DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 15# Masuk Perangkap


__ADS_3

Javier mengambil kesempatan itu. Dengan cepat dia berbalik, mengubah posisinya menjadi di atas tubuh Jelita.


"Salah mu sendiri.. Kenapa kau menabrak ku, hm?! Apa sepeda mu tidak ada rem nya?!"


Dengan sengaja Javier mendekatkan wajahnya ke wajah Jelita, sangat dekat, hingga hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Nafasnya yang beraroma mint pun masuk ke lubang hidung Jelita yang runcing, membuat gadis itu memejamkan matanya sesaat, menghirup aroma nafas Javier.


Gadis itu dibuat hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


Saat Jelita kembali membuka pelupuk matanya, tatapan mereka pun saling beradu. Javier menatap lekat raut wajah Jelita, mulai dari netra indahnya, hidung hingga bibir mungil gadis itu.


***DEG DEG DEG***


Detak jantung keduanya pun berirama, seiring dengan suasana hati mereka yang sedang berbunga-bunga. Javier tersenyum sambil menggigit sedikit bibir bawahnya, dengan tatapan mata yang terus menatap lekat.


Namun detik berikutnya terdengar suara lirih Jelita yang mengalun lembut ke telinga Javier. "Sakit..."


"Apanya yang sakit, hm?!"


"Tubuhmu lebih berat.. Aku sulit bernafas. Hah.. Hah.. Hah.." Jelita terengah-engah menahan sesak di dadanya, namun Javier malah tertawa saat mendengarnya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk segera beranjak dari atas tubuh Jelita.


Javier berdiri, dan tak lupa, dia juga membantu Jelita untuk segera berdiri bersamanya.


"Aku nggak sengaja menabrak mu.. Ku pikir.. Jam segini hanya aku sendiri yang lewat di sini, tapi ternyata.. Masih ada orang lain selain aku," Jelita membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor, dengan cara menepuk-nepuk pelan pakaiannya dengan tangannya.


"Kau pikir jalan ini milik ayah mu?! Sehingga tidak ada orang lain yang melewatinya selain kamu.."


Mendengar ucapan Javier, seketika Jelita menghentikan gerakan tangannya seraya menatap Javier. "Bukan gitu.. Karna menurut ku ini masih terlalu pagi.."


"Oh..!" Javier menanggapinya dengan singkat, sambil mengangguk-angguk pelan.


"Apa kau terluka?! Sekali lagi, maafkan aku. Aku nggak sempat ngerem.." Jelita memasang raut wajahnya yang memelas.


Javier pun tersenyum, dan seketika terpikir olehnya untuk mengerjai gadis itu. "Aakh.." Javier mulai berakting, dengan sebelah tangan yang memegangi bagian dadanya.

__ADS_1


"Hah.. Kau kenapa..?! Ada yang sakit..?!" Jelita menjadi cemas.


"Aaakh... Dada ku.. Sakit sekali.." Javier meringis, seolah dia sedang benar-benar kesakitan, padahal dia hanya membohongi gadis itu.


Berhasil, Jelita semakin cemas di buatnya, hingga dia tidak tau harus berbuat apa untuk menolong Javier. Namun detik kemudian dia membantu Javier untuk duduk tepat di sisi jalan.


Jelita berjongkok didepan Javier dengan lututnya yang ia tekan ke aspal.


"Coba ku lihat, di bagian mananya yang sakit?!" Jelita merasa kasihan kepada Javier yang terus meringis.


"Akh.. Di sini, di bagian dadaku.." Javier semakin mencengkam erat tangannya, di bagian dadanya sendiri.


"Coba angkat sedikit baju mu, aku ingin melihatnya,"


Javier hampir tertawa, namun dengan cepat dia menahannya dengan menggigit kuat bibir bawahnya, hingga lebih terlihat seperti sedang meringis menahan sakit yang semakin menjadi.


Detik kemudian Javier pun mengangkat sedikit keatas baju yang ia kenakan, sehingga menampakkan bentuk otot dadanya yang bidang serta otot perut yang membentuk kotak-kotak.


Jelita yang menyaksikannya pun jangan di tanya lagi seperti apa raut wajahnya saat melihat otot-otot tubuh Javier.


