
Saat melihat reaksi raut wajah Javier yang tampak syok, Zack pun mengerutkan keningnya, kemudian lekas bertanya.
"Apa itu?!" Zack menggeser posisi duduknya, lebih dekat ke posisi Javier. Dia ikut terkejut saat pandangannya melihat gambar di kertas foto yang masih di pegang oleh Javier.
"Bos Jhon.." Zack melemahkan nada suaranya.
"Siapa wanita ini," Javier bertanya dengan suaranya yang datar. Tatapannya terus tertuju pada gambar-gambar tersebut, seraya meletakkan hingga menyusunnya satu persatu ke atas meja, tepat di depan mereka.
"Dia lah Anita, orang yang kau cari,"
Selama ini Javier hanya mendengar namanya saja. Dia sama sekali belum mengenali wajah dari pembunuh ayahnya, Jhon.
Mengetahui itu, Javier pun mengamatinya dengan seksama, tatapannya tajam, hingga deretan gigi-giginya pun ikut bergesek keras, akibat menahan emosinya yang seketika memuncak.
"Amankan tempat ini, aku akan pergi sebentar,"
Dengan cepat dia berdiri lalu memilir pergi meninggalkan Zack.
"Kau mau kemana Tuan muda..?!"
Javier terus melangkah cepat, bahkan dia tidak menghiraukan suara Zack meneriakinya.
Zack menghela nafas jengah, setelah itu dia pun bergegas mengejar langkah Javier.
Zack tidak akan membiarkan Javier bertindak gegabah, sehingga akan merugikan dirinya sendiri nantinya. Pikir Zack.
___________________________
Di luar rumah, Javier terus melangkah menghampiri salah seorang anak buahnya yang berdiri tak jauh dari posisi mobil yang terparkir di halaman.
"Hei.. Kau, cepat masuk ke mobil!!" Javier memberi perintah dengan nada suaranya yang keras dan lantang, sehingga orang yang di maksud pun bergerak cepat.
"Tuan muda... Tunggu..!!"
Zack mempercepat langkahnya dengan berlari ke arah Javier, kemudian dengan cepat pula dia menangkap lengan pemuda itu.
Dan benar saja, seketika langkah kaki Javier pun tertahan, ketika dia hendak masuk ke dalam mobilnya tersebut.
Javier berdiri di sisi mobil, berdiri menatap Zack dengan tatapan tajam.
"Tuan muda, jangan gegabah.. Kau jangan mudah terpancing.. Sepertinya ini adalah jebakan,"
Deg
Seketika Javier tersadar. "Jebakan.." Dia melemahkan nada suaranya, seraya berpikir.
__ADS_1
"Ya, bisa jadi ini adalah jebakan. Mereka sengaja mengirimkan itu untuk mengelabui mu,"
Sepertinya Zack berhasil meyakinkan Javier, terlihat Javier yang terdiam memikirkan tentang apa yang di ucapkan oleh Zack.
Dan benar saja, detik kemudian Javier pun menghela nafas lega lalu tersenyum kecil kepada Zack. "Terimakasih, Paman! Kau sudah menyadarkan ku," dia menepuk pelan pundak Zack, setelah itu dia pun kembali melangkah masuk kedalam rumah.
"Hahh! Hampir.. Saja." Zack menghela nafas lega, kemudian menyusul langkah Javier.
______________________________
Di tempat lain.
Di dalam kamar yang kecil namun tidak terlalu sempit itu Jelita berbaring telentang di atas kasurnya, seraya menatap langit-langit kamar.
Sesekali dia tersenyum sendirian saat kembali mengingat apa yang di lakukan oleh Javier sebelumnya.
"Aaaah! Bodoh...! Ini gila, kenapa aku terus memikirkannya..?!" Jelita beranjak bangun, mengubah posisinya menjadi duduk dengan bertekuk lutut di atas kasur.
Gadis itu meruntuki dirinya sendiri. Wajah Javier, bayang-bayang tentang ciuman tadi memenuhi isi kepalanya.
Dia menggigit sedikit bibir bawahnya, seraya memejamkan matanya sejenak. Namun detik kemudian dia kembali membuka pelupuk matanya.
"Nggak, nggak boleh. Aku nggak boleh jatuh cinta padanya." Jelita menggumam pelan. Dia mencoba untuk membuang semua perasaannya yang tiba-tiba muncul.
"Aku dan dia berbeda, jauh berbeda. Mana mungkin dia menyukaiku.." Jelita bergelut dengan perasaannya sendiri.
Bagi Jelita, tidak akan mungkin seseorang menyukainya. Dia hanya gadis biasa, gadis yang tak pernah di harapkan lahir ke dunia.
#Flashback on
Sejak tau jika dirinya hamil, Anita berjuang keras untuk mendapatkan Jhon. Hingga dia merencanakan penculikan Dinda di hari pernikahan itu.
