DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 30# Cerita Dari Marni


__ADS_3

Detik kemudian Javier melangkah pergi, menyusul Leon menuju ruang bawah tanah.


Di sana, suara tangisan Marni masih terdengar. Wanita itu sangat ketakutan, hingga tubuhnya lemah dengan posisi duduk bertekuk lutut di lantai.


Javier masuk, dengan langkah sepatunya yang tegap. Dia berdiri menatap tajam kearah Marni. Namun detik kemudian dia menarik kursi, membawanya ke hadapan Marni lalu mendudukkan bokongnya di sana.


"Siapa kau?! Dan apa hubungan mu dengan gadis itu?!"


"Sa-saya.. Saya cuma pembantunya, Tuan!" Marni menghentikan tangisnya, seraya mengusap pelan air matanya yang mengalir di pipi.


"Pembantu?! Berarti kau yang sudah merawatnya selama ini?!"


"Benar, Tuan! Dari kecil, Non Jelita saya yang merawatnya,"


Javier mengangguk-anggukkan pelan kepalanya. Dia sudah mendengar cerita dari Jelita sebelumnya, jika Marni lah orang yang paling berarti dalam hidup Jelita.


"Bangunlah, tidak perlu takut." Javier bersikap lebih santai, hingga membuat Marni merasa sedikit lega berhadapan dengannya.


Dengan perlahan Marni pun beranjak bangun dari posisi duduknya.


"Berikan kursi untuknya,"


Dengan cepat seseorang yang berada di sana mengarahkan kursi lain kepada Marni, dan dengan cepat pula Marni mendudukinya.


Suasana di ruangan itu terasa lebih tenang dari sebelumnya, suara tangisan Marni pun sudah tidak terdengar lagi.


"Kau orang yang paling dekat dengan Jelita, bukan?!"


"Benar, Tuan!"


"Orang tuanya masih ada?!"


Javier mulai mengorek informasi tentang Jelita dan juga orang tuanya.


"Orang tuanya hanya tinggal Mamanya saja, Tuan! Kalau Papanya Non Jelita.. Saya tidak tau,"


Sesaat Javier mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Marni, namun detik berikutnya dia kembali bersuara.


"Bahkan kau sendiri tidak tau siapa ayahnya?! Aneh sekali."


Perkataan Marni terdengar seperti lelucon bagi Javier. Orang yang merawat Jelita dari kecil justru tidak kenal dengan ayahnya Jelita. Pikir Javier seraya tertawa kecil.


"Benar, Tuan! Saya tidak berbohong. Nyonya menitipkannya pada saya karna suaminya tidak mau mengakui Non Jelita sebagai anak,"


Kata-kata Marni membuat Javier semakin penasaran. Dia terdiam menatap Marni sambil mengangkat sedikit sebelah alis tebalnya ke atas.


"Ceritakan semuanya, semua yang tidak ku ketahui tentang Jelita,"


Marni pun akhirnya menceritakan semua tentang Jelita, mulai dari Jelita lahir hingga saat ini, saat Jelita dewasa.


Javier tertegun mendengarnya, saat dimana Marni menceritakan jika perlakuan ibu kandung Jelita memperlakukannya dengan sangat tidak manusiawi.


Marni lah orang yang selama ini berjuang untuk menghidupi Jelita, mengurusnya hingga menyekolahkannya dengan memakai uang hasil jerih payah Marni mengabdi pada Anita, ibu kandung Jelita.

__ADS_1


Tidak hanya Javier saja yang merasa iba, bahkan orang-orang yang berada di sana pun ikut terharu mendengarnya.


"Non Jelita tidak pernah di anggap sebagai anak, Tuan! Justru dia lebih dianggap seperti pembantu, sama seperti saya. Tidak ada kesempatan untuk Non Jelita menikmati masa remajanya. Dia sama sekali tidak diizinkan untuk keluar rumah, selain ke pasar atau keperluan lainnya,"


"Apa pekerjaan ibunya?!"


