DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 57# Sikap Diam Mario Yang Mencurigakan


__ADS_3

Beberapa jam kemudian.


Dinda datang ke rumah sakit bersama dengan Mario. Tampak raut wajah Dinda yang begitu panik saat berjalan kearah Javier.


Javier yang melihatnya pun segera beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Jav! Bagaimana keadaan Jelita dan janinnya?!" tanya Dinda, cemas.


"Dokter masih memeriksa keadaannya, Ma!" jawab Javier dengan lemah.


"Ya, Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi pada menantu dan calon cucu ku?! Mengapa selalu ada masalah yang datang pada keluarga kami.." Raut wajah Dinda tampak begitu sedih memikirkan rumah tangga putranya yang selalu di liputi banyak masalah yang terjadi. Terlebih lagi saat ini sang menantu sedang terbaring lemah di ruang UGD.


Dinda mendudukkan bokongnya di kursi, tak jauh dari posisi Javier yang berdiri. Sedangkan Mario, dia diam seribu bahasa dan hanya menjadi pendengar saja.


Tapi, justru sikapnya yang seperti itu memancing Javier untuk bertanya apa yang sudah dia dapatkan.


Javier menatap Mario dengan curiga, tapi dia tidak akan bertanya saat itu juga. Pasalnya, dia ingin memastikan terlebih dahulu kondisi istrinya serta calon buah hati mereka.


Menit berlalu, lekas mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Dok! Bagaimana dengan istri saya?!" ujar Javier bertanya.


"Beruntung Anda cepat membawa istri Anda kemari. Sehingga kami dapat menangani pendarahannya dengan cepat."


"Bagaimana dengan janinnya, Dokter?!"


"Kondisi janinnya sangat lemah, walaupun masih bisa di selamatkan, tapi tidak menutup kemungkinan terjadi sesuatu yang membahayakan. Mengingat, istri Anda sempat menggunakan bius total, itu akan berdampak buruk pada Janin. Kami juga tidak bisa memastikan lebih, kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti," ujar dokter menjelaskan.


"Ya, Tuhan...!" ujar Javier dan Dinda dengan lemah, yang hampir bersamaan.


Ucapan dokter membuat hati Javier sakit sekaligus sedih. Dia masih berharap calon buah hatinya masih bisa bertahan hidup dan dalam kondisi baik-baik saja didalam rahim istrinya.


Begitu juga dengan Dinda, dia juga berharap ada keajaiban untuk calon cucu pertamanya itu.


Mario yang sejak tadi berdiam diri pun, mempunyai harapan yang sama dengan Dinda dan Javier, ingin Jelita dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah dokter itu pergi, Dinda kembali duduk di tempat semula, masih dengan raut wajah sedihnya.


Sedangkan Javier, dia langsung beranjak mendekati Mario.


"Aku ingin bicara."

__ADS_1


Javier meneruskan langkahnya melewati Mario, hingga Mario pun bergerak menyusulnya dengan menjurus dari belakang.


Javier sengaja mengarahkan Mario untuk menjauh dari Dinda. Sebab, dia tidak ingin apa yang dia bicarakan nantinya dengan Mario terdengar oleh Dinda.


Sesampainya di tempat yang agak jauh dari ruang UGD, Javier pun berdiri berhadapan dengan Mario.


"Bagaimana?! Apa wanita itu sudah memberitahu siapa yang menjual Jelita padanya?!"


Mario tak langsung menjawabnya, dia diam seraya menghela nafasnya sesaat. Hingga di mata Javier yang menatapnya, Mario tampak begitu berat untuk memberi jawaban.


Javier mengerutkan keningnya, lalu kembali bertanya. "Kenapa diam?! Apa ada yang tidak beres?!" ujarnya curiga ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Mario.


'Ya, Tuhan..! Bagaimana aku menjelaskannya pada Jav, sementara jelita dan calon bayinya masih dalam kondisi terbaring di rumah sakit ini.' gumam Mario dalam diamnya.


"Hei! Ayo jawab..!! Kenapa kau diam saja?!" Javier menjadi kesal karena Mario sama sekali tidak mau menjawab pertanyaannya.


Mario kembali menghela nafasnya, tapi setelah itu dengan berat hati dia pun menjawabnya.


"Wanita pemilik rumah bordil itu sudah di amankan di markas teman mu, Mike. Mereka membawanya ke sana, karena wanita itu tidak mau memberitahu kami,"


"Bedebah!! Wanita itu benar-benar ingin mencari mati!!" Emosi Javier pun memuncak, seiring dengan desiran darahnya yang bergemuruh hingga terlihat raut wajahnya yang memerah.