Namun tanpa di duga, rencananya gagal, hingga berujung dengan kematian Jhon.
Anita semula berhasil melarikan diri dari amukan orang-orang Jhon, maupun dari pihak kepolisian.
Anita di selamatkan oleh seorang laki-laki yang tidak dia kenal, hingga akhirnya mereka tinggal bersama dalam kurun waktu yang cukup lama.
Saat Anita melahirkan bayinya yang berjenis kelamin perempuan, laki-laki yang menjadi sandaran Anita itupun tidak mau menerima kehadiran bayi itu di rumahnya, rumah lelaki tersebut.
Anita pun tidak bisa melarang, hingga akhirnya mereka menyuruh sang asisten rumah tangga yang bekerja di sana membawa bayi itu pergi.
Anita menyuruh asisten rumah tangga yaitu Marni tinggal bersama bayinya, di rumah lamanya. Rumah yang sudah lama tidak dia tempati itu sudah seperti rumah berhantu yang di selimuti oleh semak belukar.
Merasa iba dengan bayi malang tersebut, mau tidak mau Marni pun bersedia mengasuh dan membesarkannya, layaknya anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Hingga di tahun kedua setelah melahirkan bayi pertamanya, Anita kembali hamil, tentu saja itu adalah bayinya dengan lelaki yang sudah tinggal serumah dengannya.
Namun, tepat dua bulan sebelum dia melahirkan anak kedua, jejak Anita tercium oleh pihak kepolisian. Hingga dia di tangkap dan di hukum penjara sesuai dengan perbuatannya.
#Flashback off
Jelita merenung. Sebenarnya apa kesalahannya pada ibu kandungnya? Kenapa dirinya di perlakukan sangat jauh berbeda dengan adiknya, Viona. Pikir Jelita.
Perlahan Jelita kembali berbaring. Setelah mencoba untuk membuang segala perasaan dan pikiran yang berkecamuk menyelimuti dirinya, akhirnya dia pun terlelap, masuk ke alam mimpi.
Gadis itu berharap, semoga kelak kehidupannya akan berubah.
__________________________________
Keesokan paginya.
Seperti biasa, Jelita melakukan aktivitas yang biasa dia lakukan. Namun kali ini dia tidak bertemu dengan Javier.
Kemana perginya pemuda itu?
Javier melupakan sejenak urusannya dengan Jelita. Sebab Zack menyarankannya untuk lebih fokus pada rencana balas dendamnya dari pada mementingkan urusan asmara.
Namun tidak dapat di bohongi, jika Javier masih memikirkan tentang Jelita. Sekalipun dia mencoba untuk tidak memikirkannya, tapi kenyataannya raut wajah gadis itu memenuhi isi kepalanya.
"Huhh.." Javier menghela nafas kasar. "CK. Gadis itu membuatku gila.." Javier frustasi, dia tidak fokus dengan masalah lain yang sedang dia hadapi.
Zack yang melihatnya pun menyunggingkan senyum tipisnya sesaat, seraya berjalan mendekati Javier. "Jika urusan kita sudah selesai, maka capat lah nikahi gadis itu. Sebelum ada yang mendahului mu, Tuan muda!"
"Berhentilah menggodaku, Paman..!" Javier memalingkan wajahnya kearah lain, dia malas mendengar ucapan Zack yang terdengar seperti lelucon baginya.
Zack tertawa kecil sambil menarik kursi yang bersebrangan dengan Javier, lalu mendudukinya. "Kau tidak bisa membohongi ku, Tuan muda! Kau sudah jatuh cinta pada gadis itu,"
Mendengar itu Javier pun mengalihkan pandangannya, kembali menatap Zack.
"Aku akan membantumu, tapi setelah urusan mu dengan wanita ****** itu selesai. Bukankah tujuan utamamu adalah membunuhnya?! Maka untuk sementara waktu, lebih baik abaikan dulu urusan perasaanmu,"
Javier mendengarkan setiap perkataan Zack. Dalam hati dia membenarkannya, tidak ada hal yang lebih penting, selain menghabisi nyawa Anita dengan tangannya sendiri.
Javier bersandar pada badan kursi, dengan kepala yang sedikit mendongak ke atas.
'Akan lebih baik jika aku mengeluarkan Mama terlebih dahulu dari tempat ini. Tapi kemana?! Aku tidak mungkin membiarkan Mama pulang sendiri ke Belanda.'
Tiba-tiba Javier mulai memikirkan tentang keselamatan Adinda. Menurutnya akan lebih bagus jika rencananya tidak di ketahui oleh wanita itu. Dia tidak ingin Adinda ikut terlibat, atau bahkan menjadi sasaran utama musuhnya.
"Paman.. Segera buat janji dengan Tuan Hadinata. Aku ingin bertemu dengannya hari ini juga,"
__ADS_1
"Baik, Tuan! Perintah akan segera di laksanakan,"
Bersambung...