"Saya tidak tau, Tuan! Saya tidak pernah bertanya tentang pekerjaan Nyonya. Yang saya tau, Nyonya sering bepergian,"


Javier tersenyum kecut, hatinya begitu panas mendengar cerita Marni. Gadis yang sudah mengisi relung hatinya di perlakukan seperti sampah oleh orang tuanya sendiri. Jelas saja Javier tidak akan sudi mengembalikan Jelita ke rumah orang tuanya lagi.


Di saat itulah, Javier juga meminta Marni untuk tinggal bersamanya dan Adinda, sekaligus untuk menemani Jelita.


Tak ada penolakan dari Marni, justru wanita itu menangis haru hingga tersedu-sedu. Dalam hati, lebih baik tinggal bersama orang yang peduli pada mereka, dari pada tinggal bersama orang yang tidak pernah menghargai orang lain.


Setelah lama menginterogasinya, akhirnya Javier membawa Marni keluar dari ruang bawah tanah. Tidak hanya itu, bahkan Javier langsung mengajaknya untuk menemui Jelita dan juga Adinda di kamarnya, yang terdapat di lantai dua.


CEKLEK


Adinda terheran-heran saat melihat Javier masuk kedalam kamar bersama dengan Marni. Marni yang semula berjalan di belakang Javier, segera berlari menghampiri Jelita yang berbaring lemah di atas kasur empuk milik Javier.


"Non..!"


Adinda beranjak berdiri, membiarkan Marni duduk di sisi ranjang. Kedua ibu dan anak itu tersenyum haru melihat Marni yang memeluk tubuh Jelita sambil menangis.


"Apa yang terjadi?!" Adinda memelankan nada suaranya, hingga hampir tak terdengar oleh Marni.


"Banyak, yang terpenting.. Aku akan menikahinya, setelah urusan ku di sini selesai,"


Adinda terkejut mendengar ucapan Javier dengan kedua bola mata yang membulat. "Serius..?!"


Begitu pula dengan Dinda, wanita itu ikut tersenyum senang mendengar keinginan putranya. Itu berarti, tidak lama lagi dia akan mendapatkan menantu satu-satunya. Menantu dari keturunan Jhonatan tentunya.


Selang beberapa menit Javier berada di dalam kamarnya, detik berikutnya Javier memutuskan untuk keluar. Dia membiarkan Adinda untuk berbincang sejenak dengan Marni, sambil mengurusi Jelita.


Sedangkan dia sendiri kembali turun menemui rekan-rekannya yang lain, yang berada di lantai bawah.


"Tuan muda! Baru saja aku mendengar dari Leon. Sekarang bagaimana keadaannya?!" Zack menghampiri Javier saat Javier baru saja turun dari lantai atas.


"Jelita sudah di rawat oleh Mama, dan juga pembantunya," Javier menampakkan raut wajah cerahnya. Namun di dalam hatinya, masih ada yang harus dia selesai. Tentu saja itu berhubungan dengan Viona, asisten Mario yang sudah berani membodohinya.


Dari arah yang berbeda, Leon datang menghampirinya. "Tuan! Bagaimana dengan gadis yang berada di rumah sakit tadi?!"


"Biarkan saja, biarkan malam ini dia tidur dengan nyenyak. Tapi besok, akan ku beri dia pelajaran berharga. Yang tidak akan bisa dia lupakan seumur hidupnya," Javier tersenyum menyeringai.


______________________________


Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa malam sudah berganti siang.


Keesokan paginya, Jelita terheran-heran saat dia membuka pelupuk matanya, ternyata dia sudah berada di ruangan yang begitu besar dan mewah.


"Hah! Kamar siapa ini?!" Dengan perlahan dan berhati-hati Jelita mengubah posisinya menjadi duduk dengan bersandar pada pembatas ranjang.


"Selamat pagi..!" Suara Javier mengejutkan Jelita. Ternyata pemuda itu sudah berdiri menatapnya dengan menampakkan senyumnya yang menawan.

__ADS_1


"Kau..?!" Jelita meninggikan nada suaranya.


"Ssstt! Jangan keras-keras! Luka mu belum sembuh total. Bicaralah yang lembut dan pelan, ya!" Javier melangkah mendekatinya, kemudian mendudukkan bokongnya tepat di samping Jelita dengan posisi berhadapan.