'He'em..!" Javier mengangguk lemah. Raut wajahnya pun di buat seperti anak kecil yang ingin di gendong.


Namun seketika Jelita merasa jika pemuda di hadapannya itu sudah membohonginya.


"Dasar pembohong, kau mengerjai ku.." Dengan cepat dia mendorong pelan dada bidang Javier, hingga tubuh pemuda itu terbaring di tanah.


Javier tertawa lepas seraya mengubah posisinya kembali seperti semula, duduk di sisi jalan.


Raut wajah Jelita berubah cemberut, dia pun dengan cepat beranjak berdiri dan tak ingin melihat Javier. Namun dengan cepat pula Javier menahan pergelangan tangannya hingga membuat Jelita kembali menoleh dan menunduk, mengarahkan pandangannya menatap Javier yang masih dengan posisi yang sama.


"Kau mau kemana..?! Kau mau meninggalkan ku sendirian seperti ini, hm?! Kau mau, jika aku melaporkan mu ke pihak berwajib, kasus tabrak lari,"


"Kau..!" Jelita terperangah dengan kedua bola matanya yang membulat sempurna.

__ADS_1


Javier kembali tertawa seraya beranjak berdiri dari posisi duduknya. Sementara Jelita, gadis itu menatap nanar. Dia tidak menyangka jika Javier akan setega itu melaporkannya. Baginya ini hanyalah sebuah kecelakaan yang dilakukannya tanpa sengaja.


Javier menghentikan tawanya, dia berdiri membalas tatapan mata Jelita. "Aku tidak akan melaporkan mu, tapi dengan syarat,"


"Syarat?!"


"Ya, jika kau mau mengikuti syarat yang aku berikan, maka kau akan bebas. Anggap saja aku sudah memaafkan mu,"


Jelita berpikir sejenak, namun detik berikutnya dia kembali bersuara dengan nada lembut. "Syaratnya apa..?!"


Javier mengembangkan senyumnya yang menawan. Pemuda itu merasa senang karena sang gadis sudah berhasil masuk ke dalam perangkapnya.


"Baiklah. Em.. Tapi sebelum itu.. Aku ingin tau, siapa namamu?!"


"Jelita,"


"Jelita?! Nama yang bagus, sesuai dengan orangnya, cantik Jelita," Javier kembali menggodanya, namun karena suasana hati Jelita sudah tidak nyaman, dia pun hanya menanggapinya dengan raut wajah yang biasa saja.


"Kau punya handphone?! Berapa nomor mu?!" Javier mengeluarkan ponsel canggihnya dari dalam saku celananya.


Namun sayangnya Jelita menggeleng dan lekas menjawab dengan nada pelan. "Aku nggak punya handphone," Sesekali dia menunduk, sesekali dia menatap Javier.


Javier terdiam saat mendengar itu. "Kau serius?!" Dia mengerutkan keningnya sesaat menatap Jelita. Jaman sekarang rasanya mustahil jika seseorang tidak memiliki benda canggih tersebut. Pikir Javier.


Jelita mengangguk lemah, tanpa mau menjawab. Dia tidak perlu mencari alasan lain, Karna memang benar adanya jika gadis itu tidak memiliki benda canggih tersebut. Jangankan memiliki benda mahal seperti itu, baju yang bagus saja dia tidak punya.


Itu bukan karna dia tidak mampu membelinya, tapi karena dia tidak pernah di beri uang walaupun hanya untuk sekedar jajan, apa lagi jika untuk membeli barang-barang mahal, jauh dari harapan.


Melihat raut wajah sendu Jelita, Javier pun kembali menyimpan ponsel miliknya ke tempat semula. Namun setelah itu dia mengeluarkan dompetnya yang terdapat di saku sebelahnya.


Pemuda itu mengeluarkan kertas berukuran kecil dari dalam dompetnya. "Ini kartu nama ku, di dalamnya ada alamat rumah ku," Javier memberikannya kepada Jelita, dan dengan cepat Jelita pun meraihnya lalu menatap kertas kecil tersebut.


"Aku tunggu kedatangan mu, hari ini juga. Jika sampai sore kau tidak datang.. Maka bersiaplah, akan ku pastikan, besok polisi akan datang menjemput mu,"

__ADS_1


Deg


Bersambung...


__ADS_2