"Kau mau kemana?!" Dengan cepat pula Mario bertanya saat Javier ingin melangkah.


Javier kembali berbalik, berhadapan dengan Mario. "Aku ingin memberi pelajaran berharga pada wanita itu, agar dia bisa lebih menghargai hidupnya,"


"Tidak, Jav! Sebaiknya kau urus dulu istri dan calon bayi kalian. Masalah wanita itu, nanti saja kau temui dia, setelah kondisi istrimu membaik."


Dalam hati, Javier berpikir sejenak sebelum dia memutuskan benar-benar pergi menemui wanita yang di maksudkan.


Ucapan Mario berhasil membuat Javier mengurungkan niatnya kemudian, setelah dia berpikir.


"Baiklah, aku akan meminta Mike untuk menahan wanita itu lebih lama di markasnya. Paling tidak, sampai kondisi istriku pulih."


Setelah mengatakan itu, Javier dan Mario pun pergi dari tempat mereka berdiri, dan kembali menemui Dinda yang masih berada di depan ruang UGD.


Sesampainya di sana, tampak Dinda yang baru saja keluar dari ruangan itu, diikuti oleh seorang perawat yang berjalan di belakangnya.


"Kalian darimana?!" tanya Dinda saat pandangannya tertuju pada Mario dan Javier.


"Bagaimana dengan Jelita, Ma?!" Javier tak menjawabnya, justru dia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan istrinya didalam sana.

__ADS_1


"Masuklah, istrimu sudah sadar."


Begitu mendengarnya, Javier pun dengan cepat membuka pintu ruangan UGD, lalu bergegas masuk kedalam sana.


Didalam, terlihat istrinya yang sedang terbaring lemah di temani oleh beberapa orang perawat yang akan segera memindahkannya ke ruangan lain.


"Sayang, bagaimana keadaan mu?!" tanya Javier dengan cemas dan langsung mendekati Jelita, berdiri di sisi hospital bad.


Jelita tak menjawabnya, dia malah dengan perlahan mengarahkan pandangannya kearah lain.


Walaupun Javier sudah berhasil menyelamatkannya dari wanita yang bernama Rebecca, dan membawanya keluar dari rumah bordil tersebut, tapi itu masih belum bisa membuat Jelita melupakan apa yang terjadi sebelumnya.


"Tuan! Kami akan segera memindahkan nyonya ke ruang rawat," ujar seorang perawat yang sudah bersiap untuk mendorong hospital bad yang di tempati oleh Jelita berbaring.


Javier pun dengan cepat menggeser posisinya, sedikit menjauh dari hospital bad tersebut.


Javier menghela nafasnya yang lemah, setelah itu diapun mengikuti para perawat itu saat membawa Jelita keluar dari ruangan UGD.


Sesampainya di luar, Dinda dan Mario pun langsung mengikuti mereka, berjalan bersama dengan Javier di belakang para perawat itu.


******


Para perawat mendorong hospital bad hingga masuk kedalam sebuah ruang FIF yang sudah di pesan sebelumnya oleh Dinda.


Setelah memindahkan Jelita ke hospital bad lain yang ada di sana serta mengecek jalannya air infus dari selangnya, para perawat itupun keluar dari ruangan tersebut, dan hanya meninggalkan Jelita bersama keluarganya.


"Jelita.. Sayang, kau baik-baik saja kan?!" Dinda lekas bertanya seraya berdiri di samping hospital bad.


"Aku baik-baik saja, Ma! Tapi bagaimana dengan janinku?! Apa dia juga baik-baik saja?! Apa yang di katakan dokter?!" Seketika Jelita mengkhawatirkan calon buah hati yang ada didalam rahimnya.


"Tenanglah, sayang! Dia masih didalam sini." Dinda mengusap lembut perut Jelita yang masih rata dengan tangannya.


Jelita yang mendengarnya pun segera mengulas senyum. Hatinya menjadi lebih tenang mengetahui jika janinnya masih berada didalam kandungannya.


Sedangkan Javier, dia hanya bisa diam menatap sang istri yang tersenyum pada Mamanya, melihat dari posisinya berdiri yang tak jauh dari Mario yang sedang duduk di sofa.


Javier tau, jika Jelita masih belum bisa memaafkannya. Tapi bagi Javier, hal itu biarlah menjadi urusannya belakangan. Karena yang lebih penting, dia ingin segera menemukan orang yang sudah menjual Jelita kepada seorang mucikari.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2