
Kedua bola mata Zack seketika membulat, seiring dengan rasa keterkejutannya mendapati sosok Javier berdiri di hadapannya.
Dengan cepat Zack mengubah posisinya menjadi duduk, lalu beranjak berdiri. Dia mengamati tubuh Javier dari atas hingga bawah kemudian kembali ke atas.
"Tuan muda! Bagaimana caranya kau bisa selamat?! Bangunan itu.."
"Aku menerobos lorong kecil,"
"Bagaimana ceritanya?! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Zack ingin mengetahui lebih detail, apa yang terjadi saat itu. Mengapa rumah itu bisa sampai meledak dan hancur. Pikir Zack.
Javier pun melangkah mendekati sofa, lalu mendudukkan bokongnya di sana. Dia menceritakan apa yang terjadi di sana, di mulai dari pada saat mereka tiba di rumah Anita sampai kejadian itu terjadi.
#Flashback on
Javier menundukkan kepalanya, mengarahkan pandangannya ke bawah saat kakinya menginjak sesuatu yang keras di lantai.
"Ouh! ****."
"Cepat tinggalkan rumah ini..!!"
Zack berteriak keras, memerintahkan agar semua menjauh dari lorong itu setelah dia sadar bahwa kaki kanannya menginjak granat.
Ternyata sebelum Anita benar-benar pergi dari rumahnya, dia sudah memasang jebakan terlebih dahulu, alhasil Javier lah yang menjadi korbannya.
Sesaat Javier bingung, jika dia mengangkat kakinya sedikit saja, maka granat itu akan meledak detik itu juga.
Hanya ada dua pilihan yang harus di ambil waktu itu, bertahan tetap dengan posisinya atau mengambil langkah membiarkan granat meledak bersama tubuhnya.
Tapi beruntung, pandangan mata Javier cukup tajam dan jeli. Tak jauh dari posisinya berdiri, ternyata terdapat lubang yang berbentuk bulat, berukuran cukup untuk satu orang.
Lubang itu tertutup dengan penutup berbahan lempengan besi. Bersamaan dengan itu Javier pun mendapatkan ide untuk membuka penutup lubang tersebut.
Detik kemudian Javier perlahan mengubah posisinya menjadi berjongkok, dengan posisi kaki tetap tak bergerak.
Setelah penutup lubang itu berhasil di buka, tampak lorong yang sangat gelap, hingga pandangan mata Javier sulit untuk melihat jauh kebawah sana.
Tapi detik kemudian, perlahan dia melepas sepatunya, bersamaan dengan itu dia memposisikan senapannya menekan bagian dalam sepatu, bertujuan untuk mengganti kakinya yang dia tarik keluar.
Dalam hitungan detik, Javier pun dengan cepat melompat masuk kedalam lubang gelap yang ada di pinggirnya.
#Flashback of
"Begitulah ceritanya, mengapa aku sampai bisa ada di sini, Paman!"
Zack yang kembali duduk pun mengulas senyum leganya.
"Syukurlah kau bisa selamat, Tuan! Tapi sebaiknya kau temui Mama mu. Dia sangat syok saat aku mengatakan bahwa kau telah tewas dalam sebuah kecelakaan,"
"Apa?! Dimana dia sekarang?!" Dengan cepat Javier berdiri.
__ADS_1
"Di kamarnya, bersama Marni."
Tak menunggu lagi, dengan langkah cepat Javier memilir pergi dari hadapan Zack. Dia terus melangkah menapaki tangga menuju lantai dua, hingga masuk kedalam kamar milik Adinda.
Di dalam sana, netranya sudah menangkap sosok Dinda dalam posisi duduk di atas kasurnya sambil menangis memeluk bantal. Bersamaan dengan itu Marni yang duduk di sisi ranjang pun seketika terkejut saat melihat sosok Javier menghampiri mereka, tak terkecuali Adinda.
"Tu_Tuan.."
"Jav..! Kau kah itu, Nak?!" Dinda berhamburan beranjak turun dari ranjangnya. Dengan cepat dia masuk kedalam pelukan sang putra.
"Ma! Maafkan aku.." Javier merasa bersalah telah membuat Mamanya menangis, hingga mata sang Mama terlihat sembab dan bengkak.
Dinda pun tak bisa menahan rasa syukurnya, karena sang putra ternyata masih hidup.
Di kamar itu, Javier membawa Dinda untuk duduk mendengarkan apa yang terjadi dengannya. Walaupun dia harus mengarang cerita sebuah kecelakaan yang menimpa dirinya. Tentu dengan tujuan agar sang Mama tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
_______________________________
Di kamar yang berbeda, lebih tepatnya didalam kamar yang di tempati oleh Jelita.
Gadis itu masih tetap dalam posisi yang sama. Dia bahkan tidak berhenti menangis, hingga matanya pun semakin sembab dan bengkak. Bukan hanya itu saja, hidungnya pun sampai mengeluarkan cairan bening akibat tangisannya hingga sesenggukan.
1 jam kemudian.
Setelah Javier berhasil menenangkan Dinda, dia pun bergegas keluar dari sana. Tentu saja bergantian dengan sang pujaan hatinya yang ingin dia temui.
Javier terpaksa mengetuk pintu kamar, karena pada saat dia menekan handle pintu, ternyata pintu itu di kunci dari dalam.
Mendengar suara ketukan pintu, jelas saja Jelita yang berada didalam pun bergegas mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
Setelah itu dengan cepat pula dia beranjak berdiri lalu berjalan menuju pintu kamar.
CEKLEK
Saat daun pintu terbuka, bersamaan dengan itu netra Jelita pun membulat sempurna.
"Jav..!" Dengan cepat Jelita memeluk erat tubuh Javier. Begitu juga dengan Javier yang langsung membalas pelukan Jelita, seraya tersenyum.
"Aku mencintaimu! Tolong jangan tinggalkan aku lagi!!" Jelita kembali menangis. Melihat Javier di depan matanya, tangis harunya pun tak bisa terbendung lagi. Dia menumpahkan rasa sedihnya yang sejak tadi menyelimuti dirinya.
"Aku juga mencintaimu! Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, sayang! Berhentilah menangis,"
Nada suara Javier terdengar sangat manis di telinga Jelita, apa lagi dengan sebutan sayang nya. Membuat Jelita seketika mendongak sedikit ke atas, menatap lekat manik mata Javier.
"Apa yang terjadi dengan mu?! Paman Zack bilang kau kecelakaan. Benarkah itu?!" Jelita mengurai pelukannya, kemudian mengarahkan pandangannya mengamati tubuh Javier dari setiap sisi.
Javier pun mengulas senyum singkatnya, kemudian lekas menjawab. "Ya, yang di katakan Paman Zack itu memang benar. Aku mengalami kecelakaan, tapi hanya kecelakaan kecil saja. Buktinya, aku sekarang sudah ada di hadapanmu, 'kan?!"
"Syukurlah kalau begitu." Sungguh, Jelita sangat lega mendengarnya. Apalagi melihat Javier dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Mama?! Apa kau sudah menemuinya?! Mama sampai pingsan mendengar kabar tentang mu,"
"Iya, aku tau. Aku tadi sudah menemuinya, sebelum aku menemui mu. Sekarang, ayo kita ke bawah." Javier meraih tangan Jelita, lalu lekas membawanya keluar dari kamar tersebut.
______________________
Di lantai utama, sudah ada Dinda dan juga Marni yang duduk bersama dengan Zack di sofa.
Tak lama setelah itu Dinda mengulas senyumnya saat tatapannya tertuju pada Javier dan Jelita berjalan bersama-sama menuruni tangga.
"Jantungku hampir saja copot. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika tidak ada Jav, " ujar Dinda berbicara pada Marni dan Zack, seraya mengarahkan kembali pandangannya pada kedua orang itu.
"Tapi kita bersyukur, ternyata takdir baik masih berpihak pada kita. Tuhan menyelamatkannya dari musibah itu," balas Zack.
"Iya, Zack! Kau benar. Takdir memberi kesempatan untuk mereka menikah."
****BLUSH****!!!
Raut wajah Jelita seketika merona, menahan malu.
Dinda terang-terangan menyebut soal pernikahan mereka di depan Javier, tentu saja hal itu membuat Jelita merasa malu. Pasalnya, mereka belum lama dekat. Dia sendiri tidak tau pasti, apakah Javier benar-benar menginginkan pernikahan itu atau tidak. Pikir Jelita.
Javier dengan santai membawa Jelita untuk ikut duduk di sofa, tepat di sampingnya. Kondisi tubuhnya sudah tampak lebih baik dari sebelumnya, walaupun pundaknya masih terasa sakit.
"Jav! Bagaimana menurutmu?!" Dinda mengarahkan pandangannya menatap sang putra.
"Em! Soal apa?! Soal pernikahan kami?!" Javier membalas tatapan Dinda.
"Iya! Mama berencana untuk mengadakan pesta pernikahan kalian di Belanda. Karna sebagian besar keluarga mendiang Papa mu 'kan ada di sana!"
"Atur saja, Ma! Kami ngikut aja apa kata Mama, ya 'kan, sayang?!"
BLUSH!!!
Lagi-lagi Jelita di buat malu dengan sebutan sayang Javier. Pemuda itu tak henti-hentinya bersikap manis, bahkan di depan yang lainnya. Dia seolah melupakan apa yang sudah terjadi padanya, tragedi yang hampir merenggut nyawanya sendiri.
Dinda dan Marni yang ikut mendengarnya pun seketika mengulas senyum lebar, tak terkecuali Zack yang berada di antara mereka.
"Baguslah. Kalau begitu dalam waktu dekat kita akan pulang ke Belanda. Bagaimana?! Setuju?!"
Javier terdiam sejenak, namun setelah itu dengan cepat dia menjawab. "Baiklah. Minggu depan kita berangkat."
Dinda kembali tersenyum, begitu pula dengan Marni dan Zack. Tidak ada masalah dengan mereka berdua, justru ini adalah kabar baik untuk semua orang. Terlebih lagi orang-orang yang dekat dengan Javier.
"Tapi sebelum itu.. Jelita! Dimana Ibumu?! Bisakah kami bertemu dengannya?!"
Deg
Bersambung...
__ADS_1