam,"
Ucapan Javier berhasil membuat Mario sedikit ketakutan. Bisa menikahi Dinda, tentu itu adalah suatu keinginan yang sudah lama dia impikan. Untuk itu, dia akan berusaha mengambil hati Adinda. Jangan sampai dia kehilangan kesempatan ini, apa lagi kehilangan dukungan dari Javier, calon anak sambungnya. Pikir Mario.
"Tapi ingat Tuan Mario Hadinata.. Aku hanya bisa memberi waktu sesingkat mungkin. Kalau perlu, ku beri kau waktu 2 hari untuk bisa meyakinkan Mama agar dia mau ikut denganmu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk menjalankan rencana ku,"
"Ya, baiklah. Akan ku coba,"
Ada sedikit harapan bagi Javier setelah mendengar ucapan dari mulut Mario sendiri. Javier benar-benar yakin, jika pria itu masih mencintai Mamanya. Adinda.
Walaupun Javier belum bisa yakin 100 persen rencananya akan berjalan lancar, tapi setidaknya Mario mau berusaha untuk membantunya.
Membawa Adinda pergi jauh adalah rencana awal Javier. Dengan begitu dia akan lebih fokus pada rencananya yang kedua, yaitu membuat rencana kematian Anita seperti sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja.
"Nanti malam aku akan datang. Aku ingin mengajak Mama mu makan malam, di saat itulah waktu yang tepat untuk membicarakannya," Mario beranjak berdiri dari duduknya.
"Oke, aku serahkan urusan Mama dengan mu. Tapi ingat, jangan berani-berani menyakitinya. Jika sampai kau berani menyakitinya.. Maka akan ku pastikan kau tidak akan hidup di dunia ini," balas Javier dengan sedikit ancaman, seraya ikut berdiri.
"Haha.. Kau terlalu naif anak muda..! Suatu saat kau juga akan jatuh cinta. Maka akan ku pastikan, kau akan meminta bantuan ku," Mario menepuk pelan pundak Javier, seraya mengedipkan sebelah matanya, menggoda Javier.
Javier pun menaikkan sebelah alis tebalnya, menatap Mario. "Kita lihat saja nanti," ujarnya kemudian.
__________________________
Beberapa menit kemudian, tepatnya setelah Mario meninggalkan kediaman Javier. Pemuda itu memutuskan untuk keluar, mencari udara segar sekaligus menemui seseorang di luar sana.
Javier pergi berdua saja dengan Leon asistennya, tanpa di temani oleh Zack. Karena untuk sementara waktu Zack berkewajiban menemani Adinda pergi kemana pun dia inginkan.
Saat ini Adinda masih sibuk berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Tapi dari arah lain, seseorang mengintainya dari kejauhan.
__ADS_1
Seorang laki-laki mengikuti dan mengawasi gerak gerik Dinda tanpa di ketahui oleh siapapun, termasuk Dinda sendiri dan juga Zack.
Merasa situasi aman, Zack meminta izin pada Dinda untuk pergi ke toilet. Dinda pun tentu tidak akan melarangnya, dan dia kembali fokus dengan aktivitas belanjanya.
"Aduh..! Pilih yang mana ya..!" Adinda merasa kesulitan saat memilih-milih pakaian. Di matanya, semua pakaian yang ada di sana tampak bagus dan indah.
Dalam hitungan detik, saat lelaki yang mengikuti Adinda merasa situasi di sekitar Dinda lebih aman, dia pun berjalan cepat mendekat ke arah Dinda seraya mengeluarkan senjata tajamnya, pisau yang berukuran sedang.
Lelaki itu mengarahkan senjatanya ke arah Dinda. Sesekali dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling, memastikan jika tidak ada orang lain yang melihat aksinya.
Tepat saat lelaki itu ingin menusukkan senjata tajamnya ke arah perut Dinda, tiba-tiba saja seseorang tanpa di duga datang lalu menghadang tubuh Adinda.
"Nyonya..! Awas..!!"
"Aaaakhh"
AAAAAA...
Suara teriakan Dinda terdengar sangat keras, hingga dalam waktu yang bersamaan, orang-orang yang berada di sana berlarian ke arah Dinda. Dan dengan cepat pula lelaki tadi berlari, mengamankan dirinya dari orang-orang.
Dinda duduk terkulai lemah di lantai, dia menangis ketakutan sambil memeluk tubuh seorang gadis yang terbaring tak sadarkan diri dengan tubuh yang sudah bersimbah darah.
"Tolong... Tolong aku..!!" Dinda berteriak. Tangannya menahan bagian perut gadis itu yang robek akibat senjata tajam.
Di tempat lain, lelaki tadi terus berlari mencari tempat persembunyian sementara. Dia masuk ke dalam gudang lalu bersembunyi di balik kardus-kardus besar.
"Halo.. Nyonya, rencana kita gagal. Putrimu ada di dalam, dia menyelamatkan wanita itu,"
"Putriku?! Siapa yang kau maksud?!"
"Nona Jelita,"
"Apa...?! SIIALAAAAN.."
BRAKKK
__ADS_1
Bersambung...