Sesaat Jelita memutar bola mata malasnya, namun detik kemudian dia kembali bersuara. "Ini rumah mu?! Bibi Marni mana?! Semalam dia bersama ku, tapi kenapa sekarang dia tidak ada di sini?!"


"Bibi mu ada di dapur, dia sedang bersama Mama ku. Kau ingin bertemu dengannya?!" Javier menatap lekat raut wajah cantik Jelita. Wajah polos yang berhasil meluluhkan hati seorang Javier.


Jelita pun mengangguk cepat. Dalam hati, dia ingin segera mengajak Marni untuk pulang ke rumahnya.


Detik berikutnya, Tanpa di duga Javier mengangkat tubuh Jelita, membawa gadis itu masuk kedalam gendongannya ala bridal.


"Hei.. Apa yang kau lakukan?! Cepat turunkan aku!!" Jelita menepuk-nepuk pelan dada bidang Javier dengan sebelah tangannya.


"Diam lah, jangan berteriak. Aku akan membawamu menemui Bibi Marni," Javier tidak peduli, sekalipun Jelita berontak memintanya untuk turun dari gendongannya.


Jelita pun akhirnya terdiam, dia mengarahkan kedua belah tangannya melingkar memeluk pundak Javier.


Dari arah lain, Marni dan Adinda saling melempar pandang seraya mengulas senyum, saat mereka melihat Javier yang datang kearah mereka dengan membawa Jelita di dalam gendongannya.


Di kediaman Javier, Marni tidak di perlakukan seperti pembantu, justru wanita paruh baya itu di anggap sebagai orang tua asuh Jelita.


"Sayang! Kau sudah bangun?! Bagaimana tidurmu, nyenyak?! Lukamu masih sakit?!" Adinda begitu ramah menyapa Jelita, hingga banyak sekali pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


Javier mendudukkan Jelita di sofa, tepat di tengah-tengah antara Marni dan Adinda tentunya.


"Tante! Terimakasih sudah mengizinkan kami untuk menginap di sini, tapi maaf, kami harus segera pulang,"


Dinda terdiam, tapi dengan cepat Javier menjawabnya. "Pulang?! Pulang kemana?! Ke rumahmu yang seperti neraka itu?!" Dengan santai Javier mengatakannya, sekaligus mengeluarkan unek-uneknya yang dia pendam.


Jelita tampak bingung dengan ucapan Javier. Dia mengarahkan sesaat pandangannya menatap Marni. Melihat raut wajah Jelita yang begitu kebingungan, Adinda pun segera menjelaskannya.


"Sayang! Dengar Mama, ya! Mulai sekarang, kamu dan Marni akan tinggal di rumah ini. Anggap saja rumah ini seperti rumahmu sendiri," Adinda tersenyum lebar.


"A-apa Tante?! Mama?! Tinggal di rumah ini?!" Jelita semakin tidak mengerti maksud perkataan Dinda yang menyebutkan dirinya Mama, bahkan dengan jelas Dinda menyuruh Jelita untuk tinggal di rumahnya.


"Non! Nyonya Adinda ingin Non Jelita dengan putranya bertunangan," Marni akhirnya ikut bersuara.


Tapi justru hal itu membuat Jelita terkejut. "Apa?! Bertunangan?! Bukannya anak Tante sudah bertunangan dengan adikku?!" Jelita kembali menatap Dinda.


"Apa?! Adikmu?!"


Tidak hanya Javier saja yang terkejut, bahkan Adinda pun ikut terkejut mendengarnya.


"Ya! Adikku sendiri yang mengatakannya,"


"Non! Maksud Non Jelita apa?!" Marni sendiri bingung, dia tidak tau kapan Viona bertunangan dengan Javier.


"Bibi! Viona sendiri yang bilang padaku! Viona mengatakan jika Jav adalah kekasihnya, bahkan calon suaminya!"


Javier sontak berdiri menatap Jelita. "Siapa yang kau maksud?! Apa gadis yang tadi malam di rumah sakit itu adikmu?!"


"Iya, dia adikku,